Cuma Cinta Monyet

Cuma Cinta Monyet
Bab 6 CCM - Maksa kan?


__ADS_3

...-CCM-...


"Apa gue bilang kan? Jadi osis tuh enak," ucap Dewi melirik Sheila yang duduk di sampingnya.


"Iya dah iya," kata Sheila seraya meminum es jeruk miliknya.


Sekarang mereka sedang duduk di kantin. Tadi sehabis rapat osis para anggota osis yang mengikuti rapat di perbolehkan untuk istirahat lebih dulu dari yang lain.


Dewi dengan lahap menyantap nasi gorengnya, kemudian melirik Maira yang hanya meminum segelas es.


"Lo beneran gak mau makan? Lo kan belum makan dari tadi pagi," tanya Dewi.


Maira menggeleng, "Gak, nanti aja deh. Masih kenyang gue."


Dewi merotasi kan bola matanya, "Kenyang makan apaan lo? Makan angin? Penyakit jangan di cari, ntar yang susah lo sendiri."


Maira terkekeh mendengar temannya itu mengomel, "Iya iya ntar gue makan tenang aja."


"Iya iya aja lu. Oh iya Ra besok lo pergi ke SMA Cahaya sama siapa?" tanya Dewi, pasalnya besok mereka para anggota inti OSIS dan beberapa anggota lainnya akan menghadiri pertemuan anggota OSIS dari semua sekolah.


"Belum tau sih gue, mungkin minta antar Angkasa kalau dia bangun nya gak telat," jawab Maira, "Kalau lo Dew?"


"Gue? Biasa di antar bokap."


Maira mengangguk-anggukkan kepalanya, "Oh."


"Wah udah duluan ke kantin nih bocah rupanya," ucap Raka yang baru saja datang sang ketua OSIS ya itu Rahmat. Mereka duduk di depan Maira dan Dewi.


"Ya kan di bolehin istirahat duluan," ucap Maira.


"Iya, yang lain aja tuh anak rajin makanya milih masuk kelas. Kita sih gak, selagi ada kesempatan jangan di sia-siakan," ucap Dewi dengan tersenyum bangga.


Raka dan Rahmat hanya geleng-geleng saja mendengarnya.


"Terserah lo berdua dah," ucap Raka.


"Soalnya kita berdua juga malas hahaha," ucap Rahmat tertawa yang juga di ikuti oleh Raka.


"Yoi bro hahaha," seru Raka sambil bertos dengan Rahmat.


Maira melirik Dewi, "Dew, mereka beneran ketua dengan wakil osis kan?"


"Sayangnya beneran Ra," jawab Dewi.


Setelah beberapa menit tertawa dengan Dewi dan Maira penontonnya akhirnya mereka berdua berhenti juga. Rahmat pergi memesan makanan untuknya dan Raka.


"Oh iya Ra, besok lo pergi ke SMA Cahaya sama siapa?" tanya Raka yang membuat Maira membatin hhm seperti Dejavu.


"Gue minta antar Angkasa kalau dia gak telat bangunnya."


Raka mengangguk-anggukkan kemudian diam sebentar seperti memikirkan sesuatu.


"Kalau bareng gue mau gak?" Maira sedikit terkejut mendengar tawaran dari Raka.


"Hah? Emang gapapa? Rumah kita kan jauh," tanya Maira ragu.

__ADS_1


Raka tersenyum, "Gapapa, gue kan cucunya Valentino Rossi, lima menit gue udah sampai ke rumah lo."


"Iya namanya doang," saut Dewi tiba-tiba.


"Astaghfirullah mulut lo," ucap Raka sinis.


"Hehe canda kak."


Raka kembali menatap Maira, "Gimana mau gak?"


"Gimana ya? Kalau kak upil maksa sih aku tidak bisa menolak," kata Maira sok manis yang membuat Raka dan Dewi menatapnya datar.


Dewi menempelkan punggung tangan ke kening Maira, "Sakit lo?"


"Gak ada yang maksa, gue nawarin," elak Raka.


Maira menatap Raka dengan senyuman jail, "Alah bilang aja kalau maksa, gapapa kok kak upil."


"Manggil gue upil sekali lagi. Gue cium lo!"


...🐒🐒🐒...


Jam istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu, Maira hanya duduk di dalam kelasnya. Sedangkan Dewi pergi mendatangi pacarnya, sebenarnya ia mengajak Maira, tapi Maira sedang tidak ingin kemana-mana.


"Gak ke kantin Ra?" tanya gadis berjilbab yang bernama Asih. Ia duduk tepat di seberang kursi Maira.


Maira menggeleng, "Gak lagi males gue. Lo sendiri gak ke kantin?"


"Gak, gue ada bawa bekal, "jawab Asih seraya menunjukkan tempat bekalnya.


Maira mengangguk-anggukkan kepalanya, "Oh."


"Gapapa gak usah, makasih lo makan aja," tolak Maira.


"Ya udah kalau gitu gue makan dulu ya."


"Iya silahkan."


...🐒🐒🐒...


"Kak Kevin!" Dewi berlari kecil menghampiri Kevin yang baru saja keluar dari dalam kelasnya.


"Tuh ayang lo datang," ucap Bara.


Kevin tersenyum melihat sang pacar datang, "Dewi. Mau ke kantin bareng?"


Dewi mengangguk semangat yang membuatnya tampak menggemaskan, "Iya, yuk."


Kevin mencubit pelan pipi Dewi, "Gemes banget sih. Ya udah ayok ke kantin."


Kevin tidak tahu saja kalau Dewi tadi sudah ke kantin. Ia rela makan lagi agar bisa menemani sang pujaan hati makan di kantin.


Bara menatap Kevin dan Bara yang sudah berjalan meninggalkannya, "Wah gila, di jadiin nyamuk gue."


Bara teringat sesuatu, kemana gadis yang akhir-akhir ini selalu mengisi pikirannya. Biasanya dia selalu bersama Dewi. Dari pada menerka-nerka lebih baik langsung tanyakan saja kepada Dewi.

__ADS_1


"Kevin, Dewi tunggin gue!" Bara berlari menghampiri Dewi dan Kevin yang mulai menjauh.


Kevin menoleh, "Buruan! Lama bener kayak siput."


"Mata lo siput," ucap Bara yang hanya di balas gelak tawa dari kevin.


"Oh iya Dew. Maira kemana? Tumben gak bareng lo?" tanya Bara setelah mensejajarkan langkah mereka.


"Dewi sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat Bara yang ada di samping Kevin, "Dia di kelas. Mager katanya mau ke kantin."


Bara mengangguk-anggukkan kepalanya, "Oh gitu."


Dewi menatap Bara dengan tatapan menyelidik, "Kak Bara suka Maira ya?"


"Hah? Keliatan banget ya?" tanya Bara salah tingkah.


"Iya, keliatan banget muka lo jeleknya," ucap Kevin tiba-tiba.


Bara menatap Kevin sinis kemudian melingkarkan tangannya di leher Kevin, "Syalan lo ngatain gue jelek. Muka kek Aliando gini lo bilang jelek."


"Ek woi mo mati gue woi, lepasin Bar."


"Bilang gue ganteng dulu baru gue lepasin."


"Dew, tolongin aku. Aku di piting sama monster," ucap Kevin meminta tolong kepada sang pacar, Dewi hanya geleng-geleng melihat tingkah mereka berdua.


"Oh ngatain gue monster lo, gue buat pingsan juga lo."


...🐒🐒🐒...


Maira tersenyum lebar saat mendapatkan pesan WhatsApp dari Bara. Lelaki itu menanyakan kenapa Maira tidak pergi ke kantin dan apa ia sudah makan atau belum. Dan sekarang ia berkata akan datang ke kelas Maira. Dan benar saja lima menit kemudian Bara sudah tiba di kelas Maira dengan membawa sekotak nasi goreng dan sebotol air mineral dingin.


Teman-teman Maira yang ada di dalam kelas saling berbisik melihat kedatangan Bara. Karena Bara cukup terkenal di kalangan adik kelasnya, tentu saja karena ketampanannya itu.


"Nih gue beliin tadi di kantin. Di makan ya, lo kan belum makan," ucap Bara seraya meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja Maira.


Maira yang tadinya sempat terkejut melihat kedatangan Bara, berusaha menyadarkan dirinya.


"Makasih banyak kak, maaf jadi ngerepotin," ucap Maira merasa tak enak.


"Gak ngerepotin. Kan gue sendiri yang mau beliin. Waktu itu kan lo juga ngasih gue air minum," ucap Bara tersenyum.


Maira menatap makanan itu dan Bara bergantian, ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Jantungnya berdetak lebih kencang, di perlakukan seperti ini benar-benar membuat hatinya senang.


"Ya udah kalau gitu gue balik ke kelas dulu ya," ucap Bara.


"Iya kak makasih banyak ya."


"Iya sama-sama," Bara mengusap pelan puncak kepala Maira, "Awas kalau gak di makan, gue suapin ntar!"


"Gapapa kak suapin aja, gue ikhlas," sayangnya kata-kata itu hanya bisa ia ucapkan di dalam hati.


Maira tersenyum, "Iya kak."


...-CCM-...

__ADS_1


__ADS_2