Cuma Cinta Monyet

Cuma Cinta Monyet
Bab 15 CCM - Taman


__ADS_3

Maira langsung mencampakkan tubuhnya di atas kasur ketika ia sampai di kamarnya. Hari ini benar-benar melelahkan, baik pikiran, hati dan tubuhnya terasa lelah sekarang. Maira tidak pernah tahu, ternyata jatuh cinta bisa semelelahkan ini. Bahkan ia sulit untuk mengendalikan hatinya sendiri. Apa sekarang ia bisa di katakan sebagai sad girl? Karena kisah cintanya yang kurang beruntung. Ah Maira pusing memikirkannya.


Ini semua karena lelaki gila bernama Bara itu. Dia bilang Maira yang terlalu bawa perasaan. Jika bukan karena dia yang terus-terusan mendekati Maira dan bersikap baik layaknya seorang pangeran, Maira juga tidak akan terbawa perasaan. Pokoknya Maira sangat benci kepada Bara, kalau bisa ia berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan lelaki itu.


Maira menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Matanya mulai perlahan terpejam, karena rasa kantuk yang mulai menyerang.


Ting


Suara notifikasi WhatsApp menyadarkan Maira yang hampir tertidur. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dengan malas. Maira mengernyit setelah mengetahui Angkasa yang mengirimkannya pesan.


"Satu rumah juga, ngapain ngechat segala," gumam Maira seraya membuka pesan yang dikirimkan kakaknya.


Siap-siap, gue mau ajak lo jalan-jalan!


"Jalan-jalan? Oke deh" ucap Maira. Kemudian ia meletakkan ponselnya dan langsung beranjak mengganti pakaiannya. Ya dari pada galau-galau tidak jelas begini, mending dia ikut Angkasa jalan-jalan ke luar kan.


Beberapa saat kemudian Maira sudah selesai bersiap-siap, ia hanya tinggal mengikat rambutnya dan setelah itu selesai.


"Ra udah siap belum?" panggil Angkasa dari luar.


Maira berlari kecil ke luar kamarnya, menghampiri Angkasa yang sudah menunggunya, "Udah, yuk jalan!"


Angkasa terkekeh kecil melihat Maira yang tersenyum, ia mengusap pelan puncak kepala Maira. Ia tidak ingin adiknya sedih, jadi ia akan selalu berusaha membuatnya tersenyum.


"Ya udah yuk!"


...🐒🐒🐒...


Maira terus tersenyum kemana pun Angkasa mengajaknya, sehingga pikirannya tentang masalah Bara menghilang untuk saat ini. Angkasa mengajaknya mencari makanan terlebih dahulu karena mereka belum ada makan siang sejak pulang sekolah tadi. Angkasa bilang Maira bebas mau membeli apa, dan dia akan mentraktir Maira. Tentu saja Maira senang, kapan lagi kan hehe.


Angkasa sempat mengajak Maira nonton, tapi Maira tidak mau. Ya sudah turuti saja pikir Angkasa. Di ajak main di mall, Maira juga tidak mau. Jadi Angkasa mengajak Maira ke tempat di mana mereka bisa melihat langit sore yang indah. Ya itu sebuah taman yang memang sering di gunakan oleh orang-orang untuk bersantai untuk menikmati langit senja.


Maira turun dari motor sambil menatap takjub pemandangan di depannya."


"Wah cantiknya!" seru Maira, ia melirik Angkasa yang baru selesai memarkirkan motornya, "Kok gue baru tau ada tempat sebagus ini."

__ADS_1


"Gue juga baru tau dari temen-temen yang lain. Katanya tempatnya bagus, apalagi buat foto-foto. Makanya gue ngajakin lo ke sini," jelas Angkasa.


Maira menghirup udara sore, perasaannya terasa tenang ketika angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya.


Maira tersenyum ke arah Angkasa kemudian memeluknya, "Makasih abang, udah ngajakin gue ke sini. Lopyu bertubi-tubi lah."


Angkasa mendorong kepala Maira pelan, "Alay lo jamet.


Maira melepaskan pelukannya dan menatap Angkasa sinis, "Ck lo yang jamet."


Angkasa hanya memutar bola matanya, "Ya udah duduk situ gak tuh."


Maira menatap kursi taman yang di tunjuk Angkasa, kemudian beralih menatap beberapa pedagang jajanan yang sepertinya sangat enak.


Maira menatap Angkasa dan tersenyum manis, "Jajan dulu gak sih?"


"Ya udah jajan sono, beli dah apa yang lo mau," ucap Angkasa, tujuannya kan memang membuat Maira senang jadi ya turuti saja.


"Yes. Mari kita borong," seru Maira kegirangan, ia dengan semangat menarik lengan Angkasa menuju ketempat orang-orang yang berjualan.


"Bu bakso gorengnya lima ya."


"Mang pentol kuahnya sepuluh ribu ya."


"Sosis gorengnya lima ya."


"Wah ada basreng, basreng juga satu bungkus aja."


"Woi woi lo yakin bisa habisin semuanya? Jangan lapar mata doang, mubazir ntar," tanya Angkasa ketika Maira hendak membeli jajanannya lagi. Tangannya saja sudah penuh dengan jajanan yang di beli Maira.


Maira menatap jajanan yang di belinya, kemudian terkekeh pelan, "Hehe habisnya enak semua, gue kan jadi terpesona. Ya udah deh gak beli lagi, yuk duduk di situ."


"Terpesona mata lu," cibir Angkasa seraya mengikuti Maira duduk di kursi.


Setelah selesai menghabiskan jajanannya Maira memilih untuk berfoto-foto ria di taman. Sayangkan kalau tidak berfoto di tempat yang sudah sebagus ini. Maira masih asik berfoto-foto sendiri ketika Angkasa pamit pergi ke toilet dulu. Sampai akhirnya mata Maira tidak sengaja melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ingin di lihatnya.

__ADS_1


Ekspresinya yang semula senang tiba-tiba berubah menjadi datar, ketika melihat Bara dan Melly sedang asik berpacaran. Wah dari sekian banyak tempat kenapa Maira harus bertemu dengan mereka di sini, benar-benar menyebalkan.


Maira masih diam memandang dua manusia yang sedang kasmaran itu, sampai tiba-tiba ada seseorang berdiri tepat di depan Maira. Maira mengangkat kepalanya menatap siapa yang telah menghalangi pandangannya.


"Kak Raka?" ucap Maira ketika mengetahui Raka yang berdiri di depannya.


"Pemandangan yang kayak gitu jangan di liat. Nanti mata lo bisa terkontaminasi," ucap Raka seraya tersenyum.


"Hah?" Maira hanya mengedip-ngedipkan matanya lucu, yang membuat Raka gemas melihatnya.


"Yuk ikut gue!" ajak Raka kemudian membawa Maira pergi menjauh dari tempat Bara dan Melly berada. Setelah sudah cukup jauh baru lah Raka menghentikan langkahnya.


"Ngapain ngajak gue ke sini?" tanya Maira.


"Gapapa mau aja, dari pada lo kepanasan kan ngeliat Bara sama Melly pacaran," jawab Raka.


Maira tersenyum, "Makasih ya, seharusnya dari awal gue dengerin apa kata lo dan Angkasa. Pasti gak gini jadinya."


"Iya mau gimana lagi, udah terlanjur kan."


"Tapi kak sebelum itu..." Maira menjeda ucapannya.


"Kenapa?" tanya Raka.


Maira mengangkat tangannya yang masih bergenggaman dengan tangan Raka, "Ini sampai kapan ya kita pegangan tangan terus?"


Cepat-cepat Raka melepaskan genggaman tangannya dari Maira. Tiba-tiba ia menjadi salah tingkah.


"Sorry lupa," ucap Raka.


"Bilang aja suka pegangan tangan sama gue. Jangan malu-malu lah kak upil," ledek Maira seraya mencolek-colek bahu Raka genit.


"Jangan ke geeran deh tuyul," elak Raka.


Raka memalingkan wajahnya ke arah lain, tidak berani menatap Maira. Sepertinya wajahnya sudah memerah sekarang, kenapa ia jadi salah tingkah seperti ini. Sepertinya Raka benar-benar suka kepada Maira. Setiap berada di dekat Maira, dadanya selalu berdebar-debar. Dan ia juga merasa senang.

__ADS_1


__ADS_2