Coba Cintaku

Coba Cintaku
Chapter 33


__ADS_3

...Happy Reading 🥰...


...----------------...


Semenjak kepergian Cindy dan Laras, dua orang berbeda gender itu masih enggan membuka suara. Bahkan Cantika bisa merasakan aura dingin dari sosok yang sibuk dengan laptop di depannya. Hanya ada kicauan burung yang menjadi backsound diantara keduanya.


Cukup lama Cantika menahan erangan kala melihat Fiki yang hanya diam. Seperti tidak menganggapnya ada. Hingga detik selanjutnya, entah keberanian dari mana- Cantika akhirnya mengeluarkan kata yang sedari tadi ingin dia ungkapkan.


"Emm- Lo masih marah sama gue ya, Fik?"


Fiki spontan menghentikan jari jemarinya yang menari diatas keyboard. Melirik Cantika yang juga menatapnya dalam. Namun, hanya sedetik sampai Fiki kembali fokus dengan layar di depannya. Tanpa berniat membalas ucapan Cantika.


"Masih marah ternyata," gumam Cantika sembari menunduk lesu.


Cukup lama hening merayap diantara keduanya. Fiki yang memilih fokus dengan benda persegi itu, sedang Cantika yang tanpa sadar merobek kertas menjadi bagian kecil-kecil dengan wajah tertekuk. Dan semua gerakan Cantika itu tidak luput dari pengawasan Fiki.


"Nggak usah bikin sampah! Mending rendam daun tarum," ujar Fiki dingin tanpa menatap sang empu.


Cantika tersenyum kecil. Meski sebelumnya sempat kaget melihat banyaknya sampah kertas yang ia sobek berhamburan dilantai. "Ah- iya, sorry."


"Nah gitu dong ngomong," lirih Cantika yang masih bisa Fiki dengar.


"Ini direndam dimana?"


Fiki mengendus sebal. Lantas menarik baskom yang tak jauh dari tempatnya. Meletakkan agak kasar di depan Cantika. "Disini?" tanya Cantika polos.


"Nggak! Di bak kamar mandi," ketus Fiki lantas kembali fokus menghadap laporan yang ia buat. Sedang Cantika mengelus dada sabar. Beranjak ke arah keran di samping pagar rumah Cindy untuk mengisi baskom dengan air.


Cantika kembali masuk setelah selesai dengan pekerjaannya. Mengamati Fiki dalam hening yang sangat mencekik. Sungguh, Cantika ingin rasanya mencakar wajah Fiki yang terlalu datar itu. Tanpa peduli dengan dirinya yang akan mati kutu karena bentangan jarak yang sengaja Fiki buat. Berkali kali Cantika mengembuskan napas kasar. Hingga suara intrupsi wanita paruh baya mengalihkan atensi keduanya.


"Loh, kok cuma kalian berdua. Cindy sama yang lainnya mana?"


"Eh Tante! Itu mereka lagi keluar beli bahan yang kurang," balas Cantika diakhiri seulas senyum.


"Oh pada keluar ya."


Fiki yang melihat perubahan raut wajah wanita yang notabennya ibu Cindy itu lantas membuka suara. "Emang ada apa Tan? Apa ada urusan sama, Cindy?"


"Itu sebenarnya Tante mau titip Xavier. Soalnya Tante harus ke pasar sekarang, gimana ya?"


"Oh Xavier sama kita berdua aja Tante," celetuk Cantika.


"Emm- emang enggak apa-apa nih kalau Tante titip Xavier? Nanti bikin repot kalian berdua lagi."


"Enggak apa-apa kok Tan. Santai aja."


Ibu Cindy tersenyum lebar. Lantas beranjak pergi. Tidak lama kemudian, Ibu Cindy kembali dengan Xavier dalam gendongan. Bocah berumur dua setengah tahun itu tertawa girang kala menatap dua remaja di depannya. "Xavier sama kakak cantik dan kakak ganteng dulu ya. Mama mau ke pasar, jangan nakal. Oke?!"


Xavier mengangguk berulang tanpa lepas menarik sudut bibirnya. "Anak pintar!"


Kini, Cantika berucap syukur akan adanya Xavier diantara mereka berdua. Bahkan Cantika lebih senang berceloteh ria bersama Xavier daripada dengan wajah dingin Fiki.


"Mau apa Vier? Ini?" tanya Cantika kala Xavier menunjuk nunjuk banyaknya makanan yang dihidangkan disebuah meja kecil.


"Itu- mau cokat," balas Xavier cadel.


"Roti coklat ini?"


Xavier mengangguk. Membuka mulutnya kala Cantika menyuapinya. Fiki yang melihat wajah sumringah Cantika menyunggingkan senyum tipis. Namun segera lenyap ketika Cantika menoleh ke arahnya.


"Kaka ngapain?"


"Lagi belajar sayang," balas Cantika sembari mengusap kepala Xavier lembut.


"Belajal ya. Telus itu Kaka ganteng lagi apa? Dali tadi kok diem aja? Nggak bisa bicala ya?" tanya Xavier polos. Tanpa sadar bahwa Fiki sekarang menatapnya cengo.


Cantika terkekeh. "Kakaknya lagi sariawan, jadi irit bicara."


"Enak aja! Gue nggak lagi sariawan, ya!" sarkas Fiki.


"Gue kira sariawan. Biasanya juga Lo berisik banget, ko jadi diem mulu dari tadi. Ngomong juga seperlunya," balas Cantika yang sudah tertahan sejak tadi.


Hendak Fiki ingin membalas ucapan Cantika. Namun urung ketika matanya membola melihat bagaimana gelas yang akan meluncur kelantai jika saja tidak dua remaja itu tangkap.


Kedua netra itu saling bertemu. Tidak hanya tatapnya saja, namun juga kedua tangan mereka yang saling bersentuhan. Menggenggam erat gelas yang hampir jatuh karena ulah Xavier.


Hingga hampir satu menit keduanya diam bersama detak didalam sana yang melebihi batas normal. Sampai tawa dari Xavier menyadarkan keduanya. "Eh-" ujar Cantika lantas melepas tautanya dengan Fiki.


"Mau minum," celetuk Xavier. Fiki spontan membantu Xavier meminum dengan gelas yang masih berada ditangannya. Tanpa sadar tangan itu bergetar yang membuat air tidak masuk sempurna ke mulut Xavier.


"Fik, tumpah semua itu!"


***


Sedang satu nyawa itu menggeram kesal diatas motornya. Sudah hampir lima belas menit sosok yang ditunggu tidak kunjung datang. Apalagi cuaca yang tidak mendukung kali ini. "Berasa dijemur kayak ikan asin gue," sungut Fajri.


Meski jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah empat sore - sang mentari itupun seperti masih ingin memberikan sengat panasnya. Terlebih sekarang Fajri sedang berada di lahan yang cukup luas. Memudahkan matahari masuk hingga membuat kulit putihnya serasa terbakar.


"Awas aja ya kalau disuruh kerja kelompok lagi gue ogah dateng ke rumah yang nggak gue tahu. Apalagi pakai jasa google maps, sesad! Nggak bakal lagi deh."


Dari kejauhan Fajri bisa melihat motor yang ia kenali. Hingga kuda besi itu benar-benar berhenti tepat di depannya. "Lo tuh kemana aja sih Lang?! Lama banget gue tunggu! Sampai lumutan nih. Mana panas lagi," cerocos Fajri tanpa mengindahkan Gilang dengan wajah cengo.


"Heh! Lo nya juga yang salah. Ngapain sampai terdampar ditengah kebon kek gini?! Jadi sulit kan gue nyari batang hidung Lo," sungut Gilang.


"Jangan salahin gue! Salahin google maps nya aja sono. Bikin orang nyasar aja."


"Lo aja kali yang nggak bisa baca maps!"


"Nggak bisa pala Lo! Maps nya aj-"


"Udah ah nggak usah banyak bacot! Ayo jadi kelompokkan nggak nih?! Atau mau disini aja?!"


"Ck! Iya-iya ayo!" sahut Fajri setengah dongkol.


"Eh tunggu bentar! Lupa gue, itu apa- Bang Ricky punya mesin las nggak?"


Kedua alis Fajri mengernyit, "Mesin las? Buat apa?"


"CK, jelas banget nih anak nggak baca tugas kelompoknya, ya?"


"Kan emang gue belum baca."


"Wah parah, mentang-mentang kerja kelompok jadi Lo gampangin gitu?!"


Fajri mengusap wajahnya kasar. Menarik napas dalam sebelum membalas ucapan Gilang yang sedari tadi menaikkan emosinya. "Gini ya Lang, udah jangan banyak protes. Dari tadi Lo ngomelin gue mulu! Nggak bakal kelar ini urusannya."


Gilang melotot tak terima. Tapi ada benarnya juga sih. Membuang buang waktu hanya untuk berdebat dengan sahabatnya itu. "Yaudah, jawab! Abang Lo punya mesin las nggak?!"


"Iya punya!"


"Oke. Kita ke sana dulu!"


Lagi, Fajri mensugar kasar rambutnya ke belakang. Wajahnya kini bahkan sudah memerah. "KENAPA NGGAK BILANG DARI TADI SIH?! KAN BISA SEKALIAN GUE BAWA!"


"YA MANA GUE TAHU! CINDY AJA BARU BILANG TADI OGEB!" balas Gilang juga berteriak.


Keduanya kini sama-sama menarik napas dalam. Lantas Fajri dengan tidak santainya memakai helm, kemudian menancap gasnya lebih dulu. Diikuti Gilang yang juga menggeber gasnya.


Sesampainya di bengkel Ricky, dua remaja itu segera turun dari motor. Tanpa menyapa Ricky yang sedang berkutat bersama mesin-mesin motor itu- Fajri berlalu begitu saja. Mood nya benar-benar rusak. Dia paling tidak suka bolak balik dan kerja dua kali seperti ini. Apalagi sebelumnya mood anak itu sudah buruk karena google maps sesad.


"Katanya kerja kelompok? Kok udah balik," tanya Ricky kepada Gilang.


"Ambil mesin las Bang."


Ricky ber-oh ria. Menolehkan kepala kala suara gaduh dibelakang mengalihkan atensinya. "Woy Jri! Hati-hati, jangan bikin rusak barang gue Lo!"

__ADS_1


"Mesin las nya dimana sih, Bang?!"


"Lah ini mesin las," balas Ricky sembari mengangkat mesin las yang baru saja ia pakai.


"CK! Kenapa nggak bilang dari tadi?!" sungut Fajri lantas berjalan mendekati dua orang yang saling tatap heran.


"Perasaan Lo nggak nanya deh. Ya nggak gue kasih tahu."


"Udah sini gue pinjem!"


"Bisa biasa aja nggak Jri? Lo lagi darah tinggi, ya?!"


"Iya Bang. Lagi kumat tuh darah tingginya," sahut Gilang yang langsung dapat pelototan tajam dari sang empu.


"Gue pinjam dulu!" final Fajri lantas naik ke atas motor Gilang.


"Lo yang nyetir!" titah Fajri.


Gilang hanya bisa menghela napas pasrah. Tidak ingin lagi berdebat jika Fajri sudah dalam mode badmood.


Keduanya sampai di rumah Cindy. Beberapa menit setelahnya Laras dan Cindy pun sampai dengan satu kantong keresek belanjaan. Keadaan kembali kondusif kala Xavier sudah beralih ke tangan Ibu Cindy.


"Eh- sorry nih gue harus balik duluan. Nyokab suruh nganter catering sekarang," ujar Laras.


"Loh kok pulang? Baru aja gue sampai, masa Lo udah mau pulang aja," sahut Fajri.


"Gimana lagi dong, penting banget ini. Nggak mungkin kan gue ngebantah?"


"Yaudah nggak apa-apa kok Ras. Lo pulang aja. Biar kita yang lanjut," balas Cindy.


"Sorry banget nih. Kalian lanjut aja! Nanti kabarin kalau butuh bantuan."


"Terus Lo gimana Tik?" lanjut Laras menatap Cantika bingung. Pasalnya mereka berdua tadi berangkat menggunakan motor Laras.


"Tenang aja. Gue bisa pulang naik ojek online."


"Beneran?"


"Iya Laras. Serius nggak apa-apa."


"Oke kalau gitu gue duluan ya. Bye!"


Sepergian Laras, semuanya kembali sibuk dengan tugasnya masing-masing. Sudah satu jam lamanya mereka berkutat. Tanpa sadar matahari mulai berada di ufuk barat.


"Eh- udah mau Maghrib nih, mendung lagi. Pulang aja yuk. Toh tinggal selesaiin laporannya aja kan ya?" ujar Fajri.


"Iya nih kayak mau hujan."


"Yaudah pulang aja. Biar gue selesaiin laporannya nanti di rumah," sahut Fiki.


Setelah selesai membereskan kekacauan yang mereka buat. Kelima remaja itu beranjak dari duduknya sembari menggendong tas masing-masing. "Eh- Lo pulangnya gimana Tik?"


"Naik ojol Jri. Ini masih pesen," ucap Cantika sambil mengetuk-ngetuk layar ponselnya.


Sedangkan ketiga remaja laki-laki itu sudah bersiap naik ke atas kuda besi milik mereka.


"Gimana udah dapet?" tanya Cindy.


"Belum nih. Kok belum ada yang itu ya," wajah Cantika muram.


"Kenapa nggak bareng Fiki aja sih?" celetuk Cindy.


Gilang diam-diam tersenyum miring. "Nah betul itu! Bareng Fiki aja. Dari pada nunggu ojol keburu hujan nanti," ujar Gilang menggebu.


Fiki sedari tadi hanya diam. Tetap memasang wajah datarnya tanpa menanggapi ucapan teman-temannya.


"Nah iya! Mau kan Fik antar Tika sekalian?"


"Nggak usah Cin, gue naik ojol aja."


"Emang udah dapet mang ojol nya?"


"Woy! Peka dong! Ada temannya kesusahan juga. Tawarin tebengan gitu, malah diem-diem bae dari tadi," sungut Gilang menampol lengan Fiki yang langsung mengaduh.


"Ck! Iyaudah ayo."


Cantika menggigit bibir dalamnya. Menahan agar sudut bibirnya tidak tertarik kesamping. Juga debaran di dalam sana tidak bisa lagi ia kendalikan.


"Nah gitu dong! Kalau ada kesempatan jangan di sia-siain," sambung Gilang.


Fajri memutar bola matanya malas. Mengerti akan apa yang dipikirkan Gilang. "Teman menyesatkan," gumam Fajri.


***


Mereka berempat berpisah di persimpangan. Kini, hanya tinggal Fiki dan Cantika yang menyusuri jalanan lengang karena mentari yang mulai tenggelam dan mendung yang semakin petang.


Belum sampai di tujuan, awan pekat di langit sudah tak dapat menahan air hujan. Perlahan rintik air hujan pun mulai turun hingga debitnya semakin deras. Memaksa kedua remaja itu menepi. Hingga halte yang tak jauh dari depan merekalah yang menjadi tujuannya.


"Duh kok tambah lebat aja sih," gerutu Cantika sembari mengusap usap lengannya.


Sedang Fiki yang tak lepas melirik gerakan Cantika itu mendengus. Merotasikan bola matanya lantas melepas jaket yang ia kenakan.


Cantika menatap bingung jaket yang Fiki sodorkan tanpa membalas tatapan bingungnya. Anak itu masih setia memandang jauh ke depan yang semakin buram karena rintikan hujan. "A-apa?"


"Pakai!"


"Eng-"


Tubuh Cantika menegang ketika Fiki dengan lancangnya menaruh jaket itu di pundaknya. Tanpa sadar sekarang dirinya menatap Fiki dengan mulut sedikit terbuka.


Fiki tidak memperdulikan Cantika yang masih di alam bawah sadarnya. Menatap Fiki tanpa berkedip. "Gue tahu gue ganteng."


Cantika gelagapan. Segera menghadapkan tubuhnya kedepan. Berdehem agar debar di dalam sana kembali normal.


Cukup lama keduanya diam. Hening memeluk bersama dingin udara sore yang semakin membuat keadaan canggung. Entah itu hanya perasaan Cantika- atau Fiki sama-sama bisa merasakannya. Hingga lirih ucapan Cantika mengalihkan atensi Fiki.


"Maaf."


Tidak ada balasan. Cantika tahu, dan tidak terlalu berharap untuk Fiki membalas permintaan maafnya. Tapi kenapa dadanya serasa diremas oleh tangan tak kasat mata? Sakit. Mendapati respon Fiki yang masih saja dingin kepadanya.


Cantika meremat jarinya. Wajahnya tertunduk dalam. Dan hal itu membuat hati Fiki terasa dicubit. Sungguh, dia tidak mempunyai niat untuk membuat gadis disebelahnya ini sedih. Sampai terus memohon maaf padanya. "Emang Lo punya salah apa sama gue? Sampai harus minta maaf."


Cantika mendongak. Cukup kaget mendengar Fiki membuka suara. "Emm- soal kemarin," cicit Cantika.


"Kalau yang Lo maksud kesalah pahaman soal hubungan Lo sama Fenly- gue sadar nggak punya hak buat marah ke Lo Tik. Semua itu murni kesalahan gue yang nggak sadar diri. Oh- atau emang perasaan gue aja yang salah. Dan nggak seharusnya gue berharap lebih," ujar Fiki menatap kosong kedepan tanpa menatap kedua netra Cantika yang menatapnya dalam.


Cantika cengo. Seolah tak menyangka jika Fiki akan memberikan respon semacam itu. Sedetik kemudian, Fiki memutar tubuhnya ke arah Cantika dan menatapnya dalam. "Gue disini yang bodoh! Jadi, Lo tenang aja. Gue nggak akan ganggu hubungan Lo sama Fenly. Semoga Lo bahagia sama dia!" Fiki kembali menghadapkan tubuhnya ke tempat semula.


Cantika menggeleng pelan, "Sebenernya Lo serius nggak sih waktu itu?!" tatap Cantika tajam pada sosok tinggi tegap di hadapannya.


Mendengar itu sontak membuat Fiki menoleh ke arah Cantika dengan kening berkerut.


"Gampang banget mau mundur. Nggak mau berjuang sekali lagi buat cinta Lo?" Cantika tersenyum smirk lalu memalingkan wajahnya.


"Buat apa berjuang, kalau orang yang kita cintai jelas-jelas udah punya hubungan," datar Fiki sambil melipat tangan di dada.


Kalimat Fiki berhasil membuat Cantika diam membisu. Namun tekad dalam dirinya berhasil membuatnya kembali bersuara. Hanya untuk memastikan bahwa orang di depannya masih ada rasa untuknya.


"Lo beneran nggak pengen tahu apa jawaban gue buat pertanyaan Lo waktu itu?" tatap Cantika dalam.


Fiki melirik Cantika datar. "Apa?"


Cantika menarik napas dalam. "Jujur- sebenernya gue juga ngerasain apa yang Lo rasain ke gue," ucap Cantika tertunduk malu.


"Jadi?" tak bisa dipungkiri terbit sebuah harapan dalam benak Fiki.

__ADS_1


"Gue juga suka sama Lo. Gue cinta sama Lo Fikiii!"


Kedua bola mata Fiki membola. Menahan agar kedua sudut bibirnya tidak terangkat. Lantas kembali menghadap sepenuhnya kearah Cantika. "Lo, serius?!"


"Iya. Gue serius! Gue suka sama Lo Fik," balas Cantika mantap tanpa adanya keraguan sedikit pun.


"Terus, Fenly gimana?"


Cantika diam sejenak sebelum berucap lirih. "Kalau Lo nyuruh gue buat ninggalin Fenly sekarang, maaf Fik gue belum bisa."


Fiki melongo. Benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang ada dipikiran Cantika saat ini. Wajahnya kembali memerah menahan kesal. "Terus maksud Lo nyatain perasaan Lo ke gue itu apaan?! Cuma bikin gue terbang tinggi terus kasih harapan palsu lagi ke gue, gitu?!"


"Enggak!" Cantika menggeleng cepat.


"Bukan kayak gitu Fik! Sumpah, gue cuma mau Lo tahu perasaan gue. Nggak ada niatan buat ngasih Lo harapan palsu," balas Cantika menggebu.


"Terus sekarang mau Lo apa sebenernya?!"


"Gue mau kita backstreet," sahut Cantika cepat.


"What?! Lo bercanda Tik?!" balas Fiki tak kalah cepat dengan kedua sorot mata tajam. Sedang Cantika menggeleng berulang kali.


"Gue serius Fik. Kita backstreet aja, ya?!"


Untung sayang. Kalau tidak rasanya ingin sekali Fiki menempeleng kepala gadis di depannya ini. Bisa-bisanya secara gamblang mengajaknya backstreet sedangkan di sisi lain dia sudah memiliki kekasih. Bukan kah ini namanya lebih ke 'selingkuh'?


"Lo nggak mau Fik? Bukannya Lo juga cinta ya sama gue. Gue nggak mau kehilangan Lo. Tapi gue juga belum bisa putusin Fenly," ujar Cantika lemah.


Fiki mensugar rambutnya yang basah karena air hujan. "Lo- Lo nggak mikirin perasaaan Fenly?"


"Fenly juga kan nggak tahu," celetuk Cantika yang semakin membuat Fiki geram.


"Tapi nanti kalau dia tahu?!"


"Ya- ya nggak usah dipikirin kesananya dulu."


"Enteng banget Lo ngomong gitu, Tik."


Fiki menggeleng pelan. Tidak habis pikir, tapi setengah hatinya juga ikut senang. Ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Gimana, mau ya?!"


Cantika menanti jawaban Fiki dengan harap-harap cemas. Bola matanya bergerak gusar mengamati diamnya Fiki. Tapi, detik selanjutnya binar dikedua mata Cantika menyala bersama teriakan tertahan didalam sana.


"Oke!"


***


Fiki menghentikan motor tepat di depan rumah Cantika. Tanpa sadar sedari mereka tiba dengan tawa yang entah karena apa, ada sepasang mata yang menatap keduanya datar. Hingga netra Cantika menangkap satu nyawa yang juga memperhatikan mereka berdua.


"Loh, Laras? Kok Lo disini?"


Laras tersenyum kikuk. "Ah- itu tadi gue antar nasi kotak buat Lo. Eh malah nggak bisa pulang gegara hujan."


Cantika mengangguk. Beralih kepada Fiki yang tangah sibuk memeras jaket miliknya. "Fik, tunggu disini ya. Gue ambilin handuk dulu."


"Iya," balas Fiki dengan seulas senyum manis. Dan itu membuat kedua alis Laras mengernyit heran.


"Masuk aja yuk Ras!"


Laras mengangguk. Mengekor dibelakang Cantika. "Kok Lo bisa bareng sama Fiki?" tanya Laras seketika menghentikan langkah Cantika.


"Ah- itu tadi gue nggak dapet-dapet ojeknya. Terus keburu hujan juga, jadi ya bareng sama Fiki aja."


Laras menatap Cantika heran, "Kenapa Lo senyum-sentum mulu? Aneh banget."


Senyum Cantika semakin lebar dengan kedua bola mata membulat. Mengambil tangan Laras untuk digenggam. Lantas mengeluarkan suara yang hampir memekik keras. "Lo tahu nggak?!"


"Enggak," cuek Laras.


"Ahh!! Gue udah baikan sama Fiki!" Girang Cantika.


"Dan asal Lo tahu, kita nggak cuma baikan aja," suara Cantika mengecil.


"Maksudnya?"


"Kita backstreet!"


Damn!


Tubuh Laras membeku detik itu. Mencoba memahami apa yang baru saja keluar dari mulut sahabatnya itu. "A-apa?"


"Iya Laras, gue backstreet sama Fiki. Lo tahu kan artinya backstreet?!"


Detik itu, Laras menarik kasar tangannya yang digenggam Cantika. Menatap tajam Cantika yang masih menyalakan binarnya.


"Lo gila?!"


"Ras-"


"Lo nggak mikirin gimana perasaan Fenly nantinya, Tik?!"


"Gue kan udah pernah bilang sama Lo Ras. Gue nggak benar-benar bahagia sama Fenly. Gue lebih bahagia sama Fiki."


Laras menggelengkan kepalanya. Berusaha menahan embun dikedua matanya agar tidak luruh begitu saja. "Gila Lo Tik!"


"Udah ya! Capek Gue nasehatin Lo Tik! Mulai sekarang terserah apa yang mau Lo lakuin."


"Kok Lo ngomong gitu sih?" Cantika mengernyit.


"Tapi inget satu hal! Jangan sampai Lo bikin Fiki sakit hati! Gue nggak akan pernah bisa terima!" tajam Laras menatap Cantika.


"Maksud Lo?" Cantika cengo.


"Gue pulang!" ujar Laras tanpa membalas pertanyaan sahabatnya itu. Menulikan telinga kala Cantika meneriaki namanya.


"Maksudnya tuh anak apaan sih?" gumam Cantika dengan kedua dahi terlipat dalam.


Melihat Laras keluar dari dalam rumah dengan langkah memburu dan bersiap melangkah pergi, membuat Fiki bertanya. "Laras! Mau ke mana?"


"Pulang!"


"Masih gerimis lho. Mau gue anterin?" tawar Fiki berlari kecil menghampiri Laras.


"Nggak usah! Gue bisa pulang sendiri!" final Laras yang langsung melenggang pergi meninggalkan keheranan di belakangnya. Menerjang buliran air yang terus turun dari tempatnya. Seolah tak peduli jika basah karenanya. Karena kini hatinya benar-benar terluka dan untuk yang kesekian kalinya.


***


...*TBC*...


...🥀🥀🥀...


...WUHUUU Akhirnya Up juga!!!...


.......


...Makasih buat yang masih setia menanti dan maaf kalau udah bikin kalian nunggu lama bangettt😭🙏...


.......


...Semoga suka ya sama ceritanya. Jangan lupa buat like dan komennya pren👍...


.......


...Yuk spam komen biar author semangat buat up lagii, hehe....

__ADS_1


.......


...Nb : hasil collab dengan @DES_Putri:)...


__ADS_2