
...Happy Reading 🥰...
...----------------...
***
BRAAKK
Dengan kasar Fiki menutup pintu kamarnya. Badannya menyeluruh dibalik pintu itu. Dia memang laki-laki, tapi apakah seorang laki-laki tidak boleh menangis?
Mungkin bagi orang lain gitar adalah sesutau yang biasa saja. Tapi untuk Fiki gitar adalah sesuatu yang sangat berharga. Banyak kenangan yang tercipta bersamanya. Piala-piala dan medali yang tergantung di lemari khusus kamarnya menjadi saksi bahwa musik bukanlah hal yang tidak berguna. Terlebih bagi seorang Fiki Dwi Ananta.
Tak terasa linangan air mata turun begitu saja membasahi pipi Fiki. Prestasi-prestasi yang selama ini Fiki peroleh dalam bermusik, tak pernah sekalipun dianggap oleh sang Papa. Enatah apa alasannya. Fiki juga tidak mengerti mengapa Papa nya sangat membenci musik. Memikirkan semua hal itu semakin membuat sesak dadanya.
Isakan tangis keluar begitu saja dari mulut Fiki. “Lemah banget sih Lo Fik!” dengan kasar Fiki mengahapus air matanya. Tapi air mata itu terus saja jatuh.
Mendengar bantingan pintu dari kamar Fiki. Shandy pun mempercepat langkahnya menaiki anak tangga untuk menuju kamar adiknya. Pintu kamar Fiki tertutup rapat. Shandy tahu bahwa adiknya sedang ingin sendiri. Tapi Shandy tidak ingin jika adiknya menahan lukanya seorang diri. Bagaimanapun Shandy harus selalu ada untuk sang adik. Dengan pasti Shandy mengetuk pintu kamar Fiki.
Tok Tok Tok
“Dek. Abang mau ngomong,” panggil Shandy lembut. Berharap mendap jawaban. Namun ternyata nihil.
Fiki yang mendengar suara Shandy bergegas bangkit dan menyeka air matanya dengan cepat. Berjalan menuju meja belajar di sudut ruangan. Dia tidak mau jika si abang tahu bahwa dia sedang menangis karena kejadian itu.
“Abang masuk ya__,” ucap Shandy sembari memegang knop pintu yang ternyata tidak dikunci oleh penghuninya.
Ceklek
Pintu terbuka, Shandy mengedarkan pandangannya pada ruangan minimalis itu. Tidak ditemukan olehnya sosok si adik di tempat tidur. Namun, ketika pandangannya mengarah pada meja belajar di pojok ruangan itu, ditemukannya sang adik yang sedang sibuk dengan buku-bukunya.
Sebelum melangkahkan kaki menghampiri Fiki, Shandy menarik napas dalam lalu membuangnya dengan berat.
Fiki berusaha menyembunyikan kesedihannya dari Shandy dengan merapikan buku-bukunya yang belum sempat ia selesaikan sore tadi.
“Dek,” panggil Shandy menepuk pundak Fiki.
Fiki menoleh sesaat, lalu melanjutkan kembali aktivitasnya tanpa membalas panggilan Shandy.
“Abang tau kok perasaan Fiki. Abang tau Fiki sedih. Dan abang juga tau kalau apa yang Fiki lakuin ini cuma untuk menutupi luka Fiki dari abang.”
“Bang Shan di sini. Fiki bisa bagi semua masalah Fiki sama abang,” ucap Shandy tulus. Merangkul tubuh Fiki dari samping.
“Fiki bisa ceritain semuanya sama abang,” ucap Shandy meyakinkan Fiki.
Cukup lama tidak ada balasan dari Fiki. Shandy terus menatap sang adik yang sedari tadi menyibukkan diri dengan mengeluarkan satu per satu buku dari dalam tasnya.
“Dek,” panggil Shandy sekali lagi.
Fiki membuang napas lelah. “Salah ya bang kalau Fiki suka musik?” Fiki menoleh ke arah Shandy. “Apa salah kalau Fiki nggak dapet nilai sempurna? Apa salah kalau Fiki nggak jadi yang pertama? Dan apa salah kalau Fiki bisa nghasilin uang sendiri?” tanya Fiki dengan menahan buliran bening yang mencoba lolos dari matanya.
“Maksud Fiki apa?” Shandy tidak paham dengan kalimat terakhir yang dikatakan adiknya.
“Tanpa nanya alasan Fiki pulang malem, Papa langsung ngehakimin Fiki. Nghancurin benda kesayangan Fiki. Dan bilang hal-hal buruk soal Fiki? Seburuk itu ya bang Fiki di mata Papa?” tunjuk Fiki pada dirinya sendiri.
Mendengar perkataan Fiki, Shandy bisa merasakan apa yang Fiki rasakan. Sehancur apa perasaanya sekarang. Seseorang yang dulu selalu ia jadikan panutan, kini sama sekali tidak mendukungnya. Bahkan menentang dirinya.
__ADS_1
“Fik. Fiki nggak salah,” Shandy mengusap punggung Fiki. “Fiki nggak salah kalau punya bakat di bidang musik. Nilai yang turun, itu juga hal yang wajar. Bang Shan yakin kalau semua murid juga pernah ngalamin hal itu. Tinggal gimana cara kamu untuk memperbaiki itu semua." ucap Shandy berusaha untuk menenangkan sang adik.
"Fiki janji, Fiki bakalan fokus belajar lagi," balas Fiki menatap sendu Shandy.
"Tapi pulang terlalu malem itu nggak baik. Emang tadi Fiki kemana sih?" tanya Shandy lembut sambil melihat manik mata Fiki.
Fiki merogoh saku celananya membuat Shandy menautkan alisnya. Dari kantong celana itu, Fiki mengeluarkan beberapa lembar uang rupiah, nominalnya pun cukup besar. Kemudian Fiki menunjukkannya pada Shandy.
"Tadi Fiki bantuin Fajri manggung di kafe buat gantiin Zweitson. Terus ini gaji Fiki bang," ucap Fiki tersenyum singkat. "Fiki kira waktu Papa pulang, Fiki mau nunjukin hasil kerja keras Fiki dari bermusik ke Papa dan Papa bakalan bangga. Tapi nyatanya___," Fiki tersenyum miris melihat lembaran uang di tangannya.
Shandy menepuk-nepuk pundak Fiki, berharap menyalurkan kekuatan agar adiknya itu tidak patah semangat.
"Emang salah ya kalau Fiki bantuin temen?" Fiki mendongakkan kepalanya. "Abang kan tau sendiri gimana kehidupan Fajri. Bang Ricky juga temen Abang kan? Jadi mana mungkin Fiki nggak bantuin dia," ucap Fiki sendu.
"Abang ngerti," Shandy mengangguk.
"Malahan ya bang. Bos nya Fajri bilang kalau Fiki itu punya bakat. Dia bahkan nawarin Fiki buat ikut kerja part time bareng Fajri sama Zweitson," adu Fiki. "Orang lain aja dukung, masa' bokap sendiri enggak," Fiki tertawa remeh.
"Stt," Shandy menggelengkan kepalanya. Lalu meletakkan tangannya dikedua bahu Fiki. "Gimana pun juga Papa tetap Papa kita. Jangan sampai karena suatu hal kita membenci dia."
"Bang Shan tau kalau yang Papa lakuin itu menyakiti Fiki. Tapi Fiki juga harus tau, kalau Bang Shan akan selalu dukung impian Fiki. Fiki nggak boleh nyerah buat wujudin mimpi-mimpi Fiki," ucap Shandy menatap dalam Fiki.
Mendengar ucapan sang abang mata Fiki terasa panas. Hatinya terenyuh. Dia merasa sangat beruntung memiliki saudara seperti Shandy yang bisa membuat dia selalu merasa aman dan nyaman. Merasa bahwa dia tidak sendiri di dunia ini.
Dengan cepat Fiki langsung membawa dirinya dalam pelukan Shandy. Mengeratkan pelukannya pada saudaranya itu. Menumpahkan air mata yang sedari tadi coba ia bendung.
Dengan terisak Fiki mengatakan, "Makasih ya bang udah selalu ada buat Fiki. Makasih karena Abang selalu mendukung Fiki di saat semua orang menjatuhkan Fiki."
Shandy membalas pelukan Fiki, diusapnya punggung sang adik. "Itu udah jadi tugas Abang, dek."
"Demi Fiki, Abang akan relakan impian Abang buat menuhi impian Papa. Abang tau impian Fiki itu baik, jadi Abang nggak akan biarin siapapun menghalangi impian Fiki. Termasuk orang tua kita sendiri," ucap Shandy.
Tanpa kedua saudara itu sadari, seseorang berdiri di depan pintu menatap mereka dengan tatapan haru. Buliran air mata menetes dari matanya. Menyaksikan kasih sayang diantara mereka.
"Nah itu baru adik Abang!" sorak Shandy menepuk-nepuk kedua bahu Fiki. "Janji ya!" Fiki dan Shandy saling menautkan jari kelingking mereka. "Janji!" balas Fiki mantap, tak lupa senyuman terbit di wajahnya.
"Ehem," deheman seseorang mengalihkan fokus kedua saudara itu.
"Mama?" kompak keduanya.
Bu Ani berkata dengan satu alis terangkat, "Tumben nih anak-anak Mama akur," ucapnya sambil tersenyum menggoda.
Shandy menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Ehm, Shandy mau ke kamar dulu deh ngantuk," ucapnya salah tingkah. Lalu berjalan keluar kamar. Sebelum berbelok ke arah kamarnya, Shandy kembali menoleh melihat Mama dan adiknya.
"Fik ingus Lo tuh mbeler," ucap Shandy dengan gaya tengilnya.
Dengan refleks Fiki langsung mengusap bawah hidungnya. Dan ternyata tidak ada apa-apa di sana. "Enak aja Lo bang! Gue nggak ingusan ya!" sungut Fiki yang membuat Mamanya terkekeh.
"Abang kamu tuh emang gitu," Bu Ani geleng-geleng kepala.
***
Hari ini ada jadwal pelajaran olah raga. Pelajaran yang sangat disukai oleh sebagian besar murid.
Tepatnya pada jam pelajaran ke tiga. Seluruh murid kelas 11 IPS 1 kini sedang bersiap mengganti seragam olahraga mereka.
__ADS_1
"Ras," panggil Cantika pada Laras yang kini sedang ada di ruang ganti bersama teman-teman perempuan lainnya.
"Kenapa Tik?" jawabnya.
"Kok gue ngerasa Fiki kayak menjauh gitu ya dari gue?" tanya Cantika murung.
Laras membuang napas berat, "Iya sih___ Gue juga ngerasa gitu."
"Padahal gue kan cuma mau minta maaf sama dia soal kejadian waktu itu. Soal gue yang udah ngecewain dia, bahkan dia sampai dihajar sama Fenly," ucap Cantika menunduk.
"Bukanya Lo bilang Fenly udah minta maaf?" heran Laras.
"Ya itu kan Fenly. Gue nya belum," jawab Cantika dengan bibirnya yang manyun.
"Kok gue nggak suka ya kalau Fiki jauhin gue. Gue ngerasa gue___," Cantika menggantungkan kalimatnya.
"Juga suka sama Fiki?" tebak Laras. Cantika mengangguk ragu.
Laras menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Please Tik! Sadar! Lo itu udah punya pacar, Fenly!" Laras menggoyangkan pelan tubuh Cantika.
"Tapi Ras. Lo kan tau sendiri gimana hubungan gue sama dia," Cantika menatap Laras. "Kita nggak bener bener bahagia!" tekannya.
Untuk kesekian kalinya Laras membuang napas panjang, "Terus mau Lo gimana?".
"Gue bakal jujur sama Fiki soal perasaan gue yang sebenarnya ke dia," tekat Cantika kuat.
"What?!" Laras membelalakkan matanya. "Terus Fenly Lo gimanain?! Cantika Auliaaaa," gemas Laras menarik pelan helai rambut Cantika membuat si empunya meringis kesakitan.
"Gue belum tau. Tapi yang penting gue harus baikan dulu sama Fiki. Gue nggak mau dia kayak gitu terus ke gue Ras," ucap Cantika.
Laras cengo. "T-Tapi___," ada sedikit ketidak relakan di sana.
"Woy! Ngobrol mulu Lo berdua. Udah ditunggu noh sama Pak Roby," tegur salah seorang teman mereka.
"Udah ah ayok!" ajak Cantika yang kini sudah bangkit dari duduknya.
Namun tiba-tiba tubuh Cantika oleng membuat Laras yang ada di belakangnya langsung menopang tubuh sahabatnya itu.
"Eh eh. Lo nggak pa-pa Tik?" panik Laras yang melihat Cantika memijit pangkal hidungnya.
"G-Gue nggak pa-pa kok," jawab Cantika yang kembali menyeimbangkan tubuhnya.
"Beneran?" tanya Laras memastikan. "Kalau sakit mending ke UKS aja, biar gue yang izinin Lo ke Pak Roby," sarannya.
"Nggak usah. Gue beneran nggak pa-pa kok," ucap Cantika berusaha tersenyum agar sahabatnya itu tidak mengkhawatirkannya.
"Yaudah kalau gitu," ucap Laras yang masih saja khawatir.
Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju lapangan basket. Yap, hari ini adalah materi tentang bola besar yaitu bola basket.
...*TBC*...
...🥀🥀🥀...
...Makasih buat yang udah baca🥰...
__ADS_1
...Jangan lupa buat like dan vote ya.....
...Kritik dan saran ditunggu...