
"Ra lo udah sadar?" ucap Dewi ketika melihat Maira sudah mulai membuka matanya.
Maira yang semula terbaring merubah posisinya menjadi duduk, ia memijit-mijit kepalanya pelan. Rasanya kepalanya sangat pusing.
"Lo pucet banget Ra. Lo pasti belum sarapan kan tadi pagi?" tanya Dewi khawatir.
Maira menggeleng lemah, "Gue gak sempet sarapan gara-gara udah mepet banget jam-nya."
"Ya udah nih makan roti dulu, ini kak Raka tadi yang beliin," ucap Dewi.
Maira mengernyit, "Kak Raka? Dia tadi di sini?"
Dewi mengangguk sembari membukakan tutup botol minuman untuk Maira dan memberikannya kepada Maira.
"Kalau air minumnya dari kak Bara."
Mendengar bahwa air minum itu pemberian dari Bara, seketika senyum di bibir Maira mengembang.
"Serius dari kak Bara?" tanya Maira seraya mengambil botol itu dengan senang.
"Iya bener. Seneng bener keliatannya bun," ledek Dewi. Maira hanya tersenyum seraya menghabiskan roti yang ada di tangannya dan meneguk air minum pemberian Bara dengan gembira.
"Eh eh Ra lo tau gak?" ucap Dewi mendekatkan tubuhnya ke arah Maira.
"Gak tau," jawab Maira polos.
"Gue belum selesai ngomong juminten."
"Hehe ya udah lanjut-lanjut."
"Lo tau gak? Tadi itu waktu lo pingsan, kak Bara sama kak Raka rebutan buat gendong lo," ucap Dewi.
"Hah? Serius lo?" tanya Maira kaget.
Dewi mengangguk, "Serius. Gue berasa kek nonton drama tau gak ngeliatnya. Dan lo tau ujung-ujungnya siapa yang bawa lo ke sini?"
"Siapa?" tanya Maira penasaran, jika itu kak Bara dia akan senang hehe.
"Kak Diwa."
"Hah? kok bisa jadi kak Diwa?" tanya Maira sedikit kaget, bukan Bara ataupun Raka tapi Diwa. Perasaan dia gak ada pilihan, kenapa jadi tiba-tiba dia.
"Ya karena Bara sama Raka kelamaan. Jadi kak Diwa deh yang gendong dan bawa lo ke sini," jelas Dewi.
"Oh," Maira mengangguk-anggukkan kepalanya, "Kalau gitu nanti gue mau nyamperin kak Diwa deh, mau ngucapin terima kasih karena udah nolongin gue."
Tiba-tiba saja tirai di belakang Dewi terbuka dan melihat sosok Diwa yang sedang duduk di atas ranjang. Ia tersenyum ke arah Maira dan Dewi. Ternyata dia sedari tadi sudah berada di situ, hanya untuk memastikan keadaan Maira.
"Ka..kak Diwa," Maira dan Dewi saling bertatapan dan beralih menatap Diwa yang masih tersenyum ke arah mereka.
"Ra. Gimana ada yang sakit gak?" tanya Diwa.
"Eh. Alhamdulillah gak ada kak," balas Maira sembari menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah deh kalau gitu."
Dewi menyenggol-nyenggok bahu Maira. "Bilang makasih," bisik Dewi.
"Hhm makasih ya kak tadi udah nolongin gue," ucap Maira.
"Iya sama-sama," ucap Diwa ramah, "Ya udah kalau lo udah gapapa, gue ke kelas dulu deh ya."
"Iya kak sekali lagi makasih kak," ucap Maira.
"Yoi," ucap Diwa dan berlalu pergi keluar dari dalam UKS.
"Di liat-liat kak Diwa keren juga ya," ucap Dewi seraya menatap kepergian Diwa dengan takjub.
"Percuma keren kalau udah ada yang punya," ucap Maira sambil tertawa.
Dewi melirik Maira yang masih tertawa, "Memang siapa yang punya?"
Maira menatap Dewi dengan wajah serius.
"Ibu dan bapaknya."
"__"
...🐒🐒🐒...
Bell tanda pulang sekolah telah berbunyi beberapa saat yang lalu, keadaan SMA Nusa Bangsa sudah mulai sepi. Satu persatu murid telah meninggalkan sekolah menuju ke rumah masing-masing.
Maira berjalan sendirian menuju gerbang sekolah, hari ini ia harus pulang dengan menaiki angkutan umum. Saat sampai di gerbang sekolah tiba-tiba Bara menghentikan motornya tepat di samping Maira.
Maira melirik Bara lalu tersenyum, "Eh iya kak."
"Angkasa gak sekolah ya?" tanya Bara lagi.
"Iya kak, dia lagi sakit," jawab Maira.
"Jadi lo pulang sendiri dong? Pakai apa?"
"Naik angkot kak," Maira sedikit berharap Bara akan mengajaknya untuk pulang bersama.
Bara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya seraya menghidupkan mesin motornya kembali.
"Ya udah kalau gitu hati-hati ya. Sorry gue gak bisa nganterin lo pulang, motor gue bensinnya udah mau habis. Duit gue juga udah gak ada," ucap Bara.
"Gapapa kok kak santai aja," balas Maira berusaha mengembangkan senyumnya.
"Ya udah gue pulang dulu ya," pamit Bara.
"Iya kak hati-hati," ucap Maira seraya menatap kepergian Bara dengan perasaan yang sedikit kecewa. Pupus sudah harapannya bisa di antar pulang oleh Bara hari ini.
"Ya udah lah, gue harus cepat-cepat pulang nih. Angkasa gak ada yang jagain."
Baru beberapa langkah Maira berjalan tiba-tiba Raka menghentikan motornya di depan Maira.
__ADS_1
"Naik!" titah Raka.
Maira mengernyit heran, "Hah?"
"Ayo naik, gue anter pulang," ucap Raka lagi.
Seketika Maira tersenyum senang, sebenarnya ia sangat malas untuk menaiki angkutan umum. Karena ia harus menunggu lagi di halte, makanya mendengar Raka ingin mengantarnya pulang, Maira merasa senang.
"Serius? Kak upil mau nganterin gue pulang?" tanya Maira memastikan.
"Iya serius dan stop manggil gue upil!" ucap Raka datar.
"Wah makasih kak upil," tanpa aba-aba Maira langsung naik ke atas motor yang membuat Raka hampir kehilangan ke seimbangan nya.
"Lo bisa gak sih kalau naik pelan-pelan aja, gak usah bar-bar begitu?" Raka menolehkan kebelakang dan menyentil kening Maira pelan.
"Hehe sorry sorry gue terlalu semangat," ucap Maira cengengesan.
"Ketawa lo tuyul," Raka memberikan helm yang ia pinjam dengan temannya kepada Maira, "Nih pakai helm dulu!"
"Oke oke," Maira mengambil helm itu dan langsung memakainya, "Dah yok jalan!"
"Pegangan!" ucap Raka dan langsung menjalankan motornya.
"Siap kapten."
Belum jauh mereka meninggalkan sekolah, tiba-tiba Raka kembali menepikan motornya.
"Kenapa kak? Kok berhenti?" tanya Maira heran.
Raka hanya diam sembari melepaskan jaket dari tubuhnya. Melihat hal tersebut Maira langsung panik.
"Wait wait lo mau ngapain nih? Kok buka-buka?" tanya Maira, ia langsung turun dari atas motor.
Raka menatap Maira heran, "Lo mikir apa sih Ra?"
"Itu lo mau ngapain?"
Raka geleng-geleng tidak habis pikir dengan jalan pikiran adik kelasnya ini.
"Nih jaket gue, pakai buat nutupin paha lo," ucap Raka.
"Hah?"
Raka menunjuk rok Maira, "Itu rok lo, terbang-terbang kena angin, mau pamer paha lo."
Maira menundukkan kepalanya melihat roknya kemudian kembali menatap Raka dan tertawa canggung. Sepertinya ia sudah salah paham.
"Hehe gue kira lo mau ngapain."
"Mau ngapain? Wah mikirnya udah ke mana-mana ya lo. Dosa lo suudzon sama gue."
"Ya maaf, kan gue cuma waspada aja," ucap Maira sembari menundukkan kepalanya karena malu.
__ADS_1
Raka tersenyum menatap Maira, bisa-bisanya di saat seperti ini gadis itu malah terlihat menggemaskan. Ah tidak apa yang Raka pikirkan.
"Maira Maira ada aja lo. Ya udah yok pulang, jangan lupa di tutupin tuh paha lo. Jangan sembarangan di ekspos kayak paha ayam."