
"WOI BESTIEE!" Dewi teriak sambil melambai-lambaikan tangannya saat ngeliat Maira dan dua cowok tampan baru saja memasuki kantin.
"OI DEW!" balas Maira dan langsung berlari kecil menghampiri Dew.
"Lo dari mana aja, kok gak masuk tadi?" tanya Dewi ketika Maira sudah duduk di sampingnya.
Maira merebahkan kepalanya di atas meja, "Gue telat datangnya tadi, terus di hukum deh sama pak Yanto. Capeek~"
"Pasti gara-gara Angkasa telat bangun lagi kan?" tebak Dewi.
Maira mengangkat jempolnya, "Yes betul."
"Terus," Dewi melirik Raka dan Udin yang duduk di depannya, "Lo Din telat juga? Kalau kak Raka gak mungkin telat karena tadi pagi gue liat."
Udin mengangguk, "Iya."
"Gue mau pesen makanan nih, lo mau nitip gak Ra?" tanya Raka.
Maira menegakkan tubuhnya kemudian mengangguk, "Iya boleh tolong pesenin gue ya kak."
"Mau apa?"
"Terserah."
Raka mengernyit. Jenis makanan apa itu terserah? Tidak ada dalam kamus makanan mana pun. Lagi pula Raka bukan peramal yang bisa menebak makanan apa yang saat Maira suka. Cewek emang gitu ya? Hal yang simpel di buat ribet.
"Gak ada jual makanan yang namanya terserah," ucap Raka.
Maira menggeleng, "Gak gitu kak upiil. Maksudnya gue bakalan makan, makanan apapun yang lo pesen. Jadi terserah kak upil."
Raka menghela nafas pelan, berusaha untuk sabar.
"Bener ya terserah gue?" tanya Raka memastikan.
"Iya bener," balas Maira yakin.
"Ya udah gue pesen dulu."
"Okeee."
Dewi melirik Udin hanya terdiam menatap Maira, "Lo gak pesen makanan Din?"
"Gak."
"Terus kenapa lo mau gue ajak ke kantin tadi, kalau emang lo gak mau mesen apa-apa?" tanya Maira heran.
"Terserah gue."
Maira dan Dewi hanya menghela nafas pelan. Sedikit kesal mendengar perkataan Udin yang selalu dingin kepada mereka. Pantas saja Udin tidak punya teman di kelas. Nilai plusnya hanyalah dia tampan.
"Wah my makanan udah datang," seru Maira senang saat Raka membawa dua piring nasi goreng dan dua gelas es teh.
"Gue beli nasi goreng, gapapa kan?" tanya Raka seraya duduk di kursinya.
Maira mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari nasi goreng di hadapannya.
__ADS_1
"Gapapa banget kak, i like nasi goreng."
Raka tersenyum melihat ekspresi Maira, "Ya udah makan. Jangan lupa baca doa, jangan main lahap aja."
"Iya iya."
Dewi tersenyum senang melihat kedekatan Maira dan Raka. Ia menyenggol pelan lengan Maira yang sedang lahap menyantap makanannya.
Dewi lebih mendekatkan tubuhnya ke Maira. "Cie yang di perhatiin sama mas crush," bisik Dewi.
"Ssst diem lu nanti kedengaran kak Raka tau," bisik Maira dengan wajah yang sudah bersemu merah.
"Cie ada yang malu ni ya," Dewi semakin gencar menggoda Maira yang sudah salah tingkah.
"Diem gue bilang diem. Habisin noh bakso lo, udah dingin noh," balas Maira menahan salting.
Raka dan Udin mengernyit heran melihat kedua gadis yang berbisik-bisik di depan mereka. Entah apa yang mereka bisikan.
Maira melirik Raka yang menatap mereka heran.
Maira mengangguk sambil tersenyum kepada Raka, "Makasih ya kak upil."
"Iya sama-sama."
"Permisi."
Pandangan mereka berempat langsung beralih ke pada dua orang gadis, yang sedang berdiri menatap Udin. Salah satunya membawa sekotak tempat bekal.
"Udin kan?" tanya gadis yang membawa kotak bekal.
"Ra Ra sini deh," Dewi mendekatkan wajahnya ke telinga Maira, "Pasti nih salah satu cewek yang ngejar-ngejar Udin kan?"
"Ho'oh kayaknya sih iya nih," bisik Maira.
Tidak perduli dengan balasan ketus Udin, gadis itu malah mengulurkan tangan kanannya, untuk mengajak Udin berkenalan.
"Kenalin gue Laras kelas X IPS 1."
Udin hanya diam tak memperdulikan gadis itu. Maira yang melihatnya jadi gemas. Ia menepuk-nepuk meja di depan Udin.
"Woi Udin, di ajak kenalan tuh. Di jawab atuh," ucap Maira sedikit kesal.
Udin menatap Maira sekilas kemudian menghela nafas pasrah.
"Udin," balas Udin singkat tanpa membalas uluran tangan Laras.
Laras menarik tangannya sedikit kecewa namun ia kembali mengembangkan senyumnya. Masih berusaha untuk mendekati sang pangeran tampan.
Laras meletakkan kotak bekal di depan Udin.
"Ini gue buatin lo kue coklat. Di makan ya," ucap Laras tersenyum manis.
"Gak janji," balas Udin.
Laras masih berusaha mengembangkan senyumnya, "Gapapa. Ya udah kalau gitu kita pamit dulu."
__ADS_1
"Hhm."
Maira dan Dewi menatap kepergian Laras yang tampak kecewa, kemudian menatap Udin tajam.
"Lo gak bisa ramah dikit ya Din sams orang," ucap Dewi.
"Gak."
"Mentang-mentang ganteng lu. Combong lu combong."
Raka yang semula hanya fokus menghabiskan makanannya. Tiba-tiba kupingnya tergerak ketika mendengar Maira bilang Udin ganteng. Ada terbesit sedikit rasa cemburu di dalam hati nya. Ya elah gitu doang ngapain cemburu sih ka.
"Kak Raka aja ganteng tapi tetap ramah tuh," ucap Maira tanpa sadar.
Raka menahan senyumnya mendengar pujian dari Maira. Entah itu di sengaja atau tidak tapi Raka tetap senang.
Udin tidak perduli dengan omelan Maira dan Dewi. Ia mendorong kotak bekal pemberian dari Laras ke arah Maira.
"Buat lo. Gue gak suka coklat," setelah mengatakan itu Udin langsung merebahkan kepalanya di atas lipatan tangannya berniat untuk tidur.
"Untung ganteng lo. Kalau gak udah gue smak down lo," Maira mengambil kotak bekal itu dan membukanya, "Hehe dapat kue gratis. Dew mau gak?"
Dengan cepat Dewi mengambil sepotong kue coklat pemberian Laras, "Tentu saja mau bestie!"
Raka hanya geleng-geleng melihat tingkah random Maira dan Dewi. Namun hatinya terganggu dengan perkataan Maira yang memuji Udin.
"Seganteng itu ya Udin, sampai lo puji terus Ra?" batin Raka bertanya-tanya.
Raka menatap wajah Udin yang sedang tertidur. Kulit yang bersih bersinar, bulu mata lentik, rambut hitam bersinar, hidung mancung. Ya tidak bisa di ragukan lagi memang Udin tampan.
"Ya emang ganteng sih," gumam Raka.
...🐒🐒🐒...
"Kak Rakaa~" Lery berlari kecil menghampiri Raka yang baru saja kembali dari kantin.
"Kenapa ***?"
"Nanti aku nebeng lagi ya pulangnya? Aku gak ada yang jemput soalnya," ucap Lery seraya melebarkan senyumnya.
"Kayak gak kenal dengan yang namanya angkot aja," sindir Dewi seraya melirik Lery sinis.
Maira memukul pelan lengan Dewi, "Sst entar dia denger."
"Biarin emang sengaja."
Lery melirik Maira dan Dewi sinis kemudian kembali menatap Raka, "Jadi gimana kak? Boleh ya?"
Raka melirik Maira yang juga menantikan jawaban darinya. Jika sudah begini Raka jadi bingung. Raka tidak mau Maira menjauhinya seperti waktu itu lagi. Tapi jika ia memberikan tumpangan untuk Lery, kasian juga. Apa yang harus Raka lakukan sekarang.
"Ya udah iya."
"Yeeyy makasih kak Raka," ucap Lery seraya memegang tangan Raka, namun langsung cepat-cepat Raka lepaskan.
Maira sedikit kecewa dengan jawaban Raka, tapi ia tidak punya hak untuk marah. Lagi pula apa salahnya menolong orang lain.
__ADS_1