
...Happy Reading 🥰...
...----------------...
Semua murid 11 IPS 1 telah berkumpul di lapangan basket. Mereka berdiri membentuk barisan 6 banjar untuk melakukan pemanasan yang di pimpin oleh Fajri.
Setelah sesi pemanasan selesai, mereka mendengarkan penuturan dari Pak Roby tentang materi permainan bola basket.
"Minggu lalu, bapak telah menjelaskan tentang teknik-teknik dasar permainan bola basket. Sekarang, kita akan langsung ke prakteknya," jelas Pak Roby.
Semua murid mengangguk paham.
"Pertama yang akan bermain adalah anak putra. Kita akan bagi menjadi dua tim," ucap Pak Roby.
"Setelah itu baru anak putri. Kita juga akan bagi menjadi dua tim," sambungnya.
"Fajri!" panggil Pak Roby.
"Saya Pak," ucap Fajri mengangkat tangannya.
"Nanti kamu yang atur pembagian tim putranya ya," pinta Pak Roby.
"Siap Pak," mantap Fajri.
"Laras!" panggil Pak Roby lagi.
"Iya saya," jawab Laras mengacungkan jarinya.
"Kamu ya yang atur pembagian tim putri," titah Pak Roby.
"Baik pak," ucap Laras menyanggupi.
Sesuai perintah dari Pak Roby, Fajri dan Laras pun segera membagi dua kelompok putra dan dua kelompok putri.
Entah sengaja atau tidak, 2FG menjadi satu tim. Karena Fajri lah yang mengatur pembagian timnya. Fiki, Gilang, dan teman lainnya yang satu tim dengan Fajri merasa beruntung karena kapten tim basket sekolah ini ada di tim mereka.
Setelah mereka semua telah membagi tim. Pertandingan pertama, yaitu pertandingan antar anak cowok pun dimulai.
Pak Roby berdiri sebagai wasit mengamati jalannya pertandingan. Sedangkan para ciwi-ciwi berdiri di pinggir lapangan menyaksikan pertandingan itu. Sembari menunggu giliran mereka bermain.
Pertandingan pun sudah berjalan beberapa menit. Hingga saat ini tim Fajri lah yang mendominasi. Sorakan dukungan dari pinggir lapangan pun terdengar begitu riuh. Tak jarang anak kelas lain, yang kelasnya berada di pinggir lapangan ikut menyaksikan pertandingan itu dari jendela kelas. Mana mungkin mereka melewatkan momen itu. Terlebih para kaum hawa yang mengagumi kapten tim basket SMAPSA.
Selama pertandingan Cantika hanya duduk di tepi lapangan sendirian. Tepatnya di bawah pohon yang rindang. Sedangkan teman-teman lainnya sedang heboh berdiri di pinggir lapangan menyaksikan pertandingan itu.
Entah kenapa sejak pagi tadi kepalanya terasa pening. Ia pijit pelipisnya, berharap rasa itu segera enyah dari kepalanya.
Laras yang melihat Cantika duduk sendirian melambaikan tangannya. "Tika! Sini!" ajaknya lalu kembali memfokuskan dirinya pada pertandingan basket yang sedang berlangsung.
Cantika membalas Laras dengan tersenyum kecil. Ia sebenarnya juga ingin bergabung dengan teman yang lain. Ia juga tidak enak Pada Pak Roby yang berkali-kali melihat dirinya duduk santai berteduh di bawah pohon.
Sebenarnya Cantika merasa sedang tidak enak badan, tapi dia juga tidak ingin melewatkan pelajarannya. Ya, meski itu hanya pelajaran olahraga.
Akhirnya Cantika berusaha berdiri untuk menemui Laras. Namun, saat dia telah bangkit, dunianya terasa berputar. Kepalanya semakin terasa nyut-nyutan. Ia segera mencari sandaran untuk menopang tubuhnya.
Tangan kanan Cantika bertumpu pada batang pohon di sampingnya. Sedangkan, tangan kirinya memijit pangkal hidungnya. Matanya terpejam, ia mencoba menetralkan pandangannya.
Sedangkan di tengah lapangan, Fajri sedang mendribble bolanya. Berlari melewati beberapa lawannya.
__ADS_1
"Ayo Fajri!" teriak Laras sambil bertepuk tangan.
Saat Fajri hampir sampai ke ring lawan, tiba-tiba saja ia dikepung hingga tak bisa maju lagi. Untuk mempertahankan bolanya, Fajri melakukan free style dengan terus mendribble bola basketnya.
Semua yang menonton pertandingan itu, ikut merasa bimbang. Apakah Fajri dan timnya akan berhasil mencetak skor lagi kali ini.
"Fajri Semangat!!" teriak para siswi di tepi lapangan.
Sementara Fajri terus mendribble, Gilang yang berada di sisi lain Fajri berlari ke daerah lawan. "Oper Jri!" teriaknya.
Fajri yang mendengar itu langsung melihat ke arah Gilang dan mengumpan bolanya ke arah Gilang.
Dengan tepat Gilang menangkap bola itu, lalu berlari menuju ring lawan dengan terus mendribble bolanya. Melihat di depannya ada dua pemain lawan yang menjaga ring mereka. Gilang melihat ke sisi lain, ia melihat Fiki yang pergerakannya luput dari lawan mereka.
Tanpa pikir panjang, Gilang langsung melempar bola itu pada Fiki, "Fik!".
Fiki berhasil menangkap bola itu. Jaraknya dengan ring lawan tidak terlalu jauh dan bagusnya lagi tidak ada pemain lawan yang menjaganya.
"Fiki!! Ayo!! Lo pasti bisa!!" sorak Laras dengan menepuk-nepukkan tangannya.
Benar saja, Fiki langsung melakukan shot dan___
Plung
Bola basket itu masuk tepat ke dalam ring dan berhasil menambah skor untuk timnya.
"Yeayyy! Masuk!" kompak seluruh siswi 11 IPS 1.
"Fiki keren!" ucap Laras dengan telapak tangan membentuk huruf O mengelilingi mulutnya. Membuat suaranya semakin nyaring.
Teriakan Laras sempat membuat heran teman-teman di sampingnya. Namun, Laras tidak perduli saking senangnya melihat doi berhasil memasukkan bola ke ring basket. Dengan gaya yang keren abis.
Sementara, di sisi lain. Cantika merasa kini pandangannya sudah kembali normal. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju tepi lapangan.
Laras yang kembali menyadari bahwa sahabatnya belum juga bergabung, kembali melihat ke arah Cantika. Kini ia melihat Cantika yang sedang berjalan menuju ke arahnya. "Tika! Ayo cepet, seru banget nih!" girang Laras melambaikan tangannya. Lalu kembali melihat pertandingan di depan matanya.
Sesekali Cantika kembali memijit keningnya. Rasa itu masih saja bersangkar di kepalanya.
Sedikit lagi Cantika sampai di tempat Laras berdiri.
Kali ini, bola ada di tangan lawan. Gilang yang menjaga ring fokus pada pergerakan lawan yang semakin mendekati ring nya.
Tak kalah lihai, lawan tim Gilang terus mendribble bola itu hingga mendekati ring. Namun, dengan gesit Gilang berhasil merebut bola dan langsung melakukan counter attack selagi lawan timnya banyak berada di daerahnya.
Gilang yang melihat Fajri langsung melempar bola itu padanya. Dengan sigap Fajri menangkapnya lalu berlari cepat ke arah ring lawan.
Melihat ada banyak lawan yang mengejar Fajri, Fiki yang berada di sisi lain Fajri langsung membantu kawannya itu.
"Oper Jri!" Fiki melambaikan tangannya sambil terus berlari.
Cantika kini benar-benar tidak sanggup lagi untuk meneruskan langkahnya. Dunianya kembali berputar, ditambah pandangannya yang berubah menjadi gelap. Tubuhnya terasa mati rasa.
Tidak sengaja, Fiki melihat Cantika yang ternyata ada dibelakangnya dengan tubuh yang sempoyongan. Tanpa pikir panjang, Fiki langsung berbalik arah untuk menangkap tubuh Cantika sebelum jatuh ke tanah.
Namun, Fajri yang sudah terlanjur mendengar teriakan Fiki, langsung mengoper bola itu ke arah Fiki. Saat bola itu melayang menuju ke arah Fiki, Fajri justru terkejut karena Fiki malah memunggungi arah datangnya bola.
"Tangkap bolanya Fik!" seloroh Fajri.
Teriakan Fajri mengalihkan fokus semua orang kepada Fiki. Laras yang melihat bola basket itu melayang dan akan menimpa Fiki. Sontak berlari ke arah Fiki.
__ADS_1
"Fiki awas!!" teriak Laras.
Fiki tidak menggubris teriakan orang-orang di sekitarnya dan hanya fokus pada Cantika yang kini terkapar di dekapannya. Dan akhirnya___
Bugh
Bola basket itu menimpa punggung Laras yang berdiri di belakang Fiki. Laras mengahadap ke arah Fiki dan merelakan dirinya tertimpa oleh bola basket itu.
"Aww," lirih Laras meringis kesakitan karena timpukkan bola basket itu.
"Cantika, Lo kenapa?" panik Fiki menepuk-nepuk pipi Cantika.
Laras yang melihat hal itu hanya cengo. Bagaimana bisa Fiki tidak menyadari keberadaannya? Sebegitu khawatirnya dia tentang kondisi Cantika? Padahal saat ini dirinya juga sedang terluka.
Priit
Suara sempritan dari Pak Roby menghentikan sejenak pertandingan itu. Pertama, karena bola keluar dari area permainan dan kedua karena ada insiden itu.
Fajri yang melihat bola yang ia lempar mengenai Laras. Dia langsung berlari ke arah Laras. Dia benar-benar tidak sengaja, sungguh.
Sedangkan Fiki yang semakin dibuat khawatir oleh Cantika yang tidak segera tersadar dan wajahnya yang terlihat sangat pucat langsung menggendong tubuh Cantika, lalu membawanya menuju UKS.
Bersamaan dengan Fajri, seluruh murid berlari ke arah Laras dan mengerubunginya.
"Lo nggak pa-pa Ras?" tanya Fajri dengan menatap Laras.
Laras hanya diam dengan tatapan datar. Dia menjawab pertanyaan Fajri hanya dengan menggelengkan kepalanya.
"Beneran nggak pa-pa? Atau Lo mau gue anter ke UKS?" tawar Fajri karena dia merasa sangat bersalah. Meski sebenarnya bola itu tidak ditujukan untuk Laras.
Lagi-lagi Laras hanya menggeleng.
Pak Roby yang tadi ada di seberang lapangan, kini juga ikut masuk ke dalam kerumunan itu. "Laras nggak pa-pa?" tanyanya.
Laras yang mendengar pertanyaan gurunya itu, menoleh ke arah Pak Roby dan berkata. "Saya tidak pa-pa Pak. Kalau boleh saya izin ke kelas sebentar," ucapnya dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.
"Iya tidak pa-pa. Kamu ke kelas saja, istirahat. Kalau perlu kamu ke UKS saja ya," ucap Pak Roby.
"Fajri tolong antarkan Laras!" ucap Pak Roby yang diangguki Fajri.
"Tidak usah pak. Saya pergi sendiri saja. Permisi," ucap Laras penuh hormat lalu berjalan menjauh dari lapangan.
Semua orang sempat tertegun melihat sikap Laras yang tiba-tiba berubah. Padahal sebelumnya dia sangat bersemangat melihat pertandingan ini. Begitu besarkah efek yang ditimbulkan oleh bola yang menimpuknya?
Priit
"Ayo kita lanjutkan permainannya!" ucap Pak Roby.
Semua murid pun kembali ke tempatnya masing-masing untuk melanjutkan permainan yang belum usai.
...*TBC*...
...🥀🥀🥀...
...Makasih buat yang udah baca🥰...
...Jangan lupa buat like, vote, dan komen ya.....
...Kritik dan saran ditunggu...
__ADS_1