Coba Cintaku

Coba Cintaku
Chapter 16


__ADS_3

...Happy Reading 🥰...


...----------------...


Kediaman Ananta


06.00


.


.


Bu Ani membawakan semangkuk bubur dan segelas susu ke kamar Fiki. Pikirnya, hari ini Fiki tidak masuk sekolah dulu karena musibah yang ia alami kemarin. Mungkin anak bungsunya itu juga ingin beristirahat di kamar sembari memulihkan kondisinya.


Anak tangga demi anak tangga dinaikinya sambil membawa nampan ditangan. Hingga akhirnya sampailah Bu Ani di depan pintu kamar Fiki.


Klek


Pintu terbuka dari dalam menampakkan Fiki yang berseragam abu putih, lengkap dengan ransel dan sepatu hitam.


Fiki melihat mamanya dengan kening berkerut, "Mama?"


"Lho Fiki sekolah?" tanya Bu Ani masih dengan nampan ditangannya.


"Iya lah. Kan Fiki hari ini ada ulangan harian Ma," ucap Fiki sambil membenarkan dasinya yang miring.


"Lho, kamu kan lagi sakit sayang. Udah lah izin dulu. Kan ulangannya bisa nyusul," tutur Bu Ani.


"Fiki udah nggak pa-pa Ma. Lagian Fiki nggak mau ulangan nyusul," rengek Fiki.


Bu Ani membuang napas berat.


"Seenggaknya kamu tunggu sampai memar kamu sedikit samar. Ini masih kelihatan banget Lo Fik," nasihat Bu Ani.


"Udah Mama cantik. Fiki beneran nggak papa kok," Fiki menunjukkan deretan giginya. "Lagian ulangan susulan itu nggak seru!" keluh Fiki.


"Nggak seru karena nggak bisa contek-contekan!" sahut Shandy yang entah datang darimana.


Shandy kemudian menghampiri Mama dan adiknya itu.


"Sorry! Gue bukan tipe kayak gitu," tukas Fiki.


"Hilih belagu amat Lo pik!" Shandy tertawa smirk.


Fiki hanya menye-menye. Toh memang benar kalau dia tidak pernah menyontek. Eh, ralat. Maksudnya tidak lagi menyontek. Semenjak dia tahu kalau menyontek itu dosa dan akan merugikan diri sendiri di masa depan nantinya. Masalah orang lain percaya atau tidak percaya itu bukan urusannya.


Shandy yang melihat semangkuk bubur dengan segelas susu hangat yang dianggurin, berniat untuk menyomotnya.


Pless


Bu Ani langsung menepis tangan Shandy yang usil hingga meninggalkan rasa panas di punggung tangan Shandy. Membuat anak itu menggosok nggosok punggung tangannya sambil meringis.


"Ini punya adik kamu! Punya kamu ada di bawah!" sarkas Bu Ani.


Di bawah itu maksudnya, di meja makan yang ada di lantai bawah ya guys.


"Punya Fiki dibawain ke sini, sedangkan Shandy suruh ngambil sendiri," rajuk si Shandy.


"Pftttt," Fiki menahan tawanya. 'Iri?! Bilang boss! Pal pale palpale'


"Kenapa Lo ketawa segala?!" Shandy merasa terdzolimi.


Plak


"Fiki kan lagi sakit!" ucap Bu Ani menepuk lengan Shandy.


"Sakit apaan? Orang mau berangkat sekolah gitu!" julid Shandy.


"Ck. Udah sana ke bawah. Sarapan! Katanya ada kelas pagi," ingat Bu Ani.

__ADS_1


Shandy menyipitkan matanya melihat Fiki, "Awas Lo pikipaw!" Dengan kedua jarinya, Shandy menunjuk matanya lalu mata Fiki.


Bu Ani dan Fiki hanya tersenyum melihat ulah Shandy. Shandy kemudian mematuhi perintah Mamanya dan turun ke lantai bawah. Sedangkan Fiki mengambil nampan berisi bubur dan susu yang sedari tadi dibawa oleh sang Mama. Takut Mamanya kewalahan.


"Udah sini Ma, biar Fiki yang bawain."


"Kamu beneran udah nggak pa-pa?" tanya Bu Ani sekali lagi.


Fiki mengangguk mantap sambil mengulum senyum, "Thrust me!"


Lalu, Fiki dan Bu Ani menuju lantai bawah untuk sarapan bersama. Hari ini Pak Ananta akan kembali bertugas dan mungkin tidak akan pulang untuk beberapa hari.


Setelah sarapan, Fiki langsung mengenakan jaketnya dan berpamitan untuk pergi ke sekolah.


Sebenarnya, Fiki juga tidak ingin masuk sekolah dulu. Karena pasti akan banyak teman-teman yang bertanya tentang kondisinya. Terlebih Fajri dan Gilang. Selain itu, rasanya dia juga tidak ingin dulu bertemu Cantika. Bukan karena benci atau semacamnya. Tapi karena, dia hanya butuh waktu untuk sendiri.


Sesampainya di depan kelas. Fiki merasa aneh. Suasana kelasnya hari ini tidak seperti biasa. Sunyi senyap bak kuburan. Padahal biasanya sangat riuh seperti pasar ayam.


Ketika sampai di ambang pintu, Fiki menemukan jawabannya. Ternyata pembuat onar alias kaum Adam di kelas itu sedang sibuk menyalin PR dari pak Anam.


Namun, saat melihat dirinya. Mereka semua mengalihkan pandangannya dari buku-buku itu kepadanya. Dengan alis bertaut.


Fiki tahu apa yang mereka pikirkan. Pasti tentang wajahnya yang penuh dengan luka lebam.


"Muka Lo kenapa?!" tanya Fajri yang langsung beranjak dari bangkunya. Membuat Gilang yang sedari tadi fokus menulis ikut mendongakkan kepalanya.


Fiki tidak menggubris pertanyaan itu dan terus berjalan menuju bangkunya.


Ketika melewati bangku Cantika. Tatapan mereka bertemu, seolah banyak hal yang ingin disampaikan namun tak sepatah kata pun berhasil diucapkan.


Fiki yang menatap Cantika dengan tatapan datar, dan Cantika yang menatap Fiki dengan tatapan nanar. Dia merasa, dialah yang bertanggung jawab atas kondisi Fiki sekarang.


Sampai akhirnya Fiki memutus kontak mata itu, dan terus berjalan ke belakang. Fiki meletakkan tas di atas meja miliknya, lalu melepas jaket yang ia kenakan.


Laras cengo, melihat Fiki lalu melihat Cantika. Sepertinya luka Fiki ada kaitannya dengan sahabatnya itu.


"Fik, Lo kenapa?!" tanya Fajri sekali lagi.


Fajri menoleh pada Gilang, "Emang iya?!". "Sama siapa?" Fajri menoleh pada Fiki.


Fiki membuka mulutnya berniat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.


"Wah wah wah, siapa yang berani mukulin temen Gue! Mau gue bantai tu orang!" sahut Gilang membuat Fiki merapatkan kembali bibirnya.


"Siapa Fik?!" Gilang menggebrak meja Fiki. Membuat si empunya tersentak kaget.


"Palingan kalau Lo tau, Lo nggak bakalan berani mukul dia," Fiki tersenyum smirk.


"Lo jangan ngeremehin Gue Fik! Gini gini gue atlet karate terbaik di sekolah ini," bangga Gilang membuat Fajri memutar bola matanya malas.


"Iya bang jago. Gue tau. Tapi masalahnya yang mukulin gue itu temen Lo juga!!"


"What?!"


"Gak usah sok Inggris Lo!" Fajri menoyor kepala Gilang.


"Udah kerjain dulu noh tugas Lo! Keburu masuk nanti. Masalah Fiki kan bisa nanti-nanti," saran Fajri.


"Bentar ngapa Jri!" sinis Gilang. "Emang temen gue yang mana?" Gilang masih kepo.


"Udah lah nanti aja. Beresin dulu tugas Lo. Habis ini kan juga ada ulangan harian," balas Fiki santai.


"DEMI APA?! MAMPUS GUE!!" Gilang membelalakkan matanya, lalu memutar badannya dan langsung melanjutkan menyalin PR-nya.


Tidak berselang lama, bel masuk pun berbunyi dan pelajaran pun dimulai. Termasuk ulangan harian geografi yang telah dijadwalkan.


A few hours later


Bel istirahat berbunyi, pertanda waktu mengerjakan ulangan geografi telah habis. Membuat seluruh murid 11 IPS 1 merasa lega.

__ADS_1


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga!" Gilang menggeliat.


Membuat Fiki dan Fajri saling lirik. Sahabatnya itu sudah seperti orang yang bebas dari beban hidup yang berat.


"Skuy lah ke kantin! Cacing di perut gue udah pada demo nih," ajak Gilang pada kedua temannya itu.


"Ternyata mikir juga nghabisin tenaga ya?" monolog Gilang.


"Lha emang Lo tadi pakai mikir?" julid Fiki.


Gilang melirik Fiki sambil menyipitkan matanya, "Jangan salah Lo Fik! Gue emang nggak mikir sih. Tapi gue pakai jurus andalan gue. Dan itu butuh tenaga!" terang Gilang.


"Halahh, jurus nghitung kancing baju aja bangga!" ucap Fajri.


"Eits, jangan salah Jri. Itu adalah jurus terampuh sepanjang masa," bangga Gilang.


Membuat Fiki dan Fajri menggaruk kepalanya.


"Aish__ udah hayuk Fik ke kantin!" Gilang mengode dengan kepalanya dan mulai berjalan keluar kelas.


"LANG! NITIP KAYAK BIASA!!" seloroh Fajri. Gilang yang memang sudah terbiasa akan hal itu hanya mengacungkan jempolnya.


"Sekali-kali ikut ke kantin napa Jri? Takut banget sama fans Lo," Fiki menepuk pundak Fajri.


"Next time kali ya," cengir Fajri.


Fiki pun menyusul Gilang yang sudah sampai di ambang pintu. Tanpa diduga, Gilang bertemu dengan Fenly yang sepertinya mau masuk ke kelas 11 IPS 1.


"Eh Fen!" Gilang melakukan tos dengan Fenly.


"Mau ke kantin Lang?" tanya Fenly basa-basi.


"Yoii. Bawa apaan Lo? Pasti buat Tika ya?" tanya Gilang.


Tanpa Gilang sadari, Fiki melihat mereka dengan tatapan horor.


"Iya. Buat P-A-C-A-R Gue!" tekan Fenly yang menyadari bahwa Fiki sedang mengamati mereka berdua.


"Iya tau gue, kalau Tika pacar Lo," Gilang tersenyum tipis. "Udah lah gue duluan ya!"


"Oke."


Melihat Gilang yang sudah berjalan keluar kelas membuat Fiki mau tidak mau juga harus keluar kelas. Meski di ambang pintu masih ada Fenly yang menatapnya dengan tatapan tajam.


Ketika Fiki berpapasan dengan Fenly, sorot mata tajam dari keduanya nampak jelas terlihat. Hal itu tak luput dari perhatian Cantika, yang duduk dibangku depan.


Fenly yang masih melihat luka memar di wajah Fiki memasang senyuman smirk.


'Rasain Lo! Makanya jangan berani gangguin cewek gue!'


Jantung Cantika berdegup kencang, dia berharap kejadian kemarin malam tidak terulang lagi. Apalagi jika di sekolah.


Fiki terus menatap Fenly dengan rahang mengeras dan tangan yang mengepal.


"Fenly!" Cantika berusaha untuk mengalihkan perhatian mereka berdua.


Panggilan itu berhasil membuat Fenly dan Fiki menoleh ke arah Cantika. Fenly langsung berjalan ke arah Cantika dengan senyuman terlukis di wajah tanpa memperdulikan Fiki.


Di sisi lain, Cantika menatap Fiki dan Fiki juga menatapnya, namun dengan tatapan sinis dan langsung pergi menyusul Gilang. Ingin rasanya Cantika menahannya, tapi dia tidak bisa.


"Sial!" Fiki terus berjalan menyusuri koridor sekolah dengan jiwa yang terbakar amarah.


...🥀🥀🥀...


...Makasih buat yang udah baca🥰...


...Kalau kalian suka sama ceritanya...


...Jangan lupa buat like, vote, dan fav ya.....

__ADS_1


...Kritik dan saran ditunggu...


__ADS_2