
...Happy Reading😍...
...----------------...
"Lo? Lo yang duduk di bangku depan tadi kan?" tanya Fiki pada cewek di hadapannya.
Cewek itu hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju bangku perpustakaan tanpa sepatah kata dan membuka lembaran buku yang ia bawa.
Melihat hal itu, Fiki pun ikut duduk di depan bangku cewek itu. Lagipula dia juga sudah menemukan buku yang dicarinya.
Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut cewek itu. Ia hanya sibuk membolak-balik lembaran buku yang ada di hadapannya tanpa melihat Fiki sedikitpun. Suasana perpustakaan yang hening menghiasi mereka berdua.
Sepertinya cewek dihadapan Fiki adalah tipe cewek pemalu yang bahkan tak berani sedikit pun menatap Fiki, apalagi memulai pembicaraan di antara mereka.
Karena Fiki bukan cowok cool bin jaim, alias cowok yang gampang banget bergaul sama siapa aja, entah itu cowok atau cewek. Dia benar-benar tidak bisa menahan keinginannya untuk sekadar berkenalan dengan sosok di depannya.
Bukan karena dia ganjen atau sejenisnya. Tapi karena menurutnya cewek bermata empat dengan rambut terurai itu adalah temannya. Lebih tepatnya teman sekelas. Jelas dia harus mengenalnya bukan?
Tanpa basa-basi dan tanpa keraguan, si Fiki langsung memulai pembicaraan, " Nama Lo siapa?"
Tidak ada jawaban, cewek itu tetap fokus menatap ukiran aksara di atas kertas yang ia baca.
"Kalau ditanya itu dijawab! Sombong banget," tatap Fiki sinis.
Tidak terima dibilang sombong, cewek itu langsung mendongakkan kepalanya dan otomatis bertemu dengan manik mata Fiki yang____ tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata keindahannya.
Kejadian awkward itu terulang lagi. Mereka berdua saling memandang dalam diam. Entah apa yang kini mereka pikirkan.
Tak lama cewek itu tersadar dan segera menundukkan pandangannya lagi, lalu mencoba kembali fokus pada buku yang ia baca. Namun sebenarnya itu hanyalah pusat pemindahan perhatiannya. Ia tak benar-benar membaca, ia hanya membolak-balik halaman buku itu untuk mengurangi kegugupannya.
Fiki yang seketika merasa salting langsung mengalihkan pandangannya pada jam dinding diruangan itu sambil mengelus-elus tengkuknya.
Hening_____
Itulah yang kembali terjadi tapi tidak untuk waktu yang lama, ketika Fiki kembali menyodorkan pertanyaan pada gadis di depannya, "Lo emang kalau istirahat lebih suka di perpus daripada di kantin?"
Kali ini ia menjawab. Namun bukan dengan kata apalagi kalimat, melainkan dengan anggukan kepala. Itu pun hanya sekali.
"Gue juga. Kayak lebih asik aja gitu," balas Fiki sambil membuka buku yang ia bawa.
'Siapa juga yang nanya?' batin gadis itu.
"Kok Lo diem aja sih?" tanya Fiki yang sedari tadi dikacangin.
Mulai kesal dengan banyaknya pertanyaan yang meluncur bak peluru dari cowok dihadapannya. Gadis itu akhirnya buka suara,
"Kan gue lagi baca buku! Di perpustakaan dilarang berisik! Stttt!"
"Alhamdulillah. Terrnyata Lo nggak bisu," kekeh Fiki sambil mengusap wajahnya seperti orang yang baru saja berdoa.
'Sembarangan banget nih cowok ngirain gue bisu!!' kesal gadis itu dalam hati.
"Habisnya Lo ditanya diem aja! gue kira Lo bisu," ucap Fiki seolah tau apa yang dipikirkan gadis didepannya.
Gadis itu tetap memasang komuk bodo amat dan tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca.
Tinggal 1 pertanyaan utama yang belum terjawab. Siapakah namanya? Baru saja si Fiki mau memberikan pertanyaan lagi, tapi waktu berkata lain. Bel masuk berbunyi dan gadis itu bersiap meninggalkan ruangan sunyi ini, sekali lagi tanpa menganggap keberadaan Fiki Dwi Ananta di depannya.
Tanpa disadari karena banyaknya buku yang ia bawa. Ada satu buku jatuh dari genggaman cewek itu. Fiki yang hendak menegurnya auto tidak digubris oleh cewek penghemat kata itu.
Karena Fiki cowok yang baik hati dan tidak sombong, itu anggapan dia dan orang tuanya. Fiki mengambil buku itu, dan ternyata buku yang terjatuh bukanlah buku pengetahuan, novel, cerpen, atau semacamnya. Melainkan buku diary, dengan nama tertera jelas di sampulnya, "Cantika Aulia".
__ADS_1
"Jadi namanya Cantika," lirih Fiki.
***
...~BENGKEL CB (CEPAT BERES) ABADI~...
Benner besar tergantung jelas di sebuah tempat di pinggir jalan.
"Alhamdulillah____ akhirnya kelar juga kerjaan hari ini," ucap Ricky dengan tubuh penuh bercak oli.
"Alhamdulillah," balas Farhan, sahabat sekaligus pegawai yang bekerja di bengkel milik Ricky.
"Makan Rick?" tanya Farhan. Kebetulan ini juga sudah jam makan siang.
"Boleh."
"Oke, kalau gitu gue cari makan dulu ya."
"Bentar, nih uangnya!" Ricky merogoh saku celananya.
"Udah ntar aja gampang. Pakai duit gue aja dulu," seru Farhan yang sudah keluar mencari makan.
Karena pekerjaannya sudah selesai, Ricky membuka hp nya dan mengetikkan pesan singkat pada aplikasi berwarna hijau di salah satu nomor.
^^^Anda^^^
^^^Dek, motor temenmu dah beres!^^^
Adik
Siap bang. Makasih. Entar pulang sekolah gue sama Fiki ke sana.
^^^Anda^^^
***
Jam pelajaran telah usai, bel pulang sekolah pun berbunyi. Semua murid SMA PELITA BANGSA berhamburan keluar kelas.
Fiki yang sedari tadi tidak mendapat kesempatan untuk mengembalikan buku diary itu, akhirnya mengembalikannya saat pulang sekolah.
Fiki, Fajri, dan Gilang baru saja keluar kelas. Sedangkan Cantika sudah keluar lebih dulu. Fiki yang melihat Cantika semakin menjauh dari pandangannya sontak berteriak, "CANTIK!!!"
Mendengar teriakan itu, seluruh siswi SMA PELITA BANGSA langsung menoleh ke arah Fiki termasuk Cantika. Ya wajar kali ya, mungkin mereka semua merasa cantik, kan mereka cewek.
Ajaibnya tidak hanya para siswi SMA PELITA BANGSA yang menoleh, para siswanya pun ikut menoleh. Tapi bukan karena mereka merasa cantik. Melainkan penasaran siapa yang memanggil siapa.
Gilang yang refleks menabok pundak Fiki karena merasa apa yang dilakukan teman barunya itu konyol.
"Woy Fik! Ngapain Lo teriak begitu?" tanya Gilang panik karena ratusan pasang mata menyorot mereka bertiga. Fiki yang teriak, Gilang yang malu.
"Emang salah? Kan dia emang cantik," ucap Fiki tanpa dosa.
Fajri hanya memicingkan matanya melihat Fiki. Bagaimana bisa dia seenteng itu mengatakannya.
"Maksud Lo siapa pikipawww?" Geram Gilang.
Fiki langsung setengah berlari menghampiri tempat Cantika berdiri. Cantika merasa sangat malu saat itu. Bagaimana tidak? Ratusan pasang mata menyorot dirinya dan cowok yang memanggilnya cantik itu.
"Nih buku Lo!" ucap Fiki sambil menyodorkan sebuah buku diary.
Cantika yang sebelumnya berdiri diam mematung sambil menunduk, sektika membelalakkan matanya menatap Fiki dan secepat kilat megambil buku diary dari tangannya.
__ADS_1
"Lo ngambil buku gue?!" tanya Cantika panik.
"Emang gue maling?" balas Fiki.
"Terus kok bisa ada di Lo?"
"Tadi itu jatuh waktu di perpustakaan."
"Terus Lo baca?" tanyanya dengan nada nyaring.
"Ya nggak lah! Ngapain?" jawab Fiki.
Cantika yang semakin tidak nyaman karena dirinya menjadi tontonan, memilih untuk segera meninggalkan tempat itu. Toh buku diary nya sudah ada padanya.
Namun seloroh suara mencegatnya, "Makasih ya Fiki!" ucap Fiki dengan suara yang dibuat-buat.
Seketika Cantika menghentikan langkahnya dan berbalik, "Makasih!" ucapnya cepat dan langsung kembali melanjutkan langkahnya.
Fiki membuang nafas lelah melihat tingkah salah satu makhluk Tuhan itu.
Gilang dan Fajri pun menghampiri Fiki.
"Bubar bubar!!! Ngapain sih. Ini bukan bioskop!! Bubar bubar!" usir Gilang pada para murid SMA PELITA BANGSA.
Setelah drama Korea, eh maksudnya drama si Fiki selesai, Fajri dan Gilang meminta penjelasan dari Fiki.
"Lo suka sama Tika?" tanya Fajri to the point.
"Tika siapa?" Lugu Fiki.
"Cewek yang Lo samperin barusan," jawab Fajri.
"Cantik maksud Lo?"
"Cantik??" Gilang semakin tidak paham.
"Emang dia Cantik!"balas Fiki tanpa beban.
Gilang dan Fajri sedang bertelepati. Ya___ bertelepati. Mereka berkomunikasi tanpa menggunakan bahasa. Hanya menggunakan kode tangan, kepala, alis, dan mata, mereka bisa memahami satu sama lain, yaitu tidak paham dengan si Fiki.
"Bener kan gue? Namanya kan Cantika Aulia, ya gue panggil Cantik lah. Emang salah?" jelas Fiki.
"Oalah!!!" kompak Fajri dan Gilang.
"Ngomong dong dari tadi!!" sewot Gilang sambil mendorong Fiki.
"A elah santai aja dong!" ucap Fiki.
"Maap maap! Lagian Lo sih bikin salah paham," kekeh Gilang.
"Tau nih, kirain Lo suka beneran sama si Tika?" kekeh Fajri.
"Kalau beneran emang kenapa?" tanya Fiki sambil menaikkan alisnya.
"Hah gimana gimana??" Bingung Fajri.
...🥀🥀🥀...
...Makasih buat yang udah baca🥰...
...Jangan lupa buat like dan vote ya.....
__ADS_1
...Kritik dan saran ditunggu...