Coba Cintaku

Coba Cintaku
Chapter 20


__ADS_3

...Happy Reading🥰...


...----------------...


Malam ini Fajri sedang bermain ke rumah Fiki. Mendengar penuturan Gilang pagi tadi saat di sekolah, membuat Fajri ingin menanyakan hal itu langsung pada Fiki.


Hanya ada Fiki, Bu Ani, dan Shandy yang ada di rumah. Karena Pak Ananta sedang ada tugas negara.


Kini Fajri dan Fiki sedang berbincang di ruang tamu, ditemani secangkir teh yang tadi disuguhkan oleh Bu Ani.


"Tumben Jri main ke sini? Ada apaan," tanya Fiki.


"Ya nggak pa-pa. Pengen main aja lah Fik," jawab Fajri santai.


"Tapi sebenarnya ada yang pengen gue omongin sih ke Elo," lanjut Fajri dengan hati-hati.


"Soal apa?"


"Ehm sebelumya gue mau minta maaf. Gak seharusnya gue ikut campur. Tapi karena gue rasa kita itu sahabatan, jadi saling mengingatkan adalah kewajiban kan," Fajri bertele-tele membuat Fiki mengernyitkan dahinya.


"Ngomong apaan sih Jri?" bingung Fiki.


Fajri mengehela napas panjang, "Gue tau kok kalau ternyata Lo suka kan sama Tika. Yang notabene udah punya pacar." Fajri menatap dalam Fiki yang juga menatapnya.


"Pasti dari Gilang kan?" Fiki melihat ke sembarang arah. Fajri mengangguk.


"Gue tau Fik. Kalau perasaan emang nggak bisa dipaksa. Nggak bisa dipaksa buat jatuh cinta dan ngggak bisa dipaksa buat melupa."


"Tapi menurut Gue, sebaiknya Lo coba buat ngelupain Tika. Ya__ karena__ Lo tau lah," sambung Fajri.


"Lo pikir gampang ngelupain cinta, yang bahkan Lo sendiri belum tau balasannya?" Fiki tersenyum smirk.


"Gue tau Fik. Tapi ini demi kebaikan Lo juga. Emang Lo mau terus berharap sama ketidakpastian? Yang mungkin nantinya bakal bikin Lo kecewa?" kali ini Fajri benar-benar serius.


"Lo nggak tau gimana rasanya jadi gue Jri," melas Fiki.


"Gue emang nggak tau. Karena gue emang nggak pernah pacaran. Tapi gue ngomong kayak gini bukan sebagai dokter cinta, tapi sebagai sahabat Lo," Fajri menepuk pundak Fiki. "Gue cuman nggak mau Lo tersakiti karena cinta Fik." Fiki menunduk sambil membuang napas lelah.


Mungkin benar yang dikatakan Fajri. Jika dia terus memaksakan cinta ini, mungkin dia akan kecewa. Ya meski sebenarnya dia sudah kecewa. Tapi setidaknya kecewanya tidak akan semakin dalam.


"Ade ape nih? Bocil-bocil pada ngomongin cinta cintaan?" seloroh Shandy yang baru saja menuruni tangga dengan tangan menenteng camilan stik bawang.


Entah bagaimana Shandy selalu mendengar pembicaraan orang lain. Dia menguping atau memang memiliki pendengaran di atas rata-rata. Entahlah.


"Bukan apa-apa bang," balas Fajri cengengesan.


Shandy yang sebelumnya melihat Fiki, berganti menoleh pada seseorang di samping Fiki. Ya__ itu Fajri.


"Eh Lo kan___," Shandy mencoba mengingat sosok didepannya itu.


"Abang kan___," Fajri juga seperti mengingat-ingat siapa orang yang memakai kaos putih oblong dan boxer serta stik bawang itu.


Kebingungan Fajri dan Shandy membuat Fiki melihat keduanya bergantian. Ia pun ikut bingung, sepertinya Abang dan sahabatnya itu saling mengenal.


"Fajri!" tunjuk Shandy heboh.


"Bang Shandy!" Fajri tak kalah heboh.


"Wahh apa kabar bro?" tanya Shandy merangkul Fajri.


"Alhamdulillah baik bang," jawab Fajri sumringah. "Abang sendiri gimana, baik?" Fajri melepas rangkulan Shandy.


"Yang Lo lihat?" bukannya menjawab. Shandy malah melempar pertanyaan pada Fajri.


Fajri menelisik perawakan seorang Shandy, "Baik kok." Fajri manggut-manggut.


"Nah tu tau," Shandy kembali menyantap stik bawangnya lagi.

__ADS_1


"Lah kalian udah saling kenal?" tanya Fiki dengan jari telunjuk mengarah bergantian pada Fajri dan Shandy.


"Udah," kompak keduanya. Membuat Fiki mengangkat alisnya.


"Jadi gue itu temenan sama si Ricky. Kan Fajri adiknya nih, jadi otomatis kalau gue main ke rumah Ricky gue kan kenal sama dia. Eh ternyata, adik temen gue temennya adik gue," terang Shandy panjang lebar.


'Adik temen gue temennya adik gue?' Fiki ngebug.


"Ngomongin apaan sih Lo pada? Serius amat," tanya Shandy.


Tidak ada jawaban dari kedua remaja itu. Membuat Shandy jengah.


"Ditanya tuh jawab lah!"


"Ck. Yang masalah gue kemarin itu lho bang," sendu Fiki.


"Terus Fajri nyaranin gue buat ngelupain Cantik. Tapi kan___," Fiki menggantungkan kalimatnya. Fiki memang sangat terbuka dengan abangnya ini.


"Gue tau Fik kalau awalmya emang susah. Tapi ya Lo coba aja. Karena menurut gue perasaan Lo ini salah," tutur Shandy.


Fiki tidak tahu apakah ini perasaan yang salah atau tidak. Meski semua orang mengatakan bahwa ini adalah salah. Tapi perasaan ini tidaklah salah. Hanya saja tidak jatuh di tempat yang tepat.


Jujur, Fiki juga merasa tidak enak pada Fenly yang tadi pagi meminta maaf padanya. Hal itu semakin membuat gusar hati Fiki.


"Auk ah," Fiki mendesah sambil mengacak-acak rambutnya.


***


Pagi yang cerah menyambut perayaan hari jadi SMA PELITA BANGSA. Semoga semuanya berjalan dengan lancar tanpa adanya satu halangan apapun.



Semuanya telah dipersiapkan dengan matang. Properti panggung, sound system, konsumsi, penampilan seni dari siswa-siswi SMA PELITA BANGSA, dan yang tidak kalah penting guest star.


Tidak lama lagi acara akan dimulai. Namun, sebelum itu sebuah mobil Alphard berwarna hitam memasuki area sekolah yang disambut kehebohan dari semua murid. Terlebih lagi para siswi.



Grudug grudug grudug


Derap langkah kaki begitu riuh menghampiri mobil yang terparkir di halaman sekolah.


Fajri, Fiki, Gilang, Zweitson, dan Fenly yang baru saja tiba di depan aula seketika menjadi seperti tak kasat mata karena dilalui begitu saja oleh para siswa-siswi itu. Padahal penampilan mereka udah kece maksimal.


"Bwahahahah. Baru kali ini gue lihat Lo dikacangin Jri," Gilang cekikikan sambil mendorong bahu Fajri.


"Dihh apaan sih Lang?" sewot Fajri.


Pandangan mereka berlima beralih ke sekumpulan orang yang mengelilingi mobil Alphard itu.


"Emang siapa sih tu? Heboh banget," tanya Fajri.


"Ciee cemburu nih ye," Gilang ngecengin Fajri sambil ngakak ngakak nggak jelas. Membuat Fajri berdecak kesal.


"Kata cewek gue itu tuh bintang tamunya," ucap Fenly membuat Fiki merotasikan bola matanya. Hal itu mengingatkannya pada status seorang Cantika Aulia.


"Emang siapa sih bintang tamunya? Kudet banget gue," ucap Zweitson.


"Tau'. Padahal tahun sebelumnya nggak gitu-gitu amat deh," Gilang mengedikkan bahunya.


Tiba-tiba seseorang, eh ralat. Delapan orang keluar dari dalam mobil itu membuat ciwi-ciwi menjerit kagum hingga memekakkan telinga orang-orang di sekitarnya.


"AAAAAA!! UN1TY!!"


"AAAAA!! MASYUN!!!!"


"DEMI APA WOY KETEMU UN1TY?!!"

__ADS_1


"UN1TY!! GANTENG BANGET SIH!!!!"


"MASYAALLAH GANTENG BANGET SIH JODOH ORANG!!!"


Jeritan kekaguman itu terus terlontarkan hingga membuat cowok-cowok SMA PELITA BANGSA merasa iri.


"UN1TY!!" sorak cewek-cewek itu.


"Halo semuanya!" salah satu personil dari un1ty itu melambaikan tangannya.


"Seneng banget deh ketemu kalian," ucap Cika yang ternyata juga penggemar un1ty itu.


"Kita juga seneng kok ketemu kalian semua," ucap personil lainnya dengan senyum ramah.


"Halo semua! Gimana kabarnya?" tanya personil yang lainnya.


"BAIKKK!" kompak fans berat un1ty.


"Un1ty boleh foto bareng nggak?" ucap yang lain.


"Boleh dong," jawab un1ty kompak.


Belum sempat para siswi SMA PELITA BANGSA mangabadikan foto dengan idola mereka, tiba tiba satpam sekolah alias Pak Bowo langsung membubarkan gerombolan itu.


"MINGGIR MINGGIR! MINGGIR DULU YA! FOTONYA NANTI SAJA!" ucap Pak Bowo dan rekan satpam lainnya yang langsung membuka jalan untuk un1ty menuju ruangan yang telah disiapkan.


"Yahhhh," keluh ciwi-ciwi itu.


Sembari meninggalkan tempat parkir dan menuju ruangan yang telah disiapkan, para member un1ty melempar senyum dan melambaikan tangan pada para penggemarnya. Tak jarang para penggemarnya membentuk jari telunjuk dan jempol mereka menyerupai bentuk hati.


"Udah ayo semua kembali ke aula!" perintah Pak Bowo pada murid SMA PELITA BANGSA.


Sementara di tempat lain, kelima cowok tadi masih terpaku di tempat.


"Hah? Siapa tadi? Un1ty?" tanya Gilang.


"Iya. Gak nyangka gue kalau ternyata guest star-nya si un1ty," ucap Fiki sambil geleng-geleng kepala.


"Emang un1ty siapa sih?" tanya Zweitson.


"Masa' Lo nggak tau sih?" sewot Fiki. Zweitson menggelengkan kepalanya.


"Gue kayak pernah denger deh. Boygrup Indo bukan sih?" Fajri melihat Fiki.


"Yes bener banget. Mereka itu lagi hype hype nya loh. Gue aja suka banget sama single-single mereka," terang Fiki.


"Fanboy detected," Gilang meringis.


"Masalah?!" sewot Fiki. "Lagian gue suka KARYANYA bukan ORANGNYA!" tekan Fiki.


"Iya__ iya___," kekeh Gilang.


"Hah? Emang masih ada ya? Gue kira udah punah," kekeh Fenly.


"Nah iya. Terakhir yang gue tau CJR," Gilang menunjuk Fenly setuju.


"Ya nyatanya ada. Mungkin mereka pengen bikin warna baru di dunia musik Indonesia," argumen Fiki.


"Owh," balas Fajri, Zweitson, Gilang, dan Fenly kompak. Membuat Fiki menghela napas.


Setelah semua guru dan siswa duduk di tempat yang disediakan. Acara pembukaan dies natalis SMAPSA pun dibuka.


"Tes tes. Satu dua tiga," MC mengecek mic.


...🥀🥀🥀...


...Makasih buat yang udah baca🥰...

__ADS_1


...Jangan lupa buat like dan vote ya.....


...Kritik dan saran ditunggu...


__ADS_2