Coba Cintaku

Coba Cintaku
Chapter 24


__ADS_3

...Happy Reading🥰...


...----------------...


Kring...


Jam istirahat pun berganti menjadi jam pelajaran. Seluruh murid SMA Pelita Bangsa kembali memasuki kelasnya masing-masing. Begitupun Fiki yang sudah kembali ke kelas, setelah mengambil lembar ujian di ruang guru.


"Langsung dibagi saja mas!" titah Pak Anam pada Fiki.


"Baik pak," Fiki mulai membagikan lembaran-lembaran itu pada pemiliknya.


Tidak ada yang menarik perhatian Fiki, sampai akhirnya selembar kertas di tangannya yang bertuliskan namanya membuat ia membulatkan matanya. Terdiam sejenak di tempat ia berdiri sekarang. Menatap tajam ke arah kertas itu. 'Mampus gue! 'batin Fiki.


Cukup lama Fiki memandanginya, hingga seloroh suara Pak Anam menegurnya untuk melanjutkan pembagian lembar jawaban ulangan pada teman-temannya.


"Fiki! Ada apa?" tanya Pak Anam dari meja guru.


Fiki yang merasa terpanggil langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara dan menggeleng pelan. Lalu, menaruh lembar ulangannya di bagian paling bawah dan melanjutkan kembali apa yang diperintahkan Pak Anam sebelumnya.


Setelah semua lembar ulangan selesai dibagikan, Fiki kembali duduk di bangkunya dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.


Pak Anam berdehem, "Baik anak-anak, itu adalah hasil ulangan kalian minggu lalu. Nilai yang kalian dapatkan adalah representasi dari usaha belajar kalian. Jadi, bapak harap dengan ini kalian bisa mengevaluasi diri kalian masing-masing," tutur Pak Anam dengan lembut.


"Baik pak!" kompak anak kelas 11 IPS 1.


"Bagaimana hasilnya? Memuaskan?" tanya Pak Anam yang membuat seluruh murid menunduk melihat lembar ulangan mereka masing-masing.


"Alhamdulillah," sumringah Fajri.


"Lumayan lah dapet 75 yang penting nggak dibawah KKM," Gilang tersenyum kuda.


Kemudian mereka berdua menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Fiki.


Tentu saja mereka berdua penasaran dengan nilai Fiki yang notabene adalah anak pintar di sekolahnya yang dulu. Harusnya hal itu tidak berubah sekarang. Mungkin saja Fiki akan meraih prestasi pertama di sekolah ini dengan kategori mendapat nilai terbaik di kelas.


"Lo dapet nilai berapa Fik?" tanya Fajri melihat Fiki.


Tidak ada jawaban dari Fiki. Justru Fajri terheran saat melihat wajah Fiki yang memerah. Rahangnya mengeras dengan tatapan datar ke depan.


Fajri dan Gilang yang tidak mendapat balasan dari Fiki, beralih menundukkan pandangan mereka ke arah selembar kertas di meja Fiki. Perlahan Fiki meremas kertas itu hingga menjadi bulatan kecil.


Melihat itu, Fajri dan Gilang membelalakkan matanya lalu kembali melihat wajah Fiki.


"Fik! Kok Lo__"


"Dan saya ucapkan selamat kepada Cantika Aulia karena memeroleh nilai tertinggi di kelas dengan nilai 100!" ucap Pak Anam membuat Fajri memotong ucapannya.


Prok prok prok


Riuh tepuk tangan terdengar menggema di kelas 11 IPS 1 yang ditujukan oleh Cantika. Teman-temannya memberi senyuman tanda selamat padanya. Begitupun dengan Cantika yang kini terlukis senyuman di bibir mungil miliknya.


"Terima kasih semua!" ucap Cantika pada teman-teman sekelasnya. "Terima kasih pak!" lanjutnya sambil menunduk hormat pada Pak Anam.


Pak Anam mengangguk, "Bapak harap kamu bisa mempertahankan nilai kamu dan terus belajar! Ingat! jangan mudah merasa puas dalam menuntut ilmu," pesan Pak Anam. Cantika mengangguk mantap.


"Baik anak-anak. Bapak minta besok kalian kumpulkan lagi lembar jawaban ulangan kalian ke bapak ya. Jangan lupa untuk minta tanda tangan orang tua kalian. Paham?" tanya Pak Anam.


"Paham Pak."


Gilang seketika ingin mengumpat, "Mati gue!" bukan Gilang, justru Fiki lah yang mengumpat. Sebelum Gilang mengeluarkan kata-kata keramatnya.


Fajri memutar tubuhnya ke belakang dengan alis terangkat.


"Kenapa Fik? Nilai Lo jelek?" terka Fajri tak percaya.


"Mana udah lecek lagi tu kertas," tambah Gilang yang menatap miris kertas di genggaman Fiki.


Fiki melempar bulatan kertas itu tepat ke arah Gilang. Dengan gesit Gilang menangkapnya dan membuka kertas itu untuk melihat angka yang tertulis di sana.


Setelah mencoba menghilangkan lipatan-lipatan itu meski tak sempurna, akhirnya Gilang berhasil melihat dengan jelas angka yang ditulis dengann tinta merah di sana. Gilang sontak membulatkan matanya.


"Gila Lo Fik?!" Gilang menatap tajam Fiki. Fiki hanya tertunduk dengan kedua tangan mengepal.


Fajri yang penasaran langsung mengambil paksa kertas itu dari tangan Gilang dan melihatnya dengan teliti.


Setelah mengetahui berapa nilai yang didapat oleh sahabatnya itu, Fajri justru menyipitkan matanya. Melihat Gilang dan Fiki secara bergantian.


"Apaan sih kalian berdua aneh banget! Orang nilai bagus kayak gini kok," heran Fajri.

__ADS_1


"Delapan puluh lima Fik. Ngapain Lo takut bakal mati?" Fajri menyodorkan kertas itu di depan Fiki. "Kecuali kalau Lo dapat nilai kayak Gilang, baru pantes ngomong gitu," kekeh Fajri.


"Sialan Lo!" Gilang menjitak kepala Fajri membuat si empunya meringis kesakitan.


"Bagus buat kalian belum tentu bagus buat bokap gue," datar Fiki. Fajri dan Gilang saling tatap.


"Maksud Lo?" tanya Gilang.


"Abis Gue!" Fiki tersenyum smirk.


Lagi lagi kedua sohib Fiki itu hanya saling menatap dan mengedikkan bahu mereka.


Brok


"Heh! Bocah tiga di bangku belakang! Ngapain malah ngobrol sendiri?!" gertak Pak Anam membuat Fajri dan Gilang langsung membenarkan posisi duduk mereka.


"Semuanya tolong perhatikan! Kita akan lanjut materi selanjutnya!" ucap Pak Anam yang kini mulai menulis di papan besar yang menggantung di depan kelas.


***


Pukul 15.30 Fiki baru sampai di rumah. Ia langsung menaiki tangga dan memasuki kamarnya. Setelah menutup pintu kamar, Fiki langsung melempar tas nya ke sembarang arah, lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Perlahan jemarinya mebuka satu persatu kemeja sekolahnya.


Menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya mengembara ke masa yang akan datang.


Fiki membuang napas lelah. "Bego banget sih Gue!!!" geram Fiki sambil mengacak-acak rambutnya.


"Kalau Papa sampai tahu...."


"Arghhhhh!" teriak Fiki hingga membuatnya terbangun dari tempat tidurnya.


"Ngapain waktu itu gue nggak fokus?! Kenapa gue harus mikirin masalah itu?!!" sesal Fiki.


"Ya Allah!!" Fiki mengadahkan tangannya sambil menatap ke atas.


Tok tok tok


Suara seseorang mengetuk pintu kamar Fiki. Membuat Fiki bergegas untuk membukakannya.


Pintu terbuka, menampakkan seorang wanita yang sangat Fiki sayangi dan juga menyayanginya.


"Mama, ada apa?" tanya Fiki.


"Iya, ma. Tapi Fiki mau mandi dulu. Gerah," ucap Fiki sambil mengibaskan kemejanya.


"Yaudah kalau gitu. Mama tunggu di bawah ya," Bu Ani mengelus puncak kepala Fiki.


"Oke siap," Fiki mengacungkan jempolnya.


Setelah mandi dan sholat ashar, Fiki berniat untuk merapikan buku-bukunya sebelum turun untuk makan. Ketika satu persatu buku ia keluarkan. Kini ia berjumpa lagi dengan lembar jawaban ulangan yang membuat hatinya gusar sejak tadi.


Fiki menatap dalam kertas itu. Dipikirannya saat ini adalah apakah kali ini papanya akan mengampuninya? Entahlah. Dia hanya bisa berdoa semoga papanya bisa mengerti dirinya. Dan Fiki berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan memperbaiki semua kesalahannya itu.


Drtt Drtt Drtt


Panggilan suara dari kontak bernama Fajri di ponsel Fiki, membuatnya langsung mengangkat panggilan itu.


"Halo, Assalamualaikum," ucap Fiki.


"Waallaikumussalam. Fik gue boleh minta tolong nggak?" ucap Fajri dari seberang sana.


"Apaan?"


"Panjang ceritanya. Lo langsung ke bengkelnya bang Rick aja ya. Oiya jangan lupa bawa gitar Lo oke!"


"Ngapain?" bingung Fiki.


"Udah nanti gue jelasin di bengkel. Cepetan Lo ke sini. Darurat!" heboh Fajri.


"Lah ngapain nggak ngomong di telpon aja?!" protes Fiki.


"Lo mau bantuin gue nggak?"


"Iya iya mau."


"Ya udah langsung otw ke bengkel. Nggak usah banyak omong kek cewe!" Skak Fajri.


Tut


Fajri mematikan panggilan itu sepihak. Membuat Fiki tersenyum tabah.

__ADS_1


"Ni anak bener-bener nggak ada akhlak ya. Untung temen gue. Kalau nggak!" Fiki melototi ponselnya. "Nggak gue apa-apain sih," Fiki melengkungkan bibirnya ke bawah sambil mengangkat bahunya.


Seperti yang Fajri perintahkan, Fiki langsung bergegas mengambil gitar dan pergi ke bengkel Ricky. Tanpa melanjutkan membereskan bukunya tadi. Karena dari suaranya, sepertinya Fajri memang segera membutuhkan bantuan darinya.


Sebelum pergi ke bengkel. Fiki sempat terlibat adu argumen dengan mamanya. Tentang acara makannya tadi. Untung saja akhirnya mama mengizinkan Fiki untuk pergi. Tapi dengan syarat harus makan saat pergi bersama Fajri nanti.


***


"Bang," Fiki menyalimi Ricky yang kebetulan sedang bergelut dengan salah satu kuda besi di bengkel miliknya.


"Eh Fiki. Nyari Fajri ya?" tanya Ricky.


"Iya."


"Kirain mau nyari gratisan lagi," kekeh Farhan yang tiba-tiba nyaut.


"Et dah bang sirik aja Lo," balas Fiki.


"Fajri ada di dalem masuk aja," ramah Ricky.


"Oke. Makasih bang," Fiki tersenyum pada Ricky. Lalu melihat Farhan dengan komuk meledek.


"Dasar bocil!" ledek Farhan pada Fiki yang mulai masuk ke dalam ruangan.


Sesampainya di dalam, Fiki langsung bisa melihat perawakan seorang Fajri yang sedang mengikat tali sepatu.


"Jri!" sapa Fiki yang kini duduk di samping Fajri.


"Eh Fik," Fajri menoleh sesaat pada Fiki lalu kembali fokus mengikat tali sepatunya lagi.


"Thanks banget ya udah mau dateng!"


"Iya sama-sama. Emang mau minta tolong apaan sih?"


Fajri membenarkan posisi duduk nya dan melihat Fiki. "Jadi gini, gue itu kan kerja part time jadi penyanyi band di kafe gitu. Nah, biasanya gue kerja sama si Zweitson. Tapi hari ini dia izin soalnya lagi ada acara keluarga. Makanya gue minta sama Lo buat gantiin dia nge-band," terang Fajri.


"Lo kerja?" Fiki tidak menduga.


"Iya. Ya gue mau bantuin Abang gue. Masa' Abang gue banting tulang sendiri buat ngehidupin kita berdua? Ya gue sebagai adik nggak tega lah," ucap Fajri.


"Emang bang Rick izinin?"


"Iya. Tapi gue harus janji buat tetep fokus sama sekolah gue." Fiki manggut-manggut.


"Jadi gimana? Lo mau nggak? Sehari aja," Fajri memohon.


"Nanti langsung dapat gaji kok. Entar kita bagi dua, gimana?" Fajri menarik turunkan alisnya.


"Balik jam berapa? Takutnya nanti bokap gue ngomel lagi kalau gue pulang malem," ucap Fiki.


"Ampun dah. Udah kayak perawan aja Lo pik," kekeh Fajri.


"Eh nggak gitu Bro! Lo nggak tau aja bokap gue kayak gimana," sewot Fiki.


"Emang gimana?"


"Bokap gue itu disiplin banget dan keras kalau mendidik anak-anaknya," tegas Fiki.


"Owh. Ya udah Lo mau nggak?" tanya Fajri sekali lagi.


"Mau lah. Lagian ini bisa buat ngembangin bakat gue, dapet cuan lagi," mereka berdua tertawa renyah.


"Yok lah gas keun!" Fajri menyambar kontak motornya diikuti Fiki yang berjalan ke luar.


...TBC...


...🥀🥀🥀...


...Hai readers maaf banget ya udah lama nggak up🙏...


...Karena itu Author bakal double up 😆...


...Semoga kalian suka yaaa...


...Makasih juga buat yang masih setia nunggu dan baca cerita ini...


...Doain semoga Author bisa menyelesaikan cerita ini sampai tamat, aamiin🤲🏻...


...Makasih doanya 🥰💙...

__ADS_1


__ADS_2