Cuma Cinta Monyet

Cuma Cinta Monyet
Bab 12 CCM - Berita hangat


__ADS_3

"Gue cemburu kalau lo deket-deket dengan Raka," ucap Bara.


"Hah? Apa kak? Cemburu?" tanya Maira kaget.


"Iya gue cemburu!" tegas Bara.


-


Maira tersenyum saat mengingat kejadian tadi siang, saat dimana Bara mengatakan bahwa ia cemburu melihat Maira terlalu dekat dengan Raka. Maira mengguling-gulingkan tubuhnya di atas kasur, ia sama sekali tidak bisa menahan rasa senangnya. Hatinya saat ini sedang berbunga-bunga.


Tanpa ia sadari sedari tadi ayahnya melihat tingkahnya itu.


"Ekhem Ra," mendengar suara ayahnya itu, Maira langsung terperanjat. Ia yang semula terbaring langsung cepat-cepat mendudukkan tubuhnya.


Saat ini Maira benar-benar ingin menghilang dari hadapan ayahnya, ia sangat malu. Bisa-bisa ayahnya mengira kalau Maira sudah gila, karena senyum-senyum sendiri.


Maira merapikan rambutnya dan tersenyum kepada Rio. Ia berusaha untuk tenang, "Ada apa yah?"


"Kamu kenapa? Ayah kira kamu kesurupan loh tadi," tanya Rio heran.


"Haha ada-ada aja ayah, mana ada Maira kesurupan," jawab Maira canggung, bisa-bisanya Rio mengiranya kesurupan. Iya sih kesurupan, kesurupan cintanya Bara:)


"Ya habisnya kamu guling-guling terus senyum-senyum sendiri."


Maira terkekeh, "Gak gak kesurupan yah. Oh iya ada apa yah? Kenapa ayah ke kamar Maira?"


Hampir saja Rio lupa maksud tujuannya ke kamar putrinya. "Oh ini, ayah mau pergi ke rumah teman ayah. Kamu mau nitip sesuatu gak? Mumpung ayah keluar nih."


Maira tampak berpikir beberapa saat, memikirkan apa yang ingin ia beli.


"Hhm kayak nya gak ada sih yah," jawab Maira seraya menggeleng.


"Ya udah kalau gitu ayah pergi dulu ya. Assalamualaikum." pamit Rio.


Maira mengangguk seraya tersenyum, "Iya hati-hati yah. Walaikumsalam."

__ADS_1


...🐒🐒🐒...


Hari ini Maira merasa senang karena Angkasa sudah tidak sakit lagi dan bisa bersekolah kembali. Ia tidak ingin kakaknya sakit berlama-lama. Seperti ikatan sesama anak kembar, jika Angkasa sakit tentu Maira juga akan merasakannya.


Maira berjalan sendirian menelusuri lorong sekolah, sedangkan Angkasa tentu saja langkahnya berbelok dulu ke MDC. Maira kembali mengingat perkataan Bara kemarin, dan hal itu berhasil membuatnya senyum-senyum lagi.


Namun saat ia sedang berbunga-bunga memikirkan Bara. Maira melewati beberapa siswi yang sedang bersantai di depan kelas mereka, sedang membicarakan tentang Bara. Maira mengernyitkan dahinya penasaran, ia melebarkan pendengarannya untuk mengetahui hal apa di bicarakan oleh mereka.


"Eh lo tau gak? Katanya kak Bara udah punya pacar loh," ucap salah seorang siswi dengan rambut di kuncir kuda.


Maira kaget mendengarnya. Pacar? Siapa pacar kak Bara? kenapa ia tidak mengetahuinya.


"Hah? Serius? Sejak kapan? Bukannya kemarin masih jomblo ya?" tanya seorang siswi berambut pendek. Pertanyaan siswi itu benar-benar mewakili Maira, karena hal itu juga yang ingin Maira tanyakan.


"Katanya sih baru jadian kemarin, dengan anak kelas 10 IPA 1."


"Yah hilang deh kesempatan gue buat deketin kak Bara. Kemarin kak Kevin sekarang kak Bara. Lalu sekarang siapa yang akan gue haluin?" ucap siswi berambut pendek dengan dramatis.


Maira terbelalak, itu kan kelas Maira. Siapa orang dari kelas Maira yang berpacaran dengan Bara. Ia yang semula berhenti untuk mendengarkan percakapan para siswi itu, kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kelasnya. Maira harus mencari tahu tentang kebenaran yang ia dengar tadi.


Jika iya, Maira tidak tahu lagi bagaimana harus mendeskripsikan semua ini. Tentu saja ia akan sangat senang. Tapi jika bukan? Bagaimana? Maira harus bersikap bagaimana?


"Pagi Ra," sapa Asih ketika melihat Maira memasuki kelas sambil termenung.


"Eh pagi Sih," balas Maira tersenyum.


Maira duduk di bangkunya dan melihat meja Dewi masih kosong, "Dewi belum dateng ya?"


Asih yang sedang membaca buku kembali melirik Maira, "Dia gak masuk hari ini izin katanya mau keluar kota, tadi ada yang nganterin surat izinnya ke sekolah."


"Lah bocah, gak ada ngabarin gue lagi dia," ucap Maira, bisa-bisanya Dewi tidak mengirimkan pesan kepadanya jika akan pergi keluar kota. Jika begini kan Maira jadi harus duduk sendiri.


Maira melirik Asih dan tersenyum kecil, "Asih duduk bareng gue aja yuk. Lo kan juga sendiri tuh."


Asih diam beberapa saat sebelum kemudian mengangguk setuju, "Oke deh."

__ADS_1


Setelah Asih duduk di sampingnya, hanya ada keheningan di antara mereka berdua. Asih kembali membaca bukunya dan Maira terdiam tidak tahu harus berbuat apa. Tidak seperti Dewi yang suka berbicara, Asih lebih sedikit pendiam. Jadi Maira bingung, ingin mengajaknya bicara tentang apa. Mana di kelas masih agak sepi lagi. Karena murid-murid masih ada yang belum datang.


Maira ingin membicarakan tentang kak Bara tapi pasti Asih tidak paham. Asih tidak terlalu perduli tentang hal-hal yang terjadi di luar kelas, ia lebih suka sendiri dan menghabiskan waktunya untuk membaca buku. Dari pada seperti ini, Maira juga memutuskan untuk mengeluarkan buku pelajaran dan membacanya.


Setelah beberapa menit membaca buku, tiba-tiba Maira merasakan sepertinya ia ingin buang air kecil. Padahal ia rasanya malas untuk keluar kelas lagi, tapi mau bagaimana lagi jika di tahan bisa jadi penyakit.


"Mau kemana Ra?" tanya Asih saat Maira hendak pergi.


"Ke wc," jawab Maira.


"Oh. Mau gue temenin?" tawar Asih.


Maira menggeleng, "Gapapa gue sendiri aja."


"Oh ya udah deh."


Maira berjalan sambil sesekali melirik ke sana kemari mencari keberadaan Bara. Siapa tahu kan dia bisa bertemu dengan Bara saat akan ke toilet. Mungkin ia bisa memberanikan diri untuk menanyakan apakah Bara sudah punya pacar atau belum. Tapi ia sama sekali tidak melihat keberadaan lelaki itu, mungkin dia ada di kelasnya. Jika harus pergi ke kelas Bara, tentu saja Maira malu.


Saat Maira sudah di dalam toilet, diam-diam Maira mendengarkan percakapan dua orang siswi. Yang lagi-lagi membicarakan tentang Bara dan pacar barunya. Ya sepertinya berita ini sedang hangat-hangatnya.


"Katanya Bara udah punya pacar ya? Sama adek kelas, iya kah?"


Maira yang tadinya ingin keluar, mengurungkan niatnya dan memilih untuk mendengarkan percakapan mereka dulu. Siapa tahu Maira bisa tahu siapa pacar Bara yang di maksud mereka.


"Gue denger-denger sih gitu. Kelas 10 IPA 1 kalau gak salah."


"Wah. Bukan yang itu kah anaknya, yang sering sama Dewi itu? Gue liat-liat akhir-akhir ini dia deket sama Bara."


Maira tersenyum kecil mendengar bahwa mereka mengira Maira lah pacar Bara. Diam-diam ia mengaminkannya dalam hati.


"Maira? maksud lo?"


"Ho'oh."


"Bukan coy, setau gue nama pacarnya itu Melly."

__ADS_1


__ADS_2