Coba Cintaku

Coba Cintaku
Chapter 29


__ADS_3

...Happy Reading 🥰...


...----------------...


...Mengapa Cinta Pertemukan...


...Bila Akhirnya Dipisahkan...


...Dan Mengapa Ku Jatuh Cinta...


...Pada Cinta Yang Tak Jatuh Padaku...


...🎶...


...(Bahaya - Tiara Andini & Arsy Widianto)...


***


"Shhh....," Laras meringis menahan nyeri yang kini bersarang di punggungnya. Dia menelungkupkan wajahnya ke atas meja dengan mata terpejam.


'Capek juga terus-terusan berjuang sendiri,' batinnya.


'Nahan buat nggak ngungkapin perasaan itu mudah. Tapi buat nahan cemburu itu susah.'


Dengan kasar ia hembuskan napas panjang. Setelah beberapa saat dan dirasa nyerinya sedikit hilang, Laras kembali menegakkan tubuhnya, lalu mengelus pelan punggungnya. "Aww."


Tak lama kemudian, seseorang datang dan menghampirinya.


"Laras," panggil orang itu membuat Laras menolehkan wajahnya.


"Lo nggak pa-pa?"


Laras mengangguk samar, "Nggak pa-pa Fik."


Fiki yang mendengar bahwa ternyata Laras terluka karenanya, langsung menuju kelas setelah kembali ke lapangan beberapa saat yang lalu.


"Punggung Lo pasti sakit kan? Mau gue anter ke UKS?" Dengan cepat Laras menggelengkan kepalanya.


Fiki berdiri dengan bertumpu pada kedua tangannya yang ia letakkan di atas meja Laras.


"Atau mau gue anter ke tukang urut lagi?" ucap Fiki dengan menatap lekat manik mata Laras.


"Nggak perlu Fiki. Gue baik kok," Laras tersenyum simpul.


Fiki berdecak. "Maafin gue ya. Gara-gara gue___"


"Sttt..." Laras meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Fiki. Membuat Fiki menghentikan ucapannya.


"Ini bukan salah Lo,"


Fiki menghela napas yang terdengar lelah. Lalu beranjak dari tempatnya berdiri dan mendudukkan dirinya di samping Laras.


"Kok Lo di sini?" Laras menengok ke arah Fiki


"Mau nemuin Lo," jawab Fiki mengulas senyum.


Laras menundukkan pandangannya, 'Kenapa di saat gue mau nyerah Lo Dateng lagi dengan membawa secercah harap.'


"Maksud gue, kok Lo nggak nemenin Tika?" tanya Laras yang sebenarnya membuat hatinya perih.


Fiki memandang lurus ke depan. "Ngapain gue peduli," acuhnya.


"Bukanya Lo emang peduli?" tanya Laras dengan alis bertaut.


"Nggak tuh," Fiki mengedikkan bahunya.


"Gue tau kok," Laras tersenyum tipis. "Apa yang Lo ucapin sama apa yang Lo rasain itu beda."


"Iya kan?" sambungnya.


Tidak ada jawaban dari Fiki. Hal itu membuat Laras semakin yakin akan opininya.


"Gue juga tau, kalau sebenarnya Lo itu masih suka sama Tika meski setelah Lo tau kalau dia udah punya pacar. Dan perasaan Lo ke dia masih tetep sama kayak dulu. Nggak berubah sedikitpun," mengatakan itu membuat mata Laras terasa panas. Dan memaksa cairan bening keluar dari sana. Namun, ia coba untuk membendungnya.


Dengan tetap memandang ke depan, Fiki menghela napas panjang. "Lo bener," lirihnya.


Jlebb


Rasanya kini ada sebuah pedang yang menghujam jantung Laras. Sakit__ namun tak berdarah.


'Bener kan gue,' Laras menyeringai.


"Ras," Fiki memutar tubuhnya menghadap Laras.

__ADS_1


"Hmm."


"Gue boleh jujur nggak sama Lo?"


Laras mengangguk, "Ngomong aja."


'Biasanya kalimat kayak gitu diucapin buat nyatain perasaan. Tapi gue yakin kalau kisah gue nggak seindah FTV,' batin Laras miris.


"Jujur gue emang masih punya perasaan sama Cantika," ucap Fiki.


"Gue udah coba buat lupain dia, tapi__ nggak bisa," Fiki menundukkan wajahnya.


"G-gue nggak bermaksud buat ngerusak hubungan dia sama Fenly, tapi___"


"Gue paham," Laras menepuk pundak Fiki.


"Gue tau kok kalau Lo juga udah berusaha buat ngejauhin dia. Tapi asal Lo tau Fik, Tika nggak pernah suka kalau Lo ngejuhin dia," jelas Laras.


"Maksud Lo?" Fiki mendongakkan kepalanya.


"Lo bakal tau sendiri jawabannya nanti," Laras menepuk-nepuk pundak Fiki sambil tersenyum. Tersenyum namun bukanlah senyuman yang sesungguhnya. Senyum yang hanya sebagai topeng.


"Dan yang perlu Lo inget adalah, gue bakal selalu ada dan jadi pendengar yang baik buat Lo Fik. Lo bisa cerita apa aja sama gue. Jangan dipendem sendiri, karena itu nggak enak," tulus Laras.


'Karena gue udah ngerasain nggak enaknya mendem perasaan sendiri,' batin Laras.


Terkadang kita pintar untuk menasihati orang lain. Namun, sulit untuk melakukannya pada diri sendiri.


***


"Saya keluar sebentar ya. Nanti kalau temennya sudah sadar langsung suruh minum dan makan dulu habis itu minum obat," ujar dokter UKS pada Fenly seraya tersenyum.


"Baik dok. Terima kasih."


Setelah dokter itu keluar UKS, tak lama kemudian ada gerakan ringan dari Cantika, membuat Fenly mendekatkan dirinya pada Cantika.


"Hey___" lembutnya. "Ayo bangun, aku di sini," dengan lembut diusapnya puncak kepala Cantika.


Perlahan Cantika membuka kelopak matanya yang terasa berat. Remang-remang ia melihat, semuanya nampak kabur.


Seingatnya saat dia tak kuasa menopang tubuhnya tadi, samar-samar dia melihat seseorang menggendong tubuhnya.


"Tika," panggil Fenly di dekat telinga Cantika .


"Shhh..." Cantika memijat pangkal hidungnya.


"Bentar-bentar. Ayo minum dulu," Fenly mengambil secangkir teh di samping brangkar untuk diberikan pada Cantika.


Dengan tangan yang masih memijit kening Cantika berkata, "Fiki?"


Fenly mengernyit, "Fiki?!"


BRAKK


Dengan kasar diletakkannya cangkir teh tadi ke atas meja. Membuat cairan yang ada di dalamnya sedikit tumpah.


Kini, pandangan Cantika sudah mulai kembali normal. Betapa terkejutnya ia, saat yang dilihatnya ternyata bukanlah,


"Fenly?" Cantika cengo. "Kamu___"


"Iya aku! Kenapa?! Kamu nggak suka aku di sini. Dan berharap Fiki yang ada di sini. Iya?!" sentak Fenly begitu saja.


"Enggak gitu maksud aku Fen," diraihnya lengan Fenly namun ditepis oleh si empunya.


"Terus apa?!"


Baru saja Cantika membuka mulutnya. Namun belum sempat sepatah kata keluar, Fenly langsung kembali bersuara.


"Dari tadi yang jagain kamu di sini siapa?! Aku!" tunjuknya pada diri sendiri. "Tapi yang kamu pikir cuma Fiki terus! Fiki terus!"


"Dari awal aku selalu berusaha buat positif thinking sama kalian berdua! Dan di saat dugaan-dugaan buruk itu datang, aku selalu mikir kalau itu semua cuman perasaan aku. Tapi ternyata___" Fenly tertawa remeh.


"Nggak gitu Fen. Dengerin aku," pinta Cantika dengan suara serak.


"Jangan-jangan dari awal kalian berdua emang ada hubungan kan?" Fenly mendekatkan wajahnya ke wajah Cantika, dan menatap manik matanya.


"Ohh atau jangan-jangan malam itu, kalian berdua lagi___" teringat kejadian saat pertama kali Fenly melihat kekasihnya sedang berduaan dengan Fiki. Terbesit rasa penyesalan karena telah meminta maaf pada cowok itu. Harusnya dia tidak melakukannya.


"Gue paham sekarang," Fenly mengangguk.


"Dengerin aku dulu, please!" Cantika meraih tangan Fenly.


Fenly yang merasakan sentuhan di tangannya, langsung melepaskannya. "Mending gue balik aja ke kelas! Daripada di sini nggak dianggep," ujarnya yang langsung hengkang dari tempat itu.

__ADS_1


"Fenly!!" teriak Cantika yang sepertinya tidak dihiraukan oleh si pemilik nama.


"Fen! Dengerin aku dulu!" geram Cantika mencengkram tepi brangkar.


"Aku kira kamu Fiki. Soalnya tadi aku denger suara diaaaaa!" suara Cantika sampai hampir habis karena meneriaki Fenly.


"Hihhhh!"


"Selalu aja gampang marah!!" kesalnya seorang diri.


Memang tidak salah jika Cantika mengira bahwa Fenly adalah Fiki. Karena saat dirinya setengah sadar, sayup sayup didengarnya suara Fiki.


"Hihhh! Sebel!" Cantika merengut.


***


Sore ini, bengkel lumayan sepi dan semua pekerjaan Ricky juga telah selesai.


Setelah pulang dari kampus, Shandy memang sengaja untuk mampir sebentar ke bengkel sahabatnya itu. Kebetulan Farhan, karyawan Ricky sekaligus teman Ricky dan Shandy juga masih ada di sana. Belum pulang meski semua pekerjaannya sudah selesai.


"Kenapa Lo Shan?" celetuk Farhan yang sedari tadi melihat Shandy tidak seperti biasanya. Entah kenapa sejak datang kemari, Shandy jadi pendiam. Padahal biasanya tuh anak over hiperaktif.


Shandy hanya membalas dengan menghembuskan napas berat.


"Kalau ada masalah cerita aja. Kita kan best friend," Ricky menautkan kedua jari kelingkingnya sambil melempar pandang pada Farhan.


"Yoi," timpal Farhan.


"Sebenernya, bukan gue yang ada masalah. Tapi adik gue," balas Shandy tanpa melihat kedua temannya dan hanya melihat ubin bengkel Ricky.


"Si Fiki?" tanya Farhan.


Shandy mendongakkan kepalanya dan melihat Farhan, "Siapa lagi? Adik gue kan cuma dia."


"Emang Fiki ada masalah apa?" kini Ricky lah yang ganti bertanya.


'Nggak mungkin gue bilang sama Ricky, kalau Fiki kena marah bokap gegara nolongin Fajri. Nanti dia tersinggung lagi.'


Shandy mengibaskan tangannya. "Adalah. Lo berdua mau nggak bantuin gue?"


"Apaan?" kompak keduanya.


"Lo berdua kudu bantuin gue nyari gitar buat Fiki."


"Nyari? Mana ada!" sewot Farhan. "Kalau mau gitar ya beli bambang!"


"Iya... Maksud gue bantuin gue nyari gitar buat gue beli! Dan satu lagi, gue Shandy bukan bambang!" balas Shandy tak kalah sewot.


Ricky yang menyaksikan hal itu hanya menggaruk rambut kepalanya. Bagaimana bisa dia memiliki dua teman yang__ ya kalian bisa definisikan sendiri lah ya. Author males, wkwk. Canda gesss, peace.


"Bukanya Fiki udah punya gitar ya bang?" sahut Fajri yang tiba-tiba muncul.


"Ya___ nggak pa-pa gue mau kasih hadiah aja buat dia. Nambah-nambahin koleksi," alibi Shandy dengan senyuman.


"Oh gitu," Fajri manggut-manggut. "Pasti dia seneng banget tuh bang."


"Yoi," balas Shandy dengan mengangkat dagunya. "Tapi gue minta tolong Jri! Jangan Lo kasih tau Fiki soal ini ya," sambungnya.


"Woke siap bang!" Fajri menyatukan jari telunjuk dengan jempolnya.


"Surprise nih ceritanya," ucap Farhan dengan nada yang dibuat-buat.


"Awas Lo! Jangan sampek bocor! Lo kan julid!" Shandy mendelik ke arah Farhan.


Farhan mencebik, "Enak aja ngatain gue julid!"


"Lagian kalau bocor tinggal di tambal," enteng Farhan.


"Yahhhh...." keluh semua orang karena jokes Farhan yang dianggapnya garing.


"Nggak gitu konsepnya bambang!" geram Shandy sambil melayangkan tinju jarak jauh.


"Eh udah jangan diomongin terus! Entar si bambang keselek lagi," celoteh Ricky yang dibarengi gelak tawa dari keempat laki-laki itu.


"Bambang tuh bapak temen gue," timpal Fajri yang membuat perut semua orang geli dan suara mereka semakin nyaring.


***


...🥀🥀🥀...


...Haii guys, kalau suka sama ceritanya jangan lupa like, komen, and follow yaa🤭...


.......

__ADS_1


...Maaciw buat kalian yang setia menunggu dan membaca cerita ini. Makasih banyakkk🥰💙...


__ADS_2