
Pagi ini seluruh murid Nusa bangsa berkumpul di lapangan sekolah. Hari ini mereka akan melakukan kegiatan kerja bakti. Jadi semuanya menggunakan seragam olahraga.
"Jadi hari ini kita akan melakukan kegiatan kerja bakti, seperti yang saya umum kan kemarin. Jadi jangan sampai ada alasan lupa sehingga tidak menggunakan baju olahraga. Seperti yang di sana...." ucap pak Heri matanya tertuju pada salah satu siswa yang menggunakan seragam Pramuka.
"Kenapa tidak pakai baju olahraga?" tanya pak Heri pada siswa itu.
"Sa..saya kemarin gak masuk sekolah pak, gak ada yang ngasih tau kalau hari ini pakai baju olahraga," jawab siswa itu seraya menggaruk tengkuknya yang memang gatal.
Pak Heri menghela nafasnya pasrah seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya kembali tertuju kepada seluruh murid yang berkumpul di lapangan.
"Baiklah kita mulai kerja baktinya sekarang. Ingat jangan ada yang main-main atau kabur ke kantin sebelum selesai!"
Setelah di bubarkan para siswa dan siswi SMA Nusa Bangsa bertebaran di seluruh penjuru sekolah. Mereka beramai-ramai membersihkan sekolah tercinta, para guru pun juga ikut membantu.
Rahmat yang awalnya sibuk menyapu daun-daun yang berguguran, tiba-tiba berhenti ketika melihat Raka yang terdiam menatap lurus ke depan. Ia mengernyit ketika melihat sahabatnya itu tersenyum. Dan saat ia mengikuti arah pandangan Raka, di situlah ada Maira yang sedang membersihkan sampah.
Rahmat mendekati Raka sambil tersenyum jahil, "Sesuka itu ya lo sama Maira? Sampai gak kedip-kedip tuh mata ngeliatnya."
Raka terkejut saat Rahmat sudah di dekatnya, habislah ia ketahuan memperhatikan Maira. Cepat-cepat ia mengambil sapu dan menyapu daun-daun yang berguguran.
"Sotoy lu, siapa juga yang suka sama Maira," elak Raka saraya menyapu, matanya tidak berani menatap mata Rahmat.
Rahmat tersenyum miring, sahabatnya ini memang tidak pandai berbohong. Jelas-jelas suka tapi masih saja mengelak.
"Ck. Iyain dah biar gak malu."
"Emang gak ya."
"Iya iya gak."
Sumpah demi apapun ekspresi wajah Rahmat saat ini sangat menyebalkan. Ingin rasanya Raka masukkan ke dalam karung.
"Ra senyum dulu dong, gue foto nih."
Maira yang awalnya sedang menyapu langsung berdiri tegap menghadap Dewi yang sudah bersiap untuk memfotonya.
Ckrek
"Oke udah nih."
"Mana liat. Bagus gak?" Maira berjalan mendekati Dewi untuk melihat hasil potretan temannya.
"Nih lo liat sendiri deh!" Dewi menyodorkan ponselnya kepada Maira.
Dan ya hasilnya kira-kira seperti ini:)
__ADS_1
Ada Angkasa di belakang Maira. Maira mengangkat kepalanya menatap Angkasa yang pura-pura menyapu dengan kesal. Ia mengembalikan ponsel Dewi kemudian menghampiri Angkasa.
Maira menahan penyapu Angkasa dengan penyapu miliknya, "Lo gak bisa bener liat adek lo seneng ya tuyul!"
"Apa? Gue gak ada ganggu ya kuntilanak!" ucap Angkasa tak kalah Sewot.
"Halah gue mau foto cantik aja lo gangguin. Kenapa lo mau mukul gue pakai penyapu? Sini gue ladenin lo!"
"Oke maju sini lo!"
Dan akhirnya mereka berkelahi menggunakan penyapu layaknya dua orang yang sedang berkelahi menggunakan pedang. Habis sudah berhamburan sampah-sampah yang sudah mereka kumpulkan. Dewi hanya menatap mereka prihatin, karena perkelahian mereka sedang di perhatikan oleh pak Yanto. Dewi hanya bisa mendoakan mereka di dalam diam. Semoga selamat:)
"Angkasa! Maira!" panggil pak Yanto seraya berjalan ke arah mereka.
Seketika mereka berdua membeku ketika mendengar suara pak Yanto, dengan posisi Maira menarik rambut Angkasa dan Angkasa menarik rambut Maira.
"Lepaskan!" titah pak Yanto.
Dengan lemah mereka melepaskan cengkraman tangan mereka masing-masing. Kemudian berdiri tegap di hadapan pak Yanto.
Pak Yanto menatap mereka tajam, "Kalian ini, disuruh kerja bakti malah berkelahi tidak jelas seperti ini."
"Maaf pak," ucap mereka serempak seraya tertunduk.
Pak Yanto berjalan bolak-balik di depan mereka seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ya sudah, kalau sekali lagi saya liat kalian bertengkar. Saya akan beri kalian hukuman. Mengerti!"
"Ya sudah lanjutkan tugas kalian!"
"Baik pak!"
Secepat kilat mereka mengambil sapu masing-masing dan menyapu sampah yang tadi mereka hamburkan. Dewi menahan tawanya melihat mereka, salah sendiri malah bertengkar. Hahaha.
Raka yang juga memperhatikan kejadian itu hanya geleng-geleng melihat tingkah mereka berdua.
"Maira Maira," ucap Raka.
...🐒🐒🐒...
Diam-diam Rahmat mendekati Maira yang sedang duduk di bawah pohon. Ia mengibas-ngibaskan tangannya ke arah wajah, sangat panas rasanya. Ia sedang menunggu Dewi yang pergi membeli air minum untuk mereka berdua, habis bersih-bersih tentu saja mereka sangat haus.
"Ra," panggil Rahmat tiba-tiba yang membuat Maira kaget karena lelaki itu sudah duduk di sampingnya.
"Astaghfirullah kaget gue. Kak Rahmat nih dateng gak bilang-bilang," ucap Maira seraya mengelus dadanya.
"Hehe sorry sorry."
"Ada apa kak? Tumben sendiri? Biasanya sama kak Raka," tanya Maira.
__ADS_1
"Nah itu masalahnya. Gue mau ngasih tau lo sesuatu," ucap Rahmat serius.
"Hah? Apaan tuh?" tanya Maira penasaran.
"Raka tuh suka sama lo. Kalau dia nembak lo, lo terima gak?"
Hah? Apa? Ini Maira tidak salah dengar kan. Raka suka Maira? Ah tidak mungkin pasti Rahmat bercanda.
Maira diam beberapa saat kemudian ia terkekeh pelan, "Haha ada-ada aja kak Rahmat. Bisa aja bercandanya."
"Lah gue serius ini. Dia beneran suka sama lo, masa gak percaya sih," ucap Rahmat meyakinkan.
"Gak mungkin lah kak Raka suka sama gue, yang cuma remahan rengginang ini," ucap Maira mengibas-ngibaskan tangannya tidak percaya.
"Ya Allah gue serius Ra. Raka itu suka sama lo."
"Maira!" panggil Dewi tak jauh dari tempat mereka duduk, gadis itu melambaikan tangannya mengisyaratkan Maira agar mendatanginya.
Maira melirik Rahmat, "Gue ke sana ya kak, Dewi manggil gue tuh."
Rahmat hanya mengangguk pasrah, misinya membantu Raka sepertinya gagal. Tak lama Raka datang menghampirinya dengan wajah penuh tanya.
"Ngomongin apa lo sama Maira?" tanya Raka seraya menunduk menatap Rahmat yang masih duduk di tanah.
Rahmat berdiri dan membersihkan celananya, "Ngobrol biasa aja. Kenapa?"
"Gak, nanya aja."
Rahmat melirik Raka. Terlihat jelas sekali di wajah Raka, bahwa Raka sedang cemburu.
"Lo cemburu?" Raka hanya diam, "Jadi beneran lo cemburu?"
Raka melirik Rahmat kesal, "Apaan sih lo. Siapa juga yang cemburu, aneh.
"Heleh bilang aja cemburu. Kalau suka di kejar lah, ini diem-diem bae. Di rebut orang nangis lo," cibir Rahmat.
"Kalau dianya gak suka gimana?" ucap Raka kesal.
Rahmat cukup terkejut mendengar perkataan Raka, waw di luar perkiraan. Raka keceplosan berbicara seperti itu, ini gara-gara Rahmat selalu memancingnya.
"Suka kan lo," ledek Rahmat.
"Udahlah gue ke kantin dulu."
Rahmat mengejar Raka yang sudah berjalan cepat dengan cepat meninggalkannya.
"Ayang Raka tunggu aku dong!"
__ADS_1
"Najis!"