
...Happy Reading 🥰...
..._______...
***
Mentari telah menampakkan diri di ufuk timur. Memaksa masuk ke celah celah ruang yang kini mulai di buka. Menyapa siapa saja yang telah terjaga dan bersiap menyambut pagi dengan pesonanya.
Pakaian seragam kas telah melekat rapi di tubuh Cantika. Tak lupa ia gendong tas ransel di kedua pundaknya. Lalu berjalan menghampiri sang bunda yang tengah menyiapkan sarapan di meja.
"Pagi bunda," sapa Cantika dengan senyuman yang menghiasi wajah mungilnya.
"Pagi sayang. Udah rapi aja nih anak bunda," dielusnya pipi sang anak yang hendak duduk di kursi makan.
Dengan senyuman yang tidak luntur dari bibirnya, Cantika menghirup aroma yang sedari tadi membuat perutnya keroncongan.
"Hmmm aromanya enak banget bund, jadi laper deh Cantik," ucapnya mengelus perut.
"Ya udah, ini juga udah siap kok. Mau makan sekarang?" bunda Cantika menatap anaknya itu.
Dengan antusias Cantika mengangguk, lalu membiarkan ibunya menyendok kan nasi goreng ke dalam piringnya.
"Ayah nggak sarapan bareng?" tanya Cantika.
"Ayah udah berangkat pagi-pagi tadi. Katanya ada hal penting yang harus diurus."
"Ouhh," Cantika manggut-manggut.
"Yahh, Cantik berangkat ke sekolahnya sendiri dong," ucap Cantika melas.
"Kan bisa bareng nak Fenly. Biasanya juga dia jemput kamu kan?" bunda Cantika melenggang ke dapur untuk mengembalikan peralatan makan yang sudah tidak terpakai.
Mendengar hal itu, mood Cantika langsung down. Bagaimana tidak? Masalahnya sedari tadi malam Fenly sama sekali tidak merespon pesan maupun telpon darinya.
Kalau begitu, bagaimana dia mau menjemputnya sekarang. Mustahil.
Melihat anaknya hanya memainkan sendok tanpa menyuapkan nasi ke dalam mulutnya membuat bunda Cantika keheranan.
"Lho kok makanannya cuman di mainin doang. Dimakan dong sayang, katanya laper." Mendengar penuturan sang bunda membuat Cantika tersadar dari lamunannya.
"Eh.. iya bund," kini sesuap nasi ia masukkan ke dalam mulut.
Bunda Cantika mengambil duduk di depan Cantika dan mulai menyantap hidangan nasi goreng yang ia buat.
"Cepet dihabisin. Nanti keburu telat lagi."
"Iya bund."
Setelah selesai sarapan, Cantika bergegas mengenakan sepatu pantofel dan berpamitan pada bunda untuk berangkat ke sekolah.
"Kalau gitu Cantik berangkat dulu ya bund," pamitnya sembari menyalimi tangan sang bunda.
"Hati-hati ya sayang, yang pinter," ucapnya lalu mengecup puncak kepala Cantika.
"Iya," balas Cantika sumringah.
"Nak Fenly nggak jemput?" tanya bunda yang tidak melihat keberadaan Fenly saat ini.
"Ehm.. Cantika naik ojol aja deh bund. Nggak apa-apa kok,"
"Kenapa? Kamu berantem sama nak Fenly?" terka bunda yang sepertinya sudah paham tentang romantika anak muda.
"E-enggak kok. Katanya Fenly nggak bisa jemput, soalnya lagi ada urusan," alibi Cantika. Dia hanya tidak mau jika masalah kecil seperti ini harus dibesar-besarkan.
"Oh yaudah deh. Kalau gitu kamu hati-hati yaa," wanti bunda.
Cantika mengangguk, "Assalamualaikum."
"Waallaikumussalam."
Cantika kemudian berjalan keluar membuka pagar rumah. Dia berniat untuk menunggu ojol di depan sana.
Saat dia hendak membuka platform ojek online tiba-tiba suara klakson motor membuatnya terperanjat.
Tin... Tin...
"Belum berangkat Tik?" tanya si pemilik motor dengan memakai pakaian seragam dan sandal jepit.
"Ihh! Bikin kaget aja deh!" sungut Cantika yang kini merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Ya sorry," santainya.
"Kok Lo masih belum berangkat sih Ras? Tumben," heran Cantika pada sahabatnya itu.
"Masih pakai sendal lagi. Habis kemana Lo?" sambungnya.
Laras nyengir, "Gue habis disuruh Mama buat beli garem di warung sebelah." tunjuknya ke arah belakang.
"Habis ini juga mau berangkat," santainya.
"Gue bareng yak!" pinta Cantika dengan wajah merengut.
"Lah tumben? Biasanya juga dijemput si doi."
"Udah ah males gue," Cantika mengibaskan tangannya.
"Udah yok jalan aja!" dan kini ia sudah terduduk di jok belakang motor Laras.
"Eh eh eh langsung duduk lagi. Nyuruh jalan lagi. Emang gue tukang ojek apa?" sewot Laras yang sebenarnya hanya bercanda.
"Udah ah ayok!!" geram Cantika. Laras hanya menggelengkan kepalanya dan langsung mengegas mesin motornya.
Setelah mampir ke rumah untuk memberikan garam dan memakai sepatunya, kini Laras dan Cantika sudah mulai membelah jalanan.
Sesekali Laras melihat Cantika yang ada di belakangnya dari spion. Bukan apa-apa, dia hanya penasaran. Kenapa dari tadi Tika hanya diam saja, kalaupun bicara pasti dengan nada seperti orang yang sedang marah. Padahal kan menurutnya dia tidak berbuat salah.
"Lo lagi PMS ya?" tanya Laras asal.
__ADS_1
"Nggak."
"Terus kenapa? Dari tadi ditekuk mulu tuh muka."
Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara helaan napas di belakang sana.
"Lo kenapa sih?" Laras kembali bertanya.
Sedetik, dua detik, tiga detik tidak ada jawaban. Dan didetik keempat Cantika membuka mulutnya. "Gue lagi bete."
"Kenapa?"
"Gara-gara Fenly," datar Cantika.
"Ngapain lagi tuh bocah? Sampek bikin Lo bete?"
"DARI SEMALEM NIH YA! CHAT GUE NGGAK DIBALES! TELPON NGGAK DIANGKAT! MAUNYA APA COBAK?!!" ngegas Cantika yang membuat Laras sedikit terlonjak.
"Ehh Sans dong. Kenapa marahnya ke gue?" Laras tak terima.
"Abisnya gue tuh kesel banget sama dia! Hih!" Cantika mengepalkan tangannya.
"Sabar-sabar," Laras melirik Cantika. "Biasanya juga gitu kan. Gue yakin, dia kayak gitu nggak bakal lama. Percaya deh!" pede Laras.
"Huffttt. Serah deh," lelah Cantika.
***
Sekarang pelajaran telah dimulai. Seluruh murid termasuk anak kelas 11 IPS 1 juga sudah duduk rapi di bangku mereka masing-masing.
Sambil menunggu guru pengampu pelajaran pertama datang. Ketua kelas memimpin doa bersama.
Tak lama setelah itu, akhirnya Bu Lucy masuk ke dalam kelas.
"Assalamualaikum, anak-anak!" ucap Bu Lucy.
"Waallaikumussalam, Bu." kompak semua murid.
"Sudah berdoa?" tanya Bu Lucy mengingatkan.
"Sudah."
"Baik kalau begitu, kita langsung masuk ke materi saja." tutur Bu Lucy selaku guru pengampu mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan.
"Minggu lalu kita sudah membahas dan mendiskusikan materi tentang rekayasa peralatan sistem teknik. Maka dari itu, untuk pertemuan kali ini kita akun langsung ke prakteknya."
Semua murid mendengarkan dengan seksama penuturan Bu Lucy.
"Untuk itu, kita akan bagi dulu menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok berisi 6 anak. Dan pembagiannya akan kita undi." lanjut Bu Lucy.
"Di sini ibu sudah mempunyai kertas undiannya dengan bertuliskan angka satu sampai dnegan enam. Nantinya, setiap anak mengambil satu gulung kertas secara random. Dan yang mendapatkan angka yang sama, akan menjadi satu kelompok. Mengerti?"
"Mengerti Bu."
"Baik. Kamu mulai dulu," tunjuk Bu Lucy pada Cantika yang memang berada di bangku paling depan.
Setelah semua murid mengambil gulungan kertas itu. Akhirnya anggota kelompok pun terbentuk. Ternyata, Cantika, Fiki, Laras, Fajri, Cindy, dan Gilang menjadi satu kelompok.
"Dih! Siapa yang kaleng rombeng?!" ucap Cindy tak kalah sinis. Kali ini dengan mata yang melotot ke arah Gilang.
"Ya buat yang merasa aja sih," Gilang menyeringai.
'Kenapa sih gue harus sekelompok sama dia? Kalau gini gimana bisa move on cobak?' Fiki sibuk dengan pikirannya sendiri.
'Asikk sekelompok sama Fiki,' sorak Laras dalam hati.
"Lo nyindir gue?!" sarkas Cindy.
"Bagus deh kalau merasa," balas Gilang tengil.
Chitt
Kursi yang diduduki Cindy bergeser ke belakang dan bergesekan dengan lantai karena si empunya bangkit dari tempat duduk.
"Bener-bener Lo ya!" Cindy hendak mencakar wajah Gilang. Namun sentakan dari Bu Lucy berhasil mencegahnya.
"Cukup!"
"Apa-apaan kalian ini?! Jangan seperti anak kecil!"
Cindy dan Gilang yang merasa terintimidasi langsung menunduk.
"Maaf Bu," kompak keduanya.
'Hadugh gimana nih? Canggung banget gue,' batin Cantika yang merasa gelisah karena satu kelompok dengan Fiki. Tapi sebenarnya di sisi lain dia juga senang. Karena dengan itu, dia bisa punya waktu untuk menjelaskan semuanya pada Fiki.
"Bu! Boleh tukar kelompok tidak?" Fiki mengangkat tangan.
"Tidak! Keputusan ini bersifat mutlak! Jadi mau tidak mau harus mau!" final Bu Lucy.
'Kenapa Fiki pengen pindah kelompok? Segitu nggak maunya ya dia deket sama gue lagi,' batin Cantika pilu.
"Nah, karena kelompoknya sudah terbentuk. Ibu minta sekarang kalian berdiskusi dengan anggota kelompok masing-masing tentang peralatan sistem teknik apa yang akan kalian buat. Dan dipertemuan selanjutnya kalian harus sudah mempresentasikan hasil kerja kelompok kalian. Mengerti?" terang Bu Lucy panjang lebar.
"Mengerti Bu." Semua murid pun langsung duduk berkumpul dengan anggota kelompok masing-masing.
Dalam diskusi kelompok, sedari tadi yang aktif hanyalah Fajri dan Laras. Sedangkan Gilang dan Cindy hanya asik berdebat tentang hal yang tidak penting. Begitupun Fiki dan Cantika yang lebih banyak diam, sesekali mereka menyahut beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh Fajri maupun Laras.
Setelah beberapa menit berdiskusi, terdengar suara pintu kelas diketuk dari luar.
Tok Tok Tok
"Permisi," ucap siswa berkacamata itu. Membuat semua mata tertuju padanya.
"Iya silahkan masuk," Bu Lucy memberi izin.
"Maaf Bu, saya mendapat pesan dari Pak Robby untuk memanggil kak Fajri ke lapangan," ucap siswa itu santun.
__ADS_1
Bu Lucy mengangguk. "Fajri!" panggil beliau.
Fajri yang merasa terpanggil itu pun berjalan ke arah guru dan siswa di depan kelas.
"Iya Bu?" tanya Fajri.
"Kamu dipanggil Pak Robby ke lapangan." jawab Bu Lucy.
Sesaat Fajri melihat ke arah siswa berkacamata disampingnya. Sepertinya dia tidak mengenal anak itu, tapi dia yakin bahwa itu adalah adik kelasnya.
"Baik bu. Kalau begitu saya mohon izin," Fajri menyalimi Bu Lucy diikuti siswa yang tadi membawa pesan dari Pak Robby.
"Iya," balas Bu Lucy.
***
Kringg
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Semua siswa-siswi berhamburan keluar kelas menuju lapangan parkir untuk mengambil kendaraan mereka agar bisa segera pulang.
Begitupun Fiki, Fajri, dan Gilang yang kini sudah terduduk di atas motor mereka tanpa berniat mengendarainya. Mereka hanya duduk santai sambil bercengkrama. Entah kenapa mereka tidak segera pulang.
"Gimana tadi jadinya?" tanya Fajri pada kedua temannya itu tentang diskusi kelompok beberapa saat yang lalu.
"Besok pulang sekolah kerja kelompok di rumahnya Cindy," jawab Gilang.
"Oke siap," Fajri mengacungkan jempolnya.
"Eh Fik!" panggil Fajri namun tidak mendapat balasan dari Fiki.
"Fik Fiki!" panggilnya sekali lagi.
"Woy!" Gilang menepuk pundak Fiki.
Fiki tersadar, "Eh. Sorry, apaan?" tanyanya celingukan.
Fajri berdecak. "Kenapa Lo? Kok nggak fokus gitu?"
"Enggak. Tadi gue cuman lagi ngebleng bentar. Gimana? Lo tadi ngomong apa?" Fiki berusaha mengoneksikan obrolan mereka.
"Udah lupain!" Fajri mengibaskan tangannya.
Laras dan Cantika baru saja keluar dari kelas dan kini menuju lapangan parkir untuk mengambil motor.
"Gue tunggu sini ya?" ucap Cantika di samping pintu keluar.
"Oke. Bentar ya," Laras berjalan menjauh.
Sambil menunggu Laras kembali, Cantika mengedarkan pandangannya. Melihat-lihat pesekitaran. Ketika matanya menangkap sekelompok anak laki-laki yang tengah bercengkrama sembari duduk di atas motor mereka, Cantika membenarkan posisi kacamatanya. Memastikan apakah dugaannya benar.
Iya, ternyata benar. Tanpa pikir panjang Cantika langsung melambaikan tangannya dengan sedikit berteriak. "Fenly!"
Panggilan itu cukup keras terdengar, bahkan sampai ke telinga Fiki yang memang berada tidak jauh dari sana. Hal itu juga membuat Fiki menoleh ke sumber suara.
Fenly yang merasa terpanggil pun ikut menolehkan kepalanya. Melihat siapa yang memanggil dirinya.
"Fenly!" kini Cantika bergerak melangkah ke arah Fenly. Hal itu pun tidak luput dari penglihatan Fiki.
Melihat Cantika yang akan menghampirinya, bukannya mendekat Fenly justru menyalakan mesin motornya dan melenggang pergi meninggalkan area sekolah.
Hal itu tidak hanya membuat Cantika terkejut, namun juga teman-teman Fenly yang tadi sedang bersamanya, juga Fiki, Gilang, dan Fajri.
'Kenapa si Fenly?' batin Fiki.
Cantika yang melihat itu juga tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya menghela napas panjang. Sikap Fenly sudah bisa menjawab semuanya. Bahwa dia masih marah.
"Nungguin siapa Tik?" tanya seorang gadis yang ternyata adalah Sari, teman ekskul Cantika.
"Eh, Lo Sar. Lagi nungguin Laras nih," balas Cantika mencoba tersenyum.
"Ohh," Sari manggut-manggut.
"Lo sendiri?" kini Cantika balik bertanya.
"Nungguin tuh anak-anak cowok balik," kepala Sari mengarah ke sisi sebelah kiri mereka.
Cantika mengikuti arah pandang Sari dan__
Degg
Manik mata Cantika bertemu dengan manik mata Fiki yang memang sedari tadi melihatnya.
Fiki yang juga terkejut karena eye contact itu langsung saja memutuskannya.
"Eh udah balik yok!" ajak Fiki pada kedua temannya dan langsung memakai helm miliknya.
"Motor gue di dudukin tuh sama Gilang," ucap Sari yang membuat Cantika kembali melihat Sari.
"Haha dasar si Gilang," kekeh Cantika. Jujur saja jantungnya masih berdegup kencang setelah kejadian satu detik itu.
Brum Brum Brum
Suara deru motor Fiki dan Gilang menggema, mereka telah bergerak keluar sekolah.
"Udah tuh. Udah pergi anaknya," ucap Cantika.
Sari tersenyum. "Iya. Yaudah gue duluan ya Tik."
"Iya. Hati-hati!"
***
...🥀🥀🥀...
...Hai, makasih ya buat yang udah baca🥰...
...Maaf banget baru bisa up, soalnya lagi sibuk di real life, hehe....
__ADS_1
.......
...Kalau kalian suka sama ceritanya jangan lupa like, komen, dan fav. Makasih💙...