
...Happy Reading 🥰...
...----------------...
***
Seperti yang telah direncanakan kemarin, hari ini sepulang sekolah Fiki dan kawan-kawan akan melakukan kerja kelompok di rumah Cindy. Mereka berangkat ke rumah Cindy bersama-sama, kecuali Fajri yang memang masih ada jadwal latihan basket.
"Gue nanti nyusul ya. Soalnya masih ada latihan," kata Fajri yang sudah mengenakan seragam basketnya.
"Oke. Santai aja," ucap Gilang.
"Semangat Fajri!" Cindy mengepalkan tangannya sambil tersenyum.
Fajri mengacungkan jempolnya, "Siap."
"Oke. Sampai nanti!" seru Fajri yang sudah berlari mendribble bola ke tengah lapangan.
Mereka berlima pun segera menaiki kendaraan masing-masing untuk menuju rumah Cindy.
Sesampainya di rumah Cindy, mereka berlima dipersilahkan duduk di atas tikar yang digelar di teras rumah.
Mereka mulai mengeluarkan beberapa peralatan dan bahan pembuatan produk rekayasa sistem teknik yang sudah mereka beli sebelumnya dari dalam tas. Selain itu, Fiki juga mengeluarkan satu buah laptop untuk membuat laporan kegiatan nantinya.
"Oke, ini udah lengkap semua kan peralatannya?" tanya Cindy sambil memeriksa satu per satu barang yang ada di depannya.
"Emm kayaknya sih udah," balas Gilang.
"Yaudah jadi kita fix ya mau buat spray aerator dalam pembuatan zat warna alam indigo?" tanya Fiki yang sudah mulai menekan keyboard laptopnya.
"Iya," jawab mereka kompak.
Fiki mengacungkan jempolnya. Kemudian, mereka mulai bekerja sama untuk membuat produk yang telah direncanakan.
***
Siang ini, bengkel Ricky lumayan sepi. Hanya ada Ricky dan Farhan di sana. Selain itu, memang sedang jam makan siang. Ketika Ricky dan Farhan sedang asyik menikmati jatah makan siang, tidak lama Shandy pun datang menghampiri mereka.
"Assalamualaikum!" ucapnya sumringah.
"Waallaikumussalam," jawab Ricky dan Farhan dengan mulut yang penuh makanan.
"Ey youw what's up bro?" rusuh Shandy yang tiba-tiba mengajak tos kedua temannya itu. Membuat mereka meletakkan sendok yang sedari tadi di pegangnya untuk beberapa saat.
Shandy kemudian langsung duduk di samping Ricky dan Farhan. "Makan Shan," tawar Ricky.
"Udah udah kalian makan aja, gue udah duluan tadi. Thanks."
"Ade ape nih? Tumben kemari," ucap Farhan dengan logat Betawinya.
"Aelah biasanya juga gue sering kemari," tukas Shandy.
"Iye gue tahu. Maksud gue tumben lo kesini jam segini. Biasanya kan Lo ngampus," Farhan menepuk pundak Shandy.
"Iya nih. Ada apa Shan?" tanya Ricky yang ternyata sudah menyelesaikan makan siangnya.
"Gue cuman mau ngingetin kalian doang."
"Soal apa?" bingung Ricky.
"Soal gue yang minta tolong buat temenin beliin gitarnya si Piki," ucap Shandy sambil menyeruput kopi yang entah milik siapa.
"Hust," Farhan menepis tangan Shandy yang sedang memegang secangkir kopi. "Punya gue nih! Main minum-minum aja Lo!" Farhan mengambil kembali kopi miliknya.
"Hehe, maap." Shandy nyengir.
"Oalah soal itu. Gampang lah. Emang mau ditemenin kapan?" tanya Ricky lagi.
"Rencananya sih besok, kalau Lo pada nggak sibuk." Shandy melihat kedua temannya bergantian.
"Enggak sih. Ya kan Han?"
"Yoii. Ngomong aja jam berapa? Kita pasti ready," balas Farhan santai.
"Sipp deh. Entar jam nya gue kabarin lagi. "
"Gue kira masih lama belinya," ucap Ricky.
"Yha gimana ya. Masalahnya bentar lagi Fiki mau ulang tahun, jadi mau sekalian kasih hadiah gitar buat dia."
"Oh iya?" Farhan lupa kalau Fiki sebentar lagi memang akan bertambah tua.
Shandy mengangguk. "Lagian gue kasihan lihat dia murung terus gegara nggak punya gitar," ucap Shandy murung.
"Oh gitu. Lo tenang aja Shan, kita pasti bantuin Lo," Ricky menepuk-nepuk pundak Shandy sebelum beranjak untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Bengkel sepi bukan berarti tidak ada pelanggan kan? Masih banyak motor dan mobil yang sedang menunggu untuk dibereskan.
"Bener banget Shan. Lagian gue juga mau nyari hadiah buat adik Lo," timpal Farhan.
"Mau Lo kasih apa adik gue?" Shandy mengernyit.
"Belum tahu," Farhan mengedikkan bahunya.
"Kalau gitu gue saranin Lo kasih Fiki makanan yang buanyak. Dijamin, tuh anak pasti seneng pakek banget!" girang Shandy yang diiringi gelak tawa dari mereka bertiga.
"Sak ae lu Shan," Farhan hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala.
Apa yang dikatakan Shandy tidak lah salah. Meski Fiki akhir-akhir ini sulit makan, bukan berarti hobi nyemilnya ikut kandas. Bisa dibilang separuh isi kulkas dirumahnya habis dimakan oleh si Fiki. Anaknya memang bongsor, wkwk.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 dan Fajri baru saja selesai latihan. Bergegas dia mengganti pakaiannya dan bersiap di atas sepeda motor untuk melaju ke rumah Cindy.
^^^Anda^^^
^^^Lang sharelock rumah Cindy!^^^
Ketik Fajri pada Gilang di room chat.
Masalahnya, Fajri tidak tahu pasti posisi rumah temannya itu. Sambil menunggu balasan pesan dari Gilang, Fajri pun mulai membelah jalanan.
__ADS_1
Gilang yang mendapat notifikasi pesan langsung membukanya, ternyata itu dari Fajri.
Fajri Kang Caper
Lang sharelock rumah Cindy!
^^^Anda^^^
^^^Oke^^^
Balas Gilang diikuti kiriman sharelock rumah Cindy.
"HP-an mulu!" sarkas Cindy yang melihat Gilang sedang memainkan gawainya.
"Allahu Akbar! Padahal baru aja megang HP, udah dikatain HP-an mulu!!" geram Gilang.
"Lagian yang lain pada kerja Lo nya malah main HP," sindir Cindy.
"Eh maap maap nih ya. Dari tadi gue juga udah kerja kali!" sewot Gilang. "Lagian gue buka HP juga karena si Fajri mintak share lock. Nih lihat!" Gilang menunjukkan layar ponselnya tepat di depan mata Cindy.
Cindy menepis tangan Gilang, "Yaudah biasa aja kali!"
"Biar Lo percaya! Biar nggak ngomel-ngomel mulu," dengan kesal Gilang memasukkan HP-nya ke dalam saku.
"Heyy udah dong jangan berantem!" Laras menengahi. "Nih ayok lanjutin lagi."
Mereka pun kembali melanjutkan tugasnya. Tak lama keluar seorang wanita paruh baya dari dalam rumah sambil membawa nampan yang diatasnya diletakkan teko berisi minuman dingin dan beberapa makanan ringan.
"Ayok diminum dulu, pasti pada haus kan?" ucapnya lembut.
"Eh iya Bu, nggak usah repot-repot," ucap Laras dan Cantika sungkan.
"Enggak repot kok. Silahkan di minum! Jajannya juga di makan ya," suguhnya.
"Iya ayok diminum! Nggak usah malu-malu," timpal Cindy.
Gilang, Fiki, Laras, dan Cantika tersenyum. "I-iya Bu, terima kasih."
"Sama-sama. Kalau gitu, ibu masuk dulu ya," ucap Ibu Cindy.
"Iya Bu," kompak anak-anak remaja itu.
"Ayok pada di minum! Di makan juga dong!" ucap Cindy.
Teman-temannya hanya mengangguk tanpa mengambil hidangan di depannya. Mungkin mereka masih merasa sungkan.
"Udah nggak usah sungkan, ambil aja!" ucap Cindy.
Tidak ada respon, Cindy pun mengambil gelas dan menuangkan minuman dingin ke dalamnya. "Yaudah gue ambil duluan nih, ayok silahkan!"
Akhirnya mereka pun ikut menikmati hidangan yang disajikan.
"Lang ayok! Nggak usah solu-solu," kata Fiki yang memang sudah lebih dulu mengambil makanan.
"CK iya-iya."
Mereka pun kembali melanjutkan kerja kelompok sambil menikmati jajanan dan minuman yang disuguhkan ibu Cindy.
"Coba gue lihat," ucap Cantika yang kebetulan duduk bersebelahan dengan Fiki. Fiki yang merasa tidak keberatan pun mengarahkan layar laptopnya pada Cantika.
Cantika nampak serius mengamati susunan kata yang diketik oleh Fiki. "Emm iya udah nih."
"Oke," jawab Fiki singkat lalu membenarkan kembali posisi laptopnya.
"Kalau butuh bantuan bilang aja Fik," Cantika menatap Fiki sambil tersenyum.
Fiki yang bingung harus berbuat apa, akhirnya dia memutuskan untuk membalas senyuman Cantika, "Oke."
Bagaimanapun juga dia harus profesional. Tidak boleh melibatkan perasaan dengan tugas sekolah, itu pikirnya.
Melihat hal itu membuat Laras berpikir. 'Apa Cantika bakal coba buat deketin Fiki lagi?'
Seketika pikiran Laras buyar tatkala mendengar suara Cindy tepat di samping telinganya, "Lang spray aerator nya udah jadi?"
"Belum nih bentar lagi. Tolong ambilin mesin las dong!" pinta Gilang.
"Bentar-bentar," Cindy berusaha mencari mesin las diantara peralatan yang berserakan.
"Nggak ada Lang."
"Serius?"
"Iya emang nggak ada," sahut Laras.
"Bukannya bagian Lo ya yang bawa?" tambah Cantika.
"Enggak," Gilang menggeleng cepat. "Gue nggak punya di rumah."
"Waduh! Mana di rumah gue juga nggak ada lagi," Cindy menepuk jidatnya.
"Lha jadi nggak ada yang bawa?" tanya Cantika pada teman-temannya.
Mereka semua hanya mebalas dengan gelengan kepala.
Sementara itu di tempat lain terlihat Fajri yang sedang kebingungan melihat google maps di ponselnya.
"Ini yang mana sih rumahnya?" Fajri melepas helm full face yang dikenakannya.
"Titiknya bener di sini. Tapi kok ini malah kebun kosong?" monolog Fajri.
Hening.
Fajri berdecak. "Wahh nggak bener nih Gilang nitik lokasinya."
^^^Anda^^^
^^^Woi Lang! Nih yang bener dong! Masa Lokasinya di kebun kosong?^^^
Agak lama Gilang membalas pesan dari Fajri.
__ADS_1
Gilang Sipatu Gilang
Apaan?
^^^Anda^^^
^^^Ini yang mana rumahnya??^^^
Gilang Sipatu Gilang
Lo ngapain di kebun kosong tolol?!
^^^Anda^^^
^^^Lha elo yang nitik salah tolol!^^^
^^^Anda^^^
^^^Astaghfirullah. Kan kan gue jadi ikut emosi.^^^
Gilang Sipatu Gilang
Eh gue bener tahu nitiknya. Lo aja yang nggak bisa baca maps!
^^^Anda^^^
^^^Wah ngajak ribut😏^^^
^^^Sini Lo cepet!! GUE UDAH CAPEK NIH! MUTER-MUTER KAGAK NEMU-NEMU RUMAHNYA!^^^
Gilang Sipatu Gilang
Sans dong!
Gilang Sipatu Gilang
Oke otw. Tepatnya sekarang Lo di mana?
^^^Anda^^^
^^^Pokonya ini gue di jalan rambutan.^^^
Gilang Sipatu Gilang
Kelewatan ngab. Oke yaudah gue susulin.
^^^Anda^^^
^^^Cepet!^^^
Read
Seperti percakapan dalam room chat, Gilang pun berpamitan pada anggota kelompoknya untuk pergi menyusul Fajri.
"Eh Gilang Gilang! Tunggu bentar!" cegah Cindy pada Gilang yang sudah menyalakan mesin motornya.
"Apaan?"
"Tolong sekalian beliin larutan kapur tohor. Gue tadi kelupaan nggak beli. Nih uangnya," Cindy menyodorkan beberapa lembar uang hasil iuran.
"Ckk. Lo beli sendiri gih sama Laras atau Cantika. Gue nggak tahu tempatnya. Lagian gue juga mau mampir ke bengkel Abang nya Fajri. Siapa tahu punya mesin las," tukas Gilang yang langsung melajukan kuda besi miliknya.
"Ishhh dasar! Nyebelin!" manyun Cindy.
Cindy pun berbalik kembali ke tempat teman-temannya yang lain berkumpul. Karena mereka segera membutuhkan larutan itu, Cindy pun langsung mengajak Laras pergi menemaninya.
"Gue masih ngerjain ini Cindy. Sama Cantika aja ya," ucap Laras saat Cindy mengajaknya.
"Tapi kan Cantika nggak bisa bawa motor. Udah sama Lo aja Ras."
"Kan bisa pakai motor Lo."
"Motor gue mau di pakai keluar sama mama gue bentar lagi."
"Yaudah nih pakai motor gue," Laras memberikan kontak motornya.
"Ihh yaudah sama Lo aja sekalian," rengek Cindy.
"Udah Lo aja yang nyetir nggak papa nanti Cantika Lo bonceng."
"Gue nggak berani bawa motor orang kalau orangnya nggak ikut," Cindy tetap pada pendiriannya.
Laras menghela napas panjang. Seolah tak rela jika harus meninggalkan Fiki dan Cantika berdua di sini.
"Yaudah biar gue aja sendiri yang beliin," ucap Fiki di tengah-tengah perdebatan Laras dan Cindy.
Baru saja Laras ingin bersuara, "Nah iya Fiki aja." Namun gagal karena langsung disrobot oleh Cindy.
"Nggak nggak nggak. Fiki di sini aja! Nyusun laporannya. Biar gue sama Laras aja yang pergi." final Cindy.
"Ou oke. Yang penting gue udah nawarin ya," Fiki kembali duduk.
"T-tapi," sanggah Laras.
"Udah nggak papa ini dilanjut nanti aja Ras. Ayok!" Cindy membantu Laras berdiri, lebih tepatnya memaksa Laras berdiri.
"Lagian kalau Cantika pergi sama gue, yang bantuin Fiki buat laporannya siapa? Kan cuma dia sama Fiki yang bisa."
Dengan terpaksa, akhirnya mereka Laras dan Cindy pun pergi untuk membeli larutan kapur tohor, meninggalkan Fiki dan Cantika di sana. Momen awkward pun dimulai.
...*TBC*...
...🥀🥀🥀...
...Haii guys, kalau suka sama ceritanya jangan lupa like, komen, and follow yaa🤗...
.......
__ADS_1
...Makasih banyak buat kalian yang setia menunggu dan membaca cerita ini🥰💙...