Coba Cintaku

Coba Cintaku
Chapter 14


__ADS_3

...Happy Reading🥰...


...----------------...


Bulan bersinar terang menyinari gelapnya malam. Bintang-bintang bertebaran menghiasai langitnya malam. Semilir angin seolah menebar salam. Malam yang tepat untuk mengutarakan perasaan.


Fiki dan Cantika yang sedang belajar di teras rumah sedang menyantap makanan dan secangkir teh hangat.


"Kayaknya udah cukup deh belajarnya. Kita udah pelajari semua materi buat besok dan udah latihan soal juga," ucap Fiki sambil melihat Cantika yang masih fokus dengan bukunya.


"Ehmm iya juga sih," Cantika menutup bukunya.


'Kayaknya ini waktu yang tepat buat gue nyatain cinta ke Cantik,' batin Fiki dengan jantung berdebar.


Mereka berdua merapikan buku dan alat tulis mereka masing-masing.


"Cantik," Fiki menatap Cantika.


"Iya?"


"Aku ada sesuatu buat kamu," Fiki mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Membuat Cantika memicingkan matanya.


"Nih coklat!" Fiki menyodorkan sebatang coklat Silverqueen yang dibalut pita merah. Terkesan sangat istimewa.


Cantika membelalakkan matanya, "Buat gue?".


"Iyalah buat siapa lagi. Ambil dong!" pinta Fiki mengangkat salah satu alisnya.


"Widihhh ada apa nih? Pakai ngasih coklat segala?" Cantika menerima coklat itu dengan tatapan heran.


"Bakalan aku jawab pakai lagu," Fiki mengambil gitarnya dan mulai memetik senar-senar gitar itu.


Jrengg...



Cantika benar-benar tidak bisa menahan senyumnya. Pipinya terasa panas sekarang. Melihat Fiki yang mendadak jadi romantis. Pertama dia memberi coklat, sekarang dia akan menyanyikan sebuah lagu untuk Cantika.


'Aduh Fiki!! Ngapain pakek nyanyi sambil main gitar segala sih? Bikin mleyot tahu!!' gemas Cantika.



Sambil melihat manik mata Cantika yang indah, Fiki mulai melantunkan sebuah irama dari mulutnya.


...Cantik...


...Bukan kuingin mengganggumu...


...Tapi apa arti merindu...


...Selalu (ow)...


...Walau mentari terbit di utara...


...Hatiku hanya untukmu...


...Ada hati yang termanis dan penuh cinta...


...Tentu saja kan kubalas seisi jiwa...


...Tiada lagi...


...Tiada lagi yang ganggu kita...


...Ini kesungguhan...


...Sungguh aku sayang kamu...


DUAR!!!


Fiki nembak Cantika pakai lagu dong!! OMG semoga Cantika nggak meninggoy.


"Gimana?" Fiki mengangkat salah satu alisnya.


Cantika benar-benar tidak bisa berkata-kata. Rasanya dag dig dug der. Masih terdiam di tempat tanpa sepatah kata pun.


'Awww! Demi apa?! Fiki nembak gue?!', Cantika menggigit bibir bawahnya.


'Haduh harus jawab gimana nih??'


"G-gimana a-apanya?" jawab Cantika gugup.


"Yang tadi, larik terakhir. Kamu iya nggak?"


Cantika berusaha menahan senyumnya. Dia merasa antara senang dan cemas. Benar-benar rasa yang aneh.


"Ehmm yang mana?" Cantika menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


Fiki menarik napas dalam, "Sungguh aku sayang kamu...." ucapnya dengan nada dan genjrengan gitar.


Cantika semakin kikuk.

__ADS_1


'Aku juga Fik! Tapi___' batin Cantika.


Fiki mengelus tengkuknya. Cantika yang hanya diam saja membuat Fiki overthinking.


Mencoba tenang, Fiki mengumpulkan kekuatan untuk menerima apapun jawaban dari Cantika. Termasuk penolakan.


"Kalau emang enggak. Nggak pa-pa jawab aja," ucap Fiki pasrah.


"Sebenarnya gue juga___"


Brmm Brmm Brmm


Suara deru motor menghentikan kalimat Cantika. Seseorang dengan motor ninja warna hijau itu langsung masuk ke teras rumah dan memarkirkan motornya.


Orang itu kemudian mematikan mesin motor dan melepas helm full face dari wajahnya. Membuat mata Cantika membulat dan Fiki yang memicingkan matanya. Seolah tak asing dengan sosok tinggi tegap itu.


'Itu kan?' batin Fiki sambil mengingat siapa sosok itu.


'Fenly!!' Cantika panik.



Orang itu kemudian turun dari motornya dan langsung menghampiri Fiki dan Cantika dengan tatapan tidak suka.


"Siapa nih?" tunjuk Fenly pada Fiki.


"T-temen aku," jawab Cantika gugup.


Fenly langsung menoleh pada Fiki dengan mengernyitkan dahinya.


"Kok gue kayak pernah lihat Lo ya?" Fenly mengingat-ingat wajah Fiki.


"Kalian saling kenal?" heran Cantika.


"Iya. Jadi kita itu___"


Belum sempat Fiki menyelesaikan ucapannya. Fenly tiba-tiba memotong perkataannya dengan nada yang cukup tinggi.


"Ohh gue inget! Lo kan yang waktu itu nimpuk kepala gue pakai botol kan?! Ya kan?!" tukasnya.


"Santai aja dong! Kan gue udah bilang kalau nggak sengaja!" tegas Fiki.


Fenly berkacak pinggang sambil memutar bola matanya malas. Dia kembali melihat Cantika sambil memberikan sebungkus makanan yang ia beli tadi, yaitu seblak.


"Nih sayang! aku bawain kamu seblak," girang Fenly sambil tersenyum.


Degg


"I-iya makasih," jawab Cantika ragu-ragu.


"Sama-sama," Fenly mengacak gemas rambut Cantika.


Fiki membelalakkan matanya. Apa-apaan ini? Dia benar-benar tidak habis thinking.


'Apa?! Sebenarnya ada hubungan apa Cantik sama Fenly? Apa mereka pacaran???' Fiki benar-benar mati kutu.


"Coklat dari siapa nih?" tanya Fenly yang salfok pada coklat ditangan Cantika.


'Aduh jawab apa nih?? Masa' gue jawab dari Fiki? Nanti malah baku hantam lagi!' gusar Cantika.


"Kok diem?" tanya Fenly dengan tatapan tajam. "Ohh aku tahu dari siapa," Fenly tersenyum smirk.


"Pasti dari cowok resek ini kan?! Ngaku nggak Lo!!" Fenly menatap nyalang Fiki lalu melempar coklat itu padanya.


"Fenly! Udah!" Cantika memegang tangan Fenly.


"Jawab!! Malah diem lagi!" Fenly mendorong Fiki.


"Iya! Kenapa?" jawab Fiki mantap.


"Kenapa Lo bilang?!" Fenly tersenyum miring. "Nih ngapain pakai bawa-bawa gitar segala?!" tunjuk Fenly pada gitar di tangan Fiki.


"Terserah gue lah! Gitar-gitar gue!" Fiki mengalihkan pandangannya, malas.


"Songong banget Lo!" Fenly memegang kerah baju Fiki dan mengangkatnya ke atas. Mebuat Fiki berdiri menjajarinya.


"Mau modusin cewek gue Lo?! Hah?!" teriak Fenly dengan mata memerah.


"Cewek Lo?" Fiki menatap Cantika, meminta penjelasan darinya.


"Iya! Cantika itu PACAR GUE!" tekan Fenly.


"H-hah??" pandangan Fiki beralih pada Cantika sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya.


Pasalnya Fiki mengira bahwa selama ini Cantika masih sendiri. Karena dia tidak pernah menolak jika Fiki mengajaknya keluar atau jalan bersama. Dia juga tidak pernah bilang kalau dia sudah punya pacar. Benar-benar fakta yang mencengangkan bagi Fiki.


"Fenly udah!" pinta Cantika berusaha melepas cengkraman Fiki dari Fenly.


Dalam amarah, Fenly menarik tangan Cantika menjauh dari sana.


"Kamu diem dulu! Ini urusan aku sama dia!" bentak Fenly pada Cantika membuat gadis itu berkaca-kaca.

__ADS_1


"Woy! Jangan kasar sama cewek!" ucap Fiki tak terima.


"Bacot Lo!"


Bugg


Fenly meninju Fiki cukup kuat. Tak terima, Fiki membalas dengan pukulan. Tapi apa daya, sekuat apapun Fiki melawan tetap saja dia kewalahan menghadapi sang juara karate tingkat provinsi itu.


Bugg Bugg Bugg


Pukulan demi pukulan tak terelakkan. Cantika tahu jika Fenly lebih jago bela diri daripada Fiki. Jika hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi.


Dengan berani dia berlari dan berdiri di tengah tengah kedua cowok itu tanpa memperdulikan resiko yang mungkin akan dialaminya.


"CUKUP!!!" Cantika memejamkan matanya, berdiri dan membentangkan kedua tangannya tepat di tengah tengah Fiki dan Fenly.


Hal itu langsung membuat Fenly membatalkan pukulannya yang siap menghantam wajah Fiki.


"Udah Cukup Fen!" ucap Cantika dengan suara bergetar.


"Lihat Fiki!" tunjuk Cantika pada Fiki yang berusaha bangkit dengan napas tak beraturan. Fiki yang penuh dengan luka lebam dan darah yang mengalir di pelipis serta bibirnya akibat pukulan Fenly.


"Nggak seharusnya kamu pukulin dia kayak gitu!" tegas Cantika dengan air mata berkaca-kaca.


"Kok kamu belain dia?!" Fenly tak terima.


"Aku nggak belain siapa-siapa!"


"Fenly dengerin aku! Aku sama Fiki itu cuma belajar bareng! Udah gitu aja! Dan masalah dia kenapa bawa gitar, itu karena dia habis latihan sama teman-temannya! Kita nggak ngapa-ngapain!!" jelas Cantika panjang lebar dengan air mata menetes di pipinya.


Dia benar-benar tidak ingin melihat hal ini terjadi.


Fenly yang sebelumnya terbakar cemburu dan amarah yang membara langsung luluh ketika melihat Cantika menangis. Hatinya merasa teriris. Karena dia Cantika jadi seperti ini.


"Kamu selau kayak gitu! Dikit-dikit mukul dikit-dikit mukul! Nggak gitu cara kamu gunain kelebihan kamu! Aku kecewa sama kamu!!" Cantika mengusap kasar wajahnya.


Fenly menangkup wajah Cantika, "Please, jangan nangis! Aku minta maaf," Fenly menghapus air mata di pipi Cantika.


Cantika menurunkan tangan Fenly dari wajahnya, lalu berbalik membantu Fiki berdiri. Namun ditepis oleh cowok itu.


"Nggak usah! Gue bisa sendiri!" Fiki berusaha berdiri sambil meringis kesakitan.


Fiki lalu mengemasi barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.


"Fik, maafin gue ya!" ucap Cantika sambil menahan tangan Fiki.


"Urus aja dulu masalah Lo sama COWOK Lo itu!" Fiki melepaskan tangan Cantika dari tangannya lalu berpaling pergi dari sana.


Saat berpapasan dengan Fenly, mata mereka saling bertemu. Nampak jelas guratan kebencian dalam diri mereka. Fiki mengusap aliran darah dibibirnya dengan satu jempolnya, tepat dihadapan Fenly.


Cantika hanya bisa melihat Fiki dengan tatapan sendu. Ingin rasanya dia mengobati luka itu, tapi dia tak berdaya untuk melakukannya.


Suara mesin motor menyala, Fiki memakai helmya dan langsung mengemudikan motornya itu menuju kediaman keluarga Ananta.


****


Fiki melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ramainya kendaraan malam itu seakan tidak dihiraukan lagi olehnya. Menatap jalanan dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang, teringat kejadian yang dialaminya beberapa saat lalu.


Fakta bahwa orang yang dia cintai ternyata sudah memiliki kekasih adalah hal yang menyakitkan dan memalukan. Bagaimana bisa dia mencintai kekasih orang lain??!


Dan sekarang, dia telah terlanjur mencinta. Apakah dia bisa melupakannya?


"ARGHHHHH!!!" teriak Fiki diatas motor yang dikendarainya. Bisingnya jalanan dan helm di kepalanya bisa cukup meredam suaranya itu sehingga tidak terdengar oleh orang lain.


"KENAPAA?! KENAPA LO NGGAK NGOMONG DARI AWAL??! SEENGGAKNYA RASA INI NGGAK MAKIN DALAM!!!"


Sepanjang perjalanan Fiki hanya bisa merutuki nasibnya. Sampai akhirnya dia tiba di rumah.


Setelah memarkirkan motornya di garasi, Fiki bergegas masuk ke dalam rumah. Tapi, betapa terkejutnya dia ketika seseorang berbadan tinggi tegap berdiri di depan pintu sambil melipat kedua tangannya dan menatap Fiki dengan tatapan horor.


"Dari mana kamu?!"


"Jam segini baru pulang!"


"Itu muka kenapa pada bonyok semua?!"


Pertanyaan intimidasi meluncur bak peluru yang menghujam Fiki.


"P-papa? Papa udah pulang?" gugup Fiki.


"Ditanya malah balik tanya! Dari mana kamu?!" suara bariton itu berhasil membuat Fiki tersentak kaget. Sampai-sampai membuat Bu Ani dan Shandy keluar dari dalam rumah.


...🥀🥀🥀...


...Makasih buat yang udah baca🥰...


...Kalau kalian suka sama ceritanya...


...Jangan lupa buat like, vote, dan fav ya.....


...Kritik dan saran ditunggu...

__ADS_1


__ADS_2