
...Happy Reading🥰...
...----------------...
****
Saat jam istirahat, hanya ada Cantika dan Laras yang ada di dalam kelas. Semua penghuni kelas 11 IPS 1 sudah ngacir untuk urusan masing-masing.
Laras yang masih bingung dengan kejadian tadi pagi tidak bisa menahan kekepoannya lagi.
"Tik, kok Lo bisa telat sih?" tanya Laras mencoba tenang.
"Iya nih gara gara bannya Fiki bocor. Jadinya harus ke bengkel dulu, terus telat deh," jelas Tika santai.
"Jadi Lo berangkat bareng Fiki?"
"Heehm."
"Kok bisa?! Biasanya Lo kan bareng Fenly!" Laras seolah tak terima.
Tika menatap Laras bingung, "Kok Lo sewot? Lo nggak suka?" Tika terheran-heran melihat Laras yang seperti tidak suka jika dirinya berangkat sekolah dengan Fiki.
"Eng..eng..nggak gitu. Maksud gue, kan Lo biasanya bareng pacar Lo si Fenly. Lha kok tiba-tiba bisa bareng Fiki?" balas Laras kikuk.
"Ouh gitu," Tika manggut-manggut.
"Jadi Fenly lagi sakit, makanya dia nggak masuk hari ini. Terus waktu gue lagi nunggu ojol tiba-tiba si Fiki dateng dan ngajakin gue berangkat bareng."
"Fenly sakit? Sakit apa?"
"Kakinya cedera waktu latihan karate kemarin," Tika murung.
"O iya, kok Fiki bisa tahu rumah gue sih?" Tika menatap Laras curiga. "Lo yang ngasih tahu dia?"
"Iya," Laras tersenyum.
"Hmm sudah kudugong," Tika memutar bola matanya malas.
"Habisnya si Fiki maksa banget sih pengen tahu rumah Lo."
"Kenapa?"
"Ya karena sebenarnya Fiki itu su__"
"Cantik!" seloroh suara membuat ucapan Laras terputus.
Cantika dan Laras langsung menoleh ke sumber suara itu. Ternyata trio kwek-kwek yang datang. Siapa lagi kalau bukan 2FG.
"Kenapa Fik?" tanya Cantika.
"Nih gue beliin siomay sebagai tanda permintaan maaf Gue," dengan senyum terulas dibibirnya Fiki memberikan sebungkus siomay.
"Ya ampun. Santai aja kali Fik. Pakek segala beliin gue siomay lagi," Cantika sungkan.
Hati Laras terasa perih melihat perhatian Fiki pada Tika. Kenapa dia harus merasakan pahitnya jatuh cinta.
"Udah nggak papa nih!" Fiki menarik telapak tangan Tika dan meletakkan siomay di atas tangannya.
Tika yang berniat mengembalikan siomay itu pada Fiki dicegah oleh Gilang, " Udah terima aja! Capek-capek si Fiki ngantrinya. Nggak kasihan Lo?!"
"Iya terima aja Tik! Demi bantuin Fiki gue rela-relain ke kantin," tambah Fajri.
Dengan bantuan Fajri yang datang ke kantin, maka Fiki bisa menerobos antrian pembeli siomay yang sudah seperti gerbong kereta itu.
Antrian siomay yang didominasi kaum hawa itu langsung kalap melihat idola mereka dan beralih haluan untuk mengantri berfoto dengannya.
Mereka berlima yang sudah paham dengan maksud Fajri hanya bisa menertawakannya. Aneh memang, hampir semua cewek di sekolah ini sangat mengidolakan kapten tim basket itu. Tapi entah kenapa dengan para cewek yang sekelas dengan Fajri. Mereka tampak B aja bahkan terkesan tidak tertarik sama sekali.
Apa ini yang dinamakan, cowok kelas sebelah lebih menarik daripada cowok di kelas sendiri? Sungguh membagongkan.
Akhirnya dengan senang hati Cantika menerima siomay pemberian Fiki itu.
"Makasih Fik!" ucapnya sambil tersenyum sangat manis.
"Iya sama-sama," balas Fiki dengan senyuman pula.
Laras juga ikut tersenyum melihat sahabat dan orang yang dicintainya tersenyum, meski sakit di hatinya tak bisa terelakkan.
"Eh eh tapi gue bingung deh. Dulu kan motor Lo juga pernah bocor Fik. Terus sekarang bocor lagi. Dan lokasinya itu nggak jauh dari bengkel abangnya si Fajri. Apa jangan-jangan??" ucap Gilang dengan wajah misterius.
"Jangan-jangan apa?!" sewot Fajri.
"Jangan-jangan___ Abang Lo yang naruh paku di situ biar bengkelnya laris," ucap Gilang sekenanya.
"Wah! Jangan ngadi-ngadi Lo Lang!!" sarkas Fajri. Tak terima jika abangnya yang baik hati di tuduh seperti itu.
"Sabar sabar!!" lerai Fiki. "Tau nih si Gilang. Sembarangan kalau ngomong!"
"Nggak mungkin lah bang Ricky kayak gitu! Dia tu baik orangnya!" tegas Fiki.
__ADS_1
"Tuh dengerin!!" Fajri ngegas dengan menatap tajam Gilang.
"Iya-iya maap. Soalnya di sinetron tuh biasanya kayak gitu," ucap Gilang meyakinkan.
"Dasar korban sinetron!" ledek Cantika dan Laras.
"Au tuh si Gilang," tambah Fiki dengan gelak tawa.
Setelah pelajaran hari ini selesai. Seperti biasa semua murid bersiap untuk pulang ke rumah.
"Fik duluan ya!" pamit Fajri sambil melakukan tos persahabatan, begitupun dengan Gilang. "Gue juga ya!"
"Ati-ati bro!" balas Fiki.
"Yoii" jawab keduanya kompak.
"Tik, Lo duluan aja ya. Soalnya gue masih ada kegiatan OSIS," ucap Laras sambil merapikan buku-bukunya.
"Yahhh. Gue pulang sendiri lagi dong," keluh Cantika yang dibalas senyuman hangat dari Laras.
"Maaf ya," ucap Laras dengan wajah memelas.
"Iya sans aja kali. Semangat!!" Cantika mengepalkan tangannya.
"Yaudah gue duluan ya, daa!" Laras bersiap melangkah pergi. Namun belum sampai keluar kelas tak sengaja dia mendengar pembicaraan seseorang.
"Pulang sendiri?" tanya Fiki pada Cantika yang mendengar percakapan Laras dan Cantika.
"Iya."
"Ya udah bareng lagi aja sama aku," ucap Fiki antusias.
"Nggak usah Fik. Gue bisa naik ojol kok," tolak Cantika.
"Kalau ada yang gratis kenapa pilih yang bayar? Udah ayok!" bujuk Fiki.
"Tapi nggak perlu beliin siomay lagi ya," pinta Cantika.
"Iya in aja deh biar cepet," ucap Fiki dengan senyum yang dibuat-buat.
"Skuy!" Fiki memiringkan kepalanya.
"Iya bentar Fiki, ini masih beresin buku," ucap Cantika yang masih sibuk berbenah.
Laras menarik napas panjang dan membuangnya kasar. Mencoba menenangkan jiwanya yang terbakar api cemburu. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain bersabar dan memendam rasa ini. Karena cinta memang tak dapat dipaksakan.
Sebelum raganya ikut terbakar, sebaiknya dia segera pergi dari sini.
***
Pertama, dia harus memendam rasa dan menahan kecewa karena cinta yang tak berbalas. Kedua, dia khawatir dengan Fiki. Karena sampai sejauh ini, Cantika belum jujur tentang statusnya yang sudah punya pacar.
Dia pura-pura tidak sadar dengan perasaan Fiki atau memang tidak menyadari kalau Fiki mencintainya.
Bagaimana jika cinta Fiki terlanjur dalam pada Cantika, dan saat dia mengetahui kebenaran itu dia akan kecewa. Laras tidak mau melihat Fiki kecewa. Karena itu pasti akan sangat menyakitkan baginya.
Dia harus bicara dengan Cantika tentang Fiki. Dia harus memastikan bagaimana perasaan Cantika yang sebenarnya pada Fiki. Laras tidak mau jika sahabatnya itu membuat orang yang dicintainya terluka.
Hari ini Laras memang sedang disibukkan dengan persiapan acara dies natalis beberapa hari lagi.
Dari pagi dia tidak masuk ke kelas karena hal ini. Jadi dia memutuskan untuk menemui Cantika saat jam istirahat nanti.
Saat jam istirahat tiba, Laras mencari Cantika ke dalam kelas. Tapi ternyata dia tidak ada. Hanya ada beberapa anak saja, termasuk Fajri dan Gilang.
'Apa Tika ke perpus ya?' pikir Laras.
'Fiki?! Fiki juga nggak ada. Apa mereka keluar bareng?'
Daripada bingung dengan opininya sendiri. Laras pun memilih untuk bertanya pada kedua sohib Fiki itu.
"Eh kalian tau nggak Tika dimana?" tanya Laras yang mendapat tatapan aneh dari Gilang.
"Ah eh ah eh. Kita punya nama kali!!" sewot Gilang.
Laras membuang napas kasar. Dia benar-benar tidak punya banyak waktu untuk berdebat dengan cowok di depannya itu.
"Iya iya___" pasrahnya. "Gilang__ Fajri___ kalian tau nggak Tika dimana?" tanya Laras dengan nada yang dibuat-buat.
Gilang yang melihat hal itu hanya tertawa. Jelas sekali bahwa Laras sedang kesal. Entah kenapa membuat orang adalah hiburan tersendiri bagi Gilang.
"Kayaknya tadi ke kantin deh sama Fiki," jawab Fajri.
'Sama Fiki?!'
"Ok makasih Jri!" Laras langsung bergegas menuju kantin.
"Woy Ras!! Lo nggak ngucapin makasih ke gue?!" tuntut Gilang.
"Ogah!" sahut Laras yang semakin menjauh.
__ADS_1
***
Di kantin sekolah yang cukup ramai itu terlihat dua muda-mudi yang sedang asyik bercanda dan tertawa sambil menikmati sepiring siomay.
"Fik, jujur ya. Belajar bareng sama Lo tuh seru banget tau," ucap Cantika.
"Sama. Lo juga," ucap Fiki sambil melahap sepotong siomay.
"Baru kali ini gue nemuin cowok yang sefrekuensi sama gue," Cantika mengulas senyum.
Fiki merasa salting mendengar Cantika bicara seperti itu padanya. Dia hanya membalas dengan senyuman.
"Kalau gitu, gimana kalau nanti malem kita belajar bareng lagi!" ajak Fiki.
"Ehmm boleh tuh," Cantika mengangguk antusias.
"Sekalian gue pengen ngajak Lo ke suatu tempat yang special," ucap Fiki dengan menatap Cantika dalam.
"Kemana?"
"Ada deh. Lihat aja nanti," Fiki melanjutkan memakan siomay miliknya.
"Hmm okey," balas Cantika sambil tersenyum yang dibalas senyuman pula oleh Fiki.
Tanpa mereka sadari seseorang di depan sana sedang mengamati mereka. Air mata yang coba ia bendung selama ini, seolah tak tertahankan lagi dan siap meluap kapan saja. Melihat kedua orang yang sangat disayanginya, terutama Fiki tertawa bahagia seperti itu harusnya membuat dia juga bahagia. Tapi kenapa hal itu justru membuatnya terluka.
Apa karena yang membuatnya tersenyum bahagia bukanlah dirinya, melainkan orang lain.
Kenapa rasa ini harus hadir dalam hatinya untuk orang yang bahkan hanya menganggapnya tidak lebih dari sekadar teman. Perih sungguh perih.
Ya__ Laras yang tadi datang dengan penuh keberanian ingin memastikan kebenaran dari sahabatnya. Seketika menjadi lemah dan tak berdaya melihat semua itu. Ingin rasanya dia lari dari sana, tapi kakinya tidak kuat untuk melangkah. Bahkan hanya untuk berdiri tegak rasanya sangat payah.
"Laras!" seseorang menepuk punggungnya.
Hal itu membuat Laras terkejut dan menitikkan air mata yang sedari tadi coba ia tahan.
"Kebetulan ketemu di sini. Yuk ngantin bareng!" ajak Chika yang langsung menggandeng tangan Laras namun di tahan oleh si empunya.
Chika yang merasa tertahan langsung berbalik dan melihat Laras dengan cemas.
"Lho Lo nangis Ras?" tanya Chika yang baru sadar jika ada buliran bening membasahi pipi temannya itu.
Dengan cepat Laras mengusap wajahnya kasar. "Enggak kok nggak nangis. Lo ke kantin aja. Gue balik duluan ada urusan," ucap Laras dengan nada bergetar.
Sebelum Chika mencurigainya, Laras segera berlari meninggalkan Chika.
"Ras! Laras! Urusan apa?!" teriak Chika yang tidak di gubris oleh Laras.
Tanpa Chika sadari teriakannya itu di dengar oleh penghuni kantin termasuk Cantika dan Fiki.
Mendengar nama Laras di teriaki seperti itu membuat Cantika bertanya-tanya.
Chika yang masih bingung hanya diam di tempat sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Chik Chika!" panggil Cantika. "Laras kenapa?" tanya Cantika sambil celingukan mencari sahabatnya itu.
"Eh ada Tika. Nggak tau gue juga. Tapi dia tadi kayak nangis deh," ucap Chika bingung.
"Nangis?" heran Cantika.
"Iya. Tapi pas gue tanya katanya nggak nangis. Padahal jelas-jelas dia itu nangis," ucap Chika frustasi.
"Emang dia lagi ada masalah ya?" tanya Cantika khawatir.
"Setau gue sih nggak ada. Tapi nggak tau juga kalau ada masalah lain," jawab Chika.
"Lagian Lo kan sahabatnya, pasti Lo lah yang lebih tahu. Coba aja Lo tanya sama dia," lanjut Chika.
"Setau gue juga nggak ada sih. Tapi coba deh nanti gue tanya," ucap Cantika mantap.
"Iya. Yau udah kalau gitu gue duluan ya. Laper," ucap Chika cengengesan.
"Laras kenapa ya? Kalau dia ada masalah kok nggak cerita sama gue?" Cantika bermonolog.
"Ada apa? Kok sedih gitu?" tanya Fiki dari belakang.
"Aku kepikiran sama Laras. Kayaknya dia lagi ada masalah deh," ucap Cantika gusar.
"Ya udah, nanti kamu tanya aja ke dia," ucap Fiki menenangkan. Cantika mengangguk pelan.
...🥀🥀🥀...
...Makasih buat yang udah baca🥰...
...Jangan lupa buat like dan vote ya.....
...Kritik dan saran ditunggu...
.......
__ADS_1
.......
...Kalau kalian suka sama ceritanya jangan lupa buat favoritkan ya, biar nggak ketinggalan sama update terbarunya. Makasih 🤗...