
"Iya gue cemburu," Raka menatap lekat wajah Maira, yang membuat Maira salah tingkah
"A-apa?" tanya Maira, kenapa ia jadi gagap begini.
Ctak
Raka menyentil kening Maira, "Itu kan yang mau lo denger?"
"Akh apa-apaan sih lo kak sakit tau! Siapa juga yang ngarepin lo ngomong kek gitu," Maira mengusap jidatnya yang terasa perih, pasti sekarang jidatnya sudah berwarna merah.
"Tanggung jawab nih, sakit jidat gue," lanjut Maira.
"Haha iya iya sorry. Mana sini jidat lo gue liat," Raka mendekatkan wajahnya ke kening Maira, "Mau gue cium biar sembuh?"
Seketika Maira terbelalak dan mendorong tubuh Raka agar menjauh darinya, "Sembarangan lo!"
...🐒🐒🐒...
Suasana malam hari di rumah Maira terasa hangat, meskipun Maira hanya tinggal dengan Ayah dan kakaknya Maira tetap merasa senang. Walaupun ia juga merindukan sosok seorang ibu, Ayahnya sudah seperti ayah sekaligus ibu bagi mereka berdua. Karena ibu mereka meninggal dunia tepat setelah melahirkan mereka.
"Ra siapin piringnya!"
"Iya yah."
"Angkasa bawa sayurnya ke meja makan!"
"Siap yah."
Mereka bertiga sibuk menyiapkan makanan untuk makan malam.
"Ya udah yuk kita makan!" ucap lelaki paruh baya bernama Rio itu.
Rio melirik Angkasa yang sudah menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.
"Berdoa dulu kak!" ucap Rio mengingatkan.
Angkasa terkekeh dan meletakkan sendok nya, "Hehe lupa."
"Cailah lupa segala lo, emang lo nya aja yang pengen berbagi makanan sama setan," sindir Maira.
Angkasa melirik Maira sinis, "Sewot aja lu."
Rio geleng-geleng melihat tingkah anak laki-lakinya itu, "Ya udah kamu yang pimpin doa."
"Iya yah."
Mereka pun berdoa dan menikmati makanan mereka dengan khidmat, hanya terdengar suara sendok dan piring yang berdentingan. Setelah selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga, untuk menonton bersama ataupun berbincang-bincang menceritakan tentang hari ini.
__ADS_1
"Gimana sekolahnya baik-baik aja kan? Gak ada masalah?" tanya Rio melirik anak-anaknya yang rebahan di lantai.
Maira mendongakkan kepalanya menatap ayahnya yang duduk di sofa, "Baik-baik aja kok yah," Maira melirik Angkasa sinis, "Cuma Maira hampir telat terus gara-gara Angkasa bangunnya lama."
Angkasa melemparkan bantal ke wajah Maira, "Enak aja lo ngomong, sekolahnya aja tuh yang ke cepetan masuknya."
"Gak usah lempar-lempar jamet!" kesal Maira.
Angkasa bangun dan duduk di samping kaki ayahnya, "Yah aku tuh populer loh di sekolah. Saking gantengnya banyak kakak kelas yang ngajak aku pacaran."
Maira menahan tawanya, "Pffh iya kakak kelas yang dadanan nya kayak tante-tante yah."
"Diem lo jamet," ucap Angkasa sinis.
Rio tersenyum melihat kedua anaknya itu, walaupun sering bertengkar tapi mereka saling sayang.
"Eh udah udah jangan berantem," ucap Rio melerai Maira dan Angkasa yang sudah siap baku hantam.
"Dia tuh yah gangguin orang mulu," ucap Angkasa menunjuk Maira.
Maira melirik kakaknya sinis, "Idih gak ada ya."
Rio menghela nafas pasrah, ia sempat berpikir bagaimana orang-orang di luaran sana yang memiliki anak lebih dari dua. Dia punya dua saja, sudah seperti mengurus lima anak, apalagi lebih dari dua. Walaupun begitu Rio selalu bersyukur memiliki Angkasa dan Maira.
...🐒🐒🐒...
"Lagi ngapain?"
Maira menolehkan kepalanya dan mendapati Bara yang sudah duduk di sampingnya, "Eh kak Bara. Ini aku lagi mempelajari ulang materi yang tadi di jelasin di kelas."
Bara tersenyum ia mengacak pelan puncak kepala Maira, "Rajin banget sih," Bara meletakkan sebotol minuman dingin di atas meja, "Nih minum dulu."
Wajah Maira bersemu merah, ia tidak dapat menahan senyum di bibirnya.
"Ma-makasih banyak kak," ucap Maira terbata.
"Lo kenapa? Sakit ya? wajah lo merah," Bara menempelkan tangannya ke kening Maira.
"Hah me-merah?" Maira menjauhkan tubuhnya dari Bara, "Gak kok kak, gue sehat."
"Oh bagus deh. Coba gue liat, lo belajar apa?"
Sekali lagi Maira menahan nafasnya saat Bara mendekatkan tubuhnya ke arah Maira. Oh tidak ini terlalu dekat, Maira takut Bara mendengarkan detak jantungnya yang berdegup kencang.
"I-ini kak, gue belajar Matematika."
"Oh yang ini, mau gue bantu jelasin gak?"
__ADS_1
Maira mengangguk lucu, "Boleh kak."
Tanpa mereka sadari sedari tadi ada Raka yang melihat mereka dari jauh. Entahlah padahal tadi niat Raka mau pergi ke kantin, tapi melihat Maira dan Bara berduaan seperti itu membuat kakinya tidak mau beranjak dari tempat itu.
Raka menggelengkan kepalanya, "Gue kenapa sih?"
Raka tidak mengerti seperti ada sesuatu di dalam hatinya yang bergejolak ketika melihat Maira dan Bara berduaan. Apa Raka benar-benar menyukai Maira? Tidak mungkin Raka hanya menganggapnya sebagai rekan OSIS saja, ya itu benar. Lagi pula Raka hanya kasihan dengan Maira, karena di dekati oleh lelaki seperti Bara. Karena Raka tahu Bara itu seperti apa.
Tapi Raka tidak bisa melarang Maira, karena ia bukan siapa-siapa. Ya yang penting selagi Bara tidak menyakiti Maira, Raka tidak perlu khawatir.
"Woi Raka!" panggil Rahmat.
"Ayok ke kantin, malah bengong di situ," lanjutnya.
Raka melangkah menghampiri Rahmat, "Ya ayok."
Rahmat mengernyit heran melihat wajah Raka yang sedikit muram, "Kenapa lo? Kusut amat tuh muka."
"Gapapa," ucap Raka, matanya masih sesekali melirik Maira dan Bara.
Rahmat mengikuti arah pandangan Raka, "Oh gue tau nih. Lo cemburu ya ngeliat Maira dan Bara berduaan."
Raka menatap Rahmat kesal, "Sotoy lo, siapa juga yang cemburu."
"Halah gue udah lama kenal sama lo. Jadi lo gak bisa bohong dengan gue," ucap Rahmat, ia sudah mengenal Raka sejak SD jadi ia tahu bagaimana Raka.
"Udah gue bilang gak," elak Raka.
"Bener nih lo gak cemburu?"
"Iya bener."
"Oke kalau gitu gue aja yang deketin Maira. Maira juga cantik, gue suka," ucap Rahmat.
"Awas aja lo!" ancam Raka tiba-tiba, kata-kata yang tiba-tiba saja keluar dari mulutnya.
Rahmat tersenyum jahil, "Nah kan bener lo suka Maira."
"Gak woi."
"MAIRA RAKA SUKHHMM," belum juga Rahmat menyelesaikan kata-katanya mulutnya sudah di bekap oleh Raka.
Sedangkan Maira yang merasa di sebut namanya, melirik ke sana kemari mencari sumber suara yang memanggil namanya. Tapi ia tidak menemukannya. Tentu saja Maira tidak menemukannya, karena Raka sudah membawa Rahmat kabur dari sana.
"Awas aja lo mat, gue buat pingsan lo!" ucap Raka sambil menarik Rahmat menjauh dari taman, masih dengan posisi menutup mulut Rahmat dengan tangannya.
__ADS_1
"Tolooooooong!" jeritan hati Rahmat.