
...Dia bidadari yang harus kumiliki...
...Seperti mentari dan pagi selalu melengkapi...
...Dia bidadari yang buat jatuh hati...
...Ku bagai pangeran tidur menanti...
...Cinta sejati so......
...Kiss kiss kiss kiss kiss kiss kiss aaa.......
...Kiss kiss kiss kiss kiss kiss kiss me now......
Jreng....
Mereka bertiga tertawa renyah setelah menyanyikan lagu Pangeran Tidur dari UN1TY itu.
"Asik juga nih lagu. Kita udah kayak orang lagi di mabuk asmara aja," girang Fajri.
"Emang iya," ucap Fiki dengan wajah yang tidak bisa diartikan.
"H-hah?" Fajri dan Zweitson saling melirik dengan mulut yang terbuka lebar.
"Awas dimasukin nyamuk!" tegur Fiki yang membuat Fajri dan Zweitson langsung menutup rapat bibir mereka.
"Maksud Lo. Lo lagi kasmaran?" tanya Fajri.
"Beneran Fik?! Sama siapa?" goda Zweitson sambil menarik turunkan alisnya.
"Siapa ya?" Fiki berlagak tak tahu.
"Kasih tahu sabilah. Ya nggak Jri?"
"Yoii. Cepetan spill namanya Fik!"
"RHS."
"Apa tuh?" tanya keduanya kompak.
"Rahasia," Fiki tertawa puas karena membuat kedua temannya mati penasaran. Fajri dan Zweitson hanya menatap malas Fiki.
Sore ini mereka sedang berkumpul di rumah Zweitson untuk melakukan latihan vokal yang akan mereka tampilkan di acara dies natalis sekolah beberapa hari lagi.
Selain tampil bersama grup vokal SMAPSA yang merupakan sebutan grup vokal SMA PELITA BANGSA. Fiki, Fajri, dan Zweitson diminta langsung oleh Pak Fendy menampilkan sebuah lagu sebagai trio. Hal itu membuat mereka melakukan latihan tambahan selain di sekolah.
"Jadi kita mau bawain lagu apa nanti di acara dies natalis?" tanya Fiki sambil mengotak-atik chord gitarnya.
"Nggak ditentuin sama Pak Fendy?" tanya Zweitson yang dibalas Fiki dengan gelengan kepala.
"Saran Gue sih nyanyiin lagu yang bisa bangkitin semangat. Biar sesuai sama sikon," usul Fajri.
Fiki dan Zweitson saling melirik sambil manggut-manggut. Mereka setuju dengan hal itu. Tapi lagu apa ya?
Saat mereka sedang hanyut dalam pikirannya masing-masing tentang lagu apa yang akan mereka bawakan. Tiba-tiba seloroh suara mengagetkan mereka.
"KEBYAR-KEBYAR!! Vibesnya semangat banget tuh lagu! Gimana?" sorak Fiki.
Fajri dan Zweitson tersenyum tabah dengan tatapan datar melihat si Fiki yang over excited.
"Iya sih semangat. Tapi ini bukan Agustusan pikipaww!!" geram Zweitson yang dibarengi gelak tawa dari ketiganya.
Yap, bisa dibilang Fiki punya nama kesayangan yaitu pikipaw. Bukan tanpa sebab orang memanggilnya seperti itu. Hal itu karena Fiki memiliki pipi yang sangat cubby seperti bakpaw. Makanya dipanggil pikipaw alias Piki Bakpaw.
"Ohh gue tau!" acung Fajri. "Gimana kalau manusia kuat?"
"Gundala?" ucap Fiki bingung.
"Gundala gundulmu!" Zweitson menabok paha Fiki.
"Manusia kuat itu judul lagu tolol! Yang nyanyiin Kak Tulus. Masa Lo nggak tahu sih?!" Zweitson mimijit keningnya.
"Yang mana sih?"
"Ck yang sempet viral di aplikasi sebelah itu lho Fik!" geram Fajri.
"Aplikasi yang mana?"
"Tok tok!" ngegas Fajri yang tak mau sebut merk.
"Kan banyak lagu yang sempet viral di Tok tok. Terus yang ini yang mana tolol?!" kesal Fiki yang memang tak tahu.
"Kok pada tolol-tololan sih? Lol," Fajri cekikikan.
Zweitson yang muak langsung memutar sebuah lagu dari ponselnya dan mengeraskan volumenya. Yup, lagu yang diputar itulah yang berjudul manusia kuat.
[Musik]
"Tuh dengerin!" titah Fajri.
"Y."
"Gimana tahu nggak?" tanya Zweitson memastikan.
"OALAHH INI TOO!!" heboh Fiki. "Kalau ini sih gue tahu," lanjutnya sambil mengulum senyum.
Fajri tersenyum tabah dan mengangkat jempolnya.
"Oke fix lagu ini ya?" tanya Zweitson sambil mematikan musik yang dia setel.
"Yoi," jawab Fajri dan Fiki kompak.
"Yaudah yuk langsung latihan!" ajak Fiki bersemangat.
"Bentar Gue koordinasi sama Pak Fendy dulu."
__ADS_1
"Yok semangat yok!!!" sorak Fiki sambil mengepalkan tangannya.
"Bentar dulu Fik!" ucap Fajri.
"Iya-iya tahu. Gue kan cuma mensuplai semangat."
"Iyain ajalah."
****
Cantika langsung menjatuhkan diri di pulau kapuk miliknya. Dia merasa kehilangan segala daya upaya. Hari yang melelahkan. Bukan hanya lelah badan tapi lelah hati juga.
Penjelasan Laras di taman sekolah tadi membuatnya terkejut. Bukan fakta tentang Fiki yang mencintainya, tapi tentang peringatan Laras yang menyuruhnya untuk jujur pada Fiki bahwa hatinya telah terikat janji dengan orang lain.
Jujur saja, selama ini Cantika sudah menyadari bahwa Fiki menyukainya. Dari cara cowok itu memperlakukan dirinya. Jadi, sebenarnya alasan Cantika selama ini tidak mengatakan kebenaran statusnya pada Fiki, bukan karena dia tidak menyadari perasaan Fiki. Tapi karena dia tidak mau jika Fiki tahu kebenaran itu. Karena sebenarnya Cantika juga menyukai Fiki. Meski dia tahu kalau sekarang dia bukan jomblo lagi.
Ada sesuatu dalam diri Fiki yang tidak ada pada Fenly (pacarnya) yang membuat Cantika merasa lebih nyaman bersama Fiki.
Jadi, permintaan Laras untuk menyuruhnya mengakui siapa dia pada Fiki adalah hal yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan. Cantika tidak mau jika karena hal itu, Fiki menjauhinya. Dia tahu bahwa ini tidaklah benar. Tapi perasaan itu juga tidak salah bukan?
Cantika menarik napas dalam-dalam dan menutup kelopak matanya. Berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Huftt. Gimana nih?!" Cantika mengacak rambutnya.
"Di satu sisi gue seneng. Ternyata feelling Gue kalau Fiki suka sama Gue itu terbukti benar. Tapi di satu sisi Laras nyuruh Gue buat jujur sama Fiki. Tapi kalau nanti Gue jujur, Fiki bakal jauhin gue nggak ya??" Cantika menggigit jarinya.
"Atau Gue nggak usah ngomong ya? Tapi nanti Laras marah. Terus Fenly gimana? Hadughhh!!" Kali ini dia mengacak rambutnya dan menggulingkan badanya beralih menatap langit-langit kamar.
"Mana nanti malem Fiki ke sini lagi. Kalau Gue ngomong nanti, Gue belum siap mental!" racaunya. "Arghhhh! TUHAN TOLONG!!" teriak Cantika sambil mengangkat tangannya ke atas.
Teriakan itu rupanya terdengar sampai di luar kamar.
Tok tok tok
"Cantik! Kenapa sayang?!" tanya Linda, mama Cantika panik.
Cantika langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Lalu beranjak dari tempat tidur dan membukakan pintu.
"Nggak pa-pa kok ma," jawabnya cengengesan.
"Beneran?"
"Iya bener!" Cantika mengangguk dan mengangkat dua jarinya.
"Terus kenapa teriak begitu?" tanya Linda tak percaya.
"Eh__ itu__ lagi__ lagi__," jawab Cantika gelagapan.
"Lagi apa?"
"Lagi__ lagi latihan monolog. I__ iya latihan monolog ma," jawab Cantika dengan senyum aneh.
"Aishh ya sudahlah terserah kamu. Yang penting kamu nggak pa-pa."
"Ya udah sekarang kamu mandi gih! Habis itu makan!" perintah sang mama.
****
Sekitar pukul 18.00 Laras pergi ke minimarket yang tidak jauh dari rumahnya. Hari ini ada tamu bulanan yang datang, dan ternyata persediaan roti sobek di rumahnya tinggal sedikit. Membuat dia harus membeli lagi.
Di masa-masa seperti ini moodnya memang mudah naik turun, biasalah bawaan hormon. Sebenarnya mau pergi mager, kalau nggak pergi nanti kehabisan. Ya sudahlah ya pergi aja. Toh lokasinya juga nggak jauh-jauh amat.
Ketika Laras sedang mencari produk roti sobek favoritnya yang biasa ia beli, tiba-tiba seloroh suara mengejutkannya.
"Hey! Laras!" sapa seseorang dengan menggendong gitar di pundaknya.
Laras yang refleks langsung menyembunyikan roti sobek itu di belakang tubuhnya.
"Eh, hai Fik!" balasnya.
Laras menutup matanya sebentar sambil membatin, 'Semoga Fiki nggak lihat yang Gue beli, pliss!'
Laras memang agak sedikit aneh. Dia sangat malu jika harus membeli roti sobek itu. Padahal dia cewek lho, lagipula itu juga sudah kodratnya.
Apalagi jika ada lawan jenis yang melihatnya membeli benda itu. Rasanya____ ahh nggak mantap. Apalagi kalau sampek cowok yang dia suka melihatnya. Hadughh malu banget pasti.
"Kebetulan banget ketemu di sini," ucap Fiki sambil tersenyum seperti biasa. Manis banget coyyy.
Tak bisa dipungkiri hal itu membuat mood Laras yang sebelumnya anjlok jadi good. Emang si Fiki moodboster banget deh buat Laras.
"Iya nih. Lo lagi beli apa?" tanya Laras.
"Ehmm gue lagi nyari coklat sih. Lo sendiri?"
'Waduh mampus Gue!!'
"Ehmm gue__," Laras menggaruk alisnya sambil mengedarkan pandangannya.
Fiki mengernyitkan keningnya. Laras yang seperti menyembunyikan sesuatu dibalik badannya ternotice oleh Fiki.
"Apaan tuh yang Lo sembunyiin?" Fiki mencoba melihat sesuatu yang disembunyikan Laras.
'Aduh ketahuan lagi!' Laras meliuk ke kiri dan ke kanan mengikuti arah pandang Fiki yang mencoba melihat sesuatu di belakangnya.
"Lo kenapa sih? Emang apaan sih itu?" Fiki penasaran dan melangkah mendekati Laras.
"Stop!!" sarkas Laras membuat Fiki seketika berhenti di tempat.
"Bukan apa-apa kok! Ini__ itu__. Apa tuh namanya?" Laras kebingungan ngeles.
"Lha mana gue tahu. Kan Lo yang beli," balas Fiki nyengir.
"Ihh gue tahu!! Bentar Gue lupa!"
'Lha kok ngegas?' bingung Fiki.
"Nah! Gue inget. Ini itu roti," Laras tersenyum lebar. Selebar ruas jalan tol.
__ADS_1
"Oalah roti. Gue kirain apaan. Btw roti apa?" lanjut Fiki yang membuat Laras tambah kesal saja.
"Roti sobek," ceplos Laras.
"Oh Lo suka roti sobek? Kalau gue sih enggak."
'Nggak tanya Fiki!!'
"Soalnya seret. Emang Lo nggak seret?" tanya Fiki yang polos.
'Seret ya minum!' umpat Laras sambil menggeleng menjawab pertanyaan dari Fiki. Sepertinya moodnya kembali anjlok gegara pertanyaan pikipaw. Tapi Laras mencoba untuk tetap tersenyum.
"Kok bisa ya Lo nggak seret?" ucap Fiki sambil menatap langit-langit.
'Kan nggak gue makan bambang!!'
"Gue nggak suka banget deh sama tuh roti. Udah seret hambar lagi. Tuh roti Lo makan gitu aja atau Lo tambahin apa kek gitu? Selai maybe?" cerocos Fiki.
Laras benar-benar tidak mood berdebat yang unfaedah seperti ini.
'Kalau Gue nggak suka sama Lo! Udah gue plester tuh mulut biar nggak nanya mulu! Nggak tahu apa nih perut sakit banget!!' geram Laras.
"Selai strawberry! Puas Lo!" Tanpa sengaja tiba tiba Laras melotot pada Fiki. Membuat anak polos itu terkejut.
'Ngeri juga nih cewek tiba-tiba garang gitu. Perasaan gue nanya baik-baik deh.'
"Udah sono! Katanya mau cari cokelat. Gue mau bayar dulu!"
Fiki menepuk jidatnya, "O iya hampir lupa. Gue cari dulu deh." Fiki kemudian pergi mencari rak makanan berisi cokelat.
'Dari tadi kek!'
Laras kemudian menuju kasir untuk membayar roti sobeknya itu. Setelah itu, Laras bersiap untuk pulang. Tapi dicegah oleh Fiki yang sepertinya juga telah menyelesaikan transaksinya.
"Laras tunggu!" cegat Fiki mencekal tangan Laras.
Degg
'Haduh jantung gue amatir banget sih?! Dipegang aja baper?!' umpatnya pada diri sendiri.
"Kenapa Fik?" balas Laras mencoba tenang.
"Nih buat Lo," Fiki menyodorkan sebatang coklat Silverqueen.
"B-buat Gue?" tanya Laras dengan mata berbinar.
"Iya lah buat siapa lagi? Kan cuma Lo yang ada di sini."
'Kirain cuma gue yang ada di hati Lo, xixixi.'
"Ada apa nih? Tumben-tumbenan ngasih gue coklat?"
"Ada dua alasan," jawab Fiki. "Nih ambil dulu dong!" titahnya yang langsung dituruti oleh Laras.
"Pertama, buat balikin mood Lo. Kayaknya Lo lagi badmood gara-gara gue. Ya__ meskipun gue nggak tahu salah gue apa," ucap Fiki tersenyum tabah.
"Darimana Lo tahu kalau cokelat bisa balikin mood?"
"Abang gue. Jadi kata abang Gue, kalau ceweknya lagi badmood dan dikasih cokelat auto goodmood," jelas Fiki panjang lebar.
'Avv disamain sama cewek abangnya. Berarti Gue cewek adiknya. Tapi, sayangnya Gue cuma halu,' Laras ngarep.
"Makasih Fik! Baik banget sih Lo," ucap Laras sumringah. "Yang kedua?"
"Yang kedua, sebagai ucapan terima kasih Gue. Karena Lo udah bantuin Gue buat PDKT sama Cantik. Thanks banget ya Ras!" Fiki menepuk pundak Laras sambil tersenyum pepsodent.
Jlebb
Raut wajah Laras yang sebelumnya secerah mentari di ufuk timur langsung berubah seredup senja yang mulai hilang ditelan malam. Gelap dan suram.
"Karena bantuan Lo dengan ngasih gue nomer dan alamatnya Cantik. Sama semua yang dia suka, bikin Gue deket banget sama dia. Dan gue rasa dia juga suka sama gue," ucap Fiki menatap bintang-bintang di langit yang indah. Berharap cintanya akan seindah bintang-bintang itu.
"Kayaknya malam ini gue bakalan nyatain perasaan gue ke dia. Nih, gue juga beliin dia coklat kayak Lo," lanjutnya sambil menunjukkan sebatang cokelat Silverqueen dengan hiasan pita merah di atasnya.
'Sakit banget rasanya jatuh dari langit,' Laras meratapi nasibnya.
"Kok Lo diem aja sih Ras?"
"E-enggak kok," ucap Laras sambil tersenyum perih.
"Doain Gue ya!" pinta Fiki dengan wajah cerah.
"I-iya. Semoga sukses," lagi-lagi dengan senyum pahit.
"Ya udah gue balik dulu Fik. Udah malem. Byee!"
"Ehh bareng Gue aja. Rumah Lo kan searah sama rumah Cantik."
Laras yang merasa sangat lemas, menurut saja dengan ajakan Fiki. Selain perutnya yang terasa nyeri dia juga harus menahan perihnya sakit hati. Ingin rasanya dia segera sampai di rumah.
"Ini helmnya," Fiki memberikan helm pada Laras.
Setelah naik di motor Fiki dan si empunya telah melajukannya menyusuri aspal jalanan. Hanya satu yang dipikirkan Laras kali ini.
'Apa nanti Tika bakal lakuin apa yang gue omongin tadi? Atau dia malah terus bohongin Fiki?' cemas Laras.
'Tik Gue harap Lo nggak lakuin kesalahan yang bisa buat banyak orang kecewa. Termasuk gue!'
...🥀🥀🥀...
...Makasih buat yang udah baca🥰...
...kalau kalian suka sama ceritanya...
...Jangan lupa buat like, vote, dan fav ya.....
...Kritik dan saran ditunggu🤗...
__ADS_1