
"Ra gue mau ngomong dengan sebentar," ucap Lery saat Maira baru saja keluar dari dalam kelasnya.
"Mau ngomong apa? Ngomong aja," balas Maira.
Lery melirik sekitarnya yang masih di penuhi dengan murid-murid yang baru keluar kelas hendak pulang.
"Jangan di sini," ucap Lery.
Maira mengernyit, perasaannya sedikit tidak enak. Sebenarnya apa yang ingin Lery bicarakan, apa masalah saat di toilet tadi.
"Ya udah di mana?" Maira melirik Angkasa yang berdiri di sampingnya, "Bang lo tunggu di parkiran aja, ngomong sebentar sama Lery."
"Okay," setelah mengacungkan jempolnya Angkasa langsung beranjak pergi ke parkiran.
"Yuk ikut gue," Lery menarik lengan Maira, membawa gadis itu menuju belakang sekolah.
Saat tiba di belakang sekolah Maira di buat bingung saat melihat sudah ada Melly dan dua orang temannya di sana. Sebenarnya apa yang di rencanakan Lery, kenapa juga ikut-ikutan.
Lery melepaskan lengan Maira, kemudian mereka berempat tersenyum menyeringai menatap Maira.
"Mau ngomong apaan? Buruan!" ucap Maira.
"Lo yakin masih gak mau jauhin kak Raka?" tanya Lery.
Maira mengangguk, "Yakin. Kenapa emang?"
"Okay kalau itu mau lo," balas Lery kemudian ia melirik Melly sambil tersenyum.
Maira mengernyit heran melihat tingkah mereka.
"Gaes pegang dia," titah Melly, dua orang temannya pun memegang lengan kiri dan kanan Maira erat.
"Kita kasih dia pelajaran, sampai dia jera," ucap Lery seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Eh mau ngapain nih? Jangan aneh-aneh ya lo pada," ucap Maira memberontak.
Lery berjalan mendekati Maira, kemudian ia menarik rambut Maira kasar, hingga kepala Maira mendongak ke atas.
"Aw. Lo apa-apaan sih Lery, lepasin gak. Mumpung gue masih sabar mending lo lepasin, sebelum lo menyesal," ucap Maira mengingatkan.
Mendengar ucapan Maira mereka berempat tertawa remeh.
"Menyesal?" Melly mencengkram dagu Maira kuat, "Yang ada lo menyesal, cewek ja*lang!"
"Okay kalau itu mau kalian. Kalian yang minta ya," ucap Maira yang membuat mereka terheran-heran, bukannya takut Maira malah menantang mereka balik.
"Hah?"
...🐒🐒🐒...
Sudah hampir setengah jam Angkasa menunggu Maira di parkiran. Dari sekolah masih ramai sampai sepi, tapi Maira masih belum juga menunjukkan batang hidungnya.
"Buset lama amat tuh bocah. Itu ngomongin sesuatu, apa pidato dah. Lama bener," monolog Angkasa seraya melirik jam tangannya.
"Gue samperin aja deh, takut ada apa-apa," gumam Angkasa khawatir kemudian beranjak pergi mencari Maira.
Setelah beberapa menit mencari Maira, akhirnya Angkasa menemukan Maira di belakang sekolah. Angkasa di buat terkejut melihat penampilan Maira yang acak-acakan. Rambut dan seragamnya sangat jauh dari kata rapi, serta wajahnya sedikit terluka.
__ADS_1
Namun yang lebih membuat Angkasa terkejut adalah empat orang siswi yang lebih berantakan dari pada Maira, yang sedang berlutut di depan Maira. Cepat-cepat Angkasa menghampiri kembarannya itu.
"Ra. Kalian kenapa jadi begini?" tanya Angkasa, ia sedikit ngeri melihat wajah Lery dan teman-temannya babak belur.
"Kalian berantem?" lanjut Angkasa.
Maira menatap datar Lery dan teman-temannya, kemudian ia melirik Angkasa dan tersenyum.
"Urusan gue udah selesai yuk pulang," ajak Maira.
"Jelasin dulu sama gue ini ada apa? Tanya Angkasa.
Maira menghela nafasnya pelan, kemudian menarik lengan Angkasa untuk pergi dari tempat itu.
"Iya nanti gue jelasin di rumah, sekarang kita pulang dulu."
Sebelum menjauh Maira sempatkan menunjukkan jari tengahnya ke arah Lery and the gang dengan senyum menyeringai. Lery mengepalkan tangannya kuat, bisa-bisanya dia kalah melawan satu orang saja. Padahal mereka berempat, bisa-bisanya di permalukan seperti ini.
"Sial sial sial!" gumam Lery kesal seraya memukul mukul tanah dengan tangannya.
Lery melirik Melly kemudian mencengkram kerah baju Melly sampai gadis itu merasa tercekik.
"Lo bilang ini bakalan berhasil. Tapi nyatanya kita kalah!" pekik Melly.
"Mana gue tau kalau dia jago bela diri!" balas Melly kesal.
"Lo dan teman-teman lo ini gak guna tau gak!"
"Apa lo bilang?" Melly melepaskan cengkraman tangan Lery di kerah bajunya kasar.
"Masih syukur lo gue bantu ya anjeng. Gak tau diri lo syalan," ucap Melly seraya mendorong bahu Lery dengan telunjuknya.
"Oh gitu? Oke kalau itu mau lo," Melly melirik kedua orang temennya, "Gaes hari ini kita ganti target, kita kasih pelajaran manusia gak tau diri ini."
"Oke~."
Tanpa mereka sadari sedari tadi ada Udin yang sedang bersantai di atas pohon mangga. Yang sudah menyaksikan pertengkaran Maira dan Lery. Semakin dia melihat Maira semakin Udin merasa tertarik dengan gadis itu.
...🐒🐒🐒...
Sesampainya di rumah Maira menjelaskan semua yang terjadi saat di belakang sekolah pada Angkasa.
"Gila sih. Cuma gara-gara cowok doang, sampai mau ngeroyok anak orang," ucap Angkasa tidak habis pikir.
"Ya makanya aneh kan?"
"Baru tau gue, ternyata lo suka sama bang Raka ya. Pantesan suka deket-deket bang Raka terus. Aku tau niat mu dik," ledek Angkasa.
"Diem lu," ucap Maira kesal.
"Cie ada yang malu-malu nih," goda Angkasa seraya menusuk-nusuk pipi Maira dengan telunjuknya, "Pipinya merah lagi."
Maira memegang kedua pipinya yang terasa hangat. "Gak ada ya," ucap Maira malu.
Angkasa tertawa gemas melihat adiknya yang sedang salah tingkah. Ia mengacak rambut Maira.
"Ya udah lah gue mau beraq dulu," ucap Angkasa.
__ADS_1
"Gak perlu pakai qolqolah juga kali," cibir Maira.
Angkasa menaik-turunkan alisnya, "Pakai q biar keren."
"Mata lu keren."
"Thank you mata gue emang keren," balas Angkasa mengedip-ngedipkan matanya genit.
"Dah lah," balas Maira pasrah.
...🐒🐒🐒...
Hari ini hari Jumat seperti biasa sorenya Maira dan Angkasa harus mengikuti ekskul voli. Maira sangat bersemangat, tentunya bukan karena ingin bermain voli tapi karena bisa bertemu dengan Raka. Dan yang membuat Maira semakin senang adalah, Lery tidak masuk ekskul hari ini. Sudah pasti karena wajah sudah di bikin babak belur oleh Maira. Sebenarnya wajah Maira juga babak belur, tapi tidak separah mereka.
Dari awal latihan sampai istirahat Angkasa terus terusan meledek Maira. Kalau tahu begini Maira tidak mau memberi tahu Angkasa, kalau dirinya menyukai Raka. Dasar Angkasa, tidak bisa di aja kerjasama.
Maira berjalan menelusuri lorong sekolah dengan perasaan sedikit kesal, karena ulah Angkasa. Kalau dia terus berada di lapangan pasti Angkasa, akan meledeknya terus.
"Maira," panggil Raka menghampiri Maira.
Dengan cepat Maira merubah ekspresi wajahnya dari yang datar menjadi tersenyum hangat.
"Eh Kak Raka, mau ke mana?"
"Ke kantin, lo sendiri?"
"Gue jalan-jalan aja sih."
"Bentar deh," Raka menghentikan langkahnya, "Gue penasaran dari tadi."
Maira mengernyit, "Penasaran apa?"
"Ini," Raka menyentuh dagu Maira yang sedikit lebam, "Wajah lo kenapa bisa begini?"
Deg
Tolong jantung Maira berdebar-debar.
"I-ini g-gak sengaja kejedot meja," balas Maira gugup.
"Gitu ya?" Raka mengelus-elus dagu Maira dengan jempolnya, "Pasti sakit."
Astaga apa lagi ini, Maira rasanya mau pingsan. Raka tidak tahu apa perlakukan nya sekarang sudah membuat jantung Maira berdisko.
Cepat-cepat Maira menjauhkan wajahnya dari tangan Raka, ini tidak baik untuk jantung.
"Gak sakit kok hehe."
"Alhamdulillah deh."
Mereka berdua kembali melanjutkan langkah mereka, tidak ada obrolan di situ. Mereka sama-sama diam, karena merasa gugup.
"Apa gue tanyain tentang perasaan dia, sekarang ya?" batin Maira. Dia sudah tidak bisa menunggu lagi Maira benar-benar sangat penasaran. Sampai kapan hubungannya tanpa penjelasan seperti.
"Hhm kak Raka."
Raka melirik Maira dan tersenyum, "Iya kenapa Ra?"
__ADS_1
"Gue mau ngomong."