
Pintu terbuka. Nampak seseorang berdiri dengan tatapan penuh keheranan melihat sekumpulan cewek-cewek di depan ruang studio.
Kehadiran orang itu berhasil membungkam kehebohan fans Fajri dengan pesonanya.
Kali ini mereka sudah tidak berteriak lagi, melainkan berbisik-bisik membicarakan Fiki. Karena belum semua siswi tahu tentangnya.
"Fiki?" ucap Fajri yang langsung mencekal tangan Fiki dan menyeretnya masuk ke dalam ruangan, lalu dengan cepat menutup pintu itu lagi.
Hal itu membuat Fiki sedikit oleng karena Fajri menarik paksa dirinya.
"Ada apaan sih Jri?" tanya Fiki sambil memajukan dagunya ke arah makhluk di luar studio.
"Biasalah kayak yang waktu di parkiran," jawab Fajri stay cool yang dibalas Fiki dengan menarik napas panjang.
"Siapa Jri? Anak baru?" tanya Zweitson.
Fajri mengangguk, "Kenalin Son temen baru gue, namanya Fiki."
"Oh, kenalin gue Zweitson," sambil mengulurkan tangannya.
"Gue Fiki," menjabat tangan Zweitson sembari menampakkan deretan giginya.
'Oh ternyata Zweitson namanya, gue kirain Son itu Soni,' batin Fiki sambil menahan senyum.
Tak lama seloroh suara dari luar sana membubarkan kerumunan masa itu.
Prok.. Prok... Prok....
"Pada ngapain? Pulang sekolah kok nggak pulang?!" Pak Fendy menegur cewek-cewek yang berada di depan ruang studio.
Semua murid hanya terdiam, termasuk yang ada di dalam studio.
"Udah bubar bubar! Langsung pulang ke rumah masing-masing! Nggak usah mampir ke mana-mana!! Ngerti?!" tegas Pak Fendy.
"Iya pak," patuh sekumpulan cewek-cewek itu dengan wajah memelas.
***
Hari yang lumayan melelahkan namun menyenangkan bagi Fiki. Pertama kali ia mengikuti ekskul vokal di sekolah barunya. Pembina dan teman-temannya sangat baik dan seru. Meski tidak mendapat restu dari sang ayah. Namun, Fiki akan terus berusaha membuktikan bahwa dia bisa berprestasi lewat karyanya dalam bermusik.
Setelah menyelesaikan semua tugas sekolah dan membersihkan diri, Fiki kembali teringat dengan Cantika. Ya__ PDKT-nya belum berjalan sempurna, dia harus melanjutkan aksinya untuk bisa mendapatkan hati cinta pertamanya itu.
Awalnya Fiki tidak mengerti bahwa apa yang dia rasakan itu adalah sebuah cinta. Namun, saat pertama bertemu dengan Cantika dia merasa sesuatu yang berbeda, dan Cantika selalu ada dalam pikirannya.
Hingga pada akhirnya ia bertanya pada abangnya si Shandy. Kata Shandy, apa yang dirasakan Fiki itu namanya cinta. Maklum saja jika Fiki berkonsultasi pada Shandy, karena dia sudah menjalin asmara dengan kekasihnya selama kurang lebih 8 tahun.
Jadi, sepertinya apa yang dikatakan Shandy itu memang benar. Fiki cinta pada cantik. Entah bagaimana itu bisa terjadi.
Fiki kemudian menyalakan ponselnya dan mencari kontak seseorang di sana untuk dimintai bantuan.
^^^Anda^^^
^^^Laras. Lo di mana?^^^
Beberapa menit menunggu akhirnya pesan itu dibaca dan Laras sedang mengetik.
Laras (S-1)
Di rumah. Ada apa Fik?
Tumben
^^^Anda^^^
^^^Nanti sore bisa ketemuan nggak?^^^
Laras (S-1)
Ketemuan? Kenapa?
^^^Anda^^^
^^^Ada yang mau gue omongin^^^
Laras (S-1)
Oke. Dimana?
^^^Anda^^^
^^^Nanti gue share lock^^^
Laras (S-1)
Oke
Setelah mengakhiri pesannya, Fiki langsung bersiap pergi untuk menemui Laras.
"Mau ke mana Lo?" tanya Shandy yang sedang mencuci motornya.
"Keluar bentar," jawab Fiki yang langsung menuju garasi rumahnya.
"Kemana?" kepo Shandy karena melihat adiknya berpakaian rapi.
"Ketemu sama temen?"
__ADS_1
"Siapa?"
"Kepo banget sih bang!" kesal Fiki yang merasa diinterogasi polisi.
"Cantik ya? Iya kan? Ngaku aja deh Lo," ledek Shandy sambil cengar-cengir.
"Sok tau! Enggak tuh," jawab Fiki songong.
"Terus siapa?" Shandy semakin penasaran.
Fiki menghirup napas panjang, "Laras! Udah ah gue pamit!"
"Wah bener bener Lo ya Fik! Parah Lo!" tunjuk Shandy yang memegang spon penuh sabun pada Fiki. Tanpa disengaja cipratan sabun itu mengenai baju Fiki.
"Ck emang kenapa sih bang?!" kesal Fiki sambil membersihkan cipratan sabun itu.
"Ya parah lah!! Katanya Lo suka sama Cantik tapi malah jalan sama Laras. Gimana sih?! Dasar bua___"
"Hust jangan sembarangan Lo bang! Lagian gue ketemuan sama Laras juga karena Cantik," ucap Fiki yang langsung meninggalkan Shandy.
"Hah? Gimana maksudnya?" bingung Shandy yang tidak lagi digubris oleh Fiki yang sudah melenggang pergi dengan motornya.
"Woy Fik! Woy!" teriak Shandy. "Dasar pikipaw! Diajak ngomong malah pergi! Adik siapa sih tu?!" dumel Shandy sambil terus menggosok body motornya.
***
Laras yang masih terpaku di samping ranjang sambil menatap layar ponselnya dengan mata berbinar.
"Demi apa? Fiki ngajak gue ketemuan!!" girang Laras meloncat ke kasur sambil membenamkan wajahnya di bantal dan menghentak-hentakkan kakinya.
Laras merasa tidak percaya, orang yang dia suka mengajaknya bertemu di sore yang cerah ini. Rasanya seperti mimpi.
"Fiki mau ngomong apa ya?" Laras menerka-nerka. "Apa jangan-jangan dia mau nembak gue?!" girang Laras.
"Eh Laras, tenang. Jangan kegeeran. Ya kalau dia nembak gue kalau nggak?" Laras menenangkan dirinya sendiri.
"Udah ah dari pada ngehalu mending gue siap-siap," Laras beranjak dari kasurnya.
***
Di sebuah taman kota yang indah diiringi senja yang begitu menawan membuat suasana sore itu menjadi istimewa.
Fiki dan Laras turut menyaksikan indahnya ciptaan Tuhan dengan duduk di bangku taman.
Laras merasa sangat canggung, dia canggung untuk memulai pembicaraan. Padahal biasanya dia tidak begitu, bahkan jika ada kumpulan dengan teman-teman dialah yang selalu mengawali pembicaraan. Tapi kali ini kenapa sulit sekali? Apa karena dengan oang yang dia sukai?
"Ras?" Fiki memecah keheningan kala itu.
"Hmm, iya?"
Kenapa saat mendengar Fiki menyebut Tika dengan sebutan Cantik membuat telinga Laras risih? Hatinya merasa tak terima!
"Eh..ee..i..iya."
"Jadi Lo deket banget dong sama Cantik?"
"Iya," jawab Laras singkat. "Btw kenapa Lo manggilnya nggak Tika aja?" tanya Laras seolah tak terima.
"Ya nggak papa. Selain karena namanya Cantika, dia juga emang cantik. Bener nggak?" Fiki mengangkat alisnya meminta pembenaran dari opininya itu.
Degg
Jantung Laras seolah berhenti berdetak saat itu. Mendengar seseorang yang dicintainya memuji kecantikan perempuan lain mengapa membuat hatinya terluka? Terlebih perempuan itu sahabatnya sendiri. Apa ini yang namanya cemburu?
Laras kemudian hanya mengangguk sambil memaksakan senyumnya dan bersikap seolah baik baik saja
"Oke. Karena Lo sahabat deketnya Cantik. Gue boleh tanya tentang dia nggak?" tanya Fiki yang benar-benar tidak peka akan perasaan Laras.
'Oh jadi Fiki ngajakin gue ke sini cuma mau tanya soal Tika. Gue kira beneran mau ketemu sama gue?' batin Laras sesak. 'Laras__ Laras__ pede banget sih Lo! Makanya jadi cewek jangan baperan! Sakit sendiri kan Lo!' umpatnya pada diri sendiri.
"Ras, kok diem?"
"Eh nggak kok. Mau tanya soal apa?"
"Boleh minta nomernya Cantik?"
"Buat apa?! Gue sebagai sahabatnya nggak akan ngasih nomernya ke sembarang orang!" sewot Laras.
"Lah, emang Gue orang sembarangan? Gue kan temen kalian. Lagian Gue minta nomornya buat nanyain tugas atau materi pelajaran."
Laras menyipitkan matanya melihat Fiki, " Yakin alasannya cuma itu?".
Fiki hanya menganggukkan kepalanya sambil menggosok tengkuknya tanpa berani melihat mata Laras.
"Gue denger-denger Lo tu anak pinter. Ya kali Lo nggak paham tugas atau materi. Jujur sama gue! Lo pasti modus kan?!"
"Modus nilai yang sering muncul?" jawab Fiki sekenanya.
"Ck Fiki!!!" Laras mendorong pelan lengan Fiki. "Bukan modus yang itu!" geramnya.
Fiki tertawa melihat temannya itu kenal karena ulahnya.
"Nah tu tau," jawab Fiki enteng.
"Jadi bener cuma buat modus?"
__ADS_1
"Yoi."
"Plis ya Ras bantuin Gue! Cantik itu cinta pertama Gue," pinta Fiki dengan wajah memelas.
Degg
Untuk kedua kalinya pernyataan Fiki membuat jantung Laras seolah berhenti berdetak. Pernyataan yang melukai hatinya. Ia tak pernah mengira bahwa cinta sesakit ini. Ia kira cinta itu indah, namun ternyata cintanya hanya membuat luka. Laras tak bisa berkata-kata.
'Asal Lo tahu Fik. Lo juga cinta pertama Gue. Tapi Lo malah cinta sama sahabat Gue,' batin Laras terluka.
"Ras, plis bantuin Gue ya buat deket sama Cantik," Fiki mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.
Fiki benar-benar tidak peka dengan perasaan Laras. Sakit? Pasti. Itulah yang Laras rasakan. Tapi melihat orang yang dicintainya sedih seperti ini, ia tak bisa. Meski harus terluka tak apa, jika itu bisa membuat dia bahagia. Meski tak bersamanya.
"Ras? Mau ya?" Melas Fiki.
Laras menarik napas panjang. "Iya," jawabnya.
"Yes!!" Fiki mengepalkan tangannya, lalu merangkul pundak Laras sambil tersenyum lebar. "Makasih Laras!" sambungnya.
Hal itu membuat perasaan Laras tak karuan. Di satu sisi ia terluka. Tapi di sisi lain ia bahagia karena melihat Fiki bahagia. Senyumannya begitu berarti bagi Laras.
"Tapi Fik. Ada satu hal yang harus Lo tau soal Tika," ucap Laras sungguh-sungguh.
"Apa?" wajah Fiki yang sebelumnya dihiasi senyum mendadak berubah tegang.
"Sebenarnya Tika itu udah___," Laras menggantungkan kalimatnya.
"Udah apa?" Fiki semakin panik.
Melihat Fiki yang panik seperti itu membuat Laras mengurungkan niatnya untuk mengatakan kebenaran tentang Cantika. Dia takut jika kebenaran ini hanya akan membuat Fiki terluka. Meski sebenarnya, jika Laras mengatakan kebenaran ini bukan tidak mungkin dia bisa mendapatkan Fiki, dan Fiki mungkin tidak akan mengejar Cantika lagi.
"Udah__ udah__," Laras kebingungan untuk mengelak.
"Udah apa?!" Fiki semakin deg-degan.
"Udah__ udah nungguin gue. Iya, Tika udah nungguin Gue. Jadi, gue harus pulang," ucap Laras dengan wajah yang sulit diartikan.
"Nungguin Lo?" tanya Fiki yang masih belum paham.
"Iya. Jadi kita ada janji mau ngerjain tugas bareng," Laras tersenyum.
"Di rumah Cantik?"
"I.. iya!"
"Wah bagus dong! Kalau gitu yuk gue anterin, sekalian biar gue tahu rumahnya Cantik!" sorak Fiki.
"Hah? Nggak usah. Nanti ngrepotin lagi," ucap Laras sambil menggaruk yang tidak gatal.
"Nggak papa. Udah ayok! Kan gue yang minta," Fiki menggandeng tangan Laras untuk segera pergi ke rumah Cantika.
***
Sore yang cerah, senja yang indah, dan angin yang segar membuat suasana sangat nyaman dan tenteram.
Di atas motor ninja warna merah, Fiki dan Laras bersama melewati jalanan ibu kota. Harusnya ini adalah momen bahagia untuk Laras. Tapi semua pernyataan Fiki di taman tadi membuat harapannya musnah.
Memang sekarang Fiki sedang bersamanya tapi tidak dengan hatinya. Dia harus sadar akan hal itu.
Tapi ada hal lain yang mengusik pikirannya, yaitu kebenaran bahwa sebenarnya Cantika sudah memiliki kekasih. Ya__ lebih tepatnya Cantika sudah berpacaran. Sedangkan di sini Fiki sepertinya benar-benar mencintai Cantika. Jika dia tau akan kebenaran ini, pasti hatinya terluka. Maka dari itu Laras tidak tega untuk mengatakannya. Biar saja dia tau dengan sendirinya.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan. Akhirnya mereka sampai di depan rumah Cantika.
"Jadi ini rumahnya Cantik?" Fiki melepas helm dan mengamati bangunan di depannya.
"Iya. Udah gue mau masuk," jawab Laras.
"Eh tunggu!" Fiki mencekal tangan Laras. Laras memandang Fiki dalam. Ia tidak menyangka jika cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Gue ikut!" Fiki kemudian turun dari motornya.
"Nggak usah! Udah Lo pulang aja!" tegas Laras.
"Emang ini rumah Lo?! Udah gue mau ikut!" ngotot Fiki.
"Emang bukan rumah Gue! Tapi Lo nggak nyadar kalau ini udah mau maghrib?! Masa maghrib-maghrib mau main. Udah pulang Fiki!!"
"Lah Lo sendiri juga main. Udah Lo juga pulang aja!" Fiki tak mau kalah.
"Gue mah beda kali. Gue sama Tika udah kayak saudara. Jadi mau gue main kek, mau tidur di sini kek. No problem!" Laras mengangkat dagunya.
Fiki menye-menye. Dia pun mengalah dan memakai kembali helmnya.
"Nah gitu dong. Daa Fiki," Laras melambaikan tangannya.
Fiki meng-starter motornya dengan wajah malas. Kemudian melajukan motornya.
"Hati-hati Fik!" ucap Laras yang sepertinya tak lagi terdengar oleh si Fiki.
Laras lalu menuju rumahnya, ia tidak jadi ke rumah Cantika. Karena memang sebenarnya ia tidak punya janji dengan Cantika. Lagipula rumahnya tidak jauh dari rumah Cantika.
Laras hanya ingin segera pulang, lalu menenangkan pikiran dan hatinya dari kisah asmara yang pelik ini.
...🥀🥀🥀...
...Makasih buat yang udah baca🥰...
__ADS_1
...Jangan lupa buat like dan vote ya.....
...Kritik dan saran ditunggu...