
Dua hari berlalu akhirnya Dewi kembali masuk sekolah. Dewi mengatakan betapa khawatirnya dia kepada Maira, setelah mendengar bahwa Bara berpacaran dengan Melly. Ia juga sempat bertengkar dengan Kevin, karena tidak memberitahu kalau Bara itu suka mempermainkan perasaan perempuan.
"Jangan gitu lah, kak Kevin gak salah. Kenapa lo marah sama dia," ucap Maira.
"Ya habisnya, coba dia ngasih tau dari awal kalau temen dia itu tingkahnya begitu. Pastikan lo gak bakalan suka atau baperan dengan tuh manusia," jelas Dewi panjang lebar, ia sangat kesal bila mengingat tentang Bara. Ingin rasanya ia hajar lelaki itu.
Dewi melirik Melly sinis, ketika perempuan itu memasuki kelas bersama teman-temannya.
"Ck ngakunya lebih pintar, tapi otak gak di pakai. Gak jelas!" cibir Dewi kesal.
"Sst ntar dia denger," ucap Maira seraya melirik Melly.
Dewi memutar bola matanya kesal, "Biarin! Pakai toa gue sekalian biar dia denger."
"Udah Dew sabar-sabar," Maira menepuk-nepuk punggung Dewi pelan, "Yuk bisa yuk istighfar."
"Astaghfirullah bikin kesel banget tuh uler," ucap Dewi seraya mengelus dadanya. Ia tidak terima temannya di perlakukan seperti itu. Ah kesal sekali.
"Eh gue kan Kristen. Kenapa gue istighfar ya?" lanjut Dewi baru sadar.
"Lah iya. Lupa gue," ucap Maira.
...🐒🐒🐒...
Kevin duduk di samping Dewi saat gadis itu sedang duduk di kursi kantin. Pacarnya itu saat ini sedang marah padanya, itu semua gara-gara Bara. Yang buat masalah siapa, yang di marahin siapa. Padahal Kevin tidak tahu menahu tentang Bara tiba-tiba pacaran dengan Melly. Mengesalkan saja Bara ini, untung teman pikir Kevin.
Dewi tidak memperdulikan kehadiran Kevin, ia tetap fokus menghabiskan bakso di hadapannya. Sedangkan Maira hanya menatap mereka berdua tanpa tahu harus berbuat apa.
"Dewi," panggil Kevin, tapi Dewi diam saja dan tidak perduli.
"Masih marah ya?" tanya Kevin, lagi-lagi Dewi tidak menjawab.
Kevin harus apa sekarang, Dewi sama sekali tidak mau bicara dengannya. Sudah dari kemarin ia membujuknya tapi Dewi masih saja marah. Pusing sekali.
"Sayang."
Deg jantung Dewi berdebar-debar, panggilan sayang dari Kevin hampir membuatnya luluh. Tidak bisa ia harus mengendalikan diri dan hatinya. Ia terus melanjutkan kegiatan makannya tanpa memperdulikan tatapan Kevin yang cukup membuatnya tidak fokus.
Kevin menghela nafasnya frustasi, "Sumpah aku gak tau salah aku apa sampai kamu diemin aku begini."
"Pikir aja sendiri!" ucap Dewi kesal, bisa-bisanya Kevin masih belum sadar apa kesalahannya.
__ADS_1
Apa tadi kata Dewi? Pikir saja sendiri? Come on Kevin bukan cenayang.
Maira yang memperhatikan pertengkaran rumah tangga ini, menatap prihatin ke arah Kevin. Malang sekali nasip lelaki itu.
"Sst kak. Kak kevin!" panggil Maira berbisik, jangan sampai dewi mendengarnya.
"Apa?" tanya Kevin berbisik setelah sadar dirinya di panggil.
"Minta maaf," bisik Maira.
Kevin mengernyitkan dahinya bingung, suara Maira terlalu kecil. Jadi sulit untuk di pahami.
"Hah? Apa? Gue gak denger," bisik kevin.
"Minta maaf kak minta maaf," bisik Maira seraya menunjuk Dewi.
"Tapi gue kan gak salah," balas Kevin berbisik.
Maira menghela nafasnya lelah, "Minta maaf aja kak."
Tiba-tiba saja Dewi meletakkan sendoknya di atas meja dengan sedikit kasar. Yang membuat mereka berdua terperanjat.
"Gue udah selesai nih Ra, gue duluan ya. Gue males lama-lama di sini, ada manusia yang gak sadar dengan kesalahannya," ucap Dewi seraya berdiri.
"Ya udah gue duluan ya bye."
Setelah kepergian Dewi, Maira melirik Kevin yang hanya termenung menatap kepergian Dewi.
"Kejar kak kejar. Minta maaf," seru Maira gemas, bisa-bisanya lelaki di hadapannya ini tidak peka-peka dari tadi.
"Tapi gue gak salah. Ngapain harus minta maaf."
Maira menggeleng-gelengkan kepalanya, bikin pusing saja mereka ini. Ya ini juga salah Maira sih, karena masalah Maira malah mereka yang bertengkar.
"Minta maaf itu gak harus nunggu kita berbuat salah dulu kak. Emang lo mau di diemin sama Dewi terus?"
Kevin menggeleng lemah, "Ya gak mau."
"Ya makanya kejar sana, minta maaf!"
Kevin tampak berpikir beberapa saat, ada benarnya apa yang di katakan Maira. Lagi pula jika mereka sama-sama keras kepala, pasti masalahnya tidak akan pernah selesai.
__ADS_1
"Ya udah gue samperin dia dulu. Thanks sarannya."
"Yoi bro. good luck."
Maira menatap kepergian Kevin dengan perasaan lega, akhirnya ia bisa menghabiskan baksonya dengan tenang. Semoga saja Kevin berhasil membujuk Dewi agar tidak marah lagi.
...🐒🐒🐒...
Kevin mencari keberadaan Dewi, tadi ia sudah mencari gadis itu di kelasnya namun tidak ada. Dan ternyata Dewi sedang duduk di kursi taman. Kevin duduk di samping Dewi yang membuat Dewi reflek menjauhkan tubuhnya, ia melirik lelaki itu sinis.
"Jauh amat duduknya," Kevin menepuk-nepuk bagian kursi kosong di sebelahnya, "Sini deketan duduknya."
Dewi tidak perduli dan malah membuang muka. Kevin membuka tutup botol minuman dingin yang ia bawa dan memberikannya kepada Dewi. Ia tahu Dewi belum sempat minum tadi saat di kantin.
"Nih minum dulu. Kamu belum minum kan tadi?"
Walaupun kesal Dewi tetap mengambil air minum yang di berikan Kevin dan meminumnya. Masalahnya ia sedang kepedasan sekarang. Setelah itu mereka sama-sama diam. Kevin masih memikirkan kata apa yang tepat untuk ia ucapkan agar Dewi tidak marah lagi dengannya.
"Dewi," panggil Kevin, masih tidak ada balasan.
"Iya aku tau aku salah. Aku minta maaf udah buat kamu marah," lanjutnya.
Dewi melirik Kevin sekilas kemudian kembali menatap ke depan, "Emang kak Kevin tau salah kak Kevin apa?"
"Salah aku karena gak ngasih tau kalian kalau Bara itu hobi mainin hati perempuan. Salah aku juga sebagai teman dekat Bara, gak ngingetin dia," jawab Kevin kemudian ia menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Dewi.
"Sayang maafin aku ya. Jangan marah lagi, aku kangen sama kamu. Kan beberapa hari ini kita gak ketemu," rengek Kevin seraya menggenggam tangan Dewi.
Dewi menatap Kevin gemas, bisa-bisanya lelaki itu sangat menggemaskan sekarang. Kalau begini bagaimana Dewi tidak memaafkannya.
"Iya aku maafin, Tapi..," Dewi mendorong tubuh Kevin agar menjauh darinya, "Jauh-jauh deh kak. Kita di sekolah, nanti di marahin sama guru."
Kevin tersenyum senang, akhirnya Dewi tidak marah lagi. Ia tidak bisa berlama-lama di diamkan oleh gadisnya itu.
"Serius? Kamu udah maafin aku," tanya Kevin memastikan.
"Iya aku maafin," jawab Dewi.
"Yes. Nanti sore kita jalan-jalan mau gak?"
Dewi mengangguk senang, "Mau."
__ADS_1
"Oke nanti aku jemput," Kevin mencubit pipi Dewi pelan, "Jangan lupa ya cantik."