Coba Cintaku

Coba Cintaku
Chapter 28


__ADS_3

...Happy Reading ๐Ÿฅฐ...


...----------------...


***


"Jika gaya tarik tidak melampaui elastis pegas, maka pertambahan panjang pegas berbanding lurus atau sebanding dengan gaya tariknya," terang Bu Endang.


Kali ini sedang berlangsung pembelajaran Fisika di kelas XI-IPA 1. Semua murid sedang fokus memperhatikan Bu Endang yang sedang mengajarkan materi tentang Hukum Hooke.


Namun berbeda dengan Fenly, yang sepertinya sekarang kepalanya sudah mengebul karena Fisika. Pelajaran yang paling tidak ia sukai, yang membuatnya pening setiap saat setiap waktu dengan berbagai rumus-rumusnya itu.


Dengan berpangku tangan Fenly melihat Bu Endang yang ada di depan. Guru itu berdiri sambil memegangi spidol papan. Sesekali beliau menggoereskan ujung spidol pada papan berwarna putih itu untuk memperjelas penuturannya.


Meski begitu, apa yang disampaikan oleh Bu Endang sama sekali tidak masuk ke otak Fenly. Rasanya materi itu hanya numpang lewat di kuping tanpa singgah di otaknya.


"Selanjutnya yaitu tentang tetapan pegas," ucap Bu Endang sambil mencorat-coret papan tulis.


Zweitson yang duduk di samping Fenly, sedang fokus dengan penjelasan Bu Endang. Sesekali dia mencatat apa yang diterangkan Bu Endang di buku catatannya.


"Untuk mencari tetapan pegas, rumusnya adalah k sama dengan F dibagi dengan delta x," terang Bu Endang.


'Hadughh,' batin Fenly sambil menggaruk-garuk rambutnya.


Fenly yang sudah tidak betah lagi berinisiatif melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Melihat berapa lama lagi ia harus duduk di sini.


Saat melihat pukul berapa sekarang, Fenly justru malah teringat sesuatu, lalu melirik ke arah Zweitson yang sedang sibuk menggoreskan penanya.


"Stt, Son!" bisik Fenly.


Entah karena terlalu fokus atau apa, Zweitson tidak membalas panggilan Fenly.


"Son! Sonii!" lirih Fenly namun penuh penekanan, ia menyenggol lengan Zweitson yang membuat si empunya berdecak kesal.


"Apaan sih? Nama gue Zweitson bukan Soni!" sinis Zweitson dengan sesaat melirik Fenly.


"Ah sama aja," ucap Fenly sekenanya membuat Zweitson malas melihatnya dan memilih untuk kembali fokus pada pekerjaannya.


"Ikut gue yuk!" ajak Fenly.


"Kemana? Lo nggak lihat gue lagi apa?" jawabnya tanpa melihat Fenly dan tetap fokus menulis.


"Temenin gue ke toilet yuk!" ucap Fenly tanpa dosa. Membuat Zweitson seketika menghentikan kegiatan menulisnya dan langsung melotot ke arah Fenly.


"Lo gila?!" umpat Zweitson. "Ke toilet ajak ajak. Ogah gue," tolak Zweitson.


"Eh pikiran Lo jangan travelling bambang! Gue cuma minta tolong anterin doang, nggak ngapa-ngapain," heran Fenly.


"Ogah!" final Zweitson.


"Gitu amat Lo sama temen," melas Fenly. "Lagian emang Lo betah terus terusan di sini? Tambah ngebul nanti tuh otak Lo," monolog Fenly berusaha memengaruhi Zweitson.


"Yok lah, sekalian refreshing," ajak Fenly sambil menaik turunkan alisnya.


"Sendiri aja ngapa sih? Kaya cewek aja minta anter," heran Zweitson.


"Ck. Ayoklah Son," pinta Fenly dengan wajah memelas.


"Paham anak-anak?" tanya Bu Endang.


"Paham buuu," jawab seluruh murid kecuali Fenly dan Zweitson. Hal itu pun ternotice oleh Bu Endang.


"Paham nggak kalian berdua?" tanya Bu Endang pada Fenly dan Zweitson yang sedang asik berbisik.


"Ckk. Males ah gue," elak Zweitson.


"Please lah ikut gue!" melas Fenly.


Tidak mendapat respon dari kedua muridnya itu, Bu Endang pun menghampiri bangku mereka.


"Zweitson! Fenly!" tegurnya.


Fenly dan Zweitson yang tadinya asik berdebat langsung kicep dan menoleh ke arah Bu Endang.


"Kalian tidak memperhatikan pelajaran saya?!" tanya Bu Endang dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


"M-memperhatikan kok Bu," gugup Zweitson.


"Paham sama apa yang saya terangkan?!" tanya Bu Endang dengan tatapan tajam.


"P-paham kok Bu," jawab Fenly cengar-cengir.


"Bagus kalau begitu," Bu Endang manggut-manggut. "Sekarang, kamu Fenly. Kerjakan contoh soal di papan tulis!" titah Bu Endang sembari menyodorkan spidol pada Fenly.


Fenly melongo, "S-saya Bu?"


"Iya. Ayo!" ucap Bu Endang.


Fenly memalingkan wajahnya ke arah lain sambil memaki-maki dirinya sendiri tanpa bersuara. Setelah itu, ia melirik ke arah Zweitson berharap mendapat bantuan dari temannya itu. Tapi ternyata, nihil. Zweitson malah menunduk dan tidak ada niatan untuk membantu dirinya.


"Ayo Fenly!" Bu Endang menginterupsi.


"Ee.. i-itu Bu, anu..." kagok Fenly sambil menatap langit-langit kelas.


"Anu anu! Anu apa?!" sengit Bu Endang.


"Anu__ Bu__ perut saya sakit banget." Bu Endang menyatukan alisnya.


"Aduh saya udah nggak tahan lagi," Fenly mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya.


Hal itu membuat semua mata tertuju padanya. Seakan meragukan keterangan Fenly.


Bu Endang mengerutkan dahinya, "Kenapa kamu?"


"Perut saya sakit Bu. Saya izin ke toilet sebentar ya," pinta Fenly.


"Bener? Kamu nggak bohong kan?" Bu Endang tak mau kena tipu.


"Shhh. Haduh Bu udah diujung ini," heboh Fenly membuat Zweitson yang ada di sampinya mengernyitkan dahi.


"Ya sudah ya sudah saya izinkan. Cepat kembali ya!" ucap Bu Endang.


"Makasih Bu," Fenly langsung beranjak dari duduknya dan menarik tangan Zweitson yang mebuat si empunya kaget karenanya.


"Eh eh Zweitson ngapain ikut?!" sentak Bu Endang.


"Zweitson mau temenin saya Bu," jawab Fenly.


"Mana ad__" Fenly menginjak kaki kanan Zweitson, membuat ucapan Zweitson terpotong.


"I-iya Bu. Katanya si Fenly takut ada yang ngintip," ucap Zweitson kikuk.


"Bwahahahah," tawa seluruh murid menggema di ruang kelas itu.


"Permisi Bu!" pamit Fenly yang langsung berjalan ke luar kelas dengan Zweitson yang terpaksa mengikutinya.

__ADS_1


Melihat itu Bu Endang hanya menggelengkan kepalanya.


Fenly dan Zweitson berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah.


"Emang dasar Lo Fen! Ada aja," geram Zweitson.


"Seneng kan Lo bisa bebas dari Fisika? Udahlah nggak usah muna," Fenly tersenyum tipis lalu merangkul pundak Zweitson.


Zweitson mengangguk, "bolehlah sekali-kali."


"Hahahaha," keduanya tertawa renyah.


Setelah menemui persimpangan, mereka berdua pun berbelok ke kanan.


"Lho Fen! Toilet nya kan di sana," tunjuk Zweitson ke arah lain persimpangan itu.


"Gue mau ke toilet yang ada di lantai bawah," seloroh Fenly.


Yap, kelas mereka berdua memang berada di lantai atas. Di sekolah ini ada dua gedung toilet. Satu di lantai atas dan yang satu dilantai bawah. Tepatnya di samping gedung kelas 10 yang berada di samping lapangan sekolah.


"Kenapa?" tanya Zweitson heran.


"Nggak papa," santai Fenly


Zweitson memasang wajah datar lalu menghela napas, "Aneh Lo."


"Ada yang Deket malah milih yang jauh," heran Zweitson.


Fenly hanya tersenyum, dan Zweitson mau tidak mau harus mengikutinya. Keduanya terus berjalan menyusuri lorong dan menuruni tangga.


***


Dengan kasar Fiki mendorong pintu UKS dengan salah satu kakinya, karena kedua tangannya ia gunakan untuk menggendong tubuh Cantika yang kini tak sadarkan diri.


"Permisi! Tolong!" panggil Fiki sambil celingukan di ruang serba putih itu.


Fiki langsung membaringkan tubuh Cantika di brangkar yang berada di ruangan itu.


Perlahan Fiki meletakkan kepala Cantika pada bantal yang ada di atas brangkar. Bersamaan dengan itu seseorang dengan jas berwarna putih keluar dari balik kelambu.


"Kenapa ini?" tanya orang itu dengan air muka panik.


"Saya juga nggak tau dok. Tiba-tiba pingsan waktu olahraga tadi," Fiki menjelaskan kronologi kejadian itu.


"Coba saya periksa dulu," ucap dokter itu sembari memasangkan teleskop ke telinganya dan menempelkan ujung teleskop ke dada Cantika.


"Temen saya kenapa ya dok?" tanya Fiki di tengah-tengah pemeriksaan.


"Sebentar ya ini masih saya periksa," ucap dokter itu lembut.


"Tapi dia bakalan baik-baik aja kan dok?" tanya Fiki lagi.


Dokter itu memejamkan matanya sambil menghirup napas dalam. "Kamu yang tenang ya," pinta dokter.


"Ehm saya boleh minta tolong nggak?" tanya dokter itu menoleh pada Fiki.


"Boleh dok. Dokter butuh apa?" antusias Fiki.


"Kamu tolong ambilkan secangkir teh sama roti ya, di dapur sekolah buat temen kamu. Mungkin saja tadi pagi dia tidak sarapan," tutur si dokter.


"E__ b-baik dok. Saya permisi dulu," pamit Fiki yang langsung keluar dari UKS.


Setelah Fiki keluar dari ruangan itu, dokter pun kembali melanjutkan tugasnya memeriksa Cantika. Jika Fiki masih berada di ruangan ini, maka beliau tidak akan bisa fokus untuk melakukan pekerjaannya karena pertanyaan-pertanyaan dari Fiki.


***


Untuk sampai di toilet yang dituju, Fenly dan Zweitson harus melewati lapangan sekolah dulu. Melihat ada pertandingan basket yang sedang berlangsung, Zweitson pun menghentikan langkahnya tepat di bawah rindangnya pohon mangga.


"Wih ada yang main basket," ucapnya sambil melihat ke arah lapangan.


"Yoi," ucap Fenly yang kini sedang nyender di batang pohon mangga.


"Lha, itu si Gilang sama Fajri!" tunjuk Zweitson pada dua orang di tengah lapangan. "Oh.. ini anak IPS 1," hebohnya sendiri.


"Yoi," santai Fenly.


Zweitson berganti menoleh ke arah Fenly yang berdiri di sampingnya. Menatap ke atas dan ke bawah perawakan seorang Fenly.


Fenly yang tidak menyadari tatapan Zweitson hanya senyam senyum melihat ke arah lapangan.


"OHHH! GUE TAU!" sorak Zweitson menepuk pundak Fenly. Membuat Fenly tersentak kaget dan mengalihkan pandangannya pada Zweitson.


"Bilang aja Lo mau apel kan?!" tunjuk Zweitson pada Fenly.


"Ngaku Lo!" Zweitson mencengkram pundak Fenly.


"Yoi," balas Fenly mengangkat dagunya. Zweitson pun melepas cengkeramannya dengan sedikit mendorong Fenly. Hal itu membuat Fenly sedikit oleng.


"Dasar modus! Pakek acara bilang ke toilet segala lagi," cibir Zweitson.


"Ya gimana ya. Kalau gue izin apel pacar so pasti nggak diizinin. Jadi, gue terpaksa bohong," ucap Fenly tanpa dosa.


"Dasar bucin!" Zweitson menoyor kepala Fenly. "Kalau tau gini, ogah gue nganterin Lo! ujung-ujungnya cuman jadi nyamuk."


"Ambil hikmahnya aja bro. Seenggaknya Lo terbebas dari rumus rumus fisika itu," tawa Fenly dengan siku tangan yang nangkring di pundak Zweitson untuk menopang tubuhnya.


Zweitson memutar bola matanya malas. Sedangkan Fenly kembali mengedarkan pandangannya ke arah gerombolan cewek-cewek di pinggir lapangan.


"Kok Tika nggak ada ya?" tanya Fenly sambil mengusap-usap dagunya.


"Masa' sih?" Zweitson ikut mengamati.


"Iya," Fenly mengangguk.


Priit


Bola keluar dari lapangan pertandingan. Bola basket itu menggelinding ke arah Fenly dan Zweitson. Kebetulan tempat mereka berdiri memang berada tidak jauh di belakang ring.


Gilang berlari mengambil bola itu. Ketika bola itu berhenti menggelinding karena tertabrak kaki Fenly, Fenly pun mengambil dan berniat memberikannya pada Gilang yang menghampiri mereka.


"Eh Fen, Son kalian di sini?" Gilang melambatkan langkahnya.


"Biasalah apel pagi," ucap Zweitson malas. Gilang melirik Zweitson sambil tertawa kecil.


"Woy Lang! Tika nggak ikut olahraga?" tanya Fenly.


"Ikut kok," jawab Gilang.


"Mana? Kok gue lihat nggak ada," bingung Fenly.


"Iya tadi ikut. Sekarang nggak. Soalnya tadi dia pingsan terus dibawa deh ke UKS," tutur Gilang.


"Pingsan?! Serius Lo?!" Fenly membulatkan matanya.


"Bohong," ucap Gilang. Melihat kedua orang di hadapannya bingung, Gilang pun melanjutkan ucapannya. "Ya serius lah."

__ADS_1


Priit... Priit...


"Gilang!" panggil Pak Roby membuat Gilang menoleh ke belakang.


"Cepat ambil bolanya!" teriak Pak Roby dari tengah lapangan.


"Iya Pak!" jawab Gilang sedikit berteriak.


"Mana Fen bolanya!" minta Gilang. Namun Fenly malah terlihat bengong.


"Lama Lo," sarkas Gilang yang langsung merebut bola basket dari tangan Fenly.


Zweitson yang melihat Fenly menatap dengan tatapan kosong berinisiatif untuk menepuk pundaknya, "Fen!"


Fenly tersadar dan melihat Zweitson. "Jangan bengong, ntar kesambet Lo. Dibawah pohon lagi," kata Zweitson.


"Son gue ke UKS dulu. Lo tolong izinin ke guru di kelas. Oke?"


"Thanks!" sambung Fenly menepuk nepuk punggung Zweitson dan langsung berlari menuju UKS.


"Woy Fen! Fenly!" teriak Zweitson yang tidak lagi didengar oleh Fenly.


Fenly terus berlari menyusuri koridor sekolah. Dia tidak bohong, kali ini dia benar-benar khawatir pada kekasihnya itu. Akhir-akhir ini, kekasihnya itu sering sekali jatuh pingsan. Dia takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Cantika.


Tidak itu tidak boleh terjadi, pikirnya.


Dengan napas memburu, akhirnya Fenly tiba di sebuah ruangan yang terdapat papan kecil bertuliskan UKS.


Tanpa pikir panjang, Fenly langsung mengetuk pintu yang sedikit terbuka itu.


Tok Tok Tok


"Permisi!" izinnya.


"Silahkan masuk!" ucap seseorang dari dalam.


Setelah mendapat izin, Fenly langsung membuka pintu itu lebar-lebar dan menampakkan seorang gadis yang tidak asing baginya terbaring lemas di atas brangkar.


"Pacar saya kenapa dok?" ucap Fenly spontan membuat dokter itu mengangkat satu alisnya.


"Eh maksud saya teman saya. Teman saya kenapa ya dok?" tanya Fenly serius.


Dokter itu menahan senyumnya. "Kamu tenang saja, temennya gak kenapa-napa kok. Cuma memang tekanan darahnya sangat rendah."


Fenly mendengar dengan seksama penuturan dokter itu. Kemudian dia melihat kekasihnya dengan perasaan iba.


"Saya sarankan harus banyak minum vitamin dan rutin mengonsumsi obat penambah darah setiap satu minggu sekali," terang dokter itu.


"Syukur deh. Kira-kira kapan ya dia siuman?" tanya Fenly.


"Mungkin sebentar lagi." Fenly mengangguk paham. Setidaknya kini hatinya terasa sedikit tenang.


Dengan nampan berisi secangkir teh dan sebungkus roti di tangannya, Fiki berusaha mempercepat langkahnya agar segera sampai di UKS. Dia takut meninggalkan Cantika sendirian, ya meskipun ada dokter yang menjaganya di sana.


Namun, saat Fiki memasuki ruangan itu. Dia melihat seseorang duduk di kursi samping brangkar Cantika. Menjaga Cantika di sana. Sejenak Fiki menghentikan langkahnya.


'Siapa?' tanyanya dalam hati.


"Mas, langsung taruh di meja samping brangkar saja ya," ucap seseorang di belakang Fiki yang ternyata adalah dokter tadi.


Fiki menoleh ke belakang, "Iya dok."


Fenly yang sedang duduk di samping Cantika pun ikut menoleh ke sumber suara. Dan ya pandangnya bertemu dengan sosok Fiki.


"Fiki? Lo di sini?" tanya Fenly keheranan.


'Harusnya gue yang nanya kayak gitu ke elo' geram Fiki.


"Iya," acuh Fiki sembari meletakkan secangkir teh dan roti di meja.


"Kok Lo di sini? Bukannya ada kelas," Fiki balik bertanya.


"Iya sih. Tapi waktu gue denger kalau Tika pingsan gue langsung izin buat nemenin dia," jelas Fenly.


"Oh," Fiki mengangguk. "Gimana kata dokter kondisinya?" tanya Fiki datar.


"Katanya sih bentar lagi dia siuman. Tekanan darahnya rendah." Fiki manggut-manggut.


"Syukur deh kalau nggak ada yang dikhawatirin." Fenly mengangguk setuju.


"Oiya. Lo yang bawa Tika ke sini?" tanya Fenly pada Fiki.


"Iya."


"Thanks banget ya!" ucap Fenly berdiri dan menepuk pundak Fiki.


"Sekarang Lo bisa balik. Biar gue aja yang jagain Tika," ucap Fenly mengulas senyum.


"Bener juga. Harusnya gue nggak perlu khawatir, kan ada Lo yang selalu jagain dia," lirih Fiki sangat lirih.


"Gimana?" tanya Fenly yang seperti mendengar ucapan Fiki namun tidak jelas.


"Enggak," Fiki menggeleng.


"Iya sih, Pak Roby pasti juga udah nungguin gue," alibi Fiki.


"Yaudah gue cabut dulu. GWS buat Tika!" ucap Fiki sambil memaksakan senyumnya.


"Makasih. Nanti gue sampein ke dia," ucap Fenly.


Fiki mengangkat jempolnya dan berjalan keluar ruangan serba putih itu. Tak lupa ia berpamitan pada dokter di ruangan itu.


Perlahan Fiki menutup pintu UKS dan berjalan menyusuri koridor sekolah menuju lapangan basket. Sambil merutuki dirinya sendiri.


'Ngapain Lo peduli?! toh udah ada yang peduli sama dia,' batin Fiki dengan sudut bibir terangkat. 'Nambah-nambahin luka aja!'


Fiki pun mempercepat langkahnya. Daripada terus memikirkan hal itu sebaiknya Fiki segera sampai di lapangan, agar bisa kembali bermain dengan teman-temannya dan melupakan kesedihannya.


***


...๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€...


...*Haiii, Author Come Back***๐Ÿ˜† **Soalnya PTS nya baru selesai....


.......


...Maaf banget baru bisa update ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ™...


.......


...Makasih juga buat yang masih setia menunggu kelanjutan kisah cinta Fiki cs. Sayang readers banyak-banyak ๐Ÿ’™...


.......


...*Jangan lupa like dan komen yauw, thanks***๐Ÿฅฐ**...

__ADS_1


__ADS_2