Cuma Cinta Monyet

Cuma Cinta Monyet
Bab 41 CCM - Angry sister


__ADS_3

Raka menghentikan motornya tepat di depan rumah Maira. Sepanjang perjalanan Maira hanya diam, Raka juga tidak berani untuk membuka suara karena sang pacar sedang marah. Walaupun bukan marah kepada dirinya, tetap saja Raka tidak berani.


Raka membantu melepaskan helm yang Maira pakai, gadis itu hanya diam membiarkan Raka melepaskan helmnya. Maira juga tak enak hati pada Raka, seharusnya hari ini, hari spesial bagi mereka berdua. Tapi Maira malah merusak suasana dengan bertengkar dengan Angkasa.


Maira mendongakkan kepalanya menatap Raka yang berdiri di depannya. Gadis itu berusaha mengembangkan senyum manisnya.


"Makasih ya kak upil untuk hari ini. Aku seneng banget," ucap Maira.


"Iya sama-sama. Aku juga makasih," balas Raka lembut tangannya terulur menyelipkan rambut Maira di balik kupingnya.


"Jangan lama-lama marahan nya sama Angkasa ya," lanjut Raka.


Tiba-tiba wajah Maira jadi cemberut.


"Angkasa ngeselin. Masa mau pergi ngedate aja di awasin, aku kan bukan anak kecil lagi," kesal Maira.


"Iya, tapi dia pasti punya alasan ngelakuin itu. Mungkin itu semua karena dia terlalu khawatir dan sayang sama kamu Ra," jelas Raka lembut.


"Tapi gak gitu juga caranya kak. Ngeselin banget sumpah."


"Yang penting selesain masalahnya baik-baik, jangan lama-lama berantemnya. Gak baik berantem sama saudara lama-lama."


Maira mengangguk lemah, "Iya deh."


Raka terkekeh kecil melihat wajah Maira yang menggemaskan. Tidak bisa ini sangat menggemaskan, Raka masukin karung aja kali ya Maira. Terus Raka culik◉⁠‿⁠◉


"Ya udah aku pulang dulu ya," pamit Raka. Kalau terlalu lama di dekat Maira, bisa-bisa ia akan benar-benar memasukkan Maira kedalam karung dan menculiknya.


Maira sedikit kecewa karena Raka sudah mau pulang. Padahal ia masih ingin berduaan dengan kakak tampan yang sudah resmi menjadi pacarnya ini.


"Ya udah hati-hati ya kak."


...🐒🐒🐒...


Angkasa sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya membujuk Maira agar tidak marah lagi. Angkasa sudah berusaha untuk berbicara baik-baik dengan adiknya itu, tapi Maira sama sekali tidak memberikan Angkasa kesempatan untuk berbicara dengannya. Angkasa juga ikut-ikutan kesal di buatnya. Ia juga merasa Maira harus meminta maaf padanya, karena kata-kata menusuk Maira tadi siang.


Rio juga di buat heran dengan anak kembarnya yang bersikap tidak seperti biasanya. Seperti sekarang saat makan malam, tidak seperti biasanya yang selalu bersenda gurau. Maira dan Angkasa hanya saling diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Rio sudah bisa menebaknya, pasti anak-anaknya sedang bertengkar. Karena ini bukan pertama kalinya mereka bertengkar.


"Kalian kenapa? Berantem?" Rio melirik Angkasa dan Maira bergantian berharap mendapatkan jawaban dari mereka.

__ADS_1


"Gak!" jawab mereka serempak, kemudian mereka berdua saling tatap dengan tatapan sinis. Setelah itu kembali melahap makanan mereka.


"Oh berantem," gumam Rio kemudian kembali memakan makanannya.


Seperti biasanya kali ini ia harus menjadi penengah di antara anak-anaknya. Agar mereka tidak bertengkar lagi, karena itulah tugas Rio sebagai orang tua. Tentu saja bukan sekarang, karena mereka harus menyelesaikan kegiatan makan malam mereka dulu.


...🐒🐒🐒...


Tok


Tok


Tok


"Ra, boleh ayah masuk?" tanya Rio di luar kamar Maira.


Setelah berbicara dengan Angkasa dan menanyakan apa masalahnya serta memberikan anak lelakinya itu nasehat. Sekarang tujuan Rio adalah berbicara pada Maira. Ia harus mendengarkan kedua anaknya dan membantu mereka untuk menyelesaikan masalahnya.


"Masuk aja yah," ucap Maira dari dalam kamarnya.


Perlahan Rio membuka pintu kamar putrinya. Ia tersenyum menatap Maira yang sedang duduk di meja belajarnya. Putrinya ini memang sangat rajin belajar.


"Ada apa yah?" tanya Maira, ia meletakkan pulpennya di atas meja dan merubah posisinya menghadap ayahnya.


Maira mengangguk seraya tersenyum, "Iya yah, aku lagi ngerjain pr. Kenapa? Ada yang mau ayah omongin?"


"Iya, boleh ayah ngomong sama kamu sebentar?"


"Boleh dong yah, ngapain pakai nanya segala. Kalau sama ayah mah, kalau lagi berak juga aku bakalan cepat-cepat selesain. Supaya bisa ngomong sama ayah," balas Maira terkekeh pelan.


Rio tertawa pelan mendengar penuturan putrinya itu, "Haha ada-ada aja kamu ini."


"Gini, ayah tadi udah ngomong sama Angkasa. Jadi anak ayah ini udah punya pacar ya?" tanya Rio yang membuat Maira sedikit kaget mendengarnya. Jujur saja ia sedikit takut ayahnya akan marah jika ia berpacaran.


"Iya yah. Baru dua hari," jawab Maira was-was.


Maira menundukkan kepalanya takut, melihat ayahnya hanya diam tidak berbicara.


"Anak ayah udah gede ternyata, udah pandai pacar-pacaran," Maira sedikit kaget ketika Rio mengusap kepalanya lembut, ia pikir ayahnya akan marah, ternyata tidak.

__ADS_1


"Siapa namanya? Ganteng gak, kayak ayah?" goda Rio.


Maira tersenyum mendengar pertanyaan ayahnya.


"Namanya Raka yah, ganteng dong. Tapi tetap gantengan ayah dong," jawab Maira antusias.


"Haha bisa aja kamu. Nanti di depan dia, beda lagi ngomongnya palingan," ucap Rio terkekeh pelan.


"Ayah jadi penasaran gimana si Raka itu," lanjut Rio.


"Ayah pernah ketemu kok sama kak Raka."


Rio mengernyitkan dahinya bingung, "Masa sih? Kapan?"


Maira mengangguk, "Dia pernah kerumah yah waktu itu. Sama temen-temen Angkasa yang lain."


Rio mengangguk-anggukkan kepalanya, "Oh pantesan ayah gak tau. Temen Angkasa aja ada banyak, bingung lah ayah yang mana."


"Nanti deh kapan-kapan aku ajak main kerumah."


Rio tersenyum seraya mengiyakan ucapan putrinya.


"Tadi Angkasa juga bilang, kamu lagi marah sama dia? Gara-gara dia ngawasin kamu waktu jalan-jalan sama si Raka itu," ucap Rio mulai membicarakan sumber pertengkaran Maira dan Angkasa.


Maira yang semula tersenyum kini air wajahnya berubah menjadi masam.


"Iya aku kesel banget sama dia. Masa jalan-jalan aja aku sampai di awasin sih yah. Padahal Maira bukan anak kecil lagi, berarti kan dia gak percaya sama Maira. Maira udah gede bisa jaga diri Maira sendiri. Angkasa gak perlu berlebihan sampai kayak gitu," kesal Maira panjang lebar.


Rio mendengarkan penjelasan Maira dengan tenang, berusaha untuk mencerna semuanya baik-baik.


"Iya ayah tau kamu pasti kesal banget, ayah juga akan kesal kalau jadi kamu. Tapi kamu tau kan kalau abang kamu itu sayang sama kamu, dia ngelakuin itu pasti bukan tanpa alasan," ucap Rio lembut.


Maira yang hendak memprotes perkataan ayahnya, menghentikan niatnya ketika Rio kembali membuka suara.


"Bukan berarti ayah ngedukung yang dia lakukan, bukan. Di sini ayah cuma mau kalian saling memahami perasaan masing-masing. Angkasa harus memahami apa yang Maira rasakan, dan Maira juga harus memahami apa yang Angkasa rasakan. Tadi Angkasa juga sudah menyesali perbuatannya, dia ingin minta maaf sama kamu. Jadi ayah mau kalian omongin masalahnya baik-baik, biar cepat selesai masalahnya."


"Iya yah," saut Maira lemah.


Rio berdiri kemudian mengusap pelan puncak kepala Maira.

__ADS_1


"Ya sudah ayah ke kamar dulu. Ingat yang ayah bilang, jangan lama-lama berantemnya. Gak baik nak."


Maira mengangguk pelan, "Baik yah."


__ADS_2