
...Happy Reading🥰...
...----------------...
Bel masuk berbunyi membuat semua murid berbondong-bondong masuk ke kelasnya masing-masing. Namun lain dengan Laras yang terus berlari menyusuri koridor sekolah. Bukan untuk menuju kelas, melainkan menuju tempat yang bisa menyembunyikan isak tangisnya.
Linangan air mata terus membasahi pipinya. Goyah sudah pertahanannya selama ini. Tumpahlah semua air mata kekecewaan yang coba ia tampung dalam diam.
Rasanya sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit hati ini. Sesak menyelimuti jiwanya.
Dengan kasar Laras menutup pintu toilet itu.
BRAAAKK
Dia menyenderkan punggungnya di dinding. Seolah tak kuasa lagi untuk berdiri. Perlahan tubuhnya jatuh ke bawah hingga ia terduduk lemas.
Untungnya benar-benar tidak ada siapapun di toilet. Jadi, Laras leluasa meluapkan segala amarahnya. Menangis, menangis lah dia.
"Huwaaaa!!! Kenapa sih sakit banget rasanya!!! Hiks... Hiks.... Hiks...," Laras memukul-mukul dadanya. Berharap rasa sesak itu segera enyah dari sana.
Mungkin dengan menangis bisa membuat luka dihatinya sedikit terobati.
Bukan hal yang mudah baginya untuk menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya lebih mencintai sahabatnya di banding dirinya. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Bahkan hanya untuk mengutarakan perasaan.
"Kenapa Fik?!!! Kenapa gue harus suka sama Lo?! Dan kenapa Lo harus suka sama sahabat gue?!!!" Laras menjambak rambutnya lalu meletakkan kepala diatas lututnya.
"Huwaa!! Hiks...," Laras memukul-mukul kakinya. Dia sudah benar-benar seperti orang yang tidak waras.
'Mungkin bener kata orang. Kalau cinta nggak harus memiliki,' pikirnya meratapi nasib.
Sementara di dalam kelas, Pak Marno baru saja datang untuk memulai pelajaran ekonomi. Bukan hal yang mengejutkan jika fenomena rusuh di dalam kelas adalah hal pertama yang beliau saksikan.
Anggota kelas IPS yang dikenal sebagai Ikatan Pelajar Santuy, malah masih asyik bercanda gurau.
Ada yang ngerumpi sampai cekikikan, ada yang kejar-kejaran kayak Tom and Jerry, ada yang main pesawat kertas, ada yang mabar game online dipojokkan, ada juga yang molor. Sungguh pemandangan yang indah bukan?
"Ekhem!" kode Pak Marno.
Tidak ada yang merespon. Karena deheman beliau masih kalah jauh dengan suara murid kelas itu.
"EKHEM!! EKHEMM!!!" dehemnya sekali dengan power yang sudah ditambah.
Kali ini deheman itu berhasil menyita perhatian beberapa murid yang langsung menyadari bahwa itu Pak Marno. Membuat mereka semua kicep dan membenarkan tempat duduknya. Kecuali beberapa murid laki-laki yang masih mabar.
"Eh siapa tuh batuk? Kasih minum sabilah!" perintah Gilang yang masih fokus dengan gadget-nya.
Tidak sadarkah dirinya jika yang berdehem adalah seorang Pak Marno? Dasar Gilang.
"Gilang dkk!!" bentak Pak Marno.
"Oekk!" pekik Gilang sambil melambaikan tangan dengan mata yang tetap fokus pada layar ponselnya.
"Stt Lang! woy!" kode dari teman-temannya tidak bisa diartikan oleh anak itu.
"Gilang! Pak Marno tuh!" lirih Fajri yang berusaha menyadarkan temannya itu.
Fajri tidak ikut mabar. Tapi dari tadi dia molor di bangkunya dan auto melek ketika mendengar deheman Pak Marno yang khas.
"Stt stt Lang! Hehh! Sttt!" bisikan bisikan itu semakin nyata tapi tidak mendapat respon dari targetnya.
Pak Marno yang sudah muak akhirnya bertindak. Tanpa basa-basi dia langsung menghampiri gerombolan itu dan menarik kuping salah satunya. Apesnya yang ditarik adalah kuping si Gilang.
"Aww! Aduh duh duh!" pekik Gilang kesakitan.
"Lepasin nggak?! Dasar anj__," Gilang yang baru saja ingin mengumpat langsung diralat setelah melihat siapa yang menjewer kupingnya.
"Ehh.. Pak Marno. Apa kabar pak?" ucap Gilang cengengesan.
Pak Marno dengan mata melotot dan hampir copot. Eh canda ya. Membuat Gilang tak berkutik dan hanya bisa tertunduk pasrah.
"Apa?! Mau ngomong apa kamu?!" tanya Pak Marno sambil memperkuat jewerannya di kuping Gilang.
"Aduh duh pak! Ampun pak! Maaf pak!" Gilang menyatukan tangannya berharap mendapat belas kasihan dari sang guru.
"Nggak denger bel masuk?! Ha?!"
"Denger pak,"
"Terus kenapa masih main hp?!!"
"Khilaf pak," jawab Gilang sambil menahan nyeri di kupingnya. Mungkin sekarang sudah berubah warna semerah tomat.
Pak Marno yang untungnya masih punya perasaan akhirnya melepaskan jewerannya. Dia rasa itu sudah cukup untuk memberi pelajaran pada Gilang. Jangan kelamaan nanti putus lagi tu kuping.
"Ya sudah duduk!" titah Pak Marno.
"Makasih pak! Maaf pak!" ucap Gilang sambil mengelus-elus kupingnya.
"Inget jangan diulangi lagi! Yang lain juga dengerin!"
"Iya pak," kompak semua murid.
__ADS_1
Semuanya kembali ke tempat duduknya masing-masing termasuk Pak Marno yang sudah duduk di bangku guru sambil merapikan buku-bukunya.
"Hahaha kasihan banget Lo Lang," ledek Fajri.
"Wkwkwk lihat tuh kuping Lo udah kayak kena air panas," timpal Fiki.
"Hmm seneng Lo ya lihat temen Lo sengsara?! Ok fine!" kesal Gilang dengan tangan yang masih mengelus kupingnya yang terasa panas.
"Lho kan jurnal saya ketinggalan!" kesal Pak Marno pada diri sendiri.
"Gilang tolong kamu ambilkan jurnal saya di meja saya!" perintah Pak Marno.
Gilang yang baru saja duduk dan sudah disuruh lagi merasa ingin hilang dari bumi ini.
"Iya pak!" jawabnya setengah hati.
"Kenapa? Ngggak ikhlas kamu?!"
"Ikhlas ikhlas, ikhlas banget malah," jawabnya dengan senyum yang dibuat-buat.
"Ya udah ayok Jri!" Gilang menarik tangan Fajri.
Reflek Fajri mengkibaskan tangan Gilang, "Ih ngapa jadi gue?!"
"Ayo lah temenin gue! Lo kan temen gue," melas Gilang.
"Lah si Fiki juga temen Lo," Fajri dan Gilang langsung menoleh ke arah Fiki. Tapi Fiki malah melihat ke arah lain berpura-pura tak mendengar perdebatan mereka berdua.
"Si Fiki nggak mau. Udah ayok!" tarik Gilang sekali lagi.
"Emang gue mau?!" balas Fajri tak mau kalah.
"Ckk. Ayo lah Jri temenin gue!!" paksa Gilang.
"Nggak mau!"
BRAAKKK
"Kok malah eyel-eyelan! Udah cepet!!" tegas Pak Marno.
"Tuh kan, cepetan!!" Gilang menarik paksa Fajri untuk ikut bersamanya. Karena tak ingin dimarahi Pak Marno, Fajri pun akhirnya mengalah.
Setelah keluar dari kelas, mereka berdua langsung menuju ruang guru dan mengambil jurnal Pak Marno.
Namun, ketika mereka akan kembali ke kelas ada hal mistis yang terjadi.
Saat berjalan di sebuah lorong dekat toilet. Ada suara aneh yang didengar Gilang. Membuatnya berhenti melangkah.
"Fajri! Lo denger nggak?" tanya Gilang dengan wajah misterius.
"Denger apa? Nggak usah aneh-aneh deh Lo Lang!" jawab Fajri.
"Kayak ada suara cewek nangis nggak sih?" Gilang mendekatkan jaraknya pada Fajri.
Fajri sontak mendorong badan Gilang agar tidak terlalu dekat dengannya, "Ihh apaan sih? Nggak ada! Udah Lo ngapain nempel nempel ke gue bambang!"
"Masak sih? Kok gue denger?" Wajah Gilang diliputi ketakutan.
"Halu kali Lo!" ucap Fajri.
"Enggak! Orang jelas banget kok suaranya!" kekeh Gilang. "Stt coba Lo dengerin!" Gilang menutup mulutnya dengan satu jari.
"Hee___hee__ hee__ hiks."
Fajri dan Gilang saling melirik dan melotot. Bulu kuduk mereka meremang. Sosok wanita berjubah putih dengan rambut panjang terurai telah melayang di otak mereka.
Fajri yang berusaha terlihat cool mencoba positif thinking, "Jangan-jangan beneran ada cewek nangis?"
"Jangan-jangan kuntilanak lagi," tebak Gilang ngaco.
"Coba gue cek," Fajri mencekal gagang pintu dan bersiap membukanya. Tapi ditahan oleh Gilang.
"Eits jangan Jri! Kalau tiba-tiba tu hantu nongol gimana?" Gilang panik.
"Nggak ada hantu di siang bolong! Cemen banget sih?!"
"Ta__ tapi__"
"Kalau beneran ada cewek nangis terus dia kenapa-kenapa gimana?" Fajri berusaha berpikir logis.
"Iya kalau cewek beneran? Kalau cewek jadi-jadian?" Bujuk Gilang.
"Ngaco Lo!" kekeh Fajri yang hampir saja membuka pintu toilet itu namun seloroh suara datang.
"Heh! Mau ngapain Lo?!" Seorang siswi mencegah mereka.
Sontak Fajri dan Gilang terkejut. Masalahnya yang akan dibuka oleh Fajri adalah toilet cewek. Takutnya mereka akan dituduh yang bukan-bukan lagi.
"Mau ngintip ya kalian?!" kan beneran dituduh yang macem-macem.
"Sembarangan!" balas Gilang tak terima.
__ADS_1
"Aduh Fajri... Fajri... Ganteng-ganteng kok mata keranjang, cuihh,"
"Heh jaga ya mulutnya!" tuntut Fajri.
"Asal Lo tahu ya. Tadi kita nggak sengaja denger suara cewek nangis di dalam sana. Ya sebagai cowok gentlemen, kita takutnya tuh cewek kenapa-kenapa lagi. Makanya kita mau nolongin!" jelas Fajri panjang lebar.
"Tuh dengerin! Jangan asal ngomong makanya!" sarkas Gilang.
"Udah lah Jri kita balik aja! Udah ditungguin juga sama Pak Marno," ajak Gilang sambil melangkah pergi.
Sebelum menyusul Gilang, Fajri menatap datar cewek di depannya, "Hati-hati! Jangan-jangan yang didalam bukan manusia lagi," Fajri tersenyum miring dan meninggalkan cewek itu.
"Mana ada hantu siang bolong?!" sanggah cewek itu. "Tapi kalau beneran hantu gimana ya?" takutnya sendiri.
Setelah mencoba menetralkan rasa takutnya. Cewek itu bersiap membuka pintu. Tapi tiba-tiba pintu itu terbuka dengan sendirinya dan menampakkan sosok perempuan yang membuat jantungnya hampir copot.
"WAAAAAAAA!!!!" teriaknya.
Laras, yang ternyata membuka pintu itu ikut terlonjak kaget. Setelah mendengar kehebohan di luar toilet, dia segera membasuh wajahnya dengan air agar tidak ketahuan jika dia habis menangis.
"Kenapa Lo? Kayak habis lihat hantu aja?!" tanya Laras pada cewek di depannya.
Cewek itu berdiri dengan mulut menganga sambil memegang dadanya. Sepertinya dia masih kaget dengan apa yang baru saja dialaminya.
"Hello__" Laras melambaikan tangannya di depan mata cewek itu.
"Ll..Ll..Lo? Ma..ma..manu.. manusia kan?" ucapnya terbata-bata.
Laras mengerutkan keningnya, "Iya lah!". Laras yang masih punya urusan lain langsung meninggalkan cewek itu yang masih tampak syok.
***
Setelah bel pulang sekolah Fiki dan Fajri berencana untuk berkumpul di rumah Zweitson melakukan latihan vokal.
"Fik, Lo jadi ikut latihan kagak?" tanya Fajri.
"Jadi dong! Tapi Lo duluan aja ke parkirannya ntar gue nyusul."
"Lo mau kemana?"
"Udah duluan aja!"
"Hmm oke."
Setelah Fajri keluar, Fiki menemui Cantika untuk mengatakan suatu hal.
"Cantik. Sorry ya aku nggak bisa nganter kamu pulang. Soalnya aku ada latihan sama temen-temen."
Cantika menyatukan alisnya, "Kenapa Lo pamitan sama gue? Emang gue siapa Lo? Lagian gue juga nggak nyuruh Lo nganterin gue," Cantika tersenyum miring.
Jlebbb
'Emang bener sih omongannya Cantik. Tapi kok nyesek banget sampek ke tulang,' batin Fiki.
"Lagian gue juga mau bareng sama Laras," ucap Cantika.
"Hehe iya. Ya udah aku duluan ya!" Fiki mengusap tengkuknya lalu melambaikan tangan.
"Okee."
Cantika berniat untuk mencari Laras sebelum pulang ke rumah. Ada yang ingin dia tanyakan pada sahabatnya itu tentang sikapnya yang aneh beberapa hari ini.
Memang sejak pagi Laras tidak mengikuti pelajaran karena urusan OSIS, jadi Cantika rasa sekarang Laras sedang ada di ruang OSIS.
"Tika!!" panggil seseorang dari belakang.
"Laras? Baru aja gue mau nyariin Lo," ucap Cantika dengan wajah sumringah.
"Tumben nyariin gue?"
"Ada yang mau gue tanyain sama Lo."
"Sebelum itu, ada hal penting yang harus gue omongin sama Lo Tik," ucap Laras dengan sungguh-sungguh.
"Hal penting apaan? Serius banget sih," balas Cantika sambil tersenyum.
"Ikut gue!" Laras menggandeng tangan Cantika.
"Kemana?" bingung Cantika yang tetap mengikuti langkah Laras.
"Udah ikut aja!"
****
...🥀🥀🥀...
...Makasih buat yang udah baca🥰...
...Jangan lupa buat like dan vote ya.....
...Kritik dan saran ditunggu...
__ADS_1