
Hari ini Maira berangkat sekolah lebih awal. Itu semua di karenakan ia dan Angkasa salah melihat jam. Padahal jam baru menunjukkan pukul 06:00 eh mereka malah mereka mengira sudah pukul 07:00. Ya biasalah mata masih ngantuk pandangannya terkadang suka salah.
Jadinya barulah mereka berdua yang baru berada di sekolah. Tidak-tidak lebih tepatnya Maira sendiri, karena Angkasa lebih memilih pergi ke MDC. Katanya mau numpang tidur sebentar, karena matanya masih mengantuk. Tega sekali Angkasa meninggalkan adiknya yang cantik ini sendirian.
Karena kelas juga belum di buka, akhirnya Maira memilih duduk di tepi lapangan menunggu murid-murid yang lain datang. Tak lama terdengar suara motor memasuki sekolah. Maira sedikit lega karena akhirnya ada murid lain selain dirinya. Dan saat Maira melihatnya ternyata itu adalah Raka. Mata Maira terus mengikuti Raka dari gerbang sekolah hingga parkiran.
Raka mengernyit ketika melihat Maira, tumben sekali gadis itu datang seawal ini. Raka berjalan menghampiri Maira. Mereka saling melempar senyum canggung. Mereka masih sama-sama merasa bersalah karena kejadian kemarin, di mana Raka membentak Maira agar tidak memanggilnya kak upil lagi.
Raka menundukkan kepalanya menatap gadis yang juga sedang mendongak menatapnya.
"Tumben lo datang jam segini Ra? Angkasa ke mana?" tanya Raka. Bukan basa-basi sih ini, ia memang penasaran.
"Memang lagi awal aja bangunnya kak hehe. Kalau Angkasa sih ada di MDC dia," jawab Maira sedikit berbohong.
"Oh gitu," ucap Raka seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalau kak Raka memang suka berangkat sekolah jam segini ya?"
Raka menggeleng kecil, "Gak juga sih. Pagi ini gue piket bersihin ruang guru, makanya datang awal."
"Oh, gitu ya."
Untuk beberapa saat mereka saling diam, tidak tau apalagi yang harus di ucapkan.
"Hhm Ra soal kemarin, gue minta maaf ya. Gue udah bentak-bentak lo," ucap Raka tiba-tiba.
Maira mengangkat alisnya, kemudian ia berdiri dan tersenyum manis ke arah Raka.
"Gapapa kok kak Raka. Seharusnya gue yang minta maaf. Kan kak Raka gak suka di panggil upil, tapi gue nya aja yang ngeyel. Maaf ya kak," jelas Maira merasa bersalah.
"Gue janji," Maira mengangkat tangan kanannya dan membentuk dua jarinya seperti huruf v, "Mulai sekarang gue gak akan manggil lo kak upil lagi."
Raka terbelalak, padahal selama ini ia senang jika Maira manggilnya kak upil. Karena kata Maira itu adalah panggilan sayang untuknya. Jika tidak begitu, tidak spesial lagi dong.
"Jangan!"
"Ma-maksudnya kak?"
__ADS_1
"Jangan berhenti manggil gue kak upil!"
"Kenapa? Bukannya lo gak suka gue panggil begitu ya?" tanya Maira.
"Itu kan panggilan sayang lo buat gue."
"◉‿◉"
...🐒🐒🐒...
Setelah pintu kelas sudah di buka, Maira langsung bergegas memasuki kelas. Beberapa teman kelasnya juga sudah ada yang datang, jadi dia tidak sendirian. Setelah berpisah dengan Raka, Maira terus tersenyum seraya memegangi pipinya yang terasa hangat. Sepertinya saat ini pipinya sudah berwarna merah, entah kenapa perkataan Raka tadi bisa membuatnya sesenang ini.
Sekarang ia semakin bertanya-tanya, apakah Raka benaran suka pada dirinya. Tapi Maira tidak ingin salah paham dan terbawa perasaan terlebih dahulu. Yang ada itu akan menyakiti perasaannya sendiri. Baiklah Maira harus bersikap biasa saja. Jika Raka suka dengan Maira kan, pasti dia akan menyatakan perasaannya.
"Woi! Diem-diem bae lu," tegur Khoirul ketika ia masuk ke dalam kelas dan mendapati Maira yang sedang melamun.
Maira menatap Khoirul kesal, "Bisa kagak lo, dateng-dateng jangan ngagetin orang tak."
"Santai dong jangan marah-marah, nanti makin jelek loh mukanya," ledek Khoirul yang membuat Maira semakin kesal.
"Tapi gue udah botak," saut Khoirul datar.
"Biarin! Gue botakin lagi, biar gak bisa tumbuh-tumbuh tuh rambut," ucap Maira kesal.
"Tega nya kamu pada diriku," ucap Khoirul dramatis seraya memegangi dadanya.
Maira hanya geleng-geleng seraya menghela nafas jengah, melihat tingkah teman kelasnya itu. Kemudian atensinya beralih kepada Asih yang tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah papan tulis. Gadis berhijab itu berniat menghapus papan tulis yang masih penuh dengan tulisan.
Maira mengernyit heran ketika melihat Khoirul menatap Asih sambil tersenyum. Matanya tak beralih sedetik pun dari gadis itu. Maira mengangkat sudut bibirnya. Sepertinya ada sesuatu dengan Khoirul.
"Lo suka sama Asih ya?" tanya Maira.
"Iya," jawab Khoirul tanpa mengalihkan tatapannya dari Asih.
"Wah langsung di iyain dong, gue kira lo bakalan ngelak," ucap Maira seraya menepuk-nepuk tangannya.
Khoirul mengalihkan pandanganya ke arah Maira, "Ngapain ngelak, itu kan sama aja gue bohong. Bohong kan dosa."
__ADS_1
"Iya sih. Tapi Asih kan gak mau pacaran," ucap Maira.
"Bagus lah kalau dia gak mau pacaran. Emang kalau suka, kita wajib pacaran? Kan gak. Lagian pacaran itu dosa," jelas Khoirul.
"Terus lo nya gimana?" tanya Maira.
"Ya gak gimana-gimana. Kalau memang berjodoh, suatu saat nanti dan kita udah sama-sama siap. Langsung gue lamar lah, ngapain pacar-pacaran," jawab Khoirul.
Maira menatap Khoirul takjub, ia menepuk-nepuk tangannya. "Wah Masya Allah babang Khoirul," Maira tampak berpikir sejenak, "Tapi kalau dia bukan jodoh lo gimana?"
"Ya berarti dia bukan yang terbaik buat gue, dan gue juga bukan yang terbaik buat dia."
"Masya Allah botak. Bisa aja lu tak," Maira hendak menepuk lengan Khoirul namun spontan Khoirul langsung menjauhkan tubuhnya dari Maira.
"Maaf bukan mahram ukhti**," Khoirul kembali menatap Asih sambil tersenyum.
"Pandangannya di jaga akhi," ucap Maira mengingatkan, yang membuat Khoirul langsung mengalihkan pandanganya dari Asih.
Khoirul menggelengkan kepalanya berusaha untuk menyadarkan diri dari pesona kecantikan Asih, "Astaghfirullah. Terimakasih sudah mengingatkan ukhti."
...🐒🐒🐒...
Jam istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, seperti biasa Maira dan Dewi sudah berada di kantin. Awalnya mereka makan dan seperti biasa. Namun ketika kevin datang bersama Bara dan Melly, tiba-tiba raut wajah mereka yang tadinya senang langsung berubah datar.
Kalau cuma Kevin sih tidak masalah. Yang jadi masalah itu dua manusia menyebalkan itu yang sekarang sudah duduk di kursi depan Maira. Ah membuat Maira tidak selera makan saja. Sebenarnya sih Maira sudah tidak mempermasalahkan masalah waktu itu. Namun ekspresi wajah Melly yang seperti meledeknya itu, benar-benar menyebalkan dan minta di hajar.
Dewi dan Maira menatap jijik ke arah Bara dan Melly ketika kedua orang itu saling bersuapan. Pemandangan apa ini, mata Maira sangat sakit.
"Dewi, Maira. Kalian kenapa?" tanya Kevin, ketika melihat Dewi dan Maira hanya diam menatap Bara dan Melly.
Serempak mereka berdua menggelengkan kepala.
"Gapapa kok kak," jawab mereka serempak.
"Ih yang baksonya panas. Tiupin dong," ucap Melly manja seraya memanyunkan bibirnya ke depan. Tidak perlu di bayangkan lagi kan bagaimana ekspresi Dewi dan Maira sekarang?
"Keracunan karbon dioksida baru tau rasa lu," sindir Dewi.
__ADS_1