Cuma Cinta Monyet

Cuma Cinta Monyet
Bab 23 CCM - Lery


__ADS_3

Pukul setengah tiga sore Maira dan Angkasa sudah berangkat ke sekolah untuk mengikuti ekskul voli. Di balik bergabungnya Maira di ekskul voli, ada seorang pemuda tampan yang begitu senang. Ya orang itu adalah Raka, karena ia juga berada di ekskul voli. Jadi ia senang bisa bertemu dengan Maira dan menghabiskan waktu lebih lama bersama gadis itu.


"Kak upil," tegur Maira. Ia langsung mendatangi Raka ketika melihat lelaki itu sedang berdiri sendirian di tepi lapangan sambil senyum-senyum sendiri.


"Eh Ra. Kenapa?" tanya Raka sedikit kaget.


"Kenapa lo senyum-senyum sendiri?" tanya Maira heran.


"Gak ada. Siapa yang senyum-senyum sendiri, salah liat kali lo," elak Raka.


"Jelas-jelas gue liat kok, lo senyum-senyum sendiri. Gue kan makan wortel kayak upin-ipin, jadi pengelihatan gue jelas."


"Gak ada Maira, gak ada yang senyum-senyum sendiri."


"Oh gue tau, lo seneng karena gue gabung ekskul voli ya? Lo suka sama gue ya?" Maira tersenyum lebar dan menaik-turunkan alisnya.


"Percaya diri memang bagus, tapi jangan kelewatan percaya diri juga kali," ucap Raka seraya menyentil kening Maira pelan.


"Aw sakit woi. Suka bener nyentil dahi gue," Maira mengusap dahinya yang terasa sakit, "Lagian gue tuh bukan percaya diri. Tadi waktu di rumah gue, lo bilang gue cantik. Berarti lo suka kan sama gue?"


Raka menatap gadis cantik di depannya ini dengan tatapan tak percaya, pemikiran macam apa itu Maira.


Raka menyubit pipi cabi Maira gemas, "Bukan gitu konsepnya Maira cantiiik. Kan lo bilang gue dengan yang lain ganteng, jadi gue balas muji lo cantik juga. Bukan karena gue suka sama lo."


"Aduh duh duh lepasin. Ah merah nih pasti pipi gue. Tanggung jawab gak lo, sakit nih pipi gue," ucap Maira seraya mengelus pipinya.


"Kenapa?" Raka mendekatkan wajahnya ke wajah Maira, "Mau gue cium biar sembuh."


Sejenak Maira terdiam menatap wajah Raka yang lumayan dekat, membuat jantungnya berdetak kencang. Kemudian ia mendorong kepala Raka kuat.


"Mesum lo!" Setelah mengatakan hal itu Maira langsung pergi dengan kondisi wajahnya yang sudah memerah karena malu.


"Gue suruh cium beneran baru tau rasa lo," gumam Maira.


Raka hanya terkekeh pelan seraya menatap kepergian Maira. Rasanya menyenangkan jika menjahili gadis itu.


Setelah selesai azan ashar dan sholat bersama di masjid sekolah bagi yang muslim. Akhirnya mereka memulai ekskul voli, yang di pimpin oleh guru muda bernama Aldi selaku guru olahraga. Sebelum latihan teknik-teknik bermain voli, tentu saja mereka harus pemanasan terlebih dahulu. Itu semua bertujuan untuk mencegah keram otot.


"Lo liat tuh pak Aldi. Ototnya ya Allah," bisik salah seorang siswi di sela-sela kegiatan pemanasan nya.

__ADS_1


"Iya woi gak kuat, ganteng banget," saut salah satunya lagi.


Maira yang mendengar bisikan-bisikan teman-temannya yang lain pun setuju dengan perkataan mereka bahwa pak Aldi tampan.


Karena guru olahraga mereka masih muda dan tampan, terlebih lagi belum menikah. Banyak anak-anak perempuan masuk ekskul voli, hanya bertujuan untuk bisa melihat pak Aldi. Bukan hanya tampan, pak Aldi juga ramah kepada murid-muridnya, inilah yang membuat para siswi semakin suka.


Ets tapi jangan salah, kalau kita sudah memulai pembelajaran atau latihan olahraga. Pak Aldi akan menjadi serius, bahkan jika berbuat salah murid-murid tidak berani untuk menatap matanya yang dingin.


"Baiklah karena hari ini banyak anak-anak yang baru masuk. Kita akan belajar lagi dari awal. Ya itu akan mulai dari mempelajari passing bawah. Untuk senior bisa bantu mengajarkan teman-temannya yang belum bisa," jelas pak Aldi.


"Baik pak," jawab mereka serempak.


Setelah itu mereka di bubarkan dan masing-masing mengambil bola voli untuk berlatih. Maira sudah mengambil bola voli untuk dirinya, sekarang ia sedang mencari Raka. Ia ingin minta di ajarkan oleh Raka, sekalian modus hehe. Sebenarnya sih Maira bisa bermain voli, apalagi passing tentu saja dia sudah tahu. Tapikan ini beda lagi ceritanya.


"Nah itu kak Raka," Maira hendak menghampiri Raka, "Kak Rak..."


"Kak Raka!" panggil Lery dan menghampiri Raka.


Maira menghentikan langkahnya yang tadi ingin menghampiri Raka. Terlihat Raka dan Lery sangat akrab. Lery adalah teman sekelas Maira, kalau kalian masih ingat waktu itu Maira dan Lery sama-sama mendaftar OSIS.


Dulu saat awal-awal masuk sekolah Maira dan Lery sering di kira saudara kandung. Karena kata anak-anak yang lain wajah mereka berdua mirip seperti saudara kandung. Bedanya hanya Lery lebih tinggi dan berisi. Dan lebih cantik dari Maira menurut Maira.


Maira melebarkan kupingnya berusaha untuk mendengarkan percakapan mereka berdua. Tapi tetap saja tidak kedengaran. Maira jadi penasaran mereka membicarakan apa, pasalnya Raka terlihat sangat senang mengobrol dengan Lery.


"Oke deh makasih kak Raka ganteng," ucap Lery seraya mengedip-ngedipkan sebelah matanya dan berlalu pergi.


"Ada-ada aja haha," ucap Raka menggelengkan kepalanya sambil tertawa menatap Lery.


Setelah kepergian Lery, Raka menolehkan kepalanya dan mendapati Maira yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Raka menghampiri Maira yang masih diam menatapnya.


"Ra, sini gue ajarin passing bawah," ucap Raka.


Maira hanya diam tidak menjawab, dadanya terasa panas. Yang ada di pikirannya sekarang adalah...


"Oke deh makasih kak Raka ganteng."


"Makasih kak Raka ganteng."


"KAK RAKA GANTENG."

__ADS_1


"Maira!" tegur Raka yang membuat Maira tersadar dari lamunannya.


"Eh iya kenapa kak upil?" tanya Maira, ia baru sadar kalau ada Raka di dekatnya.


Raka menggeleng-gelengkan kepalanya ternyata dari tadi ia bicara sendiri. Entah apa yang di pikirkan gadis di depannya ini sampai-sampai tidak mendengarkan perkataannya dari tadi.


"Mau gue ajarin passing bawah gak? Kalau mau ayok."


"O-oh mau dong, ayok latihan yok."


"Ya udah yok mulai. Pertama-tama kaki lo, di buka selebar bahu. Terus..."


Tak butuh waktu lama, Maira sudah mulai menguasai passing bawah dengan cepat. Ya iyalah kan dia memang udah pandai.


"Nah bagus-bagus, terusin," ucap Raka.


Raka memperhatikan Maira yang sedang fokus berlatih. Keringat sudah membasahi pelipisnya, ya Maira sudah bekerja keras. Raka mengernyit ketika Maira terus saja terganggu dengan rambutnya yang selalu menghalangi matanya. Siapa suruh Maira tidak mengikat rambutnya. Seharusnya kalau sedang olahraga begini, rambut itu di ikat Maira.


"Udah cukup berhenti dulu," titah Raka.


"Hhm udah nih?" tanya Maira.


"Ada bawa iket rambut gak?"


"Ada nih. Kenapa?"


"Siniin!" Maira memberikan ikat rambutnya tanpa bertanya apapun.


Setelah mengambil ikat rambut Maira, Raka langsung memutar tubuh Maira agar membelakanginya.


"Eh eh mau ngapain?" tanya Maira kaget.


"Udah diem!"


Maira terkejut saat tangan Raka, mulai menyentuh rambutnya. Lelaki itu dengan telaten merapikan rambutnya dan mengikatnya. Aduh bagaimana ini dada Maira berdebar-debar. Jangan sampai Raka mendengarnya. Hal yang sama juga terjadi pada, dadanya sudah berdetak tak karuan. Tapi mereka harus tetap berusaha tenang.


"Udah tau punya rambut panjang, malah gak di ikat," ucap Raka.


Astaghfirullah Kenapa Raka harus berbicara di dekat telinga Maira.

__ADS_1


__ADS_2