Cuma Cinta Monyet

Cuma Cinta Monyet
Bab 26 CCM - Pacaran kah?


__ADS_3

Raka merasa galau di karenakan sudah dua hari, gadis yang di sukainya tidak bersikap seperti biasa. Maira terus saja menghindari Raka dan bersikap cuek dengan Raka. Dua hari Maira menghindarinya selama dua hari itu pula Raka pulang dan pergi sekolah bersama Lery. Biasanya mereka berdua sering pulang bersama saat ekskul voli saja. Makanya Maira hampir tidak tahu kedekatan Raka dan Lery.


"Gue liat-liat beberapa hari ini lo berangkat sekolah bareng Lery terus. Kalian pacaran?" tanya Rahmat ketika mereka berjalan bersama menuju kelas.


Raka melirik Rahmat sekilas kemudian kembali menatap ke depan.


"Gak lah. Katanya orang tuanya gak ada di rumah karena keluar kota, jadi gak ada yang nganterin sekolah. Kebetulan rumah kita searah, jadi dia nebeng gue deh," jelas Raka.


"Oh gue kira lo udah berpaling dari Maira," ucap Rahmat sambil terkekeh pelan.


Mengingat Maira membuat Raka menghela nafas panjang. Ia bingung atas perubahan sikap gadis itu. Raka tidak tahu apa yang membuat Maira menghindarinya.


"Kayaknya Maira ngehindarin gue deh. Dia jadi cuek dengan gue sekarang" ucap Raka lemah seraya meletakkan tasnya di laci meja.


"Iya sih gue liat-liat dia agak beda sikapnya sama lo," balas Rahmat sambil duduk di samping Raka.


Raka menyandarkan tubuhnya di dinding samping mejanya, "Kenapa ya? Masa dia marah sama gue sih?"


"Bisa jadi sih."


"Marah karena apa?" tanya Raka bingung.


"Mungkin dia cemburu ngeliat lo terlalu dekat dengan Lery," balas Rahmat.


"Hah? Kok bisa? Kan gue gak ada hubungan apa-apa sama Lery."


Rahmat memutar bola matanya jengah, sahabatnya ini terlalu polos atau bagaimana sih. Masalah seperti ini saja masih tidak paham. Ya Rahmat bisa paham sih karena Raka baru pernah berpacaran sekali itu pun tidak berlangsung lama.


"Sini tuyul deket-deket lo," Rahmat menarik lengan Raka agar mendekat dengannya, "Elo emang gak ada hubungan apa-apa sama Lery. Tapi Lery nempel-nempel mulu sama lo. Gue aja sampai ngira lo pacaran dengan Lery kan? Apalagi Maira."


Raka terdiam berusaha mencerna penjelasan dari Rahmat. Apa yang di katakan Rahmat ada benarnya, bisa saja Maira mengira kalau Raka pacaran dengan Lery. Tapi Raka benar-benar tidak ada perasaan apa-apa dengan Lery, ia hanya menganggap Lery sebagai adik saja.


Beberapa saat kemudian sudut bibirnya terangkat. Kalau Maira benaran cemburu berarti Maira ada perasaan dengan Raka kan? Ah hal ini membuat Raka tiba-tiba senang.


"Hehehe."


"Kenapa lo ketawa begitu?"


Raka masih tersenyum seraya menggeleng, "Gapapa."


Rahmat menatap Raka horor, "Aneh."


...🐒🐒🐒...


Maira baru saja keluar dari dalam toilet. Tadi sehabis dari kantin perutnya tiba-tiba mules ingin buang air besar. Seumur-umur ini baru pertama kalinya Maira buang air besar di sekolah. Untung saja di toilet sedang tidak ada orang. Jadi Maira bisa tenang.

__ADS_1


"Alhamdulillah lega. Dasar ampas kagak tau tempat emang kalau mau keluar," gumam Maira sambil memegang perutnya yang sudah rata.


Maira terus berjalan sampai tiba-tiba ada Bara berdiri di depannya. Mereka berdua saling memberikan tatapan datar.


"Apa?" tanya Maira ketus.


"Apa?" tanya Bara tak kalah ketus.


"Ya apa?"


"Iya apa?"


"Lo yang apa?"


Kedua alis Maira saling bertautan menatap garang lelaki yang pernah di sukai nya itu.


"Gak jelas!" Setelah itu Maira langsung mendorong tubuh Bara yang menghalangi jalannya dan pergi meninggalkan lelaki itu.


Maira berjalan sambil menghentakkan kakinya kesal. Melihat wajah Bara saja bisa membuat darahnya tinggi. Sangat menyebalkan. Semenjak Bara berpacaran dengan Melly, dia selalu saja mencari gara-gara dengan Maira. Maunya apa sih? Di hajar kah?


"Assalamualaikum," ucap Raka yang tiba-tiba berdiri di samping Maira.


"Eh kak Raka walaikumsalam," balas Maira, setelah itu ia terus berjalan dan berusaha untuk tidak memperdulikan Raka.


Raka juga terus mengikuti Maira dengan senyum sumringah.


Maira menggeleng cepat, "Gapapa."


Raka mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia masih terus berusaha mencari perhatian Maira. Tapi Maira masih tetap pada pendiriannya yaitu menjauhi Raka.


"Gue gak ada hubungan apa-apa sama Lery," ucap Raka.


"Eh?"


Maira mengangkat alisnya, Ia menoleh menatap Raka. Ekspresi wajah nya seperti bertanya apa maksud dari ucapan Raka tersebut.


"Gue gak pacaran sama dia," ucap Raka lagi.


Mendengar hal itu tiba-tiba saja sudut bibir Maira terangkat, hatinya senang. Namun cepat-cepat ia mengubah ekspresi wajahnya agar terlihat biasa saja.


"Kenapa lo bilang ke gue?" tanya Maira pura-pura santai.


Raka mengedik kan bahunya sambil tersenyum, "Gapapa mau bilang aja. Takut ada yang salah paham."


"Siapa?" tanya Maira ia benar-benar sudah tidak bisa menahan senyumannya.

__ADS_1


"Ada deh," Raka juga tersenyum seraya mengacak-acak gemas rambut Maira.


"Jangan marah," ucap Raka.


Maira membuang mukanya dengan wajah yang sudah bersemu merah.


"Gak ada yang marah," ucap Maira mengelak.


Raka terkekeh pelan, "Bukan lo."


"Terus siapa?"


"Ada cewek, dia tuh Masya Allah cantik banget. Terus tiba-tiba ngehindarin gue dan cuek gitu. Aneh kan dia? Padahal kalau cemburu tinggal bilang," balas Raka sambil menahan senyumnya ketika melihat ekspresi wajah Maira yang menggemaskan.


Maira menggembungkan pipinya kesal, "Siapa juga yang cemburu!"


Raka sudah tidak tahan lagi, ia tertawa seraya menyubit pipi Maira gemas.


"Udah gue bilang bukan lo. Geer."


"Aw sakit kak upil."


Setelah mencubit pipi Maira Raka langsung berlari untuk menghindari serangan balik dari Maira.


"Kak upiiil sini gak lo!"


...🐒🐒🐒...


Maira mencampakkan tubuhnya di atas kasur setelah berganti pakaian dan bersih-bersih. Pulang sekolah memang enaknya langsung rebahan. Maira menatap langit-langit kamarnya dalam diam. Ia kembali tersenyum ketika mengingat kejadian tadi siang saat Raka. Jika begini hati Maira jadi lemah, mana bisa Maira menjauhi Raka.


Raka sampai bilang ke Maira kalau dia dan Lery tidak ada hubungan apa-apa. Supaya Maira tidak marah dan cemburu lagi. Maira tersipu malu mengingat hal itu. Raka selalu saja membuat hatinya dag dig dug begini.


"Jadi sebenernya kak Raka itu suka apa gak sih sama gue?" gumam Maira.


"Aaaaa dilema banget gue kalau kayak gini. Kalau suka kan seharusnya dia bilang," Maira membalikkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya di bantal.


Ting


Maira mengangkat kepalanya setelah mendengar notifikasi WhatsApp dari ponselnya. Ia meraih ponselnya dengan lemah, namun beberapa saat kemudian senyumnya mengembang ketika melihat bahwa Raka yang mengirim pesan.


"Assalamualaikum. Ra udah pulang?"


Maira hanya membuka pesan tersebut tanpa membalasnya. Ia mengguling-gulingkan tubuhnya di kasur karena senang di kirimkan pesan oleh Raka.


Sedangkan di lain tempat Raka menunggu balasan pesan dari Maira. Hatinya bertanya-tanya kenapa pesannya hanya di baca dan tidak di balas oleh Maira.

__ADS_1


"Dia marah lagi kah?" lirih Raka.


__ADS_2