Coba Cintaku

Coba Cintaku
Chapter 34


__ADS_3

...Happy Reading 🥰...


...----------------...


***


Pagi ini mendung masih menyelimuti angkasa. Rintik hujan terus turun membasahi tanah sejak semalam. Membuat siapa saja enggan untuk bangkit dari kasur dan beraktivitas seperti biasa.


Di tempatnya, Fiki menggeliat menarik ujung selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuh. Menyisakan bagian kepalanya saja. Sebenarnya Fiki sudah bangun sejak subuh tadi, namun udara yang dingin membuatnya kembali melabuhkan diri di pulau kapuk miliknya.


Suara alarm dari ponsel yang sedari tadi berbunyi juga tak berhasil membuat si empu terbangun.


Tok Tok Tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Fiki. Berusaha membuat pemilik kamar agar segera bangun dan bersiap pergi ke sekolah.


"Fik! Fiki! Ayo bangun!" panggil Bu Ani sambil terus mengetuk pintu kamar.


Sedangkan orang yang dipanggil malah tidak menyahut.


"Ayo Fik bangun! Udah siang lho ini. Kamu nggak sekolah?"


Fiki menggeliat, mencoba membuka matanya perlahan.


"Hmmm," erangnya.


"Iya ma.... Lima menit lagi," sahut Fiki yang malah memejamkan kembali matanya.


"Nggak ada lima menit lima menit! Ayo bangun sekarang!!" Bu Ani menggedor pintu lebih keras.


"Udah jam berapa ini?? Kamu bisa terlambat nanti!"


Di balik pintu, Bu Ani memasang wajah geram karena ulah anak bungsunya yang selalu sulit dibangunkan di pagi hari. Terlebih hari ini cuaca sangat mendukung untuk melanjutkan tidur.


"Pokoknya mama nggak mau tahu! 15 menit lagi kamu harus turun dan siap buat ke sekolah!" final Bu Ani yang langsung turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan pagi ini.


Fiki sebenarnya tidak benar-benar tidur, dia bisa mendengar bunyi alarm dan teriakan mamanya. Tapi dia hanya malas saja untuk bangun. Hujan di pagi hari memang cocok sebagai pengantar tidur.


Akhirnya setelah mengumpulkan niat, dengan malas Fiki berusaha membuka kelopak matanya. Mengucek matanya agar pandangannya kembali netral. Ia pun bangkit dari kasur dan meraih ponsel yang sedari tadi berisik karena alarm yang ia setel kemarin malam.


Tut


"Eh," Fiki terbelalak. Mengerjapkan matanya berkali-kali tatkala melihat sebuah notif pesan di layar ponselnya.


Uncrush??


Udah bangun?


"Hah? Serius? Ini Cantika nge chat gue?" Fiki kembali mengucek matanya. Memastikan apakah dia tidak salah lihat.


"Pakek segala nanyain udah bangun lagi," cengo Fiki.


Sepertinya nyawanya belum benar-benar terkumpul. Apakah dia lupa jika sejak kejadian malam tadi, dirinya dan Cantika kini tengah menjalin sebuah hubungan rahasia?


Plak


Fiki menepuk dahinya. "Oiya lupa gue. Kan sekarang dia pacar gue," ucapnya dengan sudut bibir terangkat. Iya sih pacar, tapi unpublish hahaha.


Tak ingin membuat Cantika menunggu balasan darinya terlalu lama. Fiki langsung mengetikkan pesan balasan.


^^^Anda^^^


^^^Iya nih baru aja^^^


Baru saja pesan itu dikirim, ternyata langsung menampakkan dua centang biru.


Uncrush??


Kok baru bangun?


Udah buruan mandi! Nanti telat lho


Mendapat balasan seperti itu, tanpa sadar Fiki malah tersenyum gemas.


^^^Anda^^^


^^^Iya bawell^^^


Uncrush??


Dih, ngatain. Udah cepetan mandi terus berangkat sekolah!!


^^^Anda^^^


^^^Kenapa cepet cepet?^^^


^^^Kangen ya? Wkwk^^^


Uncrush??


Apaan sihh. Nggak ya


Fiki yang gemas karena percakapan mereka berdua, tanpa pikir panjang langsung membuat sebuah panggilan telpon. Tak butuh waktu lama, panggilan itu langsung terhubung.


"Halo?" ucap Cantika.


"Cie yang kangen," balas Fiki dengan suara serak khas bangun tidur.


"Ihhh Fiki. Udah cepetan mandi! Nanti telat lho kamu."


"Cie kamu," goda Fiki.


"Ihh Fiki. Udah ya aku matiin nih telponnya!" bujuk Cantika. Rasanya kini pipinya terasa panas karena gombalan Fiki.


Fiki tertawa kecil. "Iya iya."


"WOY BANGUN BANGUN!! UDAH JAM BERAPA NIH??" teriak seorang Shandy sambil menggedor pintu kamar Fiki.


Fiki yang merasa terganggu dengan hal itu langsung berdecak sebal. "Iya-iya ini juga udah bangun dari tadi kali!!"


"YAUDAH BURUAN SIAP-SIAP. ENTAR KEBURU TUTUP TUH SEKOLAH!!" teriak Shandy dari luar kamar yang bisa di dengar oleh Cantika yang ada di seberang telepon.


"Itu pasti bang Shan. Hahaha. Makanya mandi sana," ledeknya.


"Iyaaa. Yaudah sampai nanti."


"Daaa."


Tutt


Panggilan berakhir. Fiki langsung bergegas menuju kamar mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Sebelum itu, dia memutuskan untuk mengganti nama kontak Cantika dari "Uncrush??" menjadi "My Secret Love🔐"


Skip!


***

__ADS_1


"Udah jam segini kok masih sepi sih? Apa yang lain pada nggak masuk ya?" tanya Cindy yang duduk di belakang Cantika.


"Mungkin bentar lagi juga dateng," jawab Cantika yang berjalan menuju bangku setelah cukup lama berdiri di samping pintu.


"Habis telponan sama siapa sih?" tanya Cindy.


"Kepo."


"Alahh paling juga habis telponan sama ayang. Fenly kan?" Cindy mencowel lengan Cantika.


Cantika tidak menjawab. Hanya sedikit  mengangkat bahunya.


"Eh btw si Laras ada kegiatan OSIS?" tanya Cindy lagi.


Cantika berpikir sejenak. "Enggak deh kayaknya."


"Kalau gitu, kok kalian nggak berangkat bareng?"


Tidak ada jawaban dari Cantika. Dia juga bingung kenapa hari ini Laras tidak menghubunginya. Biasanya setiap pagi mereka selalu bertukar pesan hanya untuk janjian berangkat bersama atau tidak.


"Kalian lagi marahan?"


"Ehmm. Nggak tahu deh. Dia nggak mampir tadi. Gue kira udah berangkat duluan."


Mendengar jawaban itu, Cindy hanya ber oh ria.


Sebelum bel masuk berbunyi, semua siswa SMA Pelita Bangsa telah masuk ke kelas masing-masing dan pelajaran pertama pun dimulai.


Tepat pukul 10.00 bel istirahat berbunyi. Yap, seperti biasa para siswa langsung berhamburan keluar kelas. Entah itu untuk ke kantin atau yang lainnya.


"Kantin Fik!" ajak Gilang pada Fiki. Bukannya tidak mau mengajak Fajri untuk ikut bersama, tapi tanpa ditanya Gilang juga sudah tahu apa jawaban anak itu. Tidak.


"Gass," Fiki langsung beranjak mengikuti Gilang.


"Gue nggak diajak?" seloroh Fajri yang membuat dua orang didepannya berhenti dan menoleh.


"Tumben. Kesambet apaan Lo?" ucap Gilang. "Penglaris ibu kantin?"


"Husttt sembarangan kalau ngomong!" Fiki menepis udara di depan wajah Gilang.


"Wkwk. Abisnya ni bocah tumben amat mau ke kantin," tatap Gilang remeh pada Fajri.


"Idol kan juga manusia. Butuh makan dan minum," balas Fajri yang langsung melenggang pergi tanpa melihat dua orang sahabatnya.


"Dihh idol," Gilang tersenyum smirk sambil geleng-geleng kepala.


Fiki hanya tersenyum dan mengajak Gilang untuk menyusul Fajri. Sebelum itu, saat berpapasan dengan Cantika yang masih duduk di bangku. Fiki sempat melakukan eye contact dengannya. Mengingat mereka sedang backstreet, jadi tidak bisa mengumbar kedekatan di depan umum.


Setelah 2FG pergi, Cantika berinisiatif untuk mengajak teman sebangkunya pergi ke kantin.


"Ke kantin yuk. Laper nih."


"Yuk yuk yuk. Gue juga laper," balas Cindy antusias.


Melihat Laras yang tak mengalihkan pandangannya pada ponsel yang ia pegang, membuat Cantika kembali bertanya. "Ras, nggak ngantin?"


Laras menghembuskan napas, "Kalian aja. Gue nggak laper."


Cindy yang memiliki jiwa solidaritas tinggi pun langsung menarik paksa Laras untuk pergi bersama ke kantin.


"Alahh bohong banget. Udah ah ayok ke kantin!!"


"Ihh kalian aja. Gue lagi nggak mood!" Laras berusaha melepas cekalan tangan Cindy.


"Stt!! Nggak usah banyak alasan. Pokoknya kita harus ke kantin bareng. Gue deh yang traktir."


Kini Cantika juga ikut-ikutan menggandeng tangan Laras. Yah dengan pasrah akhirnya Laras memilih ikut untuk pergi ke kantin, meski sebenarnya dia malas untuk melakukannya.


Seperti biasa, di jam istirahat kantin selalu ramai dengan para pengunjungnya. Sejauh mata memandang tidak ada lagi tempat duduk yang kosong. Untungnya di pojok sebelah kanan masih ada satu deret bangku kosong. Fajri, Fiki, dan Gilang langsung bergegas menuju bangku itu setelah memesan makanan. Kalau tidak, mungkin saja mereka tidak akan mendapatkan tempat untuk makan nanti.


"Rame banget ya," celetuk Fajri ketika mereka baru saja duduk.


"Gini nih orang kalau nggak pernah ke kantin," Gilang menunjuk-nunjuk Fajri. "Hey, namanya kantin ya pasti rame lah. Apalagi kalau jam istirahat. Fajri... Fajri...," heran Gilang.


"Udahlah Jri, nikmatin aja kali," sahut Fiki tak kalah santai.


Ketiganya pun berbincang ria. Membicarakan hal-hal random yang mereka alami sejak pagi tadi hingga detik ini. Mulai dari telat bangun, bantu tambal ban, sampai niatan untuk bolos karena hujan. Ya begitulah kira-kira.


Tak lama setelah itu, makanan yang mereka pesan pun tiba. Tiga mangkuk bakso diantarkan oleh ibu kantin, Bu Suri namanya.


"Makasih buk," ucap Gilang.


"Iya sama-sama," jawab Bu Suri sambil tersenyum sebelum kembali ke kedainya.


Dengan wajah sumringah, Fajri langsung mengaduk baksonya dan bersiap melahapnya. "Bismillahirrahmanirrahim___"


"Fajriii!!!!" Teriak seorang cewek yang berlari ke arah Fajri diikuti dua orang temannya.


Mendengar teriakan itu membuat Fajri gagal menyuapkan sesendok bakso ke dalam mulut. Dengan mulut menganga dilihatnya tiga cewek yang kini sudah berdiri dihadapannya sambil merapikan rambut yang sedikit berantakan karena berlari.


Fiki dan Gilang yang melihat hal itu, nampak sudah paham apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka berdua memutuskan untuk melanjutkan memakan bakso dan hanya melihat dari samping.


Dengan kasar Fajri menghembuskan napasnya, "Iya?"


Kini, bakso yang akan dilahapnya tercebur kembali ke dalam mangkok. Tak jadi dimakan.


"Boleh gabung nggak?" ucap salah satu cewek berambut panjang digerai. Sepertinya dia adalah ketua Genknya.


"Iya. Boleh ya," pinta kedua cewek lainnya bersamaan.


Fajri bingung harus jawab apa. Dia menoleh ke arah Fiki dan Gilang yang duduk berhadapan di sampingnya. Menyatukan kedua alisnya lalu mengangkat dagunya. Seolah meminta saran, apa yang harus dia katakan.


Gilang dan Fiki hanya melirik Fajri tanpa ada niatan membantu. "Eh Fik, tolong kecapnya!" ucap Gilang mengalihkan topik.


Sementara itu, Laras, Cindy, dan Cantika sedang celingukan mencari tempat duduk yang kosong. Nihil, sepertinya semua telah penuh terisi. Apa mereka harus makan sambil berdiri? Oh jelas tidak mungkin.


"Woy! Laras!" teriak seseorang yang tidak asing bagi ketiganya. Mereka mencari sumber suara itu dan benar itu adalah suara Fajri.


"Tika Cindy! Duduk sini aja," Fajri melambaikan tangannya.


Mereka bertiga pun berjalan ke arah Fajri, dan bertemu dengan tiga cewek yang bisa dibilang fans Fajri itu.


"Kalian cari tempat duduk kan? Udah sini aja, masih kosong kok," ucap Fajri santai sambil kembali melanjutkan makannya.


"Ishh Fajri kamu kok gitu?!" protes ketiga cewek yang datang terlebih dahulu.


"Kan kita dulu yang dateng, kok mereka sih yang disuruh duduk!" cewek dengan rambut digerai itu menekuk wajahnya dengan tangan terlipat di depan dada.


"Terserah kita lah. Orang yang duduk duluan kita. Jadi ya terserah kita mau ngajak join siapa," sewot Gilang.


"Stt diem Lo! Gue ngomong sama Fajri ya bukan sama Lo!"


"Mphhh," Fiki menahan tawanya.


"Fajri....," rengek cewek-cewek itu.

__ADS_1


"Maaf ya, kalian cari bangku yang lain aja. Soalnya kita lagi mau bahas tugas kelompok juga. Oke?" lembut Fajri. Berusaha agar ketiga cewek itu tidak tersinggung atas ucapannya. Padahal dalih membahas tugas kelompok hanyalah alibi. Siapa juga yang mau membahas tugas ditengah jam makan siang.


"Hmm yaudah deh. Daa Fajri!" ucap cewek itu dan hanya diangguki oleh Fajri.


Setelah ketiga cewek penggemar Fajri itu pergi. Laras, Cindy, dan Cantika pun duduk bersama mereka.


"Aduhh enak kali ya Lang jadi Fajri. Dikejar-kejar cewek terus," celetuk Fiki yang membuat Laras dan Cantika menoleh tajam ke arahnya. Seolah tak terima, padahal itu hanya candaan untuk menggoda Fajri.


"Nahh bener tuh Fik. Kalau pengen punya pacar tinggal comot. Nggak usah nyari, ntar juga dateng sendiri. Bisa milih lagi," balas Gilang yang membuat ketiga laki-laki itu tertawa puas.


"EKHEM! Dasar buaya!" sinis Cindy.


"Dih dateng-dateng sewot. Berobat Lo!" balas Gilang.


"Nyenyenyenye," Cindy menye-menye.


"Aduh udah deh. Heran gue. Kalian tu nggak bisa apa ya kalau ketemu itu akur," kata Laras.


"NGGAK!" kompak Gilang dan Cindy.


"Cie cie barengan nih ye," ledek Fiki.


Gilang dan Cindy menatap tajam Fiki. Bukannya takut, Fiki malah tertawa melihat ekspresi kedua temannya itu.


"Udah-udah makan aja jangan berisik," final Fajri.


"Eh Fik, Lo pindah sampingnya Gilang dong. Kasihan nih Laras nggak dapet tempat duduk," titah Cindy.


"Eh- iya sorry," Fiki langsung berpindah tempat di samping Gilang.


Kini posisi mereka saling berhadapan. Fiki dengan Cantika, Gilang dan Cindy, Fajri dan Laras. Entahlah, apa ini sebuah kebetulan atau memang sudah takdir Tuhan. Apapun itu, sekarang Fiki bisa berhadapan dengan Cantika.


Tidak ada percakapan setelah itu, semuanya sibuk menyantap hidangan masing-masing.


Begitupun Fiki dan Cantika yang diam-diam saling tatap dan berbalas senyum. Hal itu tak luput dari lirikan Laras. Sakit? Pasti, siapa yang tidak sakit hati melihat orang yang dikasihi bermesraan dengan orang lain. Tapi apalah daya, siapa Laras yang berhak cemburu, padahal tidak memiliki.


Di tengah riuhnya pengunjung kantin, Fiki mencoba meraih telapak tangan Cantika yang berada di atas meja. Perlahan, agar tidak ada yang mengetahuinya. Termasuk teman-teman di samping mereka.


Kurang 5 inci lagi jemari mereka bertaut, namun suara seseorang yang tiba-tiba datang membuat keduanya langsung menarik tangan masing-masing ke tempat semula.


"Halo semua!" sapa orang itu.


"Youw Bro! Sini-sini gabung!" ajak Gilang yang tampak akrab dengan orang itu.


"Yahh udah pada mau habis ya? Padahal kita baru aja mau join," keluh seseorang berkacamat yang datang bersama orang tadi.


"Lagian Lo telat sih Son," sahut Fajri.


Iya, yang datang itu adalah Fenly dan Zweitson.


"Eh gue duluan ya. Ada urusan," ucap Laras tiba-tiba dan langsung berdiri.


"Kemana?" tanya Cantika.


"Kegiatan OSIS," jawab Laras yang memang baru saja mendapat pesan chat grup. Setelah menjawab pertanyaan Cantika, Laras langsung berlalu pergi.


"Oh oke," balas Cantika meski sudah tidak terdengar oleh Laras.


"Udah selesai makannya?" tanya Fenly mengelus puncak kepala Cantika.


"Eh- u-udah kok," canggung Cantika. Entahlah, mungkin karena dia merasa tidak enak dengan Fiki.


"Apa-apaan nih maksudnya? Mesra-mesraan depan gue?!" batin Fiki tak terima.


"Jri! Ayok latihan!" teriak anak cowok dari pinggir lapangan. Kebetulan kantin mereka memang berada di samping lapangan basket.


Fajri yang merasa terpanggil langsung menoleh, "Oke siap!"


Sebentar lagi O2SN akan segera diadakan. Maka dari itu, tim basket SMAPSA harus giat berlatih untuk menghadapinya.


"Gue duluan ya!" Fajri mengajak tos teman-teman cowoknya, dan tersenyum simpul pada kedua teman perempuannya.


"Semangat Bro!" teriak Gilang. "Semangat Jri!" tambah lainnya.


Ketika Fajri melewati beberapa pengunjung kantin untuk menuju lapangan, sahutan semangat datang dari berbagai arah. Mayoritas adalah dari para kaum hawa. Ya, tahu sendiri lah ya.


"Aaaa Fajri!! Semangat yaa!"


"Go Fajri Go Fajri Go!!"


"Fajri aku siap ngelapin keringet kamu kok tenang aja," ucap cewek yang berdiri memegang satu wadah tisu. Tidak ada yang bisa Fajri lakukan kecuali tersenyum untuk menanggapi para penggemarnya itu.


"Fajri!! Semangat!!!" tambah yang lain.


Tak terbayang bagaimana dukungan dari para siswa SMAPSA saat pertandingan nanti. Jika pada saat latihan saja sudah semeriah ini.


"Ckckck emang udah kayak idol beneran deh tu sahabat gue," bangga Gilang.


"Haha sa ae lu," kekeh Fenly.


***


Sepulang sekolah rencananya Fiki ingin mengajak Cantika untuk pulang bersama. Saat diparkiran___


"Yuk gue anterin," tawar Fiki pada Cantika.


"Ehmm."


Tiba-tiba terdengar deru motor dari arah belakang yang menghampiri keduanya.


"Eh Fik! Mau pulang?" tanya Fenly basa-basi karena melihat Fiki yang sudah siap untuk menjalankan kuda besi miliknya.


Fiki hanya membalas dengan anggukan kepala dan sedikit senyuman.


"Yuk sayang aku anterin pulang," Fenly menarik tangan Cantika agar segera duduk di jok belakang motornya.


Cantika tidak bisa menolak ajakan Fenly, dia tidak punya alasan untuk itu. Meski sebenarnya dia juga tidak enak pada Fiki. Tapi harus bagaimana lagi.


Saat berada di belakang Fenly, diam-diam Cantika menatap Fiki dengan tatapan memelas. Berharap Fiki memahami posisinya sekarang.


"Duluan Fik!" ucap Fenly sebelum melenggang pergi bersama kekasih rahasia Fiki.


Fiki hanya bisa menghela napas dan tersenyum getir. Ternyata menjadi kekasih rahasia bukanlah sesuatu yang mudah. Mungkin kedepannya akan banyak luka yang harus Fiki hadapi hanya untuk sebuah cinta yang tidak pasti.


"Apa keputusan gue mau diajak backstreet itu salah?" pikir Fiki dalam.


***


...🥀🥀🥀...


...Lama tak jumpa, jumpa tak lama. Mungkin itulah kalimat yang tepat untuk update di novel ini, haha....


.......


...Apapun itu, makasih banyak buat yang masih nunggu dan baca cerita ini yaa 🥰...

__ADS_1


.......


...Maaf banget baru bisa update 🙏...


__ADS_2