Coba Cintaku

Coba Cintaku
Chapter 9


__ADS_3

...Happy Reading🥰...


...----------------...


***


Beberapa menit lagi jam pelajaran akan di mulai. Namun, masih ada beberapa siswa yang belum datang. Salah satunya Fiki dan Cantika.


"Tumben si Fiki belum dateng? Biasanya tu anak selalu bantuin Pak Ari nyapu lapangan," tanya Gilang pada Fajri.


"Hah? Emang iya?"


"Lo percaya?!" Gilang menatap miris Fajri yang polos itu.


"Ya nggak lah Jri. Itu tuh perumpamaan. Saking paginya tu anak kalau berangkat," canda Gilang.


"Apa jangan jangan nggak masuk tuh anak?" lanjut Gilang.


"Auk," Fajri mengedikkan bahunya.


Gilang yang ingin membuang sampah tiba-tiba berhenti saat melewati bangku Laras.


"Kenapa Lo Ras kok diem aja?" tanya Gilang yang melihat Laras murung. Sebab tidak biasanya dia seperti itu.


"La terus gue harus ngapain?"


"Ngobrol kek apa kek! Biar nggak diem aja kayak orang bisu!" mulut Gilang lost control.


"Hust! Mulutnya!" tegur Cindy.


Gilang langsung menutup mulutnya dengan bungkus jajan yang ada di tangannya. Harap maklum Gilang emang kadang suka ceplas ceplos.


"Eh sorry sorry Ras! Kelepasan," ucap Gilang tersenyum tipis.


"Nggak papa."


"Lagian ya Lang, si Laras Lo suruh ngomong sama siapa?! Tembok?! Kan Tika belum dateng!" sewot Cindy.


"Apaan sih Lo! Nyamber aja kayak listrik!" Gilang menjulurkan lidahnya.


Gilang yang baru menyadari bahwa Tika memang belum datang merasa sangat heran. Karena tidak biasanya Tika datang mepet seperti ini.


"Eh iya ya, kenapa Tika belum dateng Ras?"


"Nggak tahu deh gue," ucap Laras sambil mencoba menghubungi sahabatnya itu.


"Si Fiki juga tumben-tumbenan belum dateng. Biasanya tuh anak Dateng paling awal," heran Gilang. Bagaimana bisa kedua murid ambis di kelasnya sama-sama terlambat.


Kring..


Bel berbunyi dan kedua remaja itu belum datang juga. Sedangkan Gilang langsung bergegas keluar kelas untuk membuang sampahnya sebelum ada guru datang.


Laras menatap pintu kelas dengan cemas. Dia menghawatirkan Tika. Tidak biasanya dia datang terlambat. Kalaupun sakit atau ada halangan pasti orang pertama yang dikabarinya adalah Laras. Ini benar-benar momen langka.


Gilang kembali duduk di samping Fajri. Dia juga heran dengan si Fiki. Bagaimana bisa Gilang datang lebih dulu daripada dia. Ini adalah rekor terbaru yang berhasil Gilang pecahkan.


"Jangan-jangan duo ambis itu bolos bareng Jri?" suudzon Gilang.


"Emang Lo!!" ledek Fajri.


"Bolos itu pashion gue!" bangga Gilang sambil tertawa terbahak-bahak. Fajri hanya memutar bola matanya malas.


Kemudian Bu Endang, guru matematika masuk ke dalam kelas.


"Uhuk uhuk uhuk," Gilang tersedak salivannya karena tertawa dan terkejut dalam satu waktu. Guru killer itu telah datang dengan wajah garang.


"Kenapa Gilang?!" tanya Bu Endang yang sempat mendengar tawa Gilang.


"Batuk bu," jawab Gilang apa adanya.


"Makanya kalau ketawa jangan berlebihan!!"


"Iya bu," melas Gilang.


Fajri dan teman-teman sekelas mencoba menahan tawanya melihat Gilang kicep. Hal itu disadari oleh Bu Endang.


"Kenapa senyum-senyum?!" garang Bu Endang.


Akhirnya satu kelas mendadak kicep. Tak ada yang berkutik. Jam pelajaran matematika memang selalu menjadi momok bagi para pelajar. Bukan hanya materinya yang horor, terkadang guru pengajarnya pun tertular horor.


Setelah dirasa kondusif, Bu Endang pun meletakkan buku-bukunya dan duduk di meja guru. Tapi, setelah itu terdengar suara pintu di ketuk dari luar.


Tok tok tok


"Assalamualaikum," ucap seseorang di luar sana.


Sontak semua orang menatap ke arah suara itu. Terlihat dua orang berdiri bersebelahan di depan pintu, menunggu izin dari guru pengajar.


"Waallaikumussalam," jawab semua murid serempak. Termasuk Bu Endang.


"Fiki?!" pekik Gilang.


"Tika?!" Heran Laras.


"Kenap telat?!" tanya Bu Endang dengan nada tinggi.


Keduanya hanya tertunduk malu, "Maaf bu! Tadi ban motor saya bocor," terang Fiki.


"Saya nggak peduli!" sarkas Bu Endang.


'sadis bener tu orang,' batin Gilang sambil menelan salivanya.


"Kalian tahu ini jam berapa?!" lanjut Bu Endang.


"Jam 07.05," ucap Tika.


"Artinya?!!"


"Telat," jawab keduanya lemas.


"Ngeri juga ni orang! On time banget. Ketimbang telat 5 menit doang loh. Gimana gue yang biasanya telat 15 menit," ucap Gilang lirih.


"Sttt," Fajri menyenggol lengan Gilang.


"Jadi, silahkan ke lapangan sambil menghormat bendera sampai jam pelajaran saya selesai!!" Bu Endang menunjuk keluar.


Fiki dan Tika masih berdiri mematung di depan pintu. Sepertinya mereka yang tidak pernah telat merasa sangat syok. Baru kali ini mereka kena hukuman.

__ADS_1


"Kenapa masih di situ?!" bentak sang guru killer.


"Cepat ke luar!!" titahnya sambil menggebrak meja. Membuat semua murid terkejut.


Fiki dan Tika langsung balik badan dan menuju lapangan tanpa sepatah kata. Mereka benar-benar ketakutan jika terus berdiri di sana.


"Kena mental breakdance," lirih Gilang sambil geleng-geleng kepala melihat kepergian Fiki dan Tika.


'Ban motor Fiki yang bocor, kenapa Tika ikutan telat? Apa jangan-jangan mereka berangkat bareng?' pikir Laras dalam hati.


Setelah itu, Bu Endang melanjutkan pelajaran seperti biasa.


***


Flashback ~ 1 jam yang lalu ~


Tika berdiri di depan gerbang rumahnya sambil memainkan ponselnya untuk memesan ojol.


Biasanya dia dijemput pacarnya atau kalau tidak berangkat dengan Laras. Tapi hari ini pacarnya tidak masuk karena sakit. Sedangkan si Laras harus berangkat lebih awal karena kegiatan OSIS.


Tak lama datang seseorang berpakaian seragam sekolah dengan motor ninja warna merah.


"Ayok bareng!" ajaknya sambil mematikan mesin motor dan melepas helm.


"Fiki?" Tika cengo. Bagaimana Fiki bisa tahu rumahnya.


"Iya gue. Lo nunggu ojol kan pasti?" tanya Fiki yang dibalas anggukan oleh Cantika.


"Ya udah bareng gue aja Cantik. Daripada kelamaan nunggu yang nggak pasti. Mending bareng gue aja," ucap Fiki sambil mengangkat alisnya.


"Tunggu-tunggu! Kok Lo bisa tau rumah gue?!" tanya Cantika sambil memandang Fiki heran.


"Jangankan rumah Lo, nomor telepon Lo gue juga tahu," bangga Fiki.


Cantika cengo. "Apa?! Tau dari siapa Lo?!"


"Hamba Allah. Udah yok naik! Nanti telat lagi," ajak Fiki yang bersiap mengenakan helm-nya. Tak lupa dia memberikan helm pada Cantika.


"Nih pakek!" ucap Fiki sambil menyodorkan helm pada Cantika.


'Nih cowok juga udah nyiapin helm buat gue juga?' batin Cantika.


Melihat Cantika yang masih bengong dan tidak segera mengambil helm yang diberikan olehnya. Fiki langsung memasangkan helm itu ke kepala Cantika.


Hal itu membuat jarak di antara mereka sangat dekat. Cantika yang tersadar ada sesuatu terpasang di kepalanya, membuat dirinya menatap Fiki. Kedua netra mereka saling bertemu. Waktu terasa berhenti sesaat.


Jantung Fiki berdebar kencang. Tak terpikir olehnya bisa memandang doi sedekat ini. Mata Cantika yang indah dan teduh itu membuat hatinya tak karuan.


Cantika yang melihat Fiki sedekat ini untuk pertama kalinya merasa sangat kagum. Tidak disangka cowok itu ternyata tampan juga. Matanya yang indah dan pipinya yang chubby terlihat sangat menggemaskan.


'Ternyata nih cowok ganteng juga. Romantis lagi.'


Tin tiiinnn


Klakson motor yang gak ada akhlak itu membuyarkan lamunan mereka.


"Astaghfirullah," Fiki nyebut. Sepertinya dia khilaf.


Cantika yang salting berpura pura merapikan helm yang dipasang Fiki.


Sebelum pipinya berubah jadi Semerah tomat, Cantika bergegas menaiki motor Fiki.


"Udah?" tanya Fiki memastikan.


"Udah kok."


"Nggak pegangan? Ntar jatuh lagi," modus Fiki.


"Makanya pelan-pelan aja!" seru Cantika.


"Kalau pelan ntar telat lagi."


"Hihh Fiki! Udah jalan aja!" kesal Cantika yang mebuat Fiki tambah gemas. Fiki tertawa kecil dan langsung melajukan motornya menuju sekolah.


Beberapa menit perjalanan tiba-tiba terdengar suara ledakan yang membuat motor Fiki oleng dan hampir jatuh.


"Aaaaa," teriak Cantika yang memeluk Fiki erat.


Untungnya Fiki dengan sigap menahan motor itu. Sehingga tidak sampai terjadi kecelakaan. Bahaya kan bawa anak orang.


"Lo nggak papa Tik?" tanya Fiki panik.


Cantika yang terlihat masih syok langsung turun dari motor dan duduk di trotoar.


"Cantik Lo nggak papa? Maaf ya bannya bocor kena paku kayaknya," jelas Fiki sambil menyodorkan sebotol air mineral untuk menenangkan Cantika. "Nih minum dulu!"


"Nggak papa kok nggak papa," ucap Cantika dengan nafas yang tidak beraturan.


Fiki benar-benar merasa bersalah karena membuat Cantika ketakutan dan gemetaran seperti itu.


"Sekali lagi gue minta maaf ya!" ucap Fiki tulus.


glegek


"Iya Fik nggak papa, kan bukan salah Lo juga. Nih Lo juga minum! Lo pasti juga kaget kan," Cantika menyodorkan botol air mineral yang baru saja ia minum.


"Makasih," Fiki ikut duduk di samping Cantika dan meminum air itu.


'Ternyata Cantik itu pengertian banget ya,' batin Fiki di sela-sela minumnya.


"Terus sekarang gimana?" tanya Cantika.


"Ehmm gini aja kita ke bengkel bang Ricky. Nggak jauh kok dari sini."


"Kok Lo kenal?"


"Iya. Dulu ban gue juga pernah bocor terus dibenerin di bengkelnya. Dia itu kakaknya Fajri."


"Ouh gitu," Cantika manggut-manggut.


"Ya udah ayok bantuin dorong!" ucap Fiki.


"Oke."


5 menit kemudian, akhirnya mereka sampai di bengkel CB milik Ricky.


"Assalamualaikum, bang!" salam Fiki.

__ADS_1


"Waallaikumussalam. Eh Fiki! Kenapa lagi motor Lo?" ucap Ricky Yang melihat Fiki kepayahan mendorong motornya dengan seorang cewek.


"Bocor lagi bang kayaknya kena paku deh," ucap Fiki ngos-ngosan. "Cantik, kamu duduk aja dulu di situ!" titah Fiki.


Cantika yang memang capek langsung menurut dan duduk di kursi tunggu. 'Sejak kapan Fiki manggil gue "kamu"?' batinnya.


"Ya Allah. Ya udah sini gue beresin," ucap Ricky.


"Makasih bang. Tapi, kalau bisa agak cepet ya soalnya takut telat nih."


"Iya gue usahain. Udah Lo duduk dulu!". Fiki mengangguk.


"Han! Bawain minum!" pinta Ricky pada Farhan.


Farhan langsung memberikan sebotol air mineral untuk Fiki.


"Nggak usah repot-repot bang. Tadi juga udah minum," sungkan Fiki.


"Udah minum aja! Gratis kok," ucap Farhan.


"Makasih bang."


"Siapa tu? Cewek Lo?" tanya Farhan sambil melihat Cantika.


"Bukan. Cuma temen. Tapi masih otw sih," ucap Fiki cengar-cengir.


"Cek elah. Sak ae lu tong!" Farhan menyenggol lengan Fiki. "Siapa tadi nama Lo?"


"Fiki, bang."


"Ya udah gue doain semoga jadi ya Fik!" Farhan mengangkat alisnya. Fiki hanya tersenyum membalasnya.


"Yakin nggak di aamiin in?" goda Farhan.


"Aamiin," Fiki mengusap wajahnya.


"Woy Han! Bantuin ngapa biar cepet kelar! Malah ngobrol!" seloroh Ricky.


"Woke bos!"


Fiki yang kemudian duduk bersama Cantika, lalu memberikan botol air mineral kepadanya.


"Kalian ngomongin apa sambil senyum-senyum gitu?" tanya Cantika.


"Hmm? Gue sama bang Farhan?" tanya Fiki kikuk.


Cantika hanya mengangguk pelan sambil meneguk minumannya.


"Nggak ngomongin apa-apa," jawab Fiki santai.


"Nggak ngomongin apa-apa kok senyum-senyum?" tanya Cantika sambil memberikan botol minum itu pada Fiki. "Ngomongin gue ya?" ledek Cantika.


"Ihh nggak ya. Kita tu ngomongin masalah cowok," ucap Fiki lalu meneguk minumannya.


"Masa?"


"Ahh segerr," ucap Fiki sambil mengelus tenggorokannya. Cantika melihatnya geli.


"Nggak percaya ya udah," jawab Fiki santai.


Setelah beberapa menit menunggu akhirnya motor Fiki selesai diperbaiki. Keduanya pun langsung berpamitan dan bergegas menuju sekolah. Sisa 5 menit lagi sebelum jam masuk berbunyi. Untungnya jarak bengkel dengan SMA PELITA BANGSA tidak terlalu jauh.


Sampai di depan sekolah, Pak Didik selaku satpam sekolah sudah bersiap menutup gerbang. Namun, dengan gaya bak pembalap Rossi, Fiki berhasil melewati gerbang itu dengan liukan manja.


Cantika yang bergidik ngeri dengan erat berpegangan pada Fiki. Namun sayang meski berhasil masuk ke dalam sekolah, mereka tetap dihukum karena telat masuk kelas. Bu Endang jauh lebih dulu sampai di kelas 11 IPS 1. Sungguh mengsedih.


***


Di depan bendera Sang Merah Putih, Fiki dan Cantika dengan tegap memberi hormat.


"Maafin aku ya Cantik. Gara-gara aku, kamu jadi di hukum kayak gini," ucap Fiki memandang Cantika.


"Nggak papa Fiki, berapa kali kamu minta maaf. Ini kan juga bukan salah kamu," ucap Cantika tulus.


"Makasih ya," Fiki tersenyum lebar.


'Lah kok gue ikut-ikutan manggil aku kamu sih?!' bingung Cantika.


'Btw Fiki kalau senyum manis juga,' Cantika ikut tersenyum.


"Iya. Udah ah. Fokus ke bendera aja. Nanti dimarahin lagi!" Cantika stay cool.


Sementara itu di dalam kelas, Laras merasa tidak bisa fokus dengan pelajaran. Dia khawatir dengan Tika dan Fiki. Karena mereka berdua belum pernah dihukum seperti ini. Bagaimana jika mereka kenapa-napa.


"Bu!" Laras mengangkat tangan.


"Ada apa Laras?" tanya Bu Endang.


"Mohon izin mau ke toilet."


"Iya. Nggak usah lama-lama!"


"Baik bu."


Laras kemudian keluar kelas. Ketika dia melihat dari lantai atas ternyata Fiki dan Cantika terlihat bahagia meski sedang dihukum di bawah terik matahari.


"Panas ya?" tanya Fiki yang mencoba memayungi Cantika dari panas matahari dengan telapak tangan kirinya.


Cantika yang melihat perlakuan Fiki merasa sangat kagum dengan cowok di sampingnya itu. Ternyata Fiki tipe orang yang sangat peduli dengan orang lain.


"Nggak papa Fik. Udah nggak usah," pinta Cantika.


"Beneran?"


"Iya beneran."


Laras hanya bisa diam melihat hal itu. Dia pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas daripada terus menahan luka melihat orang yang dicintainya bersanding dengan sahabatnya.


Sebenarnya dia memang tidak benar-benar ingin ke toilet. Dia hanya ingin memastikan bahwa Fiki dan Tika baik-baik saja, dan kenyataannya kondisi mereka berdua jauh lebih baik dari apa yang dia pikirkan.


...🥀🥀🥀...


...Makasih buat yang udah baca🥰...


...Jangan lupa buat like dan vote ya.....


...Kritik dan saran ditunggu...

__ADS_1


__ADS_2