
...Happy Reading 🥰...
...----------------...
Seperti biasa, sebelum penilaian akhir tahun berlangsung akan ada pelaksanaan olimpiade siswa baik dari tingkat sekolah, kabupaten, provinsi, hingga nasional. Maka dari itu, SMA Pelita Bangsa juga turut mempersiapkan siswa-siswi terbaiknya untuk berjuang mewakili sekolah dalam berbagai olimpiade tersebut.
Ada beberapa olimpiade yang diselenggarakan oleh PUSPRESNAS atau Pusat Prestasi Siswa Nasional, mulai dari sains, olahraga, dan seni.
Hari ini, di Mading sekolah tertempel pengumuman bahwa akan diadakan seleksi OSN tingkat sekolah. Bagi siapa saja yang tertarik langsung daftarkan diri di link yang sudah disediakan.
Awalnya Fiki merasa sangat excited untuk mengikuti seleksi itu. Sebelum akhirnya dia dipanggil pak Fendy ke ruang guru untuk menemuinya.
"Fiki, bapak tahu bahwa kemampuan kamu di bidang musik sangat mumpuni. Dan bapak yakin jika kamu mengikuti FLS2N tahun ini mewakili sekolah kita, kamu pasti bisa jadi juara," tutur Pak Fendy mantap.
Fiki sempat terkejut mendapat apresiasi itu dari pak Fendy. "S-saya Pak?" ucap Fiki terbata-bata.
"Iya kamu. Kamu bersedia kan untuk mengikuti olimpiade ini?" tanya Pak Fendy.
"Tidak diseleksi dulu pak? Soalnya kan..."
"Tidak perlu. Bapak yakin kamu layak. Lagipula bapak juga sudah melihat rekap prestasi kamu di sekolah sebelumnya. Dan itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa kamu mampu dan bisa jadi juara," jelas Pak Fendy memperkuat argumennya.
Setelah mendapat kepercayaan seperti itu, tentu saja Fiki tidak bisa menolak penawaran dari Pak Fendy. Mungkin awalnya dia sangat ingin mengikuti OSN karena ingin mendapat pengalaman baru. Namun, karena kesempatan untuk mengikuti FLS2N lebih besar, maka tidak ada alasan untuk berkata tidak.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Fiki dan Cantika memutuskan untuk melipir sebentar ke perpustakaan tanpa sepengetahuan siapapun, kecuali Fenly. Cantika mengatakan pada Fenly bahwa dia akan ke perpustakaan tapi tidak mengatakan dengan siapa dia pergi. Jadi Fenly tidak perlu menunggunya dan dia ada waktu untuk berdua dengan Fiki.
Setelah sampai di perpustakaan, Fiki dan Cantika langsung duduk di kursi yang saling berhadapan dengan meja bundar yang berada diantara keduanya. Dekorasinya hampir mirip dengan sebuah cafe, bahkan tempat ini dinamakan "Cafe Literasi".
Perpustakaan SMAPSA berada di lantai atas. Ada dua bagian dalam perpustakaan ini. Satu di dalam ruangan dan satu lagi di luar ruangan, tepatnya di balkon. "Cafe Literasi" itulah yang ada di luar, jadi membaca di sini sangatlah nyaman. Karena selain cahaya yang bagus, udaranya juga sejuk.
Saat keduanya baru saja duduk, Cantika langsung membuka pembicaraan. "Kamu ikut kan?"
Fiki menoleh ke arah Cantika. "OSN?" tanyanya dengan satu alis terangkat.
"Iya. Kamu kan pinter, masa gak ikut sih," ucap Cantika penuh semangat diiringi tawa.
"Kamu ikut?" tanya Fiki.
"Iyalah. Karena aku tahu kamu pasti juga ikut," ucap Cantika sambil membuka buku yang baru saja ia keluarkan dari dalam tas. Terlihat rona bahagia di wajahnya. Entah karena apa. Tapi mungkin saja karena dia mengira bahwa dia akan bisa mengejar cita bersama dengan orang yang dicintainya.
"Tapi aku nggak ikut," seketika ucapan Fiki membuat rona bahagia itu hilang dari wajah Cantika.
"Hah! Serius? Kenapa?" Cantika ternganga.
Fiki menghela napas dan tersenyum, "Iya. Awalnya sih emang mau ikut, tapi tiba-tiba pak Fendy milih aku buat jadi perwakilan sekolah di FLS2N."
"Tanpa seleksi?" tanya Cantika yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Fiki.
"Kategori apa?"
"Penyanyi Solo."
Terdengar helaan napas dari Cantika. "Yahhh sayang banget."
"Hehhh jangan lemes gitu dong," Fiki meraih tangan Cantika. "Kamu harus tetep semangat buat ikut seleksi, meski ada atau nggak ada aku. Aku yakin kamu pasti bisa!" ucap Fiki sambil tersenyum lebar.
Cantika mengangguk. "Senyum dulu dong," pinta Fiki lembut.
Cantika tersenyum sangat kecil, sepertinya itu senyuman yang terpaksa.
"Ini kan permintaan langsung dari Pak Fendy, aku nggak enak buat nolaknya. Sebenarnya juga aku emang ada rencana buat ikut seleksi OSN, tapi..."
"Iya aku ngerti kok." Cantika menepuk-nepuk tangan Fiki yang menggenggam tangannya.
"Mungkin ini memang jalan terbaiknya. Kita sama-sama support aja, meski jalannya beda," Cantika tersenyum sangat tulus. Senyuman itu juga berhasil membuat Fiki tersenyum.
"Makasih ya!"
"Iyaa."
***
Malamnya, Fajri dan Gilang memutuskan untuk belajar bersama di rumah Fiki. Malam ini Fajri memang tidak bekerja, karena cafe tempatnya bekerja akan tutup selama beberapa hari karena masalah operasional.
Sesampainya di rumah Fiki, mereka disambut dengan baik. Terbukti banyak makanan dan minuman yang disuguhkan oleh Bu Ani.
"Wihhh sabi nih tiap hari belajar di sini," ucap Gilang dengan mata berbinar menatap hidangan di meja.
Fajri menepuk lengan Gilang dengan bukunya. "Kesini mau belajar apa numpang makan Lo?"
"Kalau bisa keduanya kenapa tidak?" tawa Gilang menggema di seluruh ruangan. Kedua temannya pun sontak ikut tertawa.
"Stt udah jangan rame-rame," ucap Fiki mengingatkan. Lagipula ini juga sudah malam.
"Udah yok lanjut lagi belajarnya," sambung Fajri.
Mereka bertiga pun kembali fokus pada pelajaran sambil sesekali menyomot camilan yang ada di meja.
Selang beberapa waktu datang seseorang berperawakan tinggi tegap yang memancarkan aura karismatik yang kuat. Membuat siapapun kicep hanya karena mendengar derap langkanya, termasuk Fajri dan Gilang.
"Ekhem," deheman orang itu membuat kedua teman Fiki menelan ludah.
"Eh papa," sapa Fiki yang menyadari bahwa yang menghampiri mereka adalah Papa-nya.
Fajri dan Gilang beradu pandang. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat perawakan ayah Fiki. Tidak menakutkan, hanya saja beliau terlihat sangat galak.
Tak tunggu lama, Fajri dan Gilang langsung menyalami Pak Ananta dan mengucapkan sapaan.
"Halo Om," ramah keduanya. Pak Ananta mengangguk sambil tersenyum.
"Nah gini nih yang Papa suka. Kalau nongkrong bukan nongkrong-nongkrong nggak jelas. Tapi nongkrong buat belajar, kan ada manfaatnya."
"I-iya Om," balas Fajri gugup.
Sementara itu, Gilang malah teringat dengan sound t*k t*k yang sempat viral dan menyanyikannya dengan lirih, "Tongkrongan kami, bukan tongkrongan..."
"Hey kamu!" tunjuk Pak Ananta pada Gilang yang membuat nyanyiannya terpotong.
"Siap Ndan!" ucap Gilang tiba-tiba sambil hormat. Hal itu membuat Fiki dan Fajri menahan tawa karena tingkah Gilang yang terlihat konyol.
"Siapa nama kamu?" tunjuk Pak Ananta pada Gilang.
__ADS_1
"Siap Gilang!" jawab Gilang yang tiba-tiba saja berdiri dari duduknya dan memperagakan 12 sikap sempurna yang biasanya ada dalam PBB.
"Ahahaha kocak kamu." Tak disangka tingkah Gilang itu malah membuat seorang Pak Ananta tertawa.
Gilang yang dikatai seperti itu hanya bisa nyengir sambil menggaruk rambut kepalanya. Tawa dari kedua temannya pun ikut pecah seiring dengan kelakuan random si Gilang.
"Ya sudah papa ke atas dulu," ucap Pak Ananta sambil menepuk pundak Fiki.
"Iya Pa," balas Fiki tersenyum.
"Kalian yang rajin belajarnya!"
"Siap Om!" tegas Gilang sambil menghormat. Melihat hal itu membuat Pak Ananta geleng-geleng kepala sambil menahan tawa. Lalu setelah itu, beliau pun melenggang pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Tumben nggak lihat Bang Shan," celetuk Fajri setelah beberapa menit fokus pada guratan kata yang tertulis dalam buku.
"Belum balik. Paling bentar lagi," sahut Fiki yang tetap fokus pada lembaran kertas di depannya.
Benar saja, tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dan derap langkah kaki seseorang.
"Assalamualaikum!"
"Waallaikumussalam," kompak ketiga remaja laki-laki itu.
"Eh kalian di sini?" tanya orang itu yang tak lain adalah Shandy.
"Iya bang, lagi nugas bareng," jawab Fajri sambil tertawa kecil. Diraihnya telapak tangan Shandy, "Eh ngapain?" Shandy terperanjat.
"Mau salim."
"Lah lawak. Gue bukan bapak Lo kali, udah santai aja," Shandy terkekeh lalu berjalan menuju kamarnya.
"Dah lanjutin belajarnya! Gue mau mandi dulu," ucap Shandy yang semakin lirih seiring langkahnya yang kian menjauh.
Fiki yang sudah katam dengan kelakuan abangnya itu hanya bisa menahan tawa, "Fajri... Fajri... Kayak nggak tahu bang Shan aja Lo."
"Mandi malem-malem bukanya nggak baik ya buat kesehatan?" tanya Gilang tiba-tiba yang membuat kedua temannya menoleh dengan alis bertaut.
"Sejak kapan Lo jadi anak IPA?" balas Fiki.
Gilang berdecih, "Ah elah! Nanya doang salah?! Heran gue."
***
Saat sampai di rumah, setelah belajar kelompok bersama Fiki dan Gilang, Fajri langsung mematikan mesin motornya dan memarkirkannya di tempat biasa. Ia berjalan menuju ke dalam rumah. Namun langkahnya terhenti ketika terdengar kerusuhan dari dalam.
"Saya tidak akan mengizinkan Anda menemui adik saya!"
Suara lantang Ricky membuat Fajri tertegun dan bertanya-tanya, dengan siapa Ricky berbicara?
"Saya bilang tidak! Berarti tidak!"
Perlahan Fajri kembali melangkahkan kakinya, mencoba mencari tahu dengan siapakah Abangnya itu bersitegang. Saat Fajri sampai di ambang pintu, ia melihat Ricky tengah berbicara dengan seseorang dalam telepon.
"Saya masih bisa menghidupi adik saya dan saya! Jadi Anda tidak perlu sok perduli seperti itu!" tegas Ricky yang membuat Fajri akhirnya paham dengan siapa Abangnya itu berbicara. Dari kalimat-kalimat yang dilontarkan Ricky, Fajri sudah bisa menebak dan tebakannya tidak mungkin meleset tentang siapa orang dibalik telepon itu.
"Anda tidak perlu memikirkan kami lagi!" pungkas Ricky sebelum akhirnya menutup sambungan telepon itu.
"Bang," panggil Fajri lembut.
Sontak hal itu membuat Ricky tersentak. "Eh- udah balik Jri?"
"Dia ganggu Abang lagi ya?" tanya Fajri parau.
Ricky yang tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan Fajri malah memasang wajah bingung. "Dia siapa?"
"Udah lah bang, aku udah denger semuanya. Bang Rick nggak perlu sembunyiin ini semua!" Fajri menatap dalam Ricky.
Dengan berat Ricky berucap, "Hhh iya. Tapi kamu tenang aja, bang Rick jamin dia nggak bakal ganggu kita lagi." Ricky mengusap kedua bahu Fajri.
"Kenapa sih bang? Kenapa dia harus muncul lagi setelah susah payah kita sembuhin luka kita? Kenapa?" tanya Fajri dengan kepala menunduk.
"Jri," Ricky menepuk bahu Fajri agar pemiliknya itu mendongak dan menatap matanya. "Apapun yang terjadi, Abang akan selalu ada buat Fajri. Abang nggak akan biarin siapapun misahin kita berdua. Termasuk Dia. Kamu jangan khawatir!"
"Hhh.. iya Bang."
"Tapi apa kamu beneran nggak mau ketemu sama dia?" tanya Ricky.
Dengan cepat Fajri menggeleng, "Enggak!"
"Kenapa Bang Rick nanya gitu?!" sambung Fajri.
"Abang cuma takut kalau alasan kamu nggak mau ketemu dia, karena kamu takut Abang marah."
Fajri menggeleng pelan dan berkata, "Bukan itu alasan Fajri bang. Tapi nggak akan ada orang yang mau ketemu sama orang yang udah bikin ibunya menderita dan meninggalkan anaknya untuk selama-lamanya! Nggak ada bang!" ucap Fajri menggebu.
"Bang Rick kira aku nggak benci sama dia?"
Mendapat pertanyaan itu dari adiknya, Ricky tidak menjawab. Dia juga bingung harus mengatakan apa.
"Walaupun aku nggak terlalu inget sama wajah orang itu karena aku masih terlalu kecil waktu itu. Tapi kenangan pahit yang dia berikan nggak akan pernah hilang dalam ingatanku!" lugas Fajri dan langsung mendudukkan dirinya di sofa.
Melihat adiknya tersiksa juga membuat Ricky ikut merasakan penderitaannya. Dia mensejajarkan posisinya dengan Fajri.
"Istighfar Jri," Ricky mengusap punggung Fajri.
Fajri tidak biasanya marah, apalagi sampai kesal seperti ini. Tapi dia pasti akan langsung tersulut emosi jika sudah berkenaan dengan masa lalunya. Fajri adalah korban yang paling merasakan penderitaan akibat masa lalu itu.
'Bang Rick tahu Jri, kalau rasa benci kamu ke dia jauh lebih besar dibandingkan kebencian Abang. Bang Rick janji akan selalu buat kamu bahagia dan melupakan masa lalu yang menyakitkan itu,' janji Ricky pada dirinya sendiri.
***
"Woy!" getak Shandy pada Fiki yang tengah asyik melamun di balkon kamarnya.
"Hihh bang Shan ngagetin!" pekik Fiki sambil mengelus dadanya karena takut jantungnya copot.
"Lagian Lo malem-malem bukanya tidur, malah ngelamun. Kesambet baru tahu rasa Lo!"
"Dih nyumpahin lagi," sewot Fiki.
"Udah tidur sana!"
__ADS_1
Bukanya menuruti perintah Abangnya, Fiki malah kembali menatap hamparan bintang di langit malam itu.
"Bang.." panggil Fiki.
"Hmm?"
"Kangen deh sama gitar kesayangan Fiki. Biasanya kalau malem-malem gini suka jamming," ucap Fiki tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari langit.
Shandy yang mendengar pernyataan itu hanya bisa tersenyum sambil berkata dalam benaknya, 'Tunggu aja Fik, bentar lagi Lo bakal bisa jamming sambil lihat bintang-bintang.'
Fiki yang tidak mendengar respon dari Shandy pun menoleh ke arahnya. "Bang?" panggilnya tatkala melihat Shandy yang malah memandangnya sambil tersenyum.
"Woy bang!" Fiki menepuk bahu Shandy. Sontak saja hal itu membuat Shandy tersadar, "Eh-"
"Ah eh ah eh! Diajak ngobrol malah bengong! Senyum-senyum lagi," ucap Fiki bergidik ngeri.
"Ckk."
"Gue ni lagi galau! Hibur kek apa kek?" protes Fiki tak terima.
Shandy menghela napas, "Adekku mau dihibur gimana??" tanyanya sambil mencubit pipi chubby Fiki dengan gemas.
"Aduh! Sakit bang!" kesal Fiki mengelus pipinya yang terasa panas.
"Makanya udah deh sono tidur! Udah larut juga, besok sekolah!" final Shandy yang dengan paksa menggeret Fiki untuk masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon.
"Bang, Fiki mau cerita," ujar Fiki tiba-tiba lalu duduk di tepi ranjang.
Shandy yang semula hendak keluar dari kamar itu kembali mengurungkan niatnya dan memilih duduk di samping Fiki.
"Mau cerita apa?"
"Tadi di sekolah, Pak Fendy nunjuk Fiki buat mewakili sekolah di ajang FLS2N," tutur Fiki.
"Wah keren dong. Pasti buat ikut lomba nyanyi kan?" tebak Shandy sumringah.
"Iya bang. Fiki nggak nyangka bakalan dapet amanah semudah ini," kekeh Fiki.
Dengan seulas senyum Shandy merangkul Fiki dari samping, "Itu artinya Pak Fendy percaya kalau Fiki mampu buat jadi yang terbaik. Jadi Fiki harus melakukan yang terbaik. Oke?"
Hati Fiki tersentuh mendengar wejangan dari Abangnya itu, tanpa sadar sebuah senyuman tulus terbit di wajahnya.
"Semangat!!!" Shandy mengepalkan tangannya dan menggoyang pelan tubuh Fiki.
Kedua kakak beradik itu saling melempar tawa hingga akhirnya seseorang masuk dengan suara yang mengintimidasi.
"Apa?!"
Sontak suara itu membuat Shandy dan Fiki menoleh ke arahnya.
"Untuk apa?!" tanya Pak Ananta dengan suara yang masih meninggi.
"P-papa?" Fiki berdiri. Begitupun Shandy yang juga ikut bangkit dari duduknya.
"Kenapa kamu nggak ikut olimpiade sains?"
"F-fiki... Sebenarnya..." ucap Fiki terbata-bata.
"Pa, Fiki itu-"
"Diam kamu!" Pak Ananta menunjuk ke arah Shandy. "Papa sedang bertanya sama adik kamu!"
"Kenapa Fiki?" tanya pak Ananta lagi.
"S-sebenarnya Fiki mau ikut olimpiade sains Pa, tapi guru Fiki yang langsung nunjuk Fiki untuk ikut lomba nyanyi," jelas Fiki dengan suara bergetar.
"Terus kamu mau-mau aja gitu?" Pak Ananta terus menyudutkan Fiki.
"Fiki nggak mungkin nolak Pa. Lagian Fiki juga lebih yakin dengan kemampuan Fiki dibidang seni daripada-"
"Cukup!" sentak Pak Ananta membuat ucapan Fiki terhenti.
Shandy yang juga ikut terkejut dengan hal itu langsung meletakkan tangannya di bahu Fiki, berusaha menguatkan adiknya itu.
"Guru kamu itu nggak tahu apa yang terbaik buat kamu! Dan papa minta kamu mengundurkan diri dari lomba itu lalu ikut olimpiade sains!"
"Pa, tapi..."
"Nggak ada tapi-tapian! Dengerin kata papa!" final Pak Ananta dan langsung pergi dari hadapan dua anak laki-lakinya.
Fiki hanya bisa menunduk sambil menghembuskan napas berat. Terlihat raut kekecewaan di wajahnya. Bagaimana tidak? Orang tuanya sendiri bahkan tidak pernah mendukung impiannya. Impian yang mungkin saja bisa membanggakan mereka di masa depan.
Shandy yang melihat Fiki terpuruk seperti itu tak bisa melakukan banyak hal. Dia hanya bisa berusaha menguatkan dan menguatkan, ya hanya itu.
"Fik, tenang aja. Bang Shan bakal coba bujuk papa." Shandy melangkah pergi, namun langkahnya terhenti karena Fiki menahan lengannya.
"Nggak perlu bang, percuma," parau Fiki dengan kepala menggeleng pelan.
Shandy menepuk pelan telapak tangan Fiki yang mencekal lengannya. Lalu melepaskannya pelan. "Tenang aja."
Setelah mengatakan hal itu, Shandy berlalu setelah menutup pintu kamar Fiki. Kini tersisa Fiki, seorang diri dan meratapi nasib dirinya sendiri.
Fiki merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit dengan hembusan napas panjang. Seolah beban besar kembali menghantam dadanya. Terasa sesak dan menyakitkan. Ingin rasanya dia teriak sekencangnya. Berharap sesak itu sedikit reda.
Diletakkanya bantal ke atas wajahnya. "AAARGHHH!" teriak Fiki dengan terisak. "KENAPA???!!!"
Muncul banyak protes dalam benak Fiki. Kenapa Papanya sendiri tidak pernah bisa mendukung impiannya, tidak pernah bisa mendukung keinginannya, dan selalu memaksakan kehendaknya. Padahal di sisi lain, banyak orang yang bahkan tak memiliki hubungan darah dengan Fiki, mereka selalu mendukung Fiki, mengerti akan impian dan keinginannya. Lantas kenapa Papanya tidak bisa bersikap seperti itu?
Ingin rasanya Fiki memberontak dan melakukan apapun yang dia inginkan, tapi hati kecilnya tak pernah mengizinkan hal itu. Dia tak pernah diajari bersikap kurang ajar pada orang, terlebih pada orang tuanya sendiri. Dia tahu bahwa apa yang papanya lakukan adalah untuk kebaikannya. Tapi apakah Fiki tidak berhak menentukan pilihannya sendiri? Semua ini terasa tidak adil baginya.
Kini, Fiki hanya bisa pasrah tentang apapun yang akan menjadi masa depannya kelak.
***
...🥀🥀🥀...
...Makasih buat pembaca setia novel ini dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan 🥰🙏...
.......
...Alhamdulillah bisa up lagi, maaf udah nunggu lama, hehe...
__ADS_1