
"Tunggu sini biar aku yang beli," suruh Raka pada Maira yang sedang duduk di kursi taman. Setelah mengemaskan peralatan piknik mereka, sebelum pulang mereka memutuskan untuk membeli ice cream terlebih dahulu. Lebih tepatnya Maira yang mau ice cream sih.
"Okay," Maira tersenyum memperhatikan Raka yang berjalan menuju kedai ice cream yang tak jauh dari taman. Sikap Raka sekarang benar-benar dua kali lipat lebih manis dari sebelumnya. Sebelumnya saja Maira sudah di buat salting terus apalagi sekarang, bisa salting brutal Maira di buatnya.
Maira menggoyang-goyangkan kakinya seraya bersenandung kecil. Matanya terus memperhatikan pergerakan sang pacar. Tampan sekali.
Beberapa saat kemudian kedua alis Maira saling bertautan senyum di bibir manisnya menghilang seketika. Ketika ia melihat dua orang gadis yang juga sedang membeli ice terus-terusan berbisik-bisik seraya memperhatikan Raka kagum.
Wah ini tidak bisa di biarkan, pacar tampan Maira sedang dalam bahaya. Kedua gadis itu saling dorong seraya mendekat ke arah Raka, wah apa yang ingin mereka lakukan.
"Gak tau dia ada pawang nya di sini. Hah?" desis Maira kesal, kemudian ia berdiri dan berjalan menghampiri Raka.
"Kak upil," dengan sigap Maira melingkarkan tangannya di lengan Raka, sebelum kedua gadis itu mendekat, yang membuat sang empu sedikit terkejut.
"Hei kenapa gak nunggu di sana aja?" tanya Raka lembut.
Maira menggeleng lucu, tangannya semakin mengeratkan lingkaran tangannya di lengan Raka.
"Gak mau, mau nemenin kak upil aja," jawab Maira manja matanya sesekali melirik kedua orang gadis tersebut. Ekspresinya seolah-olah mengatakan 'Liat nih dia udah punya pacar, jadi jangan ngarep. Hus hus pergi sana'.
Raka menahan senyumnya, kenapa Maira jadi semakin menggemaskan seperti ini. Tangannya terulur mengusap lembut puncak kepala Maira.
"Ya udah iya, ini juga tinggal bayar kok."
Dua gadis yang tadinya tergoda melihat ketampanan Raka, tiba-tiba merasa kecewa ternyata cowok ganteng tersebut sudah memiliki pasangan. Ah hilang sudah harapan.
Di lain tempat Wahyu yang menemani Angkasa untuk mengawasi Maira dan Raka, mulai merasa bosan. Tentu saja bosan Wahyu seorang jomblo, dari tadi ngeliat ke uwuan Maira dan Raka sangat-sangat membosankan. Wahyu kan jadi iriಥ‿ಥ.
Wahyu menepuk bahu Angkasa yang masih fokus memperhatikan adiknya.
"Sa udah napa sah pulang yok, mereka juga udah mau pulang tuh. Bosan gue di sini, mending gue main game kalau tau begini mah," keluh Wahyu.
"Iya bentar lagi ini sabar elah, bantuin temen juga. Lagian lu jangan ribut-ribut ntar kita ketahuan," saut Angkasa.
__ADS_1
"Gimana gak ketahuan badan kita gede, lo ngajak sembunyi pakai kardus kecil. Yang ketutup cuma kepala doang ege," Wahyu menatap datar wajah Angkasa yang tertutup kardus mi instan dengan dua lubang sebagai matanya.
Cara bersembunyi seperti apa ini, Wahyu benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya ini. Sedari tadi mereka berdua terus-terusan di tatap oleh orang-orang dengan tatapan aneh.
Angkasa memukul kardus yang ada di kepala Wahyu pelan, "Yang penting kan muka kita ketutup, jadi gak ketahuan lah. Jadi lu jangan ribut."
Angkasa kembali memfokuskan pandangannya ke tempat Maira dan Raka berada, namun mereka berdua tidak ada. Angkasa mengedarkan pandangannya mencari keberadaan mereka namun tetap tidak ada.
"Lah kemana tuh bocah," Angkasa memalingkan kepalanya ke sana kemari, "Perasaan tadi masih di kedai ice cream dah."
Angkasa menatap Wahyu kesal, "Gara-gara lo nih ngajak gue ngobrol, kan jadi kehilangan jejak."
"Lah kok malah nyalahin gue sih," ucap Wahyu tidak terima.
"Nyariin kita?"
Suara seorang gadis yang sangat Angkasa kenal menghentikan niatnya untuk membuka suara. Angkasa membalikkan tubuhnya, tiba-tiba tubuhnya membeku, bibirnya terasa kelu tidak dapat mengatakan apa-apa. Habis sudah ia ketahuan.
"Lo ngawasin gue bang?" tanya Maira, wajahnya menunjukkan ekspresi kecewa.
Merasa tidak mendapatkan jawaban dari kembarannya, Maira beralih menatap Wahyu berharap mendapatkan jawaban.
"Wahyu. Kalian berdua ke sini buat ngawasin gue?" tanya Maira.
Wahyu melirik Angkasa sekilas kemudian kembali menatap Maira. Sekarang ia benar-benar bingung, apa yang harus Wahyu lakukan. Angkasa kenapa diam saja sih, seharusnya kan yang menjawab pertanyaan ini dia. Berbohong juga pasti akan di paksa untuk mengaku. Ya sudahlah Wahyu pasrah saja.
"Iya kita ke sini buat ngawasin lo berdua," jawab Wahyu pasrah.
Maira menatap Angkasa tidak percaya, bisa-bisanya mereka mengawasi Maira seperti ini.
"Se gak percaya itu lo sama gue bang, sampai lo ngawasin gue kayak gini?" ucap Maira kecewa.
Angkasa yang semula tertunduk mengangkat kepalanya menatap Maira.
__ADS_1
"Bukannya gue gak percaya Ra. Lo adek gue, gue cuma khawatir lo kenapa-napa. Karena ini pertama kalinya lo pacaran, keluar sama cowok. Gue cuma mau mastiin lo baik-baik aja," jelas Angkasa.
"Mau mastiin gue gak kenapa-napa? Gak gini caranya Angkasa, gue bukan anak kecil lagi. Gue bisa jaga diri gue sendiri. Lo liat sekarang, gue gak kenapa-napa kan? Kurangin rasa khawatir lo yang berlebihan itu, gak semua yang gue lakuin harus lo tau," Maira mengeluarkan semua kekesalannya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Gue kayak gini karena gue abang lo," tegas Angkasa, ia merasa kata-kata Maira kali ini cukup keterlaluan.
"Apa lo bilang abang?" tanya Maira.
Raka memegang bahu Maira berusaha untuk membuat gadis itu tenang, "Ra udah Ra."
Maira menepis tangan Raka pelan, "Bentar kak."
Maira melangkah mendekati Angkasa, matanya yang sebentar lagi akan mengeluarkan air mata itu menatap tajam sang kakak, "Lo bilang lo abang? Ingat umur kita sama, kita cuma beda dua menit. Jadi jangan merasa paling tua lo!"
"Ra.."
"Ayo kak kita pulang!" tanpa menunggu Angkasa menyelesaikan ucapannya, Maira langsung membawa pergi dari hadapan Angkasa.
Angkasa mengacak-acak rambutnya frustasi. Bukan ini yang dia mau. Angkasa tua dirinya salah, tapi kata-kata Maira barusan sudah keterlaluan. Membuat perasaan Angkasa sakit.
"Aaarggg sialan!" pekik Angkasa kesal.
Wahyu memperhatikan Angkasa, mulai merasa bersalah. Apa seharusnya tadi dia berbohong saja.
"Sa maapin gue ya, seharusnya gue gak kasih tau Maira tadi. Sorry gara-gara gue kalian jadi berantem," ucap Wahyu merasa bersalah.
Angkasa menghela nafasnya pelan kemudian menatap temannya itu.
"Gak ini bukan salah lo, gak lo kasih tau juga tetap bakalan ketahuan. Lagian ini semua salah gue, jadi lo jangan merasa bersalah kayak gitu. Seharusnya gue yang minta maaf, udah bawa-bawa lo dalam masalah gue," Angkasa menepuk pundak Wahyu pelan, "Thanks bro udah bantuin gue."
Wahyu tersenyum, "Ya udah yok kita pulang juga, males gue di sini banyak orang pacaran."
Angkasa terkekeh pelan, "Ya udah yok."
__ADS_1
Angkasa harus segera menyelesaikan masalahnya dengan Maira. Ia tidak suka berlama-lama, marahan dengan kembarannya itu.