
"LO SERIUS KAN RA? LO JADIAN SAMA KAK RAKA?" pekik Dewi memenuhi ruang kelas, yang membuat teman-temannya memperhatikannya heran.
"Sst jangan teriak-teriak juga Dew. Nanti yang lain pada denger gimana," bisik Maira mengingatkan seraya menarik pelan lengan seragam Dewi.
"Biarin aja yang lain tau, biar gak ada lagi yang ganggu hubungan lo sama kak Raka," ucap Dewi seraya melirik Lery sinis.
Udin yang berdiri seraya bersandar di dinding belakang kelas, karena kursinya sedang di pinjam oleh Dewi. Cukup terkejut mendengar percakapan mereka. Mendadak hatinya merasa sedih setelah mengetahui Maira dan Raka berpacaran. Entahlah Udin juga tidak tahu kenapa ia merasa sedih.
Sedangkan Lery di buat panas karenanya, sudah tidak ada lagi kesempatan baginya untuk mendapatkan Raka. Bisa-bisanya dia kalah dengan seorang gadis seperti Maira. Lery benar-benar tidak terima.
...🐒🐒🐒...
Brak
Sontak Maira memalingkan wajahnya ke arah pintu kamarnya, di ambang pintu sudah ada Angkasa yang berdiri seraya memberikan tatapan tajam ke arah Maira.
"Lo mau ngerusak pintu kamar gue ya bang? main dobrak dobrak aja," ucap Maira kesal.
Angkasa tidak menjawab, ia berjalan mendekati Maira dan duduk di tepi ranjang.
"Lo udah jadian sama bang Raka, kok gak bilang-bilang sama gue? Bisa-bisanya lo gak ngasih tau abang lo ini," ujar Angkasa kesal.
Maira yang sedang fokus menatap layar ponselnya, melirik Angkasa.
"Lo tau dari mana?" tanya Maira.
"Dari Dewi. Jahat ya lo gak ngasih tau gue," jawab Angkasa.
"Gue lupa mau ngasih tau lo. Saking senengnya gue sampai lupa kalau gue punya kembaran," jelas Maira yang membuat Angkasa menatapnya tak percaya.
"Bisa-bisanya lo? Kembaran lo yang Masya Allah ganteng ini, lo lupakan?" Angkasa menggeleng-gelengkan kepalanya, "Parah-parah."
"Iya iya gue minta maaf. Lupa seriusan dah."
"Bodo ah ngambek gue," ucap Angkasa bertingkah so imut yang membuat Maira menatapnya geli.
"kambuh lagi nih bocah," batin Maira.
Dari pada meladeni keanehan Angkasa, Maira lebih memilih membalas chat dari Raka. Byasalah pasangan baru mwhehe. Angkasa yang melihat adiknya senyum-senyum sendiri menatap layar ponsel, jadi penasaran apa yang membuat adiknya itu tersenyum tidak jelas. Namun saat ia hendak mengintip layar ponsel Maira, Maira lebih dulu menjauhkan ponselnya dari Angkasa.
"Apasih? Kepo banget," cibir Maira.
"Chat bang Raka pasti kan lu?" sinis Angkasa.
"Iya dong. Emang kenapa? Gak boleh chat pacar sendiri?"
Angkasa hanya memutar bola matanya malas. Ia tidak menyangka adik kesayangannya sudah berpacaran. Ya walaupun begitu, Angkasa akan terus mengawasi mereka. Awas saja kalau Raka berani macam-macam atau menyakiti Maira. Akan Angkasa hajar dia habis-habisan, tidak perduli dia teman atau bukan.
"Aaarrgggg," tiba-tiba saja Maira mencampakkan ponselnya kemudian berguling-guling tidak jelas.
__ADS_1
"Ra lo kenapa woi! Kesurupan lo?" bingung Angkasa melihat tingkah aneh Maira.
Maira berhenti berguling-guling, ia menatap Angkasa kemudian menggoyang-goyangkan bahu Angkasa sambil berteriak.
"Woi Ra astaghfirullah. Lo kenapa sih?" kepala Angkasa rasanya sudah mulai pusing karena ulah Maira.
Maira berhenti kemudian menatap Angkasa dengan senyum lebar.
"Gue seneng banget. Kak Raka ngajak gue jalan bang," ucap Maira senang.
"Dih baru juga di ajak jalan, udah kayak orang kesurupan begitu. Gimana kalau di ajak nikah," cibir Angkasa.
Tanpa memperdulikan ucapan Angkasa, Maira kembali fokus menatap layar ponselnya.
Angkasa menghela nafas pelan.
"Kapan?" tanya Angkasa.
"Besok. Kan besok hari minggu," jawab Maira tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
Angkasa mengangguk kemudian berdiri. "Ya udah, gue balik ke kamar deh."
"Iya, jangan lupa tutup pintu."
"Hm."
"Dasar abang lukcnut," gumam Maira kesal seraya beranjak menutup pintu kamarnya.
...🐒🐒🐒...
Pukul 08:12
Maira berkaca untuk yang kesekian kalinya memastikan tidak ada yang salah pada penampilannya. Padahal ia hanya mengikat rambutnya kuncir kuda. Mengenakan baju kaos lengan panjang berwarna biru muda dan celana kulot berwarna coklat susu. Dan tidak lupa tas kecil untuknya menyimpan ponsel dan beberapa barang penting lainnya. Sederhana bukan?
"Ra bang Raka udah dateng nih," pekik Angkasa dari luar.
Dengan cepat Maira keluar kamar dan langsung menghampiri Raka yang sudah menunggunya di ruang tamu di temani oleh Angkasa.
Maira berdecak kagum ketika melihat Raka yang tampak tampan dengan kaos berwarna putih di tambah kemeja berwarna biru muda dan celana cargo berwarna coklat susu yang ia gunakan. Sangat tampan.
"Masya Allah ganteng banget anak orang," batin Maira.
Raka tersenyum manis menatap sang gadis, yang terlihat sangat menggemaskan.
"Udah siap? tanya Raka.
Maira mengangguk seraya tersenyum, "Udah."
Angkasa menatap Maira dan Raka bergantian.
__ADS_1
"Jadi ceritanya janjian nih, pakai baju biru-biru nih," goda Angkasa.
Baik Maira dan Raka, mereka baru sama-sama menyadari kalau warna baju dan celana mereka sama. Apakah ini jodoh?
"Eh iya mirip dong. Kalau emang jodoh gak kemana ya," ucap Maira sambil tersenyum manis ke arah Raka.
"Iya ya," Raka juga tersenyum manis ke arah Maira.
Angkasa yang melihat dua orang yang sedang kasmaran ini, hanya bisa berdecak sebal. Bisa-bisanya mereka memperlihatkan ke uwuan mereka di depan Angkasa.
"Udah-udah mending lu berdua buruan pergi deh. Gak bisa gue ngeliat pemandangan seperti ini, sakit mata gue," Angkasa mendorong tubuh Maira dan Raka keluar.
"Iya iya ah elu. Iri bilang badak," ucap Maira sambil tertawa senang.
"Eh tapi gue mau izin sama om Rio dulu," ucap Raka.
"Bapak gue kerja," balas Angkasa.
"Bukannya ini hari minggu ya. Emang gak libur?"
"Bapak gue hobi kerja, jadi dia gak suka libur," jawab Angkasa.
Raka melirik Maira yang sedang mengambil sepatunya.
"Emang iya Ra?" tanya Raka, entah mengapa ia tidak yakin dengan ucapan Angkasa.
"Iya kak. Ayah memang hobi kerja, jadi dia gak suka libur," jawab Maira sembari mengikat tali sepatunya.
"Wah keren," batin Raka.
Raka beralih menatap Angkasa yang berdiri di ambang pintu.
"Ya udah kalau gitu gue izin bawa Maira. Jalan-jalan bentar ya," ucap Raka meminta izin pada Angkasa.
"Iya jagain adek gue bang, awas aja kalau lecet!"
Raka terkekeh pelan, "Iya tenang aja. Insya Allah gue pastiin dia aman."
"Ya udah kalau gitu kita pamit ya bang Assalamualaikum," pamit Maira.
"Gue pamit bro Assalamualaikum."
"Iya walaikumsalam."
Setelah memastikan Maira dan Raka sudah pergi, Angkasa masuk kedalam rumahnya dan mengirim pesan pada seseorang.
"Mereka mau pergi ke taman kota. Kita ketemuan di sana. Jangan sampai ketahuan kalau kita mau ngawasin mereka."
Setelah itu Angkasa mengambil jaketnya dan kunci motor, kemudian beranjak keluar.
__ADS_1