
...Happy Reading 🥰...
...--------...
***
Jam dinding menunjukkan pukul 18.30 dan Cantika sedang duduk di kursi menghadap meja belajar yang di atasnya berjajar buku-buku yang terbuka. Mengerjakan tugas dan mempelajari beberapa materi untuk keesokan harinya.
Sesaat dia terpikir akan sikap Fenly yang masih marah padanya. Juga sikap Fiki yang masih acuh terhadap dirinya. Dia bingung harus melakukan apa?
Memperbaiki hubungannya terlebih dahulu dengan Fenly atau dengan Fiki?
Sungguh, semua ini membuat batinnya terusik.
Cantika membuang napas lelah. Dia memutuskan untuk bertanya pada sahabatnya, meminta solusi atas masalah yang ia hadapi.
Diambilnya benda pipih canggih di sebelah bukunya, lalu Cantika pun mendeal kontak bernama 'Bestie♡'.
Tut.. Tut..
Belum ada yang mengangkat panggilan itu hingga beberapa detik kemudian terdengar suara orang diseberang sana.
"Halo," ujarnya.
"Laras," panggil Cantika.
"Kenapa Tik?"
"Gue lagi bingung nih. Tolongin napa," pintanya dengan suara serak.
"Bingung kenapa sih? Lo ada masalah? Cerita cerita!" Kini Laras yang sebelumnya sedang rebahan langsung merubah posisinya menjadi duduk dengan meletakkan guling di pangkuannya.
Cantika bangkit dari kursi belajar dan berjalan menuju jendela kamarnya. "Gue bingung. Gimana caranya gue bujuk Fenly biar nggak marah lagi sama Gue," terdengar helaan napas lelah.
"Lah, masih marah tu anak? Kirain udah baikan," ucap Laras dengan satu alis terangkat.
Cantika menggeleng pelan. "Baikan apanya? Tadi aja waktu di parkiran sikapnya kayak orang nggak kenal."
Laras membuang napas lelah, "gimana ya? Gue juga bingung."
Cantika merengek, "Yahhh bantuin dong! Kasih saran kek apa kek."
"Ehm tapi bukannya Lo malah seneng ya kalau Fenly marah sama Lo?" pancing Laras.
"Maksud Lo?"
"Yeaa kan dulu Lo pernah bilang kalau sebenarnya Lo tuh nggak bahagia sama dia dan sebenarnya Lo tuh juga suka sama Fiki. Terus kenapa Lo berusaha baikan sama Fenly. Bukannya ini bisa jadi alasan buat Lo putus dari dia dan ngejalanin hubungan baru sama Fiki?" Laras hanya asal bicara lalu di detik berikutnya ia menyesal telah mengatakannya.
'Bego bego bego!! Kenapa Lo ngomong gitu sih Ras?!! Kalau Tika beneran ngelakuin itu gimana? Kalau dia beneran jadian sama Fiki gimana?!' rutuk Laras dalam hati.
"Lo gila?!" pekik Cantika. "Nggak semudah itu putus dari dia."
'Huft untung aja si Tika nggak setuju sama omongan gue,' terbesit rasa lega dalam benak Laras.
"Terus Lo mau lanjut?"
"Mau nggak mau," acuh Cantika.
"Oke, berarti Lo udah nggak ada rasa sama Fiki?" Laras berharap bahwa apa yang dia katakan adalah benar.
"Ya nggak juga sih."
"Hah! Gimana gimana? Di satu sisi Lo nggak mau putus sama Fenly, dan di sisi lain Lo juga ada rasa sama Fiki?" Laras benar benar tak habis pikir.
Di belahan bumi lain Cantika hanya mengedikkan bahunya.
"Wagelaseh," Laras menepuk dahinya dengan sudut bibir yang terangkat.
"Jangan maruk Lo!" ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Laras.
"Lho kok Lo jadi ngatain gue! Maksud Lo apa?" nampaknya ucapan Laras membuat Cantika tersinggung.
"Bukanya gitu Tik," Laras mencoba menetralkan nada bicaranya. "Tapi masa Lo mau mainin perasaan orang. Nggak cuman satu, tapi dua! Dua hati Tikaaaaa," geram Laras sambil mengacungkan kedua jarinya meski tak terlihat oleh lawan bicaranya.
Laras hanya saja merasa tidak terima jika melihat orang yang dicintainya disakiti oleh orang lain. Menurutnya lebih baik melihat orang yang dicintainya bahagia bersama orang lain daripada melihatnya disakiti oleh orang lain. Dia tidak akan pernah terima, sekalipun yang menyakiti orang itu adalah sahabatnya sendiri.
"Bukannya gue mau mainin perasaan orang Ras. Tapi yang namanya perasaan yah nggak bisa bohong," kata Cantika tanpa beban. Laras hanya melotot, tak paham dengan sahabatnya itu.
"Aissh udah udah nggak usah bahas itu dulu. Sekarang bantuin gue nih! Gimana caranya biar Fenly nggak marah lagi. Gue nggak mau kalau sampai ada masalah baru yang muncul," resah Cantika membuat Laras ikut berpikir.
Laras berdecak, "Gimana ya?"
"Yee ditanya malah balik nanya!"
'Mending gue bantuin aja si Tika sama Fenly baikan. Kali aja entar rasa Tika ke Fiki bakal pudar sama ketulusannya Fenly.'
"Halo?" suara Cantika menyadarkan Laras.
"Iya halo. Iya bentar napa! Ini juga masih mikir."
'Iya udah deh gue bantuin aja kali ya.'
"Gimana? Udah ketemu?" tanya Cantika.
"Aha!" Laras menjentikkan jarinya. "Gimana kalau Lo dateng ke rumah Fenly sambil bawa makanan favoritnya? Terus habis itu minta maaf. Clear deh masalahnya," senyuman mengembang di wajah Laras.
"Ehmm ide yang nggak terlalu buruk. Oke deh." Cantika manggut-manggut.
"Tapi Lo mau kan nemenin gue?" pinta Cantika dengan air muka memohon meski tak terlihat oleh Laras.
"Hmmm ya udah deh iya."
"Makasih Laras! Lo emang sahabat terbaik gue," girang Cantika.
"Siapa dulu? Laras!" ucapnya sambil mengibaskan rambut.
"Iya-iya."
"Yaudah yuk siap-siap. Tapi, nanti ikut gue beli makanannya dulu ya?" sambung Cantika.
"Oke siap." tak lupa Laras mengacungkan jempolnya.
Keduanya pun mengakhiri panggilan telepon mereka dan bersiap untuk pergi bersama.
Sementara itu di tempat lain, Fiki tengah duduk di kursi meja belajarnya. Menghadap ke arah buku tebal yang kini terbuka dengan pensil yang berada diantara jari jemarinya.
Mungkin esok hari tidak ada ulangan atau semacamnya. Tugas yang harus dikumpulkan besok juga telah selesai dia kerjakan beberapa hari lalu. Tapi Fiki tetap belajar, dia teringat dengan janji nya pada sang Papa. Terlebih kakaknya, Shandy. Jadi, dia tidak ingin mengecewakan mereka.
Saat dirinya tengah sibuk memahami materi di dalam buku yang ia baca. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
Tok Tok Tok
"Fi-k Fi-ki...." panggil seseorang yang sangat dikenali oleh Fiki. Ditambah nada bicaranya yang dibuat-buat seperti anak kecil yang sedang memanggil temannya untuk diajak bermain. Siapa lagi kalau bukan Shandy Pratama Ananta.
"Masuk aja bang! Nggak dikunci kok," ucap Fiki dengan sedikit teriak.
Tak lama, suara gesekan engkel pintu terdengar. Menampakkan seseorang yang tinggi jangkung berkulit putih dengan pakaian khas anak rumahan.
__ADS_1
Shandy yang melihat adiknya tengah sibuk bergulat dengan tumpukan buku di atas meja itu mengangkat bibirnya, "Lagi ngapain?"
Fiki yang mendengar pertanyaan itu menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya kasar. "Gimana ya? Gimana aku bisa jawabnya dengan pertanyaan yang nggak jelas?!" sinis Fiki tanpa sedikit pun menoleh pada abangnya itu.
Haruskah sesuatu yang teleh jelas terlihat itu dipertanyakan lagi?
"Dih sewot! Orang cuma tanya doang," balas Shandy tak kalah sewot.
BRUKK
Tiba-tiba saja Shandy menghempaskan dirinya di atas ranjang kamar Fiki hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras dan sedikit mengusik si pemilik kamar.
Fiki menoleh ke belakang. "Pelan-pelan ngapa bang! Entar ambruk lagi kasur gue," sambatnya lalu kembali memutar badannya ke arah meja belajar.
"Nggak akan," santai Shandy yang mulai menyalakan layar handphone-nya dan membuka beberapa notifikasi di sana.
"Lagian bang Shan ngapain sih di sini? Kan punya kamar sendiri," tanya Fiki sambil menulis di buku catatannya.
"AC kamar gue rusak. Makanya gue ke sini, kalau enggak gue juga ogah lagi," balas Shandy tengil.
Ya begitulah kedua saudara ini. Kadang akur, kadang ribut. Tapi banyak ributnya sih. Meski begitu bukan berarti tidak ada rasa kasih dan sayang sesama saudara di antara mereka. Hanya tidak terlalu diperlihatkan saja.
"Belum selesai belajarnya?" Shandy bertanya lagi sembari meletakkan bantal secara vertikal di belakang punggungnya sebagai sandaran.
Hening. Tidak ada jawaban.
"Emang masih banyak tugasnya?"
"Enggak sih bang. Udah kelar semua. Gue cuman lagi pelajari materi aja," jawab Fiki tenang.
"Yaudah kalau gitu cukup dulu belajarnya. Dari sepulang sekolah lho. Istirahat gih!"
"Iya bang bentar lagi," sanggah Fiki.
Shandy tahu setelah kejadian beberapa waktu lalu ada yang sedikit berbeda dari adiknya itu. Fiki lebih banyak murung, diam, dan terlihat semakin gila-gilaan dalam belajar. Tak jarang dia sampai lupa makan dan harus ada yang mengingatkannya hanya untuk sekadar istirahat atau makan. Kalau tidak maka anak itu tidak akan berhenti.
Fiki yang sekarang tidak lagi seperti Fiki yang dulu. Yang selalu ceria dan tertawa. Shandy tahu itu.
Terdengar hembusan napas, "Gue tahu Lo mau nebus kesalahan Lo. Tapi jangan diforsir terus. Lo juga manusia, bukan robot. Jadi harus istirahat."
"Iya-iya."
"Jangan iya-iya doang. Udah gih istirahat dulu," pelan Shandy namun tegas sambil menatap Fiki dalam.
Akhirnya Fiki pun menuruti ucapan Abang nya itu. Ditutupnya buku yang sedari tadi ia baca. Lalu beranjak dari duduknya.
"Rebahan sini," ucap Shandy menepuk-nepuk sisi ranjang yang kosong.
"Gue mau ke toilet dulu," Fiki berjalan menuju ruangan kecil di sisi sudut kamarnya.
Mendengar jawaban adiknya membuat Shandy mengangguk dan kembali menatap layar ponsel. Tak berselang lama terdengar suara dari lantai bawah memanggil-manggil namanya.
"Bang Abang!" panggil Bu Ani samar namun Shandy dapat mendengarnya dengan jelas.
"Iya Ma?" jawab Shandy sedikit teriak takut mamanya tidak mendengar sahutannya.
Hening. Tidak ada jawaban.
"Bang Shan!" panggil Bu Ani sekali lagi.
"Iya Ma?" Sahut Shandy.
Hening. Tidak ada sahutan. Sepertinya Bu Ani tidak mendengar jawaban Shandy. Akhirnya Shandy beranjak dari ranjang dan menemui mama nya.
"Iya Ma? Ada apa?" tanya Shandy saat menuruni anak tangga setelah menutup pintu kamar Fiki sebelum keluar tadi.
***
Cantika yang duduk di jok belakang motor Laras pun menepuk pundak sahabatnya itu tatkala melihat penjual martabak di pinggir jalan.
"Stop Ras! Itu tu berhenti di situ!" tunjuk Cantika pada sebuah kedai martabak.
Laras menuruti permintaan Cantika dan menepikan motornya. Kedua remaja itu turun dari motor lalu melepaskan helm mereka. Tanpa basa-basi Cantika langsung saja memesan martabak manis dan mengajak Laras untuk duduk di bangku yang ada di sana. Entah kenapa, sepertinya Cantika sudah sering kemari.
"Seriusan mau bujuk Fenly pakek martabak?" Laras mendekatkan mulutnya ke telinga Cantika.
Cantika mengangguk mantap. "Iya lah. Asal Lo tahu aja nih Ras, Gue itu sama Fenly sering diajak ke sini. Lagian martabak di sini tuh enak tahu," mendengar itu Laras menatap Cantika dengan satu alis terangkat, seolah tak yakin dengan pernyataannya.
"Bukannya gue nggak percaya nih ya. Masa iya Fenly sering ngajakin Lo ke sini. Gue kira dia tipe orang yang kalau ngajak jalan tuh pasti ke kafe atau ke mall gitu."
Cantika menggelengkan kepalanya pelan. "Fenly itu nggak kayak yang Lo pikirin. Banyak hal yang orang nggak tahu tentang dia," ucap Cantika melihat langit yang dipenuhi hamparan bintang.
"Iya deh iya," Laras menyatukan telapak tangannya. "Yang paling tahu Fenly." Laras tertawa kecil.
***
Fiki keluar dari kamar mandi sambil celingukan, "Bang Shan mana?"
Tak ambil pusing, Fiki hanya mengedikkan bahunya lalu berbaring diatas kasur. Dia memejamkan mata, sesekali memijit pelipisnya yang terasa sedikit nyut-nyutan. Jujur saja, sedari tadi dia merasa sedikit pusing. Mungkin terlalu lama duduk dan menunduk membaca buku atau melihat laptop.
Setelah merasa agak mendingan, Fiki kembali beranjak menuju balkon kamarnya. Sebelum itu ia berjalan ke samping meja belajar. "Jamming dulu ah. Healing," gumamnya dengan tangan yang mencari sesuatu.
"Lha! gitar gue mana? Biasanya gue taruh sini," Fiki mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan untuk mencari benda kesayangannya itu. Apa dia lupa jika benda itu sudah lenyap sekarang?
Tiba-tiba terlintas sebuah memori di ingatannya dan menyadarkannya bahwa apa yang ia cari tidak akan pernah ditemukan sekarang.
"Ah iya. Kan udah dibanting," Fiki tersenyum smirk.
Ternyata hal itu tidak luput dari seorang Shandy. Rupanya dia telah kembali beberapa menit lalu. Namun saat dia akan masuk, dia malah melihat kekecewaan dalam diri adiknya.
"Fik! Ikut gue yuk!" ajak Shandy tiba-tiba. Berharap Fiki tidak kembali memikirkan masalah gitar itu.
"Kemana?" balas Fiki malas.
"Keluar cari angin."
"Ngapain? Kan AC gue masih bisa nyala bang," Fiki berjalan gontai menuju kasur berniat ingin kembali rebahan di atasnya.
Dengan cepat Shandy langsung menarik tangan Fiki. "Ehh eh eh! Malah tidur lagi. Ayok bangun ikut gue!"
"Pakai AC aja kenapa sih bang! Ribet amat," rajuk Fiki.
"Woylah gini amat punya adik!" Shandy mengacak-acak rambutnya.
"Itu perumpamaan tong! Bukan nyari angin beneran!" geramnya. "Udah ayok ikut gue! Disuruh Mama beli martabak."
Fiki berdecak, "Sendiri nggak berani?" tanyanya dengan satu alis terangkat.
"Lagian gue males ganti kostum bang," Fiki menyalakan HP-nya berniat untuk bermain game online.
"Udah nggak usah ganti. Lagian Lo nggak sumpek di kamar terus? Udah ayok!!" paksa Shandy menarik tangan Fiki hingga membuatnya terbangun.
Bukannya Shandy tidak berani pergi sendiri. Hanya saja dia berusaha untuk menghibur Fiki, meskipun hanya keluar cari angin.
"Ya kali keluar pakai boxer doang?" sanggah Fiki. "Sama kaos oblong lagi."
__ADS_1
"Ah elah ribet amat Lo kayak cewek. Udah nggak papa, tinggal pakek in hoody kelar urusan." ucap Shandy final sebelum keluar pergi ke kamarnya untuk mengambil hoody miliknya.
Akhirnya setelah perdebatan panjang, kedua saudara itu pun pergi mencari angin dengan outfit hoody dan boxer rumahan. Jangan salah euy, tetep kece pastinya!
***
Saat pesanan Cantika hampir siap, tiba-tiba datang sebuah motor yang lampu sennya membuat mereka menutup mata karena silau. Setelah mesin motor terdengar berhenti cahaya lampu itu juga ikut menghilang.
Kedua pengemudinya turun dari motor, lalu melakukan pesanan. Saat keduanya hendak duduk, salah satu dari pengemudi itu berucap, "Lho, Laras kan?"
"Eh iya. Kak Shan sama Fiki beli martabak juga," balas Laras ramah.
"Enggak," jawab Shandy sekenanya lalu duduk di kursi lain yang kosong diikuti Fiki.
"Terus ngapain di sini?" lugu Laras.
Shandy menggaruk tengkuknya, "Hadughhh Laras_ Laras_ kalau nggak beli martabak ngapain ke sini?"
"Gimana sih Fik temen Lo?" balas Shandy cengengesan lalu menyikut lengan Fiki yang hanya dibalas senyuman simpul oleh si empunya. Laras dan Cantika pun ikut tersenyum.
"Kalian suka martabak juga?" tanya Laras.
"Enggak juga sih. Ini request-an Mama," jawab Fiki.
"Ouh Tante Ani ternyata juga suka martabak," balas Laras yang diangguki kedua putra Bu Ani itu.
Karena posisi mereka kini yang duduk berhadapan. Shandy di depan Cantika dan Laras di depan Fiki. Karena Shandy tidak pernah melihat gadis di depannya dia pun menyeletuk, "temen Lo?" tanya Shandy pada Laras.
"Iya Kak. Namanya Cantika."
"Ouh ini yang namanya Cantika," Shandy melihat Cantika sambil mengusap dagunya. Seolah sedang menimang sesuatu.
"Iya Kak saya Cantika. Temannya Laras, temannya Fiki juga sih," Cantika tersenyum.
"Hmm. Iya-iya."
"Kata Fiki Lo itu... AWW!" Shandy meringis kesakitan sambil menatap tajam Fiki.
"Sttt! Jangan cepu bisa nggak sih bang!" lirih Fiki penuh penekanan.
Ternyata untuk mencegah seorang Shandy, Fiki menginjak punggung kaki Abangnya itu. Keduanya kini saling lempar pandang, terpancar guratan kekesalan di mata mereka.
"Aku kenapa ya?" tanya Cantika penasaran. Apa Fiki menceritakan tentang dirinya pada kakaknya?
Mendengar pertanyaan dari Cantika, sontak membuat Fiki dan Shandy menoleh ke arahnya.
Ketika Shandy baru akan membuka mulutnya, tiba-tiba ucapan seseorang menghentikannya.
"Ini mbak martabak nya udah siap." Yap, itu adalah si mbak penjual martabak.
Cantika dan Laras pun menyelesaikan transaksinya lalu berpamitan pada Shandy dan Fiki sebelum melanjutkan perjalanannya ke rumah Fenly.
***
Sesampainya di rumah Fenly, Cantika dan Laras disambut hangat oleh Mama Fenly. Mereka pun dipersilahkan masuk dan duduk sembari menunggu Fenly.
"Ngapain ke sini?" tanya Fenly dingin ketika sampai di ruang tamu.
"Dih jutek amat!" Laras yang menyahut.
"Jangan jutek-jutek, entar cewek Lo pergi nangis," ledek Laras yang membuat Fenly menyatukan alisnya.
"Baik-baik Lo berdua! Gue tunggu di depan ya," Laras menepuk pelan pundak Cantika.
Setelah Laras menghilang dibalik pintu, Fenly menghela napas dan duduk di sofa tunggal samping Cantika. Masih dengan wajah datarnya.
"Fen, udah dong jangan marah lagi ya!" pinta Cantika.
"Nih, aku bawain makanan kesukaan kamu," Cantika menunjukkan kresek berisi martabak yang tadi dibelinya sambil tersenyum lebar.
"Udahan ya marahnya. Please!" kini Cantika memegang tangan Fenly. "Aku minta maaf kalau waktu itu udah bikin kamu tersinggung. Aku nggak bermaksud apa-apak kok, beneran deh."
Fenly menghembuskan napas panjang. Melirik ke arah Cantika. "Ya udah iya aku maafin. Tapi jangan di ulangi lagi ya!" Cantika mengangguk mantap.
"Yaudah ayok kita makan bareng martabak nya!" Cantika membuka kotak martabak itu.
"Aku juga minta maaf kalau udah bikin kamu kepikiran," ucap Fenly tulus.
"Iyah."
"Udah nih makan. Aku suapin ya! Aak" Cantika membuka mulutnya sambil menyuapkan sepotong martabak pada Fenly.
"Tunggu tunggu! Tapi inget ya, aku maafin kamu bukan karena martabak, tapi karena ketulusan kamu," kata Fenly.
"Iya-iya. Aak," Cantika kembali menyuapkan makanan ke mulut Fenly begitupun sebaliknya.
"EKHEM EKHEM!" Laras bersandar di bingkai pintu sambil melipat tangannya. "Baikan sih baikan. Tapi kalau makan ajak-ajak dong!" ucap Cantika dengan wajah kesal.
"Sttt! Jomblo diem aja!" ketus Fenly.
"Dih! Denger ya Fenly! Gue juga berkontribusi atas kembalinya hubungan kalian yang adem ayem."
"Aduh bahasa Lo, nggak kuat gue," Fenly tertawa yang diikuti Cantika.
"Ketawa Lo pada! Ketawa!" kesal Laras. "Gini amat nasib jomblo."
"Makanya cari pacar sana! Biar nggak jomblo," celetuk Fenly.
Cantika mengulum senyum. "Udah udah jangan gitu ah kasian Laras," Cantika menepuk lutut Fenly.
"Ras sini masuk! Makan bareng, nih masih banyak martabaknya."
"Wlekk," Laras meledek Fenly. "Makasih Cantika, Lo emang sahabat ter the best!" sorak Laras.
"Dih alay!" maki Fenly.
"Lo juga alay!"
Cantika menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada-ada saja kelakuan sahabat dan pacarnya itu.
***
...🥀🥀🥀...
...Wuhuu akhirnya up juga. Ada yang masih nungguin nggak?👀...
...Kalau masih ada makasih banyak ya, maaf baru bisa up😭🙏...
.......
...Semoga kalian suka sama ceritanya 🤗...
.......
...Kalau suka jangan lupa klik jempol di bawah, komen, dan fav juga. Thank you💙...
__ADS_1