
Dewi mengernyit heran ketika melihat Maira hanya diam termenung di dalam kelas. Entah apa yang sedang gadis itu pikirkan. Dari kamarin selesai kerja bakti, Maira sudah seperti ini.
"Ra, lo mikirin apa sih?" tanya Dewi yang menyadarkan Maira dari lamunannya.
"Hah?" Maira tampak berpikir sejenak, ia ragu harus mengatakannya atau tidak kepada Dewi.
"Lo mikirin apa?" tanya Dewi lagi.
"Kemarin kak Rahmat bilang ke gue..."
"Bilang apa?" potong Dewi.
Maira menatap Dewi datar, "Ya makanya dengerin dulu, Maimunah."
"Hehe ya maaf. Lanjut lanjut!"
"Jadi kemarin itu, kak Rahmat bilang ke gue kalau kak Raka suka sama gue," lanjut Maira.
"What? Lo serius!?" tanya Dewi heboh.
Maira mengangguk, "Iya serius. Tapi gue gak percaya lah, gak mungkin kan kak Raka suka sama gue."
"Kalau beneran gimana?"
"Ya kalau beneran dia suka sama gue, pasti nanti dia bilang sendiri kan?"
Dewi menganggukkan kepalanya, "Iya juga sih. Terus lo gimana?"
"Gimana apanya?" tanya Maira bingung.
"Suka gak sama kak Raka?"
Maira tampak berpikir, tentang perasaannya kepada Raka. Apakah ia suka Raka? Maira juga tidak tahu, ia belum yakin dengan perasaannya. Lagi pula seminggu yang lalu ia masih menyukai Bara, ia baru menyembuhkan hatinya yang terluka karena Bara.
"Gue masih belum yakin dengan perasaan gue sendiri. Nanti kalau gue kegeeran, terus suka sama orang itu tapi orangnya gak suka sama gue balik. Gimana? Kan gak lucu, kan sama aja mengulangi kejadian yang lalu," jelas Maira.
Dewi tersenyum seraya menepuk-nepuk punggung Maira pelan, "Gue sih apapun keputusan lo gue dukung Ra. Asalkan itu yang terbaik buat lo. Jangan sampai salah langkah dan bisa ngebuat hati lo sakit lagi."
Maira juga menatap Dewi dengan senyuman, "Hehehe makasih ya bestie."
"Yoi bro," ucap Dewi sambil mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
"Eh tapi Ra, gimana kalau kita pastiin kak Raka itu suka sama lo atau gak," ucap Dewi lagi.
Maira mengernyitkan keningnya bingung, "Gimana caranya?"
"Gini gini," Dewi lebih mendekatkan tubuhnya ke arah Maira, "Kan kalau lagi suka sama orang, pasti setiap di dekat dia kita salting atau grogi gitu. Apalagi kalau di senyumin beh merah tuh muka, jantungnya dag-dig-dug ser dah tuh."
"Nah jadi lo deketin kak Raka, lo liat dia salting gak kalau di dekat lo. Gimana? Mau coba gak?" lanjut Dewi seraya tersenyum bangga dengan ide briliannya itu.
Maira mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Dewi. Apa yang di katakan Dewi ada benarnya juga, dari pada penasaran lebih baik ia memastikannya sendiri.
"Boleh juga ide lo," ucap Maira.
"Oke nanti kita, mulai misi kita," balas Dewi.
...🐒🐒🐒...
"Ra Ra," Dewi menepuk-nepuk bahu Maira pelan.
Maira yang sedang meminum air es nya hampir tersedak, "Ada apa sih astaghfirullah."
"Tuh ada kak Raka," ucap Dewi seraya menunjuk Raka yang baru saja memasuki kantin bersama Rahmat.
"Panggil Ra, panggil. Ajak duduk sini," suruh Dewi.
Belum juga Maira memanggil Raka, Raka dan Rahmat memang sudah berjalan ke arah mereka berdua dan duduk di depan mereka.
"Kita duduk sini ya?" ucap Rahmat seraya duduk di kursi di depan Dewi.
"Haelah biasa juga kagak ijin," cibir Dewi.
"Hehe tau aja."
Berbeda dengan Dewi dan Rahmat yang asik bercanda, Maira dan Raka malah saling diam. Entah mengapa terasa canggung. Raka hanya fokus menyantap makanannya. Sedangkan Maira memulai aksinya, yaitu ia terus tersenyum menatap Raka yang sedang makan. Seperti ini kan maksud Dewi?
Saat Raka mengangkat kepalanya, ia sontak kaget ketika melihat wajah Maira. Karena senyum Maira saat ini bukanlah senyuman manis yang bisa membuat hati berdebar-debar tapi melainkan senyuman mengerikan yang bisa membuat orang bergidik ngeri.
"Astaghfirullah. lo kenapa Ra?" tanya Raka kaget.
"Hah? Gak kenapa-napa kok kak upil," jawab Maira masih dengan senyuman terpatri di wajahnya.
Dewi melirik Maira kemudian ia menggelengkan kepalanya jengah. Senyuman seperti apa itu, kalau senyumnya begitu sih anak bayi bisa nangis kalau ngeliatnya Ra. Dewi menepuk keningnya frustasi. Sepertinya ia harus mengajarkan temannya ini.
__ADS_1
"Ra. Gue nyuruh lo senyum manis dan cantik. Bukan senyum kayak momo begitu marpuah," bisik Dewi gemas.
"Lah ini gue udah senyum manis. Lo kira senyum apaan?" balas Maira berbisik, kemudian kembali mengembangkan senyumnya.
"Manis mata lo!"
Raka dan Rahmat yang melihat mereka berbisik-bisik hanya mengernyit heran. Entah apa yang sedang di bisikan para gadis di depan mereka ini.
"Ngomongin apaan sih kalian?" tanya Rahmat penasaran.
Maira dan Dewi saling pandang kemudian melirik Rahmat.
"Kepo," jawab mereka serempak.
"Heleh orang nanya doang," ucap Rahmat kemudian melanjutkan kegiatan makannya.
"Ini adalah rahasia perempuan, jadi laki-laki gak boleh tau," balas Maira seraya menggerakkan tangannya untuk mengambil tisu yang ada di dekat Raka. Namun tiba-tiba tangannya dan Raka bersentuhan karena Raka juga hendak mengambil tisu.
Untuk beberapa saat mereka saling diam. Sampai Maira mengingat sesuatu. Kesempatan! Ia sengaja membiarkan tangannya bersentuhan dengan Raka lebih lama dan menatap Raka sambil tersenyum. Ia ingin melihat apakah Raka salting seperti yang di katakan Dewi.
Tapi yang terjadi Raka malah menepis tangan Maira pelan, kemudian mengambil tisu dengan santai seperti tidak ada sesuatu yang terjadi.
"Ngalangin aja lu," ucap Raka.
"Yee gue duluan kali yang mau ngambil tisu. Kak upil tuh yang ngalangin," ucap Maira kesal.
"Stop manggil gue upil! Bisa kan?" ucap Raka yang membuat Maira terdiam. Sepertinya Raka marah kepadanya, padahal biasanya nada bicaranya tidak seperti itu.
Tanpa aba-aba Raka langsung berdiri dan pergi meninggalkan mereka bertiga yang tercengang menatap kepergiannya.
"Kak Raka marah ya? Padahal biasanya dia gak gitu sama gue," ucap Maira sedih.
"Gak mungkin lah dia marah. Dia orang paling sabar yang pernah gue temuin. Masa cuma gara-gara itu dia marah," jelas Rahmat. Tidak mungkin Raka marah dengan Maira cuma gara-gara hal itu, dia tahu betul Raka seperti apa.
"Memang gue yang salah, padahal dia gak suka di panggil begitu. Tapi gue gak mau denger," ucap Maira merasa bersalah.
"Lo bilang, kak Raka suka sama Maira. Tapi kok dia kayak gitu, gak ada keliatan suka-sukanya?" tanya Dewi.
"Dia emang suka sama Maira kok. Gue yakin seratus persen," balas Rahmat yakin.
"Emang dia ada bilang sama lo?" tanya Dewi lagi.
__ADS_1
"Gak ada sih," jawab Rahmat terkekeh pelan.
Di lain tempat Raka berjalan cepat menuju kelasnya, jantungnya saat ini benar-benar berdebar kencang karena berada di dekat Maira. Sedari tadi ia sudah menahan diri agar tidak kelihatan bahwa ia salah tingkah. Ia juga merasa bersalah pada Maira, demi menutupi rasa malunya Raka malah sedikit membentak Maira. Pasti gadis itu sangat sedih sekarang, Raka harus bagaimana?