
"Haa harus banget ya ikut ekskul? Mager banget gue, sore-sore harus ke sekolah lagi," Maira menghela nafas panjang kemudian membaringkan kepalanya di atas meja dengan lengannya sebagai bantal.
"Iya sama gue juga mager," saut Dewi.
Ya seharusnya mereka berdua sudah harus mengikuti ekstrakurikuler dari awal masuk sekolah. Dan sekarang sudah berbulan-bulan berlalu, mereka masih belum ikut. Hal itu karena mereka merasa malas jadi mereka memilih tidak ikut.
Tapi tadi pagi ada pemberitahuan untuk para murid yang belum mengikuti satupun ekstrakurikuler, mereka di wajibkan untuk mengikuti salah satu ekstrakurikuler agar mendapatkan nilai tambahan.
Angkasa dan Khoirul yang sedari tadi mendengarkan keluhan kedua gadis di belakang mereka, langsung membalikkan tubuh mereka dan menatap kedua gadis itu dengan prihatin.
"Ck ck ck. Dasar remaja jompo," seru Angkasa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Masih muda gini. Mager mulu lo berdua," tambah Khoirul.
Maira dan Dewi hanya melirik kedua lelaki itu malas, kemudian kembali menghela nafas panjang.
"Gini deh. Mumpung hari ini, hari Jumat. Gimana kalau kalian ikut ekskul voli aja," ucap Angkasa memberi saran.
"Lo kan waktu smp juga suka main voli Ra," lanjutnya.
Maira menegakkan tubuhnya, "Boleh juga sih. Lo kan juga ekskul voli, jadi lo gak susah lagi antar jemput gue. Karena kita ikut ekskul yang sama."
"Gimana Dew lo mau ikut ekskul voli gak?" tanya Maira.
"Gue gak pandai main voli. Tangan gue merah-merah ntar," jawab Dewi, ia kembali mengingat saat ia mencoba bermain voli dan kedua tangannya terasa sakit. Ia tidak ingin mencobanya lagi.
"Jadi lo mau ikut ekskul apa dong?" tanya Maira lagi.
Dewi mengembangkan senyumnya, ia memikirkan satu ekskul yang ia pikir cocok untuk dirinya.
"Gue mau ikut ekskul pertamanan. Kata kakak-kakak senior, ekskul pertamanan jarang kerja, banyak nyantai nya. Pas banget buat gue," jelas Dewi sambil terkekeh pelan.
"Gimana lo mau ikut gue gak? Dari pada ikut voli, capek," tanya Dewi.
Maira menggeleng pelan, "Gak usah deh, gue ikut voli aja," Maira melirik Angkasa, "Kasian juga Angkasa harus antar jemput gue terus."
"Omo omo," Angkasa memasang ekspresi terkejut seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, "Adek gue udah gede. Sarangheoooo~."
Mereka bertiga hanya menatap Angkasa datar.
"Bukan abang gue," ucap Maira.
__ADS_1
...🐒🐒🐒...
"RA ADA LIAT BAJU KOKO GUE YANG WARNA PUTIH GAK?"
"DI DALAM LEMARI BAJU LO, DI RAK BAGIAN BAWAH."
"RA SARUNG GAJAH BARING GUE YANG WARNA COKLAT DI MANA?"
"ADA GUE GANTUNG DI BALIK PINTU KAMAR LO."
"RA PECI GUE HILANG."
Maira berdiri dari kursi belajarnya dengan kesal. Sedari tadi Angkasa terus saja berteriak menanyakan perlengkapan sholatnya. Lelaki itu hendak pergi sholat Jumat. Tidak bisakah Angkasa belajar menyiapkan barang-barangnya sendiri. Bikin kesal saja. Maira berjalan keluar kamar sambil menghentakkan kakinya kesal.
Ia membuka pintu kamar Angkasa dan mendapati Angkasa yang sedang bercermin seraya menyisir rambutnya yang sedikit basah. Maira menatap Angkasa kesal kemudian berjalan menuju lemari pakaian lelaki itu. Dan dengan mudahnya ia menemukan peci yang sedari tadi Angkasa cari.
"Nih peci lo. Lain kali di cari dulu, baru tanya ke gue. Udah gede juga, nyari barang sendiri aja gak bisa," ucap Maira kesal.
Angkasa meletakkan sisirnya dan menatap pantulan dirinya di cermin Masya Allah tampan sekali. Ia melirik adiknya yang tampak kesal kemudian mengambil peci tersebut dengan senyum sumringah.
"Ya kan gue udah punya ubab, ngapain susah-susah nyari sendiri," ucap Angkasa jahil.
Ctak
"Sembarangan mulut lo, ngatain gue babu!" ujar Maira kesal.
Angkasa hanya melirik Maira sinis seraya mengelus bibirnya yang berdenyut. Adiknya ini benar-benar tidak bisa di ajak bercanda. Marah terus kerjaannya.
Marah-marah begini bikin Maira haus saja, lebih baik ia pergi ke dapur dan membuat es. Dari pada melihat wajah Angkasa yang menyebalkan, minta hajar.
Tap
Tap
Tap
Perlahan Maira menuruni anak tangga seraya memainkan ponselnya. Ia tidak sadar sedari tadi ada mata yang memerhatikan nya. Maira terus memainkan ponselnya sambil sesekali tertawa, entah apa yang ia lihat di dalam ponselnya. Sampai ia sudah di di bawah, tertawa Maira semakin besar hingga suara deheman seseorang orang menghentikan tawanya.
Dan ketika Maira menolehkan kepalanya, terlihatlah beberapa orang teman Angkasa yang sudah siap dengan pakaian sholat mereka duduk di ruang tamu. Di situ juga ada Raka dan Diwa serta beberapa anak MDC yang lain. Mereka masih saling bertatapan dalam diam.
Waw pemandangan apa ini? Mereka semua terlihat sangat tampan sekarang. Ada pangeran di rumah Maira. Tunggu bukan itu yang paling penting, jadi sedari tadi Maira tertawa-tawa tidak jelas dan semua itu di saksikan oleh mereka. Ya Allah mau di taruh di mana wajah Maira.
__ADS_1
Maira hanya tersenyum canggung seraya mengangguk kecil kearah mereka yang juga di balas senyuman kecil oleh mereka. Setelah itu Maira langsung berlari ke dapur. Dasar Angkasa, kenapa ia tidak bilang kalau ada anak-anak MDC di ruang tamu. Pasti sedari tadi mereka mendengarkan Maira mengomel kan Angkasa.
Maira menuangkan air putih kedalam gelas dan meneguknya sampai habis. Tiba-tiba ia sangat-sangat haus sekarang.
"Malu banget gue. Pasti mereka ngetawain gue nih," monolog Maira.
"Tapi mereka tambah ganteng kalau mau pergi sholat. Mayan siang-siang cuci mata hehe," lanjut Maira seraya terkekeh pelan.
"Siapa yang ganteng?" ucap seseorang di dekat telinga Maira.
"Eh astaga astaghfirullah," ucap Maira kaget dan saat ia membalikkan badannya ternyata sudah ada Raka berdiri di belakangnya.
"Kak Raka nih bikin kaget aja," Semoga saja tadi Raka tidak mendengar omongannya, bisa-bisa Raka meledeknya terus nanti.
"Hehe maaf."
"Kak upil mau ngapain?" tanya Maira.
"Oh itu gue mau..." Raka tampak berpikir, sebenarnya tujuannya ke dapur hanya ingin bertemu Maira. Tapi ia harus mencari alasan yang lain biar tidak ketahuan.
Maira mengernyitkan dahinya heran, "Mau apa kak?"
Raka melirik gelas yang tadi Maira pakai, "Gue mau minum."
"Oh mau minum. Bentar gue ambil gelas dulu."
"Gapapa pakai yang ini aja," ucap Raka hendak mengambil gelas bekas Maira pakai.
"Eh jangan ini bekas gue pakai. Kotor!" Maira hendak mengambil gelas yang sudah di tangan Raka, tapi Raka tetap tidak mau memberikannya. Raka malah sudah menuangkan air putih ke dalamnya.
Maira hanya ternganga melihat Raka minum menggunakan gelas yang sudah ia pakai. Raka benar-benar tidak mendengarkannya.
"Alhamdulillah makasih air minumnya," ucap Raka seraya meletakkan gelas di atas meja.
Maira menghela nafas pasrah, "Iya sama-sama."
"Ya udah kalau gitu gue ke luar dulu. Makasih ya," Raka menenangkan senyumnya yang membuat jantung Maira berdebar-debar. Ini sangat tampan, tolong Maira tidak kuat.
"I-iya kak Raka."
Sebelum pergi Raka membisikkan sesuatu ke telinga Maira, "Lo juga cantik kok."
__ADS_1
"H-hah?"