Coba Cintaku

Coba Cintaku
Chapter 22


__ADS_3

...Happy Reading🥰...


...----------------...


Laras melihat dirinya di cermin. Menelisik setiap inci dari tubuh mungilnya. Rambutnya ia kuncir satu, dengan kaos putih polos dan celana training warna hitam serta handuk kecil yang menggantung di lehernya terlihat sempurna.


Hari ini adalah akhir pekan. Setelah kegiatan yang padat selama satu minggu, Laras dan Cantika memutuskan untuk jogging pagi. Selain menghilangkan stress, juga agar tubuh mereka tetap fit.


Setelah selesai bercermin, Laras langsung menuju rumah Cantika setelah berpamitan pada sang bunda. Tak lupa sepatu olahraga berwarna senada terpasang di kakinya.


Sesampainya di rumah Cantika. Ternyata si empunya sedang melakukan pemanasan sembari menunggu sahabatnya tiba. Laras langsung menghampiri Cantika sambil melakukan jogging.


"Ayo Tik langsung ke taman aja!" ucap Laras tanpa berhenti berlari.


"Lo nggak pemanasan dulu?" tanya Cantika sedikit teriak, karena Laras yang semakin menjauh.


"Nanti juga panas sendiri kalau dibuat jogging," jawab Laras dengan santainya.


Cantika hanya menggeleng pelan dan langsung menyusul Laras menuju taman.


Bukan hal yang aneh jika hari ini taman terlihat sangat ramai. Banyak orang yang sengaja datang untuk berolahraga maupun bersantai-santai.


Ada yang sedang jogging, bermain sepeda, senam aerobik, dan masih banyak aktivitas lainnya. Maklumlah weekend.


"Kalau capek bilang, nanti kita istirahat dulu," ucap seorang laki-laki pada temannya yang sedang jogging beriringan.


"Gue nggak selemah itu kali," balasnya dengan tersenyum miring.


"Gue tau. Tapi kan Lo punya asma Fik. Jadi jangan terlalu dipaksain," omelnya.


"Iya bawel."


Yap, kedua laki-laki itu adalah Fajri dan Fiki. Hari ini mereka juga sedang melakukan jogging di taman. Fajri yang berinisiatif mengajak Fiki untuk jogging, karena akhir-akhir ini anak itu jadi pendiam dan murung. Galau kali ya. Makanya Fajri mengajaknya jogging agar bisa melupakan masalahnya.


Sebenarnya mereka tidak hanya berdua tapi bertiga dengan Gilang. Tapi doi lagi ada acara keluarga, jadi nggak bisa ikut.


Sementara di tempat lain, Laras dan Cantika baru saja memasuki taman dan langsung berjogging mengelilingi area taman.


"Wih ramai juga ya," ucap Cantika ditengah jogging nya.


"Kalau sepi ya kuburan," sewot Laras yang dibalas cengiran oleh Cantika.


Setelah melakukan jogging sekitar 30 menit, Fajri dan Fiki memutuskan untuk melakukan water break.


"Fik gue beli minuman dulu ya," ucap Fajri dengan napas tersengal-sengal.


"Iya. Gue tunggu di sini," Fiki duduk di salah satu bangku taman itu.


"Oke," Fajri langsung berjalan menuju penjual minuman di depan area taman.


Karena bosan, Fiki memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati indahnya taman dan kesegaran udaranya.


***


Dirasa telah cukup, Laras dan Cantika berniat untuk istirahat sebentar. Namun, tiba-tiba sebatang batu bata menghalangi langkah Laras dan membuat kaki si empunya terbentur dan....


Brug


Laras kehilangan keseimbangan yang membuat tubuhnya terjatuh ke tanah. Ringisan kesakitan nampak jelas di wajahnya.


Cantika langsung menjajarkan tubuhnya dengan Laras, "Laras! Lo nggak pa-pa?" tanyanya panik.


"Shhh..," ringis Laras. "Gue nggak pa-pa kok."


"Nggak pa-pa gimana? Orang Lo kesakitan gitu! Apanya yang sakit?" Cantika menatap dalam Laras.


"Shhh..," Laras memegangi mata kakinya. "Kaki gue. Kayaknya kekilir deh."


Cantika langsung melihat ke arah rasa sakit yang Laras rasakan. Benar saja, kini ada warna ungu di sana.


"Ras, kaki Lo memar! Gawat nih. Harus segera diobati," heboh Cantika.


"Kita pulang aja yuk!" ajak Cantika.


Laras mengangguk dan berusaha berdiri. Tapi, rasa sakitnya membuatnya sulit bergerak.


"Aww! Sakit," pekik Laras.


"Ayo gue bantu!" Cantika meletakkan tangan kanan Laras di lehernya. Berniat untuk memapahnya.

__ADS_1


"Laras?! Lo kenapa?" seloroh suara mencegah keduanya.


"Fiki?" lirih Cantika.


Fiki yang memiliki firasat bahwa gadis dihadapannya sedang tidak baik-baik saja, langsung berjongkok.


"Lo kenapa?" tanyanya sekali lagi pada Laras.


"Fiki? Lo di sini?" Laras cengo.


Fiki hanya mengangguk. "Lo kenapa?" tanya Fiki dengan tatapan cemas.


"Kakinya kekilir waktu jogging tadi," bukan Laras tapi Cantika lah yang menjawabnya.


"Oh," cuek Fiki dengan sekilas melirik Cantika dan kembali melihat Laras.


Laras yang merasa aneh dengan perilaku Fiki pada Cantika, menatap keduanya bergantian. Merasa kasihan pada Cantika yang seperti diacuhkan oleh Fiki.


"Mana yang kekilir? Coba gue lihat," tanya Fiki pada Laras.


"I-ini," jawab Laras bergetar sambil menunjuk bagian kakinya yang terasa nyut-nyutan.


"Ck, bengkak ini. Ke dokter ya?" tawar Fiki.


Laras menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak usah. Diurut aja, nanti juga sembuh."


"Ya udah. Gue anter ke tukang urut ya?" ucap Fiki.


"T-tapi..."


"Udah, nggak ada penolakan! Nanti yang ada bakal tambah parah," tegas Fiki.


Laras sebenarnya mau-mau saja. Tapi dia merasa tidak enak pada Cantika. Laras pun menoleh pada Cantika.


"Eh.. iya Ras. Bener kata Fiki, nanti kalau nggak segera diurut malah tambah parah," ucap Cantika dengan wajah yang tidak bisa diartikan.


"Tapi..."


"Udah ayok! Sini gue bantu," Fiki langsung mengambil alih tangan kanan Laras dari Cantika dan melingkarkannya di leher miliknya. Dengan reflek Cantika berdiri dan memundurkan tubuhnya. Memberi ruang pada Fiki agar bisa membantu Laras berdiri.


Fiki dan Laras mulai berjalan keluar area taman. Sedangkan, Cantika masih terpaku di tempat dengan tatapan kosong melihat punggung Fiki dan Laras yang berjalan beriringan dan mulai menjauh.


Karena khawatir dengan kondisi sahabatnya. Cantika menghalau semua perasaan itu dan menyusul Fiki dan Laras yang sudah semakin menjauh.


Sesampainya di area parkiran. Fiki melepaskan tangan Laras dan memberikannya pada Cantika agar gadis itu tidak terjatuh. Sementara itu, Fiki mengambil motornya yang terparkir di sana.


Sebenarnya, Fiki dan Fajri hanya membawa satu motor. Jika, Fiki pergi tanpa Fajri. Entah bagaimana nasib anak itu. Biarkanlah, toh Fajri juga bukan anak kecil lagi.


Setelah menaiki motornya dan memakai helm, Fiki menyuruh Laras untuk naik ke atas motor.


"Ehm, gue sama Tika naik taksi online aja deh Fik," ucap Laras tak enak jika meninggalkan Cantika sendiri.


"Udah, Lo bareng gue aja! Biarin dia pulang naik ojol," ucap Fiki dengan tetap melihat Laras. Tanpa sedikitpun melihat seorang Cantika Aulia di sana.


Deg


Kalimat itu, entah kenapa sangat menohok hati Cantika.


'Semarah itu Lo sama gue Fik?' batin Cantika.


'Maafin gue Tik. Sebenarnya gue juga nggak tega ngelakuin ini ke Lo. Tapi ini demi kebahagiaan Lo,' batin Fiki


"Tapi..." Laras ragu.


"Udah nggak pa-pa Ras. Luka Lo kan harus segera diobati. Gue nggak pa-pa kok naik ojol, udah biasa," ucap Cantika dengan senyuman.


Fiki mencuri pandang, jelas sekali bahwa Cantika hanya memaksakan senyumnya.


"Lagian Tika pasti juga udah capek. Biarin dia pulang duluan," alibi Fiki.


'Tika? Bahkan sekarang Lo udah nggak manggil gue cantik lagi,' miris Cantika. Entah sejak kapan panggilan itu sangat berarti baginya.


"Pakai dulu helm nya!" Fiki memakaikan helm ke kepala Laras tepat di depan mata Cantika.


Laras yang mendapat perlakuan seperti itu dari Fiki hanya menahan napasnya. Entah kenapa, dia juga tidak tahu. Jantungnya berdebar.


Melihat perlakuan Fiki pada Laras, mengingatkan Cantika pada kejadian saat pertama kali Fiki memasangkan helm ke kepalanya sebelum mereka berangkat bersama ke sekolah saat itu. Namun kini bukan lagi dia yang mendapat perlakuan itu. Tapi wanita lain, lebih tepatnya sahabatnya sendiri. Cantika hanya melihat keduanya dengan tatapan sendu.


Setelah itu Laras pun menaiki motor Fiki dan meninggalkan Cantika di sana. Entah kenapa dadanya terasa sesak melihat perlakuan Fiki yang berbeda pada dirinya.

__ADS_1


***


Fajri yang baru saja kembali dengan menenteng 2 botol air mineral merasa kebingungan, karena tidak mendapati sahabatnya itu di sini.


"Lha, mana tuh bocah? Bukannya nunggu di sini tadi," tanya Fajri pada diri sendiri sambil celingukan.


"Fik! Fiki!" teriaknya memanggil-manggil Fiki. Membuat orang-orang di sana menatapnya heran.


Fajri tidak menggubris tatapan-tatapan itu dan tetap fokus meneriaki nama Fiki.


"Fik! Fiki!"


Tidak mendapat jawaban, Fajri memutuskan untuk duduk sebentar dan meneguk salah satu air mineral yang dibelinya, sebelum pergi mencari Fiki.


Setelah air mineral itu diminumnya hingga tandas, Fajri membuang botol itu ke tempat sampah dan berjalan menyusuri area taman untuk menemukan Fiki. Tak lupa dengan membawa satu botol yang tersisa.


"Fiki! Dimane Lo?!" sesekali Fajri menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang ia kalungkan di leher.


"Fik! Woylah! Kalau ngilang kabarin napa!" dumelnya.


***


Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan dari keduanya. Sampai akhirnya, Fiki membuka suara.


"Pegangan Ras, nanti jatuh."


"HA?!" teriak Laras yang tidak jelas dengan suara Fiki.


"PEGANGAN! NANTI LO JATUH!"


"NGGAK USAH TERIAK KALI! GUE NGGAK BUDEG!" sewot Laras. Angin yang sedikit kencang agak mengganggu pendengarannya.


"Ya udah pegangan!" Fiki menurunkan nada bicaranya.


"HA?!" teriak Laras lagi.


'Astaghfirullah, katanya nggak budeg. Tapi ini nggak denger,' Fiki tersenyum tabah.


"PEGANGAN! NANTI LO JATUH!" ngegas Fiki.


"Oh ya sorry. Nggak jelas Fiki!" balas Laras membuat Fiki menggelengkan kepalanya.


Laras yang sebelumnya berpegangan pada body motor, beralih memegang kaos pada bagian pinggang Fiki di kedua sisinya.


"Pegangan yang bener dong! Nanti molor kaos gue!" sarkas Fiki.


"Udah lah yang penting pegangan," sinis Laras.


Tak berselang lama, tiba-tiba seekor kucing melintas tepat di depan motor Fiki yang sedang melaju cukup cepat. Alhasil, Fiki langsung menarik rem nya.


Chittt


Laras yang reflek langsung memejamkan matanya dan memeluk pinggang Fiki dengan erat. Tubuh mereka berdua terdorong ke depan. Untungnya tidak sampai terjatuh.


"Dasar kucing! Nggak lihat apa kalau mau nyeberang?!" dumel Fiki.


"Alhamdulillah nggak kenapa-napa," Sambungnya.


Fiki yang merasa sesak karena pelukan Laras, menepuk-nepuk punggung tangan gadis itu yang ada di bagian depan tubuhnya.


"Ras, Ras! Lo nggak pa-pa?" tanya Fiki.


"I-iya ng-nggak pa-pa Fik," jawab Laras dengan suara bergetar. Laras yang hendak melepaskan pelukan itu di tahan oleh Fiki.


"Udah nggak pa-pa pegangan aja. Tapi jangan kenceng-kenceng ya," ucap Fiki dengan sudut bibir terangkat dan langsung kembali melajukan motornya.


Mendengar itu pipi Laras terasa panas. Ia berusaha menahan senyumnya. Jangan lupakan detak jantung yang berdetak sangat kencang.


'Ya Tuhan! Ini beneran? Nggak mimpi kan?' Laras menggigit bibir bawahnya.


***


...🥀🥀🥀...


...Makasih buat yang udah baca🥰...


...Jangan lupa buat like, vote, dan komen ya.....


...Kritik dan saran ditunggu...

__ADS_1


__ADS_2