Cuma Cinta Monyet

Cuma Cinta Monyet
Bab 32 CCM - Bohong


__ADS_3

Motor Raka berhenti tepat di depan rumah Lery. Lery turun dari motor masih dengan senyuman yang terus terpatri di wajahnya sejak tadi. Ia sangat senang karena Raka masih mau memberikannya tumpangan, yang berarti Raka masih perduli padanya.


"Makasih ya kak Raka."


"Iya sama-sama," Raka kembali menghidupkan mesin motornya, "Ya udah gue pulang dulu ya."


"Eh tunggu kak! Kakak gak mampir dulu? Di rumah aku gak ada siapa-siapa kok," tahan Lery.


Raka menautkan kedua alisnya. Apa maksud dari perkataan Lery. Karena tidak ada orang di rumahnya lah maka Raka tidak bisa mampir. Dan kalau pun ada Raka juga tidak akan mampir.


"Gapapa, gue langsung pulang aja," tolak Raka sopan


"Yakin kak gak mau mampir? Ngeteh dulu gitu," tanya Lery masih berusaha untuk menahan Raka.


Raka menggeleng yakin, "Gak usah, gue langsung pulang aja. Takut di cariin bunda."


Tiba-tiba sebuah mobil yang juga berhenti di depan rumah Lery, mengalihkan atensi mereka. Seorang perempuan paruh baya keluar dari dalam mobil itu, dan berjalan ke arah mereka.


"Mama," lirih Lery.


"Kamu nih ya. Mama bilang kan mama jemput, kenapa malah pulang duluan? Mama capek nungguin kamu di depan sekolah," omel wanita bernama Ayu itu, di adalah ibu Lery.


Raka kaget mendengar perkataan Ayu. Apa ini? Apa ia telah di bohongi oleh Lery. Jelas-jelas tadi Lery bilang tidak ada yang menjemputnya, tapi ternyata ada.


Lery langsung mendekati mamanya dengan wajah panik. Karena ia bilang ke Raka, tidak ada yang menjemputnya. Tapi sekarang bagaimana? Tentu ia sudah ketahuan.


"Ma! Jangan teriak-teriak, ada temen aku," Lery melirik Raka sekilas kemudian berbisik pada ibunya, "Lagian juga tadi kan aku udah bilang, aku mau pulang sendiri."


"Iya kamu bilang ke mama waktu mama udah di depan sekolah kamu! Mama kan bilang mama sudah di depan. Kenapa kamu malah pulang sama orang lain?" omel Ayu.


"Ma! Udah di bilangin ada temen aku."


Wajah Lery sudah merah padam karena menahan malu. Sudah ketahuan bohong, sekarang di omeli pula di depan Raka. Entah bagaimana nanti nasib Lery.


Lery menghela nafas pelan, berusaha untuk tenang.


"Ya udah aku minta maaf, sekarang mama masuk dulu. Nanti kita omongin masalah ini di dalam," ucap Lery seraya mendorong pelan tubuh ibunya agar masuk ke dalam rumah lebih dulu.

__ADS_1


Ayu menolehkan kepalanya menatap Lery yang terus mendorong tubuhnya, "Oke mama tunggu, jangan lama-lama! Mama mau kasih kamu hukuman."


"Iya iya, mama masuk aja dulu."


Lery menarik nafas lega ketika ibunya sudah masuk ke dalam rumah. Sekarang masalahnya adalah Raka, lelaki itu sedari tadi menatap datar ke arah Lery. Ia harus mencari alasan agar Raka tidak marah.


"Kak aku bisa jelasin tentang yang mama aku bilang tadi," ucap Lery seraya memegang lengan Raka.


Raka melepaskan tangan Lery dari lengannya, "Gue gak ada minta lo buat jelasin. Yang penting gue udah tau kalau lo bohong, dari omongan nyokap lo udah jelas kok. Jadi gak perlu di jelasin lagi. Yang buat gue kepikiran sekarang adalah, jangan-jangan kemarin-kemarin gue nganterin lo dengan alasan lo gak ada yang jemput. Itu juga bohong?"


"Maaf," Lery menundukkan kepalanya, tidak bisa menyangkal semua perkataan Raka. Semua itu benar adanya, ia memang telah berbohong.


"Serius? Semuanya bohong? Padahal gue cuma nebak tadi?" ucap Raka kaget, ia tidak habis pikir bisa-bisanya selama ini ia di bohongi oleh Lery.


"A-aku ngelakuin itu karena terpaksa!" pekik Lery.


"Terpaksa gimana?"


"Karena aku suka kak Raka! Aku pengen selalu dekat kak Raka!"


"Gak gitu caranya Lery, caranya gak dengan berbohong. Terakhir kali gue juga udah bilang sama lo, udah ada orang lain yang gue suka. Jangan kayak gini, ini cuma akan nyakitin perasaan lo sendiri. Gue gak ngelarang lo buat suka sama gue, karena itu hak lo. Tapi lo gak bisa maksa gue buat suka lo balik," jelas Raka lembut. Ia harus memberikan pengertian pada adik kelasnya ini.


Lery menghela nafas jengah, menatap Raka seraya tersenyum miring.


"Aku tau kak Raka bakal ngomong kayak gini. Karena Maira ya? Tapi kak Raka juga ingat kan terakhir kali aku ngomong apa? Aku gak bakal nyerah buat dapetin kak Raka, sebelum kak Raka punya pacar."


Raka terdiam menatap Lery, gadis ini benar-benar keras kepala. Di larang bagaimana pun dia tidak akan mau dengar. Merasa percakapan ini tidak bisa di lanjutkan lagi, Raka kembali menghidupkan motornya dan berniat untuk pulang.


"Gue pulang dulu assalamualaikum," tanpa menunggu jawaban dari Lery, Raka langsung menjalankan motornya.


Lery menatap Raka yang mulai menjauh dengan raut wajah sedih.


"Walaikumsalam."


"Gue harus jauhin kak Raka dari Maira. Gue gak rela kak Raka lebih milih Maira di banding gue," gumam Lery kesal. Tangannya terkepal kuat, merasa kesal pada Maira yang di sukai oleh Raka. Padahal jelas-jelas Lery lebih baik dari pada Maira.


...🐒🐒🐒...

__ADS_1


Pukul 19.40


"Angkasaaaa," pekik Maira seraya menghampiri Angkasa dan ayahnya yang sedang menonton tv di ruang tengah.


Angkasa yang duduk selonjoran di lantai mendongakkan kepalanya menatap Maira bingung.


"Apa? Manggil-manggil gue, kangen lo sama abang lo yang Masya Allah ganteng ini?" tanya Angkasa percaya diri.


"Ck ganteng pala lo. Lo kan yang ngabisin kerupuk jengkol gue? Tadi sore gue taru di dalam toples di dapur, sekarang udah gak ada. Pasti lo kan?" tuduh Maira.


"Apa? Aku? Jadi duta sampo lain? Hahaha," Angkasa mengibas tangannya ke belakang seolah-olah mengibas rambut yang panjang, "Dulu gak pernah sampai sekarang juga gak pernah."


Maira menatap Angkasa aneh, "Apaan sih lu? Gue lagi serius ya, gak bercanda."


"Habisnya lo dateng-dateng main nuduh orang sembarangan. Gue gak ada ya makan kerupuk jengkol lo itu," balas Angkasa tidak terima.


"Halah monyet kayak lo mana mau ngaku."


Angkasa menoleh ke arah ayahnya yang duduk di sofa, "Yah liat yah, Maira ngatain aku monyet ya."


Rio yang tadinya sedang serius menonton pertandingan tinju, langsung mengangkat kepalanya menatap Maira.


"Eh gak boleh gitu Ra. Abangnya manusia kok di bilang monyet," ucap Rio mengingatkan.


"Angkasa tuh ngambil kerupuk jengkol aku yah," adu Maira tidak mau kalah."


"Kerupuk jengkol?" Rio melirik Angkasa, "Kamu ada ngambil kerupuk jengkol adek kamu Angkasa?"


Angkasa menggeleng, "Gak ada yah, sumpah dah."


"Halah bohong lo," ucap Maira.


"Oh iya," Rio menepuk keningnya pelan, "Ayah lupa tadi sore ayah yang habisin kerupuk jengkolnya."


Maira hanya tersenyum mendengar perkataan ayahnya, sedangkan Angkasa sudah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Maira yang seperti orang menahan berak.


"Oke fine thank you," ucap Maira.

__ADS_1


__ADS_2