
...Happy Reading🥰...
...----------------...
...Mendengar cerita, kau kini bahagia...
...'Ku hanya bisa tersenyum mendengarnya...
...Di dalam terluka, di luar tak terbaca...
...Memendam kecewa, kau senang di sana...
...Simpan kau di dalam mimpi indahku...
...Karna kau tak datang dalam hidupku...
...Berjalan kuterima kenyataan...
...Kau yang tak sayang...
Setelah sampai di rumah, Laras langsung merebahkan dirinya di kasur. Karena pengaruh hormon dia jadi gampang terbawa perasaan. Harusnya dia sudah biasa dengan sakit hati ini.
Sebelumnya, dia sudah punya tekad untuk menguatkan hati menerima kenyataan bahwa Fiki tidak punya perasaan apapun padanya, kecuali sebagai seorang teman. Tapi, nyatanya buliran bening itu menetes di pipinya.
"Laras! Cengeng banget sih Lo!" Laras menenggelamkan wajahnya di bantal sambil memukul-mukul kasur miliknya.
Hujan air mata itu semakin deras saja seiring lagu Juicy Luicy berjudul Tak Terbaca itu ia putar. Menurutnya lagu ini sangat cocok dengan apa yang dia alami saat ini.
Setidaknya ada yang bisa mengerti perasaannya meski hanya sebuah lagu.
Kini Laras teringat dengan coklat pemberian Fiki. Matanya menatap dalam cokelat dengan bungkus warna emas itu.
"Seandainya coklat ini tanda sayang Lo ke gue, pasti gue udah salto-salto girang. Tapi sayangnya___" Laras menghentikan kalimatnya sambil tersenyum miring.
"Kenapa sih Fik? Lo nggak peka sama perasaan Gue?!" Laras menatap nyalang coklat itu.
"Kenapa Lo malah suka sama Tika?! Hah!!" bentaknya pada coklat yang tidak punya dosa. Malangnya nasib si coklat.
"Gue tahu cinta nggak bisa dipaksa! Tapi cinta juga berat untuk dilupa!!" kini cengkeramannya semakin kuat.
Coklat be like, "Lepasin woy! Gue kecekik!'
"Gue banting juga Lo!" Laras mengayunkan tangannya dan melempar coklat itu ke lantai.
"Rasain! Sakit nggak?!" Laras memaki-maki coklat yang sudah tak berdaya.
Sepertinya pengaruh hormon itu sungguh berbahaya. Bisa sampai memengaruhi kejiwaan. Semoga Laras segera sadar. Siapapun tolong sadarkan Laras!!
Dengan tatapan setajam elang, Laras menatap coklat yang terkapar di ubin kamarnya. Kemudian terbesit dipikirannya bahwa tidak seharusnya dia memperlakukan coklat manis itu seperti itu.
Tiba-tiba matanya sendu, dia merasa iba dengan coklat itu.
"Maafin gue, gue nggak bermaksud nyakitin Lo," melasnya sambil memungut kembali coklat itu.
"Gue kebawa emosi, maaf ya!" kini dielusnya coklat yang berbungkus lecek itu.
"Gue bukan tipe orang yang suka buang makanan kok. Swear," Laras mengangkat kedua jarinya.
"Jadi tenang aja! Lo nggak akan gue buang. Tapi gue makan!!" dengan sarkasnya Laras membuka bungkus coklat itu dan langsung melahapnya sampai tak tersisa.
Sungguh ganasnya, the power of tamu bulanan dan broken heart jika disatukan. Bisa membinasakan sebatang coklat yang penuh dengan kemanisan. Luar binasa!!
Hikmah yang dapat dipetik adalah hati-hati dengan cinta, karena bisa membuatmu gila. Get well soon Laras! Emot nangis.
***
Fiki langsung melajukan motornya menuju rumah Cantika setelah mengantar Laras sampai di depan rumahnya.
Hatinya benar-benar tidak karuan. Gugup bercampur bahagia. Semoga dugaannya bahwa Cantika juga punya rasa yang sama dengannya itu benar. Jadi, kemungkinan ditolak akan sangat tipis.
Setelah beberapa saat, akhirnya Fiki sampai di rumah Cantika. Dia mematikan motor dan memencet bel rumah berpagar hitam itu.
Ting tung
"Assalamualaikum!" ucap Fiki. "Paket! Asyiap!" tambahnya lirih sambil tertawa geli. Membayangkan salah satu sound di video lucu.
Tak lama gerbang terbuka menampakkan sesosok gadis dengan rambut terurai sebahu dan kacamata bertengger di hidungnya.
"Waallaikumussalam. Eh Fiki. Masuk Fik!" ucapnya ramah.
Fiki menuntun motornya ke dalam dan memarkirkannya.
"Sorry banget gue nggak bisa ajak Lo masuk. Soalnya mama papa gue lagi keluar," ucap Cantika tak enak.
__ADS_1
"Iya nggak pa-pa di teras aja. Enak adem," balas Fiki dengan senyuman manisnya.
"Yaudah duduk dulu Fik! Gue masuk bentar."
Fiki mengangguk lalu melakukan apa yang diperintahkan oleh pemilik rumah.
"Duh kok deg-degan gue," Fiki memegang dadanya. "Tenang Fiki, Lo pasti bisa!" Fiki menghirup napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.
Tak berapa lama Cantika akhirnya keluar sambil membawakan beberapa camilan dan teh hangat untuk Fiki dan dirinya.
"Nggak usah repot-repot Cantik," sungkan Fiki.
"Nggak repot kok. Udah santai aja," Cantika tersenyum tipis.
"Makasih lho."
"Iyah. Udah yuk langsung aja kita mulai belajarnya!" Cantika mengeluarkan buku catatan geografi.
Hari ini mereka berdua janjian untuk belajar bersama. Karena besok ada ulangan harian geografi.
"Ngapain Lo bawa-bawa gitar Fik?" tanya Cantika yang melihat gitar di samping Fiki.
"Ohh ini tadi aku habis latihan di rumahnya Zweitson."
"Zweitson anak IPA 1?" tanya Cantika dengan wajah gugup. Pasalnya Fenly satu kelas dengan Zweitson. Itu membuat dirinya ingat dengan perkataan Laras siang tadi.
"Iya. Kamu kenal?" tanya Fiki yang dibalas anggukan oleh Cantika.
"Jadi Lo belum mandi?" Cantika mengubah topik pembicaraan.
"Enak aja ganteng kayak gini dibilang belum mandi," elak Fiki tak terima.
Cantika memutar bola matanya malas. Percaya diri banget si Fiki.
"Ya udahlah! Tadi aku mandi sama sholat di rumahnya Zweitson. Kalau nggak percaya tanya aja sama orangnya!" tegas Fiki.
"Iya-iya percaya," jawab Cantika malas.
Sementara di tempat lain, ada sekelompok pemuda yang sedang asik nongkrong di salah satu rumah makan. Mereka adalah anak-anak dari ekskul karate yang sedang mengadakan perayaan kecil-kecilan. Karena salah satu anggota mereka baru saja sembuh dari cedera.
"Gimana bro keadaan Lo? Udah baikan?" tanya Gilang sambil menepuk pundak Fenly.
"Udah. Makanya hari ini gue ngadain syukuran kecil-kecilan. Kalian semua bebas mau makan apa aja," ucapnya tersenyum bangga.
"Sering-seringlah Fen kayak gini," sahut Ardan.
"Lo nyumpahin gue sering-sering cedera?!" ngegas Fenly.
"Eh nggak gitu maksud gue," Ardan menggelengkan kepalanya. "Maksud gue. Sering-sering traktir kita makan. Nggak cuman pas sembuh dari cedera doang," lanjutnya sambil tersenyum smirk.
"HAHAHAHAHA," semua anggota mereka tertawa.
"Bener banget tuh Fen!" timpal Gilang.
"Lo kan wokay," ucap Askara.
"Apa tuh?" tanya Ardan.
"Worang kaya," jawab Askara dengan tertawa terbahak-bahak.
Fenly memijit keningnya. Haruskah dia dikelilingi oleh kaum gratisan seperti ini. Meski sebenarnya Fenly sama sekali tidak keberatan jika harus mentraktir mereka setiap hari. Karena apa yang dikatakan Askara memang benar.
"Ketawa mulu! Ntar mati Lo pada!" pedes banget omongan Fenly.
"Pada pesen makan gih!" titah Fenly yang langsung disambut antusias oleh para kaum gratisan itu.
"Fen, sorry ya!" ucap Gilang sedih.
"Kenapa minta maaf?"
"Gara-gara duel sama gue, Lo jadi cedera."
"A elah. Santai aja kali Lang!" Fenly menepuk pundak Gilang. "Namanya juga latihan. Wajar kalau lecet dikit. Lagian juga bukan salah Lo."
Gilang tersenyum mendengar perkataan Fenly. Dia memang teman yang baik.
"Tapi Lo beneran udah nggak pa-pa kan?" Gilang melihat kaki Fenly.
"Beneran nggak pa-pa gue. Buktinya gue ke sini dan ngajakin kalian semua makan," Fenly mengangkat salah satu alisnya.
"Syukur deh kalau gitu."
"O ya. Gue mau nanya dong," ucap Gilang pada Fenly.
__ADS_1
"Nanya mah nanya aja kali. Pakek minta izin segala," santai Fenly.
Bukannya apa-apa tapi apa yang akan ditanyakan oleh Gilang adalah masalah yang agak sensitif. Jadi menurutnya dia harus meminta izin terlebih dahulu.
"Lo masih sama Tika?" tanya Gilang membuat Fenly bingung.
"Masih. Kenapa emang?"
"Nggak pa-pa. Gue kira udahan," jawab Gilang santai.
"Siapa bilang?!" Fenly menatap horor Gilang.
Gilang pikir, Fenly sudah putus dengan Tika. Pasalnya akhir-akhir ini Tika jarang bersama dengan Fenly. Justru dia lebih sering sama Fiki.
"Nggak ada sih. Habisnya Gue jarang lihat Lo bareng Tika lagi."
"Iya sih. Tapi gue nggak putus tuh!" Fenly tak terima.
"Emang akhir-akhir ini gue ada urusan lain dan beberapa hari ini gue kan juga sakit. Jadi ya jarang jalan bareng sama Tika," jelas Fenly.
Gilang ber- oh ria.
***
Adzan Isya' berkumandang, menandakan waktu sholat telah tiba. Sedangkan Fiki masih belum pulang.
"Udah adzan nih. Sholat dulu yuk!" ajak Fiki sambil menutup bukunya.
"Iya. Tapi__"
"Aku paham kok. Nggak mungkin aku sholat di rumah kamu. Kan mama papa kamu belum pulang," ucap Fiki pengertian.
"Aku sholat di masjid komplek aja," Fiki bangkit dari duduknya dan bersiap pergi ke masjid.
"Tunggu! Emang Lo tahu tempatnya?"
"Enggak sih. Tapi kan bisa nanya."
"Yaudah, biar Lo nggak susah susah nanya. Gue juga sholat di masjid deh. Tunggu bentar!" Cantika berlari masuk ke rumah untuk mengambil perlengkapan sholat.
Fiki yang melihat hal itu mengulum senyum.
Cantika keluar dengan membawa mukenah dan sajadah serta sarung dan peci.
"Nih punya papa gue. Pakek dulu aja nggak pa-pa," Cantika menyodorkan sarung dan peci.
'Masya Allah banget sih anak orang. Bismillah jodohku' Fiki ngarep.
"Nggak pa-pa?" Fiki memastikan.
"Nggak pa-pa Fik. Nih!"
"Makasih," Fiki mengambil sarung dan peci dari tangan Cantika.
"Sama-sama."
Lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju masjid untuk melaksanakan sholat Isya' berjamaah.
Setelah selesai melaksanakan kewajiban mereka kepada Allah swt. Mereka berdua kembali ke rumah Cantika.
Sementara itu, Fenly dan kawan-kawan juga bersiap untuk pulang setelah memakan semua makanan yang mereka pesan. Sebelum pulang, Fenly teringat pada kekasihnya jika dia sangat menyukai makanan khas Bandung yang melegenda, yaitu seblak.
Rencananya dia akan mampir ke rumah Cantika membawa makanan favoritnya itu.
"Gue duluan Fen. Thanks buat traktirannya," ucap Araska dan yang lainnya.
"Sama-sama. Hati hati!" ucap Fenly pada seluruh anggota ekskul itu.
Setelah menyalami semua teman-temannya. Fenly membeli 1 porsi seblak yang pedas dan membawanya ke rumah Cantika.
"Pasti Tika seneng banget nih gue bawain seblak," senyum Fenly sambil membayangkan wajah Cantika yang tersenyum bahagia.
Tanpa menunggu lama-lama lagi. Fenly langsung menancap gas menuju kediaman Cantika Aulia, kekasihnya.
***
...🥀🥀🥀...
...Makasih buat yang udah baca🥰...
...Kalau kalian suka sama ceritanya...
...Jangan lupa buat like, vote, dan fav ya.....
__ADS_1
...Kritik dan saran ditunggu...