Coba Cintaku

Coba Cintaku
Chapter 17


__ADS_3

...Happy Reading ๐Ÿฅฐ...


...----------------...


"Jadi bener dugaan gue selama ini. Kalau Lo suka sama Tika?" tanya Gilang sambil mengaduk-aduk kuah baksonya.


Fiki mengangguk. Setelah Fiki menceritakan apa yang terjadi padanya, respon Gilang cukup santai, alias tidak terlalu berlebihan. Karena memang selama ini dia sudah menduga semua itu.


"Terus sekarang gimana perasaan Lo ke dia? Setelah Lo tau kalau dia udah punya pacar," Gilang menyuapkan pentol ke dalam mulutnya.


Fiki membuang napas kasar. "Gue juga nggak tau. Ya emang gue marah sama dia karena nggak jujur sama gue. Tapi___," Fiki menggantungkan kalimatnya.


Gilang mengangkat satu alisnya, "Tapi apa?"


"Tapi untuk benci sama dia kayaknya gue nggak bisa," Fiki hanya mengaduk makanannya dan belum menyantapya sama sekali.


"Maksud Lo?" Gilang benar-benar tidak mengerti.


"Ya__ gue rasa, gue masih sayang sama dia."


"Apa?!" Gilang membulatkan matanya.


"Gue tau perasaan ini nggak bener. Tapi gue juga udah berusaha buat ngelupain dia. Dan gue rasa perasaan ini udah terlalu dalam. Jadi semakin gue berusaha buat ngelupain dia, semakin dia selalu ada di pikiran gue," Fiki mengusap wajahnya kasar.


"Emmm. Saran gue nih ya. Mending Lo menjauh dari Tika. Masa' iya Lo mau jadi PHO?" ucap Gilang sambil menuangkan 2 sendok sambal ke dalam baksonya.


"Ya gue juga nggak mau jadi PHO. Tapi entah kenapa, gue ngerasa kalau Cantika lebih bahagia sama gue dibanding sama Fenly," terang Fiki.


"Ckk," decih Gilang lalu menggaruk kepalanya. "Seyakin itu Lo? Buktinya setelah Lo babak belur dihajar Fenly. Emang Tika ada nanyain kabar Lo? Nelpon atau kirim pesan? Nggak ada kan? Jadi apa yang bikin Lo seyakin itu?" tutur gilang panjang lebar.


Fiki hanya terdiam. Apa yang dikatakan Gilang memang benar. Setelah kejadian malam itu Cantika sama sekali tidak menanyakan kabar tentangnya.


'Apa Cantik nggak peduli sama gue?'


"Sekarang gini aja. Untuk sementara Lo coba untuk menjauh dari Tika. Terus Lo lihat gimana respon dia. Nah, setelah itu Lo bisa tuh mutusin buat terus memperjuangkan dia atau melupakan dia. Gampang kan?" Gilang mengangkat alisnya.


'Gampang gundul mu! Tapi boleh juga tuh di coba.'


Fiki mengangguk mantap, "Oke!"


***


Sore ini, rencananya Cantika ingin pergi ke rumah Fiki untuk melihat kondisinya. Setelah kejadian malam itu Cantika belum menanyakan kabar tentang Fiki. Bukan karena tidak peduli. Tapi karena dia bingung harus bilang apa.


Bahkan di sekolah pun tak ada kesempatan untuk berbicara dengannya. Fiki seolah menghindar dari Cantika.


Cantika menatap dirinya di cermin, "Gue sebenernya juga bingung sama perasaan gue." Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Cantika.


"Nggak tau kenapa gue nggak terima kalau Fiki jauhin gue!"


"Fiki__ gue nggak bermaksud bohongin Lo. Gue cuman takut Lo jauhin gue setelah Lo tahu kebenaran itu. Dan ternyata benerkan Lo jauhin gue," Cantika bermonolog di depan cermin.


"Gue tahu gue salah. Gue juga tahu kalau gue udah bikin Lo kecewa. Gara-gara gue Lo juga terluka," Cantika menundukkan kepalanya dengan kedua tangan yang menyangga tubuhnya dan bertumpu di atas meja rias.


"Gue bakal minta maaf langsung ke Elo Fik!" tekatnya.


Cantika bergegas untuk mandi dan mengganti pakaiannya lalu pergi ke rumah Fiki. Jangan tanya dari mana dia tahu alamat rumah Fiki. Gitu-gitu Cantika punya banyak relasi. Jadi bukan hal yang sulit untuk mengetahui data teman sekelasnya.


****


Tok tok tok

__ADS_1


Seseorang mengetuk pintu dari luar membuat Bu Ani bergegas membukakannya.


Ceklek


"Assalamualaikum Tante!" seseorang tersenyum ramah lalu menyalimi Bu Ani.


"Waallaikumussalam. Siapa ya?" tanya Bu Ani sopan.


"Saya Laras. Temannya Fiki. Fiki nya ada?" tanyanya masih dengan seulas senyum.


"Oh nak Laras. Ayo silahkan masuk! Ibu panggilkan dulu ya," Bu Ani memberikan ruang untuk Laras agar masuk ke dalam rumah.


"Terima kasih Tante," Laras membungkuk dan masuk ke dalam rumah.


"Ayo silahkan duduk!" ucap Bu Ani ramah. Laras membalas dengan anggukan, lalu langsung duduk di sofa berwarna abu-abu.


"Fik! Fiki! Ayo turun! Ada teman kamu nih!" teriak Bu Ani dari lantai bawah. Bu Ani tidak naik ke atas karena akan menyiapkan jamuan untuk tamunya.


"Iya Ma!" seru Fiki dari lantai atas.


Tidak berselang lama, Fiki yang mengenakan celana selutut berwarna putih dengan kaos abu-abu polos menuruni anak tangga.


Fiki dengan pakaian khas anak rumahan membuat auranya semakin terpancar. Dan Laras tidak bisa menahan senyumnya.


Sedangkan Fiki yang sebelumnya sedikit berlari saat menuruni anak tangga, tiba-tiba memperlambat langkahnya saat mengetahui bahwa Laras lah yang dimaksud oleh sang Mama.


Setelah sampai di lantai bawah, Fiki langsung mendudukkan dirinya di sofa lain yang ada di samping Laras.


"Ngapain Lo ke sini?" tanya Fiki datar.


"Kok Lo gitu sih? Sinis amat!" protes Laras.


"Ge-er! Enggak tuh," balas Laras tak kalah sengit.


"Terus?"


"Ya gue cuma mau nanyain kabar Lo aja. Emang nggak boleh?"


"Ya boleh lah. Masa' enggak," sahut Bu Ani sambil membawakan minuman dan beberapa makanan ringan.


Laras tersenyum malu, "E-enggak usah repot-repot Tante." Sungkan Laras.


"Enggak repot kok. Ayo dimakan!" Suguh Bu Ani.


"I-iya. Makasih tant," Laras tersenyum.


"Sama-sama. Dihabiskan lho," Bu Ani tersenyum lalu kembali ke dapur. Sebelum itu dia menepuk pundak Fiki. "Jangan sinis sinis kali Fik!" ucap Bu Ani dengan komuk meledek. Fiki tersenyum pahit.


"Jadi Lo ke sini karena keinginan Lo sendiri?" tanya Fiki.


"Iya lah."


'Laras aja bela-belain ke sini cuman buat nanyain kabar gue. Lha Cantika? Sama sekali nggak nghubungin gue!' geram Fiki.


"Lo tau rumah gue dari mana?" tanya Fiki penasaran. Karena tidak ada yang tau alamat rumahnya selain Fajri dan Gilang.


"Dari sang idola sekolah," jawab Laras bertele-tele.


"Siapa?"


"Kapten tim basket yang punya banyak penggemar," Laras memberikan clue.

__ADS_1


"Fajri?" tebak Fiki. Laras membalas dengan anggukan yang dihiasi senyuman manisnya.


"Kok nggak izin dulu sama gue?" Fiki bermonolog.


"Sebenarnya sih nggak dikasih sama dia. Tapi gue yang maksa. Habisnya gue tuh khawatir banget sama Lo! Ups," Laras membulatkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya. Bagaimana dia bisa keceplosan. Jangan sampai Fiki menyadari perasaannya.


Fiki mengangkat salah satu alisnya. Meminta penjelasan.


"M-maksud gue. Gue tuh k-kepo sama Lo. Kok bisa babak belur kayak gitu? Terus Lo juga bersikap dingin ke Tika. Padahal biasanya kan Lo agresif banget sama tu bocah," cerocos Laras.


"Sttt, jangan keras-keras! Nanti kalau nyokap gue denger gimana?" Fiki meletakkan jari telunjuknya didepan bibirnya.


"Eh iya. Sorry sorry." ucap Laras membuat Fiki memutar bola matanya malas.


"Lo lagi marahan sama Tika?"


"Hmm. Sebenarnya gue juga marah sama Lo," tutur Fiki sambil memasukkan kacang goreng ke mulutnya.


"Lha kenapa gue dibawa-bawa?!" sarkas Laras.


"Lo pasti tau kan kalau Cantika udah punya pacar! Dan Lo juga tau soal perasaan gue ke dia! Terus kenapa Lo nggak bilang sama gue!" Fiki membuang napasnya kasar.


'Jadi bener kalau Fiki berantem sama Fenly?' batin Laras.


"G-gue cuman nggak mau lihat Lo kecewa. Dan gue rasa gue nggak berhak buat ngomong itu. Gue juga udah nyuruh Tika buat ngomong sendiri ke Elo. Dan ternyata dia belum jujur sampai akhirnya Lo tau kebenaran itu dengan sendirinya," jelas Laras dengan wajah memelas.


"Mungkin kalau Lo ngomong dari awal, gue nggak akan kecewa seberat ini," Fiki tersenyum miring.


"M-maaf," ucap Laras terbata-bata dengan mata yang berkaca-kaca.


"Udah lah. Lagian ini bukan sepenuhnya salah Lo," Fiki tersenyum tulus memandang Laras yang hampir menjatuhkan air matanya.


"Ini salah gue. Karena udah terlanjur mencintai dia yang telah terikat dengan orang lain."


Degg


Jantung Laras seolah berhenti berdetak. Dia jadi merasa bersalah karena tidak memberitahu Fiki kebenaran itu dari awal. Setidaknya Fiki tidak akan sekecewa ini. Dia merasa bahwa dia juga bertanggung jawab atas semua penderitaan yang dialami Fiki.


"Ck. Udah lupain aja masalah ini," ucap Fiki mencoba tersenyum.


"Makan dong Ras! Nyokap gue udah nyiapin semua ini lho," Fiki mempersilahkan Laras untuk memakan hidangan di meja.


"I-iya," dengan sungkan Laras mengambil kue kacang dan memakannya.


Tok tok tok


Ketika mereka berdua tengah asik memakan camilan sambil mengobrol tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu.


"Bentar ya gue bukain pintu dulu," ucap Fiki yang langsung berdiri membukakan pintu.


...๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€...


...Kira-kira siapa ya yang mengetuk pintu?...


...Tunggu Chapter selanjutnya ya......


...Dan klik fav biar nggak ketinggalan sama update cerita terbarunya ๐Ÿ˜‰...


...Jangan lupa klik ๐Ÿ‘ kalau kalian suka sama ceritanya....


...Makasih๐Ÿ’™...

__ADS_1


__ADS_2