
...Happy Reading😍...
****
Setelah mengambil motornya di bengkel Ricky, akhirnya Fiki tiba di kediaman keluarga Ananta.
Fiki langsung menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.
"Baru pulang?" tanya Shandy yang ternyata sedang rebahan di kasur adiknya itu.
"Lah ngapain Lo bang di kamar gue?!" sinis Fiki.
"Ditanya malah balik nanya! jawab dulu napa!"
"Iya. Tadi ngambil motor dulu di bengkel, mangkanya telat," jawab Fiki dengan wajah lesu.
"Oh," jawab Shandy singkat sambil memainkan ponselnya.
"Udah gitu doang?! Yaudah keluar napa bang! Gue capek mau istirahat!" Sarkas Fiki.
"Aelah ngusir, biasa aja kali!" sewot Shandy.
"Lagian Lo udah punya kamar sendiri ngapain rebahan di kamar orang!"
Shandy berjalan keluar sambil menye-menye. Fiki yang geram langsung menutup pintu kamarnya dan bergegas membersihkan diri sebelum merebahkan diri di pulau kapuk miliknya.
Setelah membersihkan diri, Fiki membuka tas nya dan mengambil selebaran yang ia dapatkan dari kepala sekolahnya tadi pagi.
Pamflet itu berisi beberapa ekstrakurikuler yang ada di sekolahnya. Kepala sekolah mewajibkannya untuk mengikuti salah satu atau lebih ekstrakurikuler yang ada.
Fiki membuka layer demi layer pamflet yang diberikan padanya. Ada banyak jenis ekstrakurikuler yang ada, seperti basket, voli, futsal, karate, Pramuka, Paskibraka, seni tari, seni suara, PMR, dan masih banyak lagi.
Sebenarnya Fiki minat dengan semua itu. Saking banyaknya pilihan, Fiki sampai bingung harus memilih yang mana. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada kawan barunya.
^^^Anda^^^
^^^Assalamualaikum, Fajri^^^
Untungnya saat di bengkel tadi mereka sempat bertukar nomor untuk memudahkan komunikasi.
Fajri
Waallaikumussalam. Kenapa Fik?
^^^Anda^^^
^^^Mau nanya nih. Lo di sekolah ikut ekskul apa?^^^
Fajri
Gue ikut basket sama seni suara
^^^Anda^^^
^^^Iya deng, lupa gue. Lo kan kapten tim basket, wkwkwk^^^
Fajri
Kenapa lo nanya?
^^^Anda^^^
^^^Gue bingung nih mau ikut ekskul apaan?^^^
Fajri
Ya Lo pilih aja sesuai minat dan bakat Lo.
^^^Anda^^^
^^^Gue tu suka musik. Terus waktu di sekolah gue yang dulu, sering ikut event-event musik gitu.^^^
Fajri
Ya udah ikut ekskul seni suara aja!
^^^Anda^^^
^^^Oke lah. Tapi ngomong ngomong di ekskul seni suara, apa cuman kita cowoknya?^^^
Fajri
Enggak sih. Ada temen gue 1 lagi. Anak IPA 1
***
Sementara di tempat lain, ada 2 cewek yang sedang asik ngobrol sambil makan camilan.
"Eh Ras, Lo tadi sibuk banget ya? Sampek nggak ikut pelajaran sama sekali," tanya Tika.
"Iya nih. Kan acara dies natalis sekolah kita sebentar lagi. Jadi banyak yang harus disiapin."
"Ouh. Btw tadi ada anak baru lho di kelas kita."
"Wah iya? Siapa?" tanya Laras antusias.
__ADS_1
"Namanya Fiki."
"Apa? Jadi dia sekelas sama gue?" lirih Laras tak percaya.
"Apa?" tanya Tika yang tidak jelas dengan ucapan Laras karena terlalu pelan.
"Ehm eng__enggak kok," gugup Laras sambil menggaruk rambutnya.
Drtttt
Suara notifikasi handphone Laras. Terlihat ada sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.
+62....
P
^^^Anda^^^
^^^Pa pe pa pe!! Pentol?!^^^
^^^Nggak sopan banget!^^^
^^^Siapa sih?!^^^
+62....
Wehee sans dong!
Calm
^^^Anda^^^
^^^Basi!^^^
^^^Siapa sih?!^^^
+62....
Fiki
Satu kata membuat mata Laras melotot tak percaya. Orang yang baru saja ia haluin, tiba-tiba ngechat dia duluan.
"Avv!! Demi apa woyy!!!" teriak Laras yang mengejutkan Tika.
"Ishh, apaan sih Ras! Ngagetin aja Lo!" keluh Tika sambil menyumpel telinganya.
Laras yang kelepasan langsung membungkam mulutnya sendiri. Sambil menggelengkan kepalanya.
"Hehe, maaf kelepasan. Nggak ada apa-apa kok," salam dua jari.
"Enggak ada kok. Beneran nggak ada apa-apa Cantika____" Laras mencubit gemas sahabatnya itu.
Sepertinya Laras sedang tidak ingin bercerita padanya. Sebaiknya Tika pasrah saja, percuma juga nanya kalau Laras nggak mau jawab.
Trengg
Notifikasi kembali terdengar, membuat Laras kembali fokus pada telepon pintarnya itu.
+62....
Lo Laras kan? Wakil ketua OSIS?
pesan itu kembali mengalihkan perhatian Laras, dan membuat pertanyaan Tika kembali tak mendapat jawaban.
^^^Anda^^^
^^^Iya bener^^^
+62....
Mau nanya nih!
^^^Anda^^^
^^^Btw Lo tau nomer gue dari siapa?^^^
+62....
Dari Fajri
Ya___ saat Fiki sedang berbalas pesan dengan Fajri beberapa saat lalu. Ia meminta nomor orang yang bisa ia hubungi untuk mendaftar ekskul. Karena Fajri tidak punya nomor sang Ketos ia pun memberikan nomor Waketos.
^^^Anda^^^
^^^Oh Fajri.^^^
+62....
Hmm
^^^Anda^^^
^^^O ya mau nanya apa?^^^
+62....
__ADS_1
Gue mau daftar eksul seni suara. Kira-kira kalau daftar ke siapa ya?
^^^Anda^^^
^^^Oh itu. Langsung ke Pak Fendi aja, kebetulan beliau pembinanya.^^^
+62....
Yang mana tuh orangnya? Gue kan murid baru.
^^^Anda^^^
^^^Gini aja, besok gue anterin. Gimana?^^^
+62....
Yaudah deh
^^^Anda^^^
^^^Oke^^^
Setelah mengakhiri pesan dari Fiki, Laras malah cengar-cengir membuat Tika bertanya-tanya, siapa yang membuat sahabatnya seperti orang gila.
"Heh, kenapa Lo?" tanya Tika menyenggol lengan Laras.
Bukannya menjawab, Laras malah geleng-geleng sambil terus tersenyum. Hal itu semakin membuat Tika takut. Apakah sahabatnya baik baik saja?
"Heh! Sadar Ras! kenapa Lo?" panik Tika.
"Tik, gue pamit pulang dulu ya. Byee sampai jumpa besok!" peluknya pada Tika.
Tika hanya melongo melihat keanehan sahabatnya sambil membatin, kenapa dia punya sahabat seperti itu. Tapi bagaimanapun si Laras, hanya dia yang sefrekuensi dengan Tika.
***
Makan malam hari ini, Bu Ani memasak rendang daging untuk keluarga Ananta sebagai obat penawar rindu pada kampung halaman.
Dentingan sendok dan piring saling beradu, terdengar seperti irama lagu.
"Gimana hari pertama sekolah?" tanya Pak Ananta pada Fiki.
O ya, hari ini papanya Fiki masih bisa ikut makan malam bersama karena dinasnya masih esok lusa.
"Alhamdulillah lancar pa," jawab Fiki sambil mengunyah makanannya.
"Ada informasi apa?" tanya pak Ananta lagi.
"Nggak ada sih. Tapi tadi disuruh pilih ekskul."
"Ehmm saran Papa, kamu harus ikut Paskibraka! Soalnya itu akan melatih mental dan fisik kamu. Kamu harus bisa jadi TNI!" desak Pak Ananta.
"Pa___," lirih Bu Ani sambil memegang tangan suaminya. Pandangan matanya seolah memberi isyarat untuk tidak membahas masalah itu.
Raut wajah Fiki mendadak berubah muram. Dia yang sebelumnya lahap menyantap masakan mama tercinta, seketika tak berselera lagi.
Shandy menatap sendu sang adik, seolah merasakan kesedihan yang dialaminya.
Ya___ satu kata yang bisa menggambarkan suasana malam ini, yaitu kecewa. Kecewa karena tidak bisa memenuhi harapan sang papa.
Postur tubuh Fiki memang mendekati kata sempurna, jika kelak menjadi seorang prajurit negara. Namun siapa sangka, riwayat penyakit asma yang dideritanya telah menghalanginya untuk mewujudkan impian itu.
Sebenarnya itu bukanlah impian Fiki, tapi impian papanya. Jika boleh jujur, Fiki ingin menjadi seorang musisi. Bakat yang dimiliknya dalam bidang seni musik memang tidak main-main. Selain memiliki suara yang indah, Fiki juga ahli memainkan alat musik seperti piano dan gitar.
Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda-beda. Seharusnya seorang Ananta bisa memahami hal itu.
"Maafin Fiki pa, karena nggak bisa memenuhi harapan papa. Tapi Fiki akan berusaha buat papa dan mama bangga lewat hal lain," ucap Fiki penuh kesungguhan.
Pak Ananta memejamkan mata mencoba untuk menahan amarahnya.
"Hal lain apa?" pelan namun tegas dan penuh penekanan.
"Musik," jawab Fiki hati-hati.
BRAAKKK
Pak Ananta menggebrak meja makan itu lalu berdiri. Raut amarah terpampang jelas di wajahnya. Tanpa sepatah kata, dia pun melenggang pergi.
Fiki yang sudah mengira bahwa hal ini akan terjadi, hanya bisa tertunduk sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.
Ani yang tidak tega melihat anak bungsunya langsung memeluk hangat Fiki, berharap memberikan ketenangan pada dirinya.
"Fiki___ tindakan papa nggak usah dimasukin ke hati ya nak. Percaya sama kemampuan Fiki! Selagi itu baik, mama pasti dukung. Semangat sayang!! Jangan menyerah ya!," kecupan hangat mendarat di pelipis Fiki.
"Iya Fik. Kejar apa yang jadi mimpi Lo! Gue sama mama akan selalu ngedukung Lo!" ucap Shandy lalu menepuk pundak Fiki. Berharap menyalurkan semangat pada adik kesayangannya itu.
"Mungkin sekarang papa belum bisa menerima semua ini. Mangkanya kamu harus bisa buktiin ke papa kalau kamu bisa jadi sosok yang luar biasa versi kamu!!" tambahan semangat dari motivator terhebat dalam hidup Fiki.
"Makasih ma, bang karena selalu dukung Fiki," ucap Fiki dengan tatapan haru.
...🥀🥀🥀...
...Makasih buat yang udah baca🥰...
...Jangan lupa buat like dan vote ya.....
__ADS_1
...Kritik dan saran ditunggu...