Cuma Cinta Monyet

Cuma Cinta Monyet
Bab 7 CCM - Malu


__ADS_3

...-CCM-...


Maira berlari kecil menghampiri Raka yang sudah menunggunya di depan rumah. Seperti Janji mereka kemarin untuk pergi bersama. Ayahnya sudah sedari tadi berangkat bekerja, sedangkan Angkasa masih setia dengan bantal dan kasurnya. Padahal Maira sudah membangunkannya tapi dia tidak mau bangun. Ya sudahlah biarkan, Maira malas untuk mengurusnya.


"Cepet juga lo dateng," ucap Maira saat ia sudah di dekat Raka.


Raka melirik Maira di balik helm full face nya itu, melihat matanya saja orang bisa tahu kalau dia tampan. (⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)


"Kan udah gue bilang, kalau gue ini cucunya Valentino Rossi," ucap Raka bangga.


"Iyain terserah lo deh kak," Maira memakai helm yang ia bawa dari rumah dan langsung duduk di jok belakang.


"Buset lo, bilang-bilang dong kalau mau naik. Belum siap nih," ucap Raka berusaha mengatur keseimbangannya.


Maira memajukan tubuhnya berbicara tepat di samping wajah Raka. Bukan kah ini terlalu maju? Ini tidak baik untuk jantung Raka.


"Hehe sorry kak Raka."


Raka menolehkan kepalanya yang membuat jarak wajah mereka sangat dekat. Untuk sesaat mereka sama-sama terdiam, sampai Raka mendorong kepala Maira agar menjauh darinya.


"Ehem. Ya udah pegangan, kita berangkat," ucap Raka berusaha menghilangkan rasa gugupnya.


Maira berpegangan pada baju Raka, ia juga sama gugupnya, "I..iya."


...🐒🐒🐒...


Sesampainya di SMA Cahaya Maira dan Raka berkumpul dengan teman-temannya yang sudah sampai lebih dulu. Setelah semua anggota osis telah datang, mereka semua di arahkan untuk berkumpul di ruang aula yang sudah di siapkan.


Setelah penyambutan dan pembukaan dari kepala sekolah, di situ mereka di perintahkan untuk menonton film dokumenter tentang narkotika yang sudah di siapkan. Di mana mereka harus mencatat hal-hal penting yang terkandung dalam film itu. Setelah beberapa puluh menit akhirnya film tersebut pun habis. Mereka di berikan waktu untuk beristirahat.


Maira menyandarkan tubuhnya, sedari tadi ia terus menegakkan tubuhnya karena sekolahnya mendapatkan tempat duduk bagian belakang. Jadi banyak kepala yang menghalangi pandangannya.


"Duh sakit pinggang gue," ucap Maira.


"Sama gue juga," ucap Dewi seraya meregangkan tubuhnya.


"Ra, Dew. Nih," kakak kelasnya bernama Cici yang duduk di samping Maira menyodorkan dua kotak nasi dan dua gelas air mineral.


"Wih makasih kak. Alhamdulillah makan gratis," seru Maira semangat.


Dewi mengambil bagiannya dan langsung melahapnya dengan gembira, "Kapan lagi kan makan gratis."


Padahal Dewi terbilang dari keluarga yang kaya tapi mendapatkan makanan gratis adalah suatu kebahagiaan baginya.


Setelah beberapa saat istirahat akhirnya mereka kembali mendengarkan pidato dari kepala sekolah dan pembina OSIS. Jujur saja ini adalah saat yang cukup membosankan bagi sebagian murid. Tapi mereka harus menghargai guru mereka yang sedang berbicara dan mendengarkannya dengan baik.


Berbeda dengan Maira dan Raka yang sedari tadi adu bacot dan tidak memperdulikan pidato dari guru mereka. Dengan Cici yang sudah tidak tahan mendengarkan mereka berdua, karena Cici duduk tepat di antara Maira dan Raka. Padahal yang sedari tadi mereka bahas itu hanya tentang siapa yang duluan antara ayam atau telurnya.

__ADS_1


"Udah gue bilang ayam duluan bukan telur," ucap Raka.


"Ayam berasal dari mana? Dari telur kan? Berarti telur duluan," ucap Maira tidak terima.


Raka menepuk keningnya, "Ayam duluan, kan yang bertelur itu ayam."


"Gak mau ngalah bener sih sama cewek," ucap Maira kesal.


"Emang lo cewek?" ledek Raka.


"Dasar upil lo," ucap Maira tangannya terulur hendak memukul Raka, namun sedikit susah karena Cici berada di tengah mereka.


Tapi Raka terus saja meledeknya, tangannya terus memukul Raka. Sampai tiba-tiba tangan Maira mengenai dada Cici.


"Akh."


"Mati gue," gumam Maira.


Cici menatap Maira dan Raka bergantian, dengan tatapan tajam.


"Raka, Maira," geram Cici.


"Ma..maaf kak gak sengaja," ucap Maira merasa bersalah.


"Kalian berdua nih yah ribut mulu dari tadi, ya udah Raka lo duduk di sini. Kita tukeran, biar lebih deket lo berdua. Lanjut dah tuh kalian bahas telur sama ayam," ucap Cici kesal, ia berdiri dari tempat duduknya dan pindah ke kursi Raka.


"Kenapa gue? Kan tangan lo yang salah," ucap Raka. Dia sih masa bodo, dia malah senang bisa duduk di dekat Maira.


"Makanya lo berdua sih ribut mulu. Rasain kak Cici marahkan," Dewi menertawakan nasip Maira dan Raka yang telah di marahkan oleh Cici.


"Ketawa lagi lo Maimunah," kesal Maira. Bukannya diam Dewi malah semakin tertawa melihat ekspresi wajah Maira yang sedang kesal.


Pembahasan antara telur dan ayam ini belum berakhir sampai disini. Bahkan masih berlanjut sampai mereka sudah di bubarkan. Dan sekarang hampir semua teman-temannya hendak pergi ke toilet, termasuk Maira dan juga Raka. Karena keasikan membahas telur dan ayam Maira sampai tidak sadar bahwa ia sudah berada di dalam toilet laki-laki.


"Ra!" panggil Rahmat.


Maira menoleh, "Iya kak?"


"Lo ngapain di sini?"


Seketika Maira membeku setelah memperhatikan sekitarnya, semua lelaki yang berada di toilet menatapnya heran. Wajahnya memerah karena malu. Raka saja tidak sadar kalau mereka sudah berada di toilet.


"Maaaaaafff," tanpa pikir panjang Maira langsung berlari ke luar dan masuk kedalam toilet yang seharusnya.


Raka tertawa kecil melihat tingkah Maira, itu cukup menggemaskan baginya.


Dewi yang sedang mencuci tangannya mengernyit heran melihat Maira yang datang sambil berlari.

__ADS_1


"Kenapa lo?"


Maira menatap Dewi dengan ekspresi wajah sedih, "Malu gue Dew. Mau taruh di mana muka gue."


"Malu kenapa? Muka lo ya di taruh di kepala lo lah, masa di pantat."


...🐒🐒🐒...


"Dari mana aja lo? Liat tuh yang lain udah pada pulang," ucap saat melihat sosok Maira berjalan kearahnya dengan kepala yang tertunduk.


"Berisik lo," Maira memasang helmnya dan langsung menaiki motor milik Raka, "Yuk pulang."


Jujur saja ia masih malu karena insiden salah masuk toilet tadi. Rasanya Maira ingin menenggelamkan wajahnya ke dalam pasir. Makanya ia menunggu teman-temannya yang lain pulang duluan. Tapi tetap saja ia malu, kan Raka juga melihat kejadian tadi. Dan Raka juga salah satu penyebab Maira sampai masuk ke dalam toilet laki-laki. Hah dasar upil.


"Galak amat neng," goda Raka.


"Berisik. Buruan jalan!" Raka ini tidak paham situasi atau apa, jelas Maira sudah mati-matian menahan malunya.


"Iya, iya ini jalan. Ngeeengggg."


Beberapa saat kemudian mereka telah tiba di rumah Maira.


Maira turun dari motor dan melepaskan helmnya, "Makasih ya kak udah mau nganterin gue."


Raka mengangguk, "Yoi santai aja."


"Ya udah kalau gitu gue masuk dulu ya."


"Eh bentar Ra!" ucap Raka, yang membuat Maira mengurungkan niatnya.


"Kenapa kak?"


"Gue liat akhir-akhir ini lo makin dekat dengan Bara."


Maira mengernyit kemudian menganggukkan kepalanya, "Ya lumayan lah. Kenapa?"


"Gue cuma mau bilang, hati-hati sama Bara," ucap Raka.


"Kenapa? Kak Bara baik kok."


"Ya pokoknya hati-hati aja."


Maira menatap Raka heran, apa maksudnya hati-hati dengan Bara. Beberapa saat kemudian ia menatap Raka dengan tatapan menyelidik.


"Kenapa lo?" tanya Raka aneh.


"Lo cemburu ya?"

__ADS_1


...-CCM-...


__ADS_2