Coba Cintaku

Coba Cintaku
Chapter 3


__ADS_3

...Happy Reading😍...


...----------------...


"Ayo, silahkan memperkenalkan diri!" titah Pak Tono pada anak baru itu.


"Terimakasih, pak," balasnya sambil menganggukkan kepala.


"Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh."


"Waallaikumussalam warahmatullahi Wabarakatuh."


"Perkenalkan nama saya Fiki Dwi Ananta, biasa dipanggil Fiki. Saya berasal dari Palembang dan baru pindah ke Jakarta. Semoga kita bisa menjadi teman yang baik dan salam kenal semuanya!!" tak lupa ia memberi senyum hangat kepada calon teman-temannya.


"Hai Fiki!! Salam kenal juga." jawab seluruh murid kelas 11 IPS 1.


"Apa ada yang ingin bertanya?" tanya Pak Tono.


"Kenapa lo pindah ke Jakarta?" tanya salah satu murid.


"Karena ayah saya ada tugas di sini. Jadi kami sekeluarga harus ikut pindah."


"Emang tugas ayah Lo apa?"


"Ayah saya adalah seorang TNI."


"Hadughh formal banget si Lo. Pakai acara saya saya an lagi. Lo gue aja kalii!" saut Gilang dengan gaya tengilnya.


"Heh Gilang!! Justru ini yang bagus, ini yang harus kalian contoh!!" terang Pak Tono.


Gilang hanya memutarkan bola matanya sambil tertawa miring.


"Lho Fajri kan?" tunjuk Fiki pada seseorang di samping Gilang.


"Iya. Fiki kan?" balasnya.


"Yes bener banget. Ternyata kita sekelas ya!"


"Yoii."


"Sudah. Saya kira cukup perkenalannya, Fiki silahkan duduk di bangku yang masih kosong!" titah Pak Tono.


"Baik Pak."


Setelah itu, Pak Tono keluar kelas karena masih ada urusan di ruang guru. Sedangkan


Fiki mengedarkan pandangannya mencari bangku yang masih kosong di kelas barunya itu. Karena ada satu bangku kosong di depan meja guru ia pun memilih untuk mendudukinya. Selain karena dia tipe anak ambis, Fiki juga punya masalah dengan matanya. Ya___ matanya minus.


Namun ketika Fiki hendak mendudukinya, tiba-tiba seloroh suara mencegahnya.


"Jangan duduk di situ!" cegah Gilang.


"Kenapa?"


"Udah sold out."


Fiki yang tidak paham akan maksud Gilang hanya mengerutkan dahinya.


"Udah ada yang punya," jelas Gilang. Fiki yang baru paham langsung membulatkan bibirnya membentuk huruf O.


"Tapi kok gak ada tasnya?" tambahnya.


"Biasalah anak OSIS. Sibuk," terang Fajri.


"Udah Lo duduk di belakang kita aja Fik," tawar Gilang.


"Yah kasian banget si Tika nggak jadi sebangku sama cogan," celetuk Cindy yang duduk di belakang bangku yang hendak di duduki Fiki.


"Berisik Lo! Bilang aja Lo yang sedih gegara nggak duduk deket cogan," sewot Gilang.


"Ih apaan sih Lang? Nggak jelas banget!!" Kesal Cindy.


"Lo tu yang nggak jelas!!" balas Gilang yang tak kalah sewot.


"Lo!!!"


"Lo!"


"Lo! Lo! Lo!"


"Dasar cewek!!" geram Gilang.


"Emang kenapa kalau gue cewek?!!"


"Nggak mau kalah dan salah!!"

__ADS_1


"Nah tu tahu," ucap Cindy dengan bangganya.


"Idihh najis," Gilang berpose seperti cacing yang kepanasan.


Seisi ruangan hanya terkekeh melihat perdebatan unfaedah kedua teman mereka itu.


"Jadi gimana Fik? Mau nggak?" tanya Gilang lagi.


"Ya udah deh," pasrah Fiki. Meskipun dia punya kacamata hanya saja dia lebih suka duduk di depan. Kayak aura semangatnya tuh gede gitu. Sedangkan kalau di belakang pasti hawa ngantuk sangat meresahkan.


"Kalau ada kegiatan OSIS kenapa tasnya nggak ditaruh kelas?" tanya Fiki.


"Biasanya sih ditaruh kelas. Tapi hari ini anggota OSIS udah dapet dispensasi buat ngak ikut kegiatan belajar mengajar," jelas Fajri.


"Kenapa?"


"Nyiapin persiapan event kali?" jawab Gilang.


"Event apa?", tanya Fiki lagi.


"Jadi bentar lagi bakal ada perayaan dies natalis hari jadi sekolah kita," jawab Fajri.


"Kapan?"


"Semingguan lagi kayaknya."


"Aktif ya bund," ucap Gilang dengan nada meledek.


"Gue kan pengen tahu seluk beluk sekolah ini," balas Fiki.


"Iya in aja deh," balas Gilang.


"Santai aja Fik, Gilang anaknya emang kayak gitu," saran Fajri.


Fiki hanya menganggukkan kepala sambil membatin.


'Gue mah udah biasa kali dicengin kayak gitu sama abang gue. Masih mending nih si Gilang.'


***


Sementara di tempat lain, Laras terlihat sedang melamun.


'Fiki manis juga ya___ kira-kira dia kelas apa ya? Pengen deh sekelas sama dia. Kayaknya anaknya seru juga,' batin Laras sambil mengingat pertemuannya dengan Fiki pagi tadi. Tanpa disadari senyum terbit di wajahnya.


"Woy Ras!! Napa Lo? Kesambet ya?" Celetuk Cika.


"Sembarangan tuh mulut! Siapa juga yang kesambet?!" sewot Laras.


"Terus ngapain senyum-senyum sendiri?"


"Kepoo!!"


"Hihhh!! Oh atau jangan jangan Lo lagi mikirin cowok yaaa?" tanya Cika dengan mata yang disipit sipitkan sambil memajukan wajahnya ke wajah Laras.


Seketika pipi Laras memerah. Bagaimana bisa, agen kepo ini tahu apa yang tengah ia pikirkan. Tak mau jika temannya mengetahui bahwa apa yang ia katakan benar adanya, Laras langsung menggaplok wajah Cika dan mendorongnya ke belakang.


Cika langsung menurunkan tangan Laras dari wajahnya.


"Aduhh! Hayo ngaku Lo?" tanyanya lagi.


"Benerkan gue?" tanya Cika sambil tersenyum bangga.


"Siapa sih? Arya?" ceroros Cika yang sembarang menebak sambil tertawa terbahak bahak.


"Husss!" jawab Laras sambil memukul paha Cika.


"Ekhem ekhem...." kode suara dari seseorang yang berdiri di belakang mereka. Sepertinya dia mendengar pembicaraan kedua gadis itu.


Sontak Laras dan Cika langsung menoleh ke belakang, mencari siapa pemilik suara berat itu.


"Ehh ada Arya," celetuk Cika sambil cengengesan.


"Lo denger apa yang kita bicarain?" tanya Cika lagi namun tak dijawab oleh Arya.


"Ngapain kalian di sini? Nggak lihat yang lain pada kerja?! " tegas Arya.


"Iya maaf," balas Cika.


"Ya udah cepet bantuin!" Arya mengomando.


"Siap Pak Ketos!" ucap Cika sambil memberi hormat pada sang ketos, lalu menarik tangan Laras untuk pergi bersamanya.


Setelah kedua cecunguk itu pergi. Arya jadi kepikiran dengan apa yang sempat tidak sengaja kupingnya dengarkan.


'Emang Laras beneran suka sama gue?'

__ADS_1


***


Jam istirahat telah berbunyi semua murid berhamburan ke luar kelas termasuk penghuni kelas 11 IPS 1.


"Fik nggak ke kantin?" tanya Gilang yang sepertinya sangat kelaparan setelah menerima pelajaran berjam-jam.


"Ehm Lo duluan aja Lang, gue mau ke perpustakaan," balas Fiki sambil merapikan buku-bukunya.


"Ngapain?" tanya Gilang dengan wajah tak berdosa.


"Baca atau pinjem buku lah. Gitu aja nanyak?" balas Fajri sambil mendorong bahu Gilang.


"Ya___ Iya sih," Gilang menggaruk kepalanya.


Fajri menatap Gilang dengan tatapan datar, sementara Fiki hanya tersenyum dan menggeleng nggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan sobat barunya itu.


"Ya udah deh gue duluan! Cacing diperut gue udah pada ngadain demonstrasi."


"Jri Lo nggak ikut?" tanya Fiki.


"Yah Fik, dia mah nggak usah ditanya. Kalau dia ke kantin sama aja dia memutus rezeki ibu kantin," jawab Gilang sekenanya.


"Hahh? Kok bisa?" tanya Fiki dengan wajah bingung.


"Dia kan fansnya banyak banget. Kalau dia ke kantin, auto seisi kantin kecuali cowok. Pasti nggak bakal jadi makan karena pada ngantri buat foto sama minta tanda tangan kapten tim basket kita ini. Ya nggak Jri?" Cerocos Gilang sambil menaik turunkan alisnya.


'Oalah kapten tim basket ternyata___ pantesan banyak banget fanbasenya. Jangan jangan udah ada nama fandomnya lagi, xixixi,' batin Fiki.


"Udah, gue ke kantin dulu!" pamit Gilang sambil mengajak tos kedua temannya itu.


"Jadi Lo nggak pernah makan siang Jri?" tanya Fiki miris.


"Biasalah!" saut Gilang yang sudah di ambang pintu.


Fiki melihat Fajri sambil menaikkan alisnya. Seolah bertanya apa maksud perkataan Gilang.


"Hehe, nitip," balas Fajri sambil mengelus tengkuknya.


Fiki hanya membulatkan mulutnya.


"Ya udah jri gue ke perpus duluan ya!"


"Okee."


###


Author : Ditempat sepi tapi bukan kuburan alias perpustakaan, adalah tempat yang paling menyenangkan bagi para pemburu ilmu dan tempat paling memboringkan bagi para pemburu kuliner.


Readers : "Iya lah! Ya kali, ngapain pemburu kuliner ke perpustakaan? Mau nyemilin buku? Sa ae lu Thor!" (Tertawa miring)


###


***


Fiki yang memang sengaja datang ke perpustakaan untuk meminjam buku pelajaran sedang berkeliling diantara rak-rak buku yang menjulang tinggi.


Di saat dia menemukan buku yang ia cari, Fiki pun mengambilnya sehingga tercipta ruang kosong diantara deretan buku-buku itu. Lalu, menampakkan sesosok wajah yang tidak asing baginya.


Sesaat, kedua netra mereka saling beradu pandang.


"Lo?" tanya Fiki sambil mengingat siapa sosok didepannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Cast Pemain...


~ As Fiki ~



~ As Fajri ~



~ As Gilang ~



...🥀🥀🥀...


...Makasih buat yang udah baca🥰...


...Jangan lupa buat like dan vote ya.....


...Kritik dan saran ditunggu...

__ADS_1


__ADS_2