
...Happy Reading 🥰...
...----------------...
Bu Ani dan Shandy yang langsung keluar karena mendengar suara intimidasi dari Pak Ananta, terkejut melihat Fiki yang wajahnya dipenuhi luka lebam.
"Fiki! Sayang! Kamu kenapa nak?!" pekik Bu Ani yang ingin menghampiri Fiki namun dicegah oleh Pak Ananta.
"Jawab!" suara itu kian meninggi dengan sorotan tajam dari matanya.
Fiki benar-benar bingung harus bagaimana. Dia masih dongkol dengan kejadian di rumah Cantika. Dan kini dia sangat terkejut dengan kehadiran sang Papa. Pasalnya, sejak beberapa hari yang lalu, papanya sedang tidak di rumah karena harus menjalankan tugas negara. Namun, tiba-tiba beliau sudah ada dihadapannya sekarang.
"Pa, udah jangan marah-marah di sini. Nggak enak didengar tetangga. Diselesaikan di dalam saja ya!" pinta Bu Ani.
Pak Ananta mendengus lalu masuk ke dalam rumah tanpa sepatah kata. Bu Ani langsung menghampiri Fiki dan merangkulnya. Melihat pelipis dan sudut bibir Fiki berdarah membuat Bu Ani juga merasakan perih yang sama. Ingin segera dia mengobati luka itu. Tapi sekarang, sebaiknya dia segera mengajak anak bungsunya itu untuk ikut masuk ke dalam rumah. Sebelum amarah sang suami semakin tersulut.
Shandy juga ikut masuk ke dalam. Melihat Fiki dengan tatapan aneh. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Fiki. Sebelumya, adik kesayangannya itu tidak pernah babak belur seperti ini.
Saat mereka semua sudah berada di ruang tamu. Bu Ani, Shandy, dan Fiki langsung duduk di sofa. Sedangkan, Pak Ananta masih dengan sikap yang sama, berdiri dan melipat kedua tangannya.
"Siapa yang suruh kamu duduk?!" sentak Pak Ananta sambil melotot pada Fiki.
Fiki langsung berniat untuk bangkit dari duduknya. Sebelum itu, Bu Ani mengelus punggung Fiki agar anaknya itu merasa sedikit tenang.
Pak Ananta menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan dan mencoba bertanya pada Fiki dengan nada yang lebih rendah.
"Sekarang Papa tanya sekali lagi!" ingatnya. "Jawab dengan jujur dan tegas!" tambahnya.
"Dari mana kamu?" tanyanya masih dengan sorotan mata tajam.
"Dari rumah teman," jawab Fiki dengan wajah tertunduk.
"Kalau diajak ngomong itu, dilihat orang yang ngajak ngomong!" Pak Ananta mengangkat dagu Fiki dengan satu jari telunjuknya.
Membuat Fiki menatap Papanya nanar.
"Dari mana?" ulangnya sekali lagi.
"Rumah teman, Pa."
"Ngapain?"
"Belajar ba__," ucapan Fiki langsung mendapat sanggahan dari papanya.
"Alasan! Mana ada belajar sampek benjut semua muka kamu. Kenapa kamu? Berantem?!" terka Pak Ananta.
Fiki tidak bisa mengelak. Dia benar-benar terciduk. Mau tidak mau dia harus berkata yang sebenarnya.
"Iya Pa," jawabnya lemah.
"Sama siapa?"
"Temen."
"Kenapa?"
Kali ini Fiki enggan menjawab. Masa iya dia harus menjawab karena masalah asmara. Gengsi dong. Apalagi kalau abangnya si Shandy sampai tahu. Bisa-bisa Fiki dicengin habis-habisan.
"Kok diem?" tanya Pak Ananta dengan alis terangkat.
Fiki kembali tertunduk. Sedangkan di sisi lain, Shandy mengelus dagunya sambil tersenyum smirk.
"Kayaknya gue tahu nih masalah apa," celetuk Shandy dengan wajah yang tidak dapat diartikan.
Hal itu membuat semua orang menatap Shandy dengan penuh tanda tanya, termasuk Fiki.
"Pasti masalah cewek kan?" ucap Shandy dengan PD-nya.
Pernyataan itu membuat Pak Ananta dan Bu Ani menoleh ke arah Fiki dengan mata terbelalak.
"Benar begitu Fiki?" tanya Pak Ananta.
Fiki dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Enggak Pa!".
"Enggak salah maksudnya," celetuk Shandy tertawa renyah. Lalu dengan seenak jidat melenggang pergi ke kamarnya.
Hal itu membuat Fiki ingin sekali menoyor si abang, tapi sayang dia hanya bisa melototinya dari jauh karena masih berhadapan dengan sang ayah.
"Ekhem," Pak Ananta berdehem. Membuat Fiki yang sedari tadi mengumpat Shandy dalam hati langsung menoleh ke arahnya.
"Ternyata anak bungsu Papa udah gede ya sekarang?" ucapnya sambil merapikan kerah baju Fiki dengan cengiran kuda.
"Iya nih. Sampai-sampai mau bonyok cuma gara-gara cewek," timpal Bu Ani menepuk punggung Fiki, lalu pergi mengambil kotak P3K.
Fiki benar-benar salah tingkah. Bagaimana bisa si Shandy itu langsung tahu apa yang terjadi padanya. Sehingga membuat Fiki terjebak dalam situasi awkward ini.
"E-enggak gitu," Fiki menggelengkan kepalanya cepat.
__ADS_1
"Udah. Papa sama Mama juga pernah muda kali Fik. Intinya papa cuma mau pesan, kalau bisa jangan menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Ya?" Pak Ananta menatap dalam Fiki sambil menepuk pelan pundak anak bungsunya itu.
"I-iya Pa," Fiki mengangguk pelan.
"Dan tetap nomor satukan belajar! Jangan sampai prestasi kamu menurun cuma karena masalah kayak gini. Paham?!" Pak Ananta mencengkram lengan Fiki.
"Paham Pa!" Fiki memberi salam hormat sambil mengulum senyum.
"Nah gitu dong!" ucap Pak Ananta, lalu pergi meninggalkan Fiki di ruang tamu.
Setidaknya kini Fiki merasa lega karena tidak sampai mendapat hukuman yang berat dari sang Papa. Meski Shandy agak nyebelin, tapi karena celetukannya itu membuat dirinya lolos dari hukuman maut.
Setelah mendapat perawatan dari sang Mama, Fiki segera menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Hari yang melelahkan. Banyak hal yang mengejutkan baginya hari ini. Pertama kali dia jatuh cinta dan pertama kali juga dia terluka karenanya. Sungguh epic bukan?
Di balkon kamar kini Fiki berada. Dengan plester di kening dan warna biru keunguan di beberapa titik bagian tubuhnya. Ingin rasanya ia melepas lara dengan malam yang indah, bulan yang bersinar terang, dan angin yang menghanyutkan sebelum nantinya berbaring di atas permadani kapuk.
Saat sedang larut dalam pikirannya tiba-tiba seseorang menepuk punggung Fiki dari belakang.
"Woy! Ngapain Lo di sini?" tanya Shandy sambil membawa 2 cangkir kopi late.
Fiki hanya menolehkan wajahnya tanpa membalas pertanyaan Shandy.
"Lo nggak takut?" tanyanya sok memasang wajah ngeri.
"Takut apa?" balas Fiki malas.
"Takut masuk angin. HAHAHAHA," jawabnya tertawa ngakak.
Krik.. Krik.. Krik...
Fiki melihat abangya dengan tatapan malas. Nggak lucu perasaan. Receh banget tuh si Shandy.
Sebenarnya Shandy juga merasa bahwa leluconnya itu sama sekali tidak lucu. Tapi dia berusaha untuk menghibur sang adik, meski hasilnya nihil. Sepertinya Fiki sedang tidak baik-baik saja.
"Ngopi ngapa ngopi!" Shandy menyodorkan secangkir kopi pada Fiki.
Fiki yang memang suka ngops tidak bisa menolak pemberian sang abang. Terlebih dia adalah penganut prinsip, rezeki tidak boleh ditolak. Jarang-jarang Shandy bikinin Fiki kopi. Biasanya Fiki terus yang disuruh bikinin kopi buat mereka berdua.
Setelah menerima secangkir kopi late itu, bukannya menyruputnya, Fiki malah kembali menatap langit dengan wajah datar.
"Jadi Lo beneran berantem gara-gara cewek Fik?" tanya Shandy lalu menyeruput kopinya.
Fiki menghirup napas dalam, "Iya bang."
"Cewek yang mana nih? Cantika?" tanya Shandy dengan alis terangkat.
"Siapa lagi? Gebetan gue kan cuman dia. Emang Lo?!" sewot Fiki.
Shandy menautkan kedua alisnya, "Emang gue kenapa?"
"Gue nih tipe cowok SETIA! Asal Lo tau Fik!" tekannya.
"Hilihh__ cewek Lo aja dimana-mana," cibir Fiki.
"Jangan salah Fik! Yang dimana-mana itu bukan cewek gue! Tapi penggemar gue!" Shandy tersenyum bangga.
"Prettt!" Fiki memutar bola matanya malas.
"Lo nggak percaya? Asal Lo tau Fik! Cewek gue itu cuma satu, selebihnya nothing!" Shandy menggelengkan kepalanya.
"Serah lah," pasrah Fiki lalu menyeruput kopinya yang hampir dingin karena dianggurin.
Refleks Shandy mendorong pelan tubuh Fiki yang membuat adiknya itu meringis kesakitan.
"Aduh!" keluh Fiki.
Pasalnya badannya terasa nyeri dengan semua luka lebam itu.
"Eh eh sorry Fik! Gue lupa," Shandy menepuk jidatnya. "Sakit nggak?" pertanyaan yang sepertinya tidak perlu dipertanyakan.
"Jujur gue kaget banget Lo Sampek bonyok kayak gini. Secara Lo itu adik gue yang polos nan lugu. Bisa-bisanya jadi badboy kayak gini," curhat Shandy.
"Lebay banget Lo bang."
"Emang gimana sih ceritanya? Terus Lo berantem sama siapa dan demi siapa?" cerocos Shandy.
Fiki membuang napasnya kasar, "Ini itu gara-gara Lo bang!"
"Lha kok gue?" Shandy memundurkan kepalanya.
"Gara-gara saran Lo buat nyatain cinta ke Cantik, gue jadi berantem sama cowoknya!" terang Fiki tak terima.
"G-gimana gimana? C-cowoknya?!"
__ADS_1
"Hmm!"
"Maksud Lo, si Cantik Cantik itu udah punya pacar??!" Shandy mengarahkan wajahnya tepat di depan muka Fiki.
"Iyaaa! Gue juga baru tau tadi," dogkol Fiki.
"Dan gue langsung kena tonjok. Parahnya lagi dia itu anak karate di sekolah gue!" terang Fiki.
"Bwahahahah ngenes banget sih Lo pik!" bengek Shandy. Dasar Abang laknat.
"Makanya kroscek dulu kalau mau ngegebet cewek! Cewek orang Lo gebet!" Shandy menggelengkan kepalanya sambil meneguk kopi miliknya.
"Ya mana gue tau! Dia nggak pernah ngomong sama gue. Terus kata Lo, sikap dia ke gue itu artinya dia juga ngerasain perasaan yang sama kayak gue!" Fiki membela diri sendiri.
"Percaya kok sama gue," ucap Shandy tanpa dosa.
"Dahlah males gue!" Fiki beranjak dari duduknya dan memilih untuk masuk ke kamar.
"Yheee gitu aja ngambek! Dasar pikipaw," umpat Shandy.
****
Suasana kelas pagi ini masih sama seperti biasa. Masih dengan kericuhannya, kebisingannya, dan kehebohannya. Terlebih hari ini ada tugas geografi yang harus dikumpulkan. Dan ya, pemandangan pelanggaran copyright nampak jelas terjadi di kelas 11 IPS 1.
Gilang dengan fokus menyalin jawaban dari buku Fajri. Berusaha menulis dengan gerakan secepat kilat. Pasalnya jam pelajaran geografi adalah jam pertama, dan jawaban tugasnya sangat bejibun. Untungnya dia punya teman sebaik Fajri yang mau berbagi. Meski belum tentu jawaban si Fajri itu benar. Tapi nggak pa-pa lah yang penting mengerjakan.
"Haduhhh, ni tulisan apa gerbong kereta? Panjang banget!" umpat Gilang dengan tangan yang terus menulis.
"Lo tinggal nyalin aja ngeluh! Gimana gue?" Fajri menatap sinis Gilang.
"Hehe iya maap," Gilang menggaruk rambutnya. "Habisnya ini tu jam pertama gitu lho, gimana kalau nggak keburu?!" ucapnya frustasi.
Fajri berdecih, "Makanya kalau ada tugas itu dikerjain di rumah! Biar nggak kelagapan kayak gini," nasihat Fajri.
"Cerewet banget Lo kayak emak gue," cibir Gilang.
'Harusnya Lo bersyukur masih ada yang ngomelin Lo,' batin Fajri.
"Nggak gue pinjemin nih!" Fajri menyeret bukunya yang sedang di salin oleh Gilang.
Refleks Gilang langsung menahan buku itu agar tak diambil kembali oleh Fajri.
"Eits pinjem napa Jri!" sarkas Gilang.
"Makanya nggak usah ngatain orang!"
"Iye-iye," balas Gilang lalu melanjutkan kegiatan menyonteknya.
Sementara di bangku depan, terlihat Cantika yang sedari tadi termenung dengan menopang dagunya. membuat Laras bertanya-tanya.
"Kenapa Lo? Kok murung gitu?" heran Laras.
"Fiki udah tau kalau gue punya pacar," Cantika membuang napas kasar.
"H-hah? Beneran?!" pekik Laras yang tanpa disadarinya membuat semua pasang mata menoleh ke arahnya.
Refleks Laras membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
"Kapan? Gimana kok bisa tau? Lo sendiri yang ngaku? Terus gimana respon Fiki?" cerocos Laras yang makin membuat Cantika pening.
"Satu-satu kenapa tanyanya!" protes Cantika.
"Hehehe," Laras meringis.
"Jadi ceritanya itu___," saat Cantika baru memulai ceritanya, tiba-tiba Laras menepuk-nepuk lengan Cantika sambil melongo melihat seseorang yang baru saja masuk ke dalam kelas.
"Kenapa sih?" Cantika belum mengerti dengan maksud Laras.
"Tuh lihat!" tunjuk Laras pada seseorang yang tidak asing baginya.
Sontak Cantika langsung memutar badan dan melihat siapa yang di maksud oleh sahabatnya itu.
Benar saja, Cantika langsung memasang ekspresi yang sama dengan Laras. Termasuk seluruh murid di kelas juga ikut tertegun dengan kehadiran orang itu.
"Muka Lo kenapa?!" tanya Fajri yang langsung beranjak dari bangkunya. Membuat Gilang yang sedari tadi fokus menulis ikut mendongakkan kepalanya.
****
...🥀🥀🥀...
...Maaf banget Author telat up, karena lagi ada urusan🙏...
...Makasih juga buat yang masih setia baca cerita ini🥰...
...Semoga Author bisa semangat terus buat lanjutin cerita ini yaa, mohon dukungannya dengan kritik dan saran kalian🤗...
...Sayang readers banyak-banyak💙...
__ADS_1