
Halo temen-temen!!
Maaf ya buat kalian nunggu lama🙏🙏
Semoga kalian masih mau dukung aku🥺💙
...
...Happy Reading 🥰...
...________...
Bel berdering diiringi sorak sorai dari para siswa-siswi. Berhamburan menuju tempat pelipur lapar setelah berjam-jam ditempa materi pelajaran. Seketika tempat paling ramai di sekolah saat jam istirahat itu, terisi sesak oleh antrian yang mengular hingga beberapa meter.
Sementara menunggu memesan makanan, mereka menonton cowok-cowok di tengah lapangan yang sedang bermain futsal maupun basket.
"Nggak ngantin dulu Jri?" tanya Gilang yang kini tengah berjalan beriringan bersama Fajri menuju kantin.
Namun saat melewati lapangan, Fajri mengatakan bahwa dia belum merasa lapar dan akan berlatih sebentar bersama teman-teman timnya untuk persiapan O2SN. Gilang pun memutuskan untuk pergi lebih dulu ke kantin.
Kalau boleh jujur, Fajri lebih suka berlatih saat sore hari setelah pulang sekolah. Suasananya lebih sepi dibanding saat jam sekolah. Terlebih lagi ini adalah jam istirahat, sudah jelas area lapangan yang dekat dengan kantin itu akan sangat ramai oleh para siswa-siswi yang berlalu lalang.
Banyak pasang mata yang akan menyaksikannya. Bukan maksud hati untuk terlalu percaya diri, namun itu adalah faktanya. Terbukti banyak jeritan dari para cewek-cewek untuk dirinya. Entah jeritan penyemangat atau bahkan jeritan kekaguman akan paras dan bakat sang kapten basket SMAPSA.
Di tempat lain, Zweitson berjalan menyusuri koridor kelas. Rencananya saat jam istirahat, dia akan ke studio musik untuk bertemu dengan pak Fendy, membahas persiapan FLS2N yang akan diselenggarakan tidak lama lagi.
Saat pintu dibuka, alunan melodi dari piano memyambutnya. Zweitson tertegun sejenak. Perlahan kakinya melangkah masuk untuk melihat siapa sosok yang tengah memainkan alat musik itu.
"Fiki!" ucap Zweitson membuat si pemilik nama menoleh ke arahnya.
"Eh- Son. Hai," balas Fiki ramah dengan sudut bibir terangkat.
"Tumben di sini. Ngapain?" tanya Zweitson menghampiri Fiki.
"Gue..."
Belum sempat Fiki menyelesaikan kalimatnya, Zweitson langsung menebak apa yang akan dikatakan oleh temannya itu.
"Oh! Gue tahu!" pekik Zweitson. "Lo pasti juga mau konsultasi sama Pak Fendy buat persiapan FLS2N kan?" tunjuknya pada Fiki.
"Soalnya kemarin Pak Fendy juga bilang ke gue, kalo Lo juga ikut FLS2N kategori penyanyi solo. Ya kan?" Zweitson terkekeh bangga. Mengira bahwa tebakannya itu pasti benar.
Mungkin benar yang dikatakan Zweitson. Tapi sebentar lagi itu tidak akan menjadi suatu kebenaran.
"Lo juga ikut Son?" Fiki balik bertanya.
Dengan mantap Zweitson mengangguk, "Yoi. Kategori Gitar solo tapi."
"Wahh mantap-" Fiki mengajak tos Zweitson. "Semangat son!"
"Pasti. Lo juga Fik!"
Dengan berat Fiki menghela napas. "Tapi kan Son, Gue..."
Tiba-tiba terdengar derap langkah seseorang yang membuat Fiki enggan melanjutkan ucapannya. Dan membuat kedua remaja laki-laki itu menoleh pada sosok yang baru saja hadir di tengah-tengah mereka.
"Assalamualaikum."
"Waallaikumussalam," jawab Fiki dan Zweitson kompak.
***
Sekitar 15 menit sudah Fajri bermain dengan bola basketnya. Tiba-tiba saja datang seorang cowok dan berteriak memanggil namanya dari tepi lapangan.
"Kak Fajri! Kak!" teriak adik kelas itu sambil melambaikan tangan.
Mendengar teriakan itu tentu saja membuat Fajri menoleh. Saat tatapan mereka bertemu, cowok itu meminta Fajri menghampirinya dengan mengunakan isyarat tangan.
Beberapa detik Fajri terdiam dan melihat cowok itu dengan sudut alis terangkat. Dia tidak mengenal cowok itu, dan tiba-tiba dia memanggil dirinya. Apa ada yang penting? batin Fajri.
"Kak Fajri!" panggil cowok itu lagi. Membuat Fajri akhirnya berjalan ke arahnya setelah melambaikan tangan pada teman setimnya.
"Ada apa?" tanya Fajri sambil mengelap keringat didahinya dengan punggung tangan.
"Itu Kak- tadi saya diminta memanggil kakak untuk ke ruang BK," jelas adik kelas itu.
Tentu saja dialog antara Fajri dan adkel cowok itu tak lepas dari tatapan puluhan pasang mata di segala penjuru. Meski mereka semua tidak mendengar apa dialognya, mereka tetap saling berbisik. Menerka-nerka apa yang sedang dibicarakan Fajri dan adkel cowok itu.
'Hah? Ke ruang BK? Perasaan, gue nggak ada masalah,' batin Fajri.
"Ya sudah ya kak. Permisi," ucap cowok di depan Fajri yang nampaknya sudah tak nyaman mendapat atensi dari banyak orang.
"Eh- tunggu!" cegah Fajri membuat cowok itu menghentikan langkah dan berbalik ke arah Fajri.
"Kenapa saya dipanggil?" tanya Fajri.
__ADS_1
Dengan cepat cowok itu menggeleng. "Kalau itu saya kurang tahu kak. Tadi saya cuman disuruh manggil kakak."
"Oh yaudah. Makasih ya," ucap Fajri tersenyum.
"Iya kak sama-sama."
Sebelum pergi ke ruang BK, Fajri berpamitan pada teman-teman tim basketnya. "Guys gue udahan ya! Ada urusan," ucapnya dengan sedikit berteriak.
"Oke bro!" balas Syaharya sambil mengacungkan jempolnya.
***
"Kenapa Fiki?" Pak Fendy menanyakan alasan Fiki mengundurkan diri dari FLS2N.
Terlihat ada guratan kekecewaan di matanya. Meski tidak secara terang-terangan mengatakannya, tapi jelas jika pak Fendy menyayangkan hal itu. Jelas-jelas Fiki memiliki bakat yang luar biasa, lalu kenapa tidak dikembangkan.
"Maaf Pak sebelumnya. Tapi ini perintah dari Papa saya. Dan saya tidak bisa membantahnya," jelas Fiki dengan kepala tertunduk.
Zweitson yang sedari tadi menyimak pembicaraan itu, juga merasa sedikit terkejut dan memyayangkan hal tersebut. Meski baru sebentar dirinya mengenal Fiki, tapi dia tahu bahwa kelak Fiki akan menjadi musisi yang luar biasa jika bakat yang dimilikinya itu terus diasah.
"Kenapa Papa kamu tidak mengizinkan?" tanya Pak Fendy.
"Maaf Pak, saya juga tidak tahu alasannya. Saya minta maaf."
Fiki berdiri dan memutuskan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan kekecewaaan yang besar di sana. Tanpa siapapun tahu, bahwa dialah yang paling kecewa.
***
Fajri langsung mengetuk pintu seraya mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam ruangan. Pak Hardi yang merupakan guru konselingnya tersenyum melihat Fajri dan menyuruhnya untuk segera duduk di samping seseorang yang juga berada di depan Pak Hardi.
Saat Fajri semakin mendekat seseorang di depan Pak Hardi itu menoleh ke arah Fajri sembari menyunggingkan senyum.
Saat itu juga memori Fajri akan masa lalunya kembali berputar seperti film horor yang menakutkan. Matanya membola dan tiba tiba terasa terbakar.
"Fajri, sini Nak!" ucap orang itu ramah sambil menepuk-nepuk kursi di sampingnya. Tak lupa dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya.
Mendengar hal itu, Fajri merasa semakin muak. Dengan alis berataut, dia pun perlahan berjalan mundur.
"Anda?" ucapnya tak percaya.
"Apa yang Anda lakukan di sini?!" tanya Fajri dengan nafas yang naik turun.
"Fajri! Yang sopan sedikit! Ayo duduk!" perintah Pak Hardi.
"Tunggu Fajri! Ayah ke sini untuk-"
"Stop!" tegas Fajri kembali menoleh ke belakang. "Jangan menyebut diri Anda sebagai seorang Ayah! Karena Anda sama sekali tidak pantas menjadi seorang Ayah," tekan Fajri disetiap kata dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Fajri! Jangan bersikap kurang ajar ya kamu!" bentak seseorang yang mengaku sebagai Ayah Fajri itu. Bukanya terkejut dengan bentakan itu, Fajri malah hanya membalas dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya.
"Pasti si Ricky itu kan yang ngajari kamu jadi kurang ajar seperti ini?!" ucap orang itu dengan nada tinggi.
"Apa?" Fajri menggelengkan kepalanya. "Anda jangan sembarangan bicara ya," pungkas Fajri.
"Ah sudahlah Fajri. Masa bodoh dengan si Ricky itu. Sekarang Ayah mohon kamu dengerin Ayah. Ada yang mau Ayah bicarakan sama kamu," ucapnya dengan penuh harap.
"Soal apa? Saya sama sekali tidak tertarik dengan apapun yang ingin Anda bicarakan." Fajri melirik ke arah orang itu dengan wajah datar.
"Fajri! Duduk dulu," sela Pak Hardi.
"Maaf Pak. Tapi sebentar lagi bel masuk, dan saya harus kembali ke kelas. Jadi saya permisi," final Fajri yang langsung keluar dari ruangan itu. Panggilan dari Pak Hardi dan orang yang menyebut dirinya sebagai Ayah dari Fajri itu pun tidak digubrisnya.
***
Tepat setelah senja tenggelam dan mentari berganti rembulan, Shandy dan kawan-kawan kini sudah berada di sebuah tempat perbelanjaan. Menapaki setiap kubik lantai untuk mencari apa yang ingin dibeli.
Shandy berjalan paling depan diikuti Ricky, Farhan, Gilang, dan Fajri. Mereka akhirnya sepakat untuk pergi di malam minggu untuk mencari kado ultah Fiki.
Shandy yang berjalan paling depan tiba-tiba menyeletuk setelah sekitar sepuluh menit mereka berjalan. "Eh itu tempatnya!" tunjuk Shandy yang membuat mereka semua menoleh dan bergegas menuju salah satu toko yang menjual berbagai alat musik.
Mereka semua segera masuk dan memilih gitar yang terpajang di sana.
"Lo cari yang model gimana Shan?" tanya Farhan yang sedang melihat beberapa model gitar di sana.
Shandy yang juga melakukan hal yang sama pun berkata, "Pokoknya yang mirip sama gitar Fiki yang dulu."
"Emangnya kenapa sama gitar Fiki yang dulu?" celetuk Gilang.
Shandy langsung terdiam dan menelan salivanya sendiri. "Ya.. nggak kenapa-napa, cuman mau beliin yang sama aja," jawab Shandy berusaha sesantai mungkin. Dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya karena takut Fajri akan merasa bersalah nantinya.
"Kalau boleh saran Bang. Mending beliin aja model yang beda biar Fiki nggak bosen," sanggah Fajri.
Shandy hanya diam, bingung untuk menyangkal apa lagi. Untung saja Farhan langsung menyela, "Udah deh Lo berdua nggak usah cerewet! Yang mau beliin kan Shandy, ya udah terserah dialah."
"Iya iya," balas Fajri pasrah.
__ADS_1
"Emang model gitar yang lama kayak gimana Shan?" tanya Ricky kemudian.
"Kayak gitu bukan sih Bang?" ucap Fajri tiba-tiba sambil menunjuk sebuah gitar yang ada di ujung paling depan.
Shandy menoleh. "Wah iya itu!" girangnya.
Setelah selesai membeli kado untuk Fiki dan mentraktir beberapa temannya itu, Shandy segera pulang ke rumah.
Entah kesambet apa si Shandy mau traktir 4 orang sekaligus. Padahal dia punya sifat hemat yang dalam arti sempit diartikan oleh orang disekitarnya sebagai pelit.
Saat tiba di rumah, Shandy langsung disambut oleh adik bontotnya yang sedang belajar di depan TV yang menyala sembari ditemani beberapa toples makanan ringan yang isinya sudah tinggal setengah.
"Dari mana Lo Bang? Jam segini baru pulang," tanya Fiki sewot dengan air muka yang di jutek-jutekkan.
Shandy mengangkat salah satu alisnya. "Nggak usah cosplay jadi bokap deh. Udah ah gue mau ke atas." Dia pun melanjutkan langkahnya.
"Bang Shan! Gue nanya nih. Jawab dong, dari mana?" desak Fiki, karena sedari tadi Shandy tidak ada di rumah dan tidak menjawab pesannya.
"Pasti habis jalan-jalan ya?" lanjut Fiki dengan tatapan menyelidik.
"Nggak usah kepo ya Fik!" Shandy mengusap wajahnya.
Untung saja tadi dia kepikiran untuk menitipkan kado ultah Fiki di rumah Ricky. Kalau tidak pasti saat ini kejutannya sudah gagal.
"Iya kan pasti. Kuliah Lo kan udah kelar dari tadi siang. Kok jam segini baru pulang? Pasti habis jalan, ya kan?"
"Dating ya Lo bang?" tuduh Fiki dengan suara lantang.
"Hustt! Ngawur aja. Gue tu habis jalan sama temen-temen gue."
"Ishh nggak ajak-ajak. Pulang nggak bawa makanan lagi," protes Fiki.
"Et dah ni bocah. Ngapain juga ngajakin Lo! Lagian tuh depan Lo banyak makanan," greget Shandy.
"Ya kan beda Bang makanan dari luar sama dari rumah," ucap Fiki dengan nada sok sedih.
"Au ah. Gue mau ke kamar dulu. Lanjutin sono belajarnya!" ucap Shandy yang langsung melenggang pergi.
"Ye!" balas Fiki ketus.
***
Siang ini setelah jam pelajaran selesai, para siswa-siswi yang ingin mengikuti seleksi OSN tingkat sekolah pun berkumpul di Aula SMAPSA untuk mengikuti tes tulis.
Semua peserta sudah bersiap di tempatnya masing-masing. Begitu juga dengan Fiki, Cantika, dan Laras yang kini duduk bersebelahan karena memilih mapel yang sama yaitu geografi.
"Kata Tika Lo nggak ikut Fik," ucap Laras.
"Iya awalnya. Tapi sekarang gue berubah pikiran."
"Oh gue tahu kenapa," Laras manggut-manggut. "Pasti karena ada Tika kan?" sambungnya.
Cantika yang mendengar namanya disebut pun langsung melengos ke arah Laras dengan raut muka yang menginterogasi.
"Enggak," jawab Fiki singkat.
Tak lama kemudian, Bu Ifa selaku pembimbing OSN bersuara menggunakan microfone. "Assalamualaikum, anak-anak semua!"
"Waallaikumussalam, Bu!" jawab mereka serempak.
"Terima kasih atas partisipasinya. Ibu yakin kalian adalah anak-anak yang hebat dan berprestasi-" dan beberapa kalimat sambutan lainnya yang dikatakan Bu Ifa.
Hingga sampailah waktu saat lembaran soal-soal itu dibagikan dan waktu pengerjaannya pun di mulai.
"Selamat mengerjakan semuanya! Jangan lupa berdoa dulu ya. Kerjakan sebaik mungkin and Good luck!" ucapan semangat dan penuh motivasi dari Bu Ifa menjadi tanda dimulainya waktu pengerjaan tes.
Seluruh peserta fokus mengerjakan soal-soal itu dan berharap pada keesokan harinya, nama mereka akan tertempel di Mading sekolah sebagai peserta yang lolos untuk mengikuti olimpiade sains tingkat kabupaten mewakili sekolah tercinta.
***
...🥀🥀🥀...
...Haloo teman-teman yang masih jadi pembaca setia novel ini! Gimana kabarnya? Kangen banget aku sama kalian😭...
.......
...Maaf banget udah bikin kalian nunggu lama banget dan buat novel ini jadi berdebu. Tapi setelah ini akan aku usahakan up sampai end. Semoga kalian masih mau baca ya😭🙏...
.......
...Mau bersihin draft wkwk....
.......
...Love banyak banyak pokoknya💙💙...
__ADS_1