Cuma Cinta Monyet

Cuma Cinta Monyet
Bab 28 CCM - Pangeran tidur


__ADS_3

Tuk


Tuk


Maira menusuk-nusuk pelan bahu Udin yang sedang tertidur dengan jari telunjuknya. Ia harus mengabarkan kepada Udin tentang rencana mereka yang akan melakukan kerja kelompok di rumah Dewi.


"Din Udin," panggil Maira.


"Hhm?" perlahan Udin bangun dan menegakkan tubuhnya, ia mengedip-ngedipkan matanya yang masih mengantuk kemudian menatap Maira.


"Wah baru bangun tidur aja tetep ganteng ya si oppa," batin Maira.


"Nanti sore kelompok kita, mau ngerjain tugas BI yang di suruh bu Tuti di rumah Dewi. Lo dateng ya," ucap Maira.


"Hhm he'eh," balas Udin mengangguk pelan kemudian kembali meletakkan kepalanya di meja dan tertidur.


Maira menggeleng-gelengkan kepalanya menatap Udin, kemudian kembali ke mejanya.


"Gimana? Mau gak dia?" tanya Dewi.


Maira mengangguk singkat, "Iya mau."


"Bagus deh, awas aja dia gak dateng. Gue keluarin dari kelompok ntar."


"Semoga aja dateng. Kasian kan kalau di keluarin, udah nilai nya jelek tambah jelek nanti."


"Ya salah dia malas belajar. Lagian ngapain dia masuk kelompok kita sih," cibir Dewi.


"Kan kelompok kita doang yang kurang orangnya, makanya dia di suruh masuk kelompok kita," balas Maira.


"HELLO EVERYONE! GUE PUNYA KABAR GEMBIRA!" suara teriakan Khoirul yang baru saja memasuki kelas membuat seluruh atensi teman-temannya tertuju padanya.


"Kabar gembira apaan tak?" tanya salah seorang temannya.


"Kepo ya? Kepo ya?" ucap Khoirul menunjuk teman-temannya sambil menunjukkan senyum jahilnya.


"Buruan bilang sebelum sepatu ini melayang ke kepala botak lo!" ancam Lery sambil melepas sepatu kirinya.


"Ets santai dong hehe. Kabar gembiranya adalah jam pelajaran terakhir kita free gaes karena lagi ada rapat. Seneng gak? Seneng gak?" balas Khoirul.


Bukannya merasa senang atas informasi yang di berikan Khoirul. Teman-temannya malah menatap Khoirul datar.


"Lo telat. Kita semua udah tau tak, kan tadi udah di kasih tau sama pak Aldi," ucap Maira.


"Hah? Udah tau? Kok gue sendiri yang baru tau?" ucap Khoirul bingung dengan memasang ekspresi cengo.


"Makanya kalau lagi di jelasin sama guru jangan main, kan jadi gak denger," ucap Dewi.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian teman-temannya beramai-ramai menyoraki Khoirul. Mereka memang senang menistakan teman botaknya itu.


"Iya main mulu kerjaannya sama Angkasa," ucap Maira.


Angkasa yang baru datang mengerutkan keningnya heran, karena mendengar namanya di sebut-sebut.


"Hah? Gue kenapa?"


...🐒🐒🐒...


Pukul tiga sore Maira dan teman-temannya sudah berkumpul di rumah Dewi untuk mengerjakan tugas kelompok yang telah di berikan oleh guru mereka.


"Oke karena kita udah kumpul semua sekarang kita bagi tugas," ucap Dewi yang di balas anggukan kepala oleh teman-temannya.


"Untuk karangannya di sekolah tadi udah jadi setengah tinggal kita lanjutin sedikit lagi. Nah sekarang tinggal ilustrasinya lagi. Siapa yang bisa ngambar?" tanya Dewi.


Mereka semua saling pandang dan bergeleng bersamaan. Tidak ada yang bisa menggambar di antara mereka.


"Lo bisa gambar gak Sih?" tanya Khoirul.


Asih menggeleng pelan, "Gue gak bisa."


"Gapapa nanti kita belajar gambar bareng mau gak?" tanya Khoirul, tujuannya sih cuma buat modus.


"Gak deh," jawab Asih.


"Diem lu!"


Maira geleng-geleng melihat tingkah kambaran nya, kemudian melirik Udin yang tertidur pulas dengan meja ruang tamu sebagai bantalnya. Maira tidak habis pikir, di mana-mana yang Udin lakukan hanyalah tidur. Walaupun begitu, dengan Udin datang untuk ikut kerja kelompok itu sudah suatu hal yang bagus.


"Udin," tegur Maira sambil menggoyang-goyangkan bahu Udin pelan.


Merasa di panggil Udin langsung bangun dan menegakkan tubuhnya, ia menatap Maira yang duduk di sampingnya.


"Kenapa?" tanya Udin masih dengan suara khas orang baru bangun tidur.


Wah Maira sedikit bergetar mendengarnya, suaranya terdengar seksi. Astaghfirullah apa yang Maira pikirkan. Mohon buang jauh-jauh pikiran seperti itu.


"Lo bisa gambar gak? Kalau bisa, bagian gambar ilustrasi tugas lo," tanya Maira.


Udin melirik teman-temannya satu persatu yang juga sedang menatapnya. Terpancar sinar harapan di mata mereka. Karena kata Bu Tuti mereka tidak boleh mengambil gambar dari internet.


Udin menatap Maira kemudian mengangguk singkat, "Bisa."


"Wah serius? Kalau gitu tugas gambar ilustrasi lo ya," ucap Dewi senang. Dewi rasa ia salah menilai Udin, padahal orang punya bakat masing-masing. Tapi belum juga melihatnya, Dewi sudah meremehkan duluan. Ah dia jadi merasa bersalah.


"Lo tenang aja, kalau lo capek. Gue bisa bantu warnain gambarnya," ucap Angkasa.

__ADS_1


"Gue juga bisa kali ngewarna," celetuk Khoirul.


"Mewarnai itu juga butuh skill. Iya a gak Din?" Angkasa menepuk bahu Udin pelan, kemudian tersenyum kepada lelaki itu.


"Hilih bilang aja lo mau dapet tugas yang mudah aja kan. Tau gue," cibir Khoirul.


Udin menatap teman-temannya, dengan kondisi mata yang masih mengantuk. Ia juga beberapa kali menguap, sepertinya rasa ngantuk Udin sudah tingkat akut.


"Oke sekarang kita bagi tugas selanjutnya..," ucap Dewi.


...🐒🐒🐒...


"Wah keren gambarnya," Maira menatap takjub gambaran yang di gambar oleh Udin.


Ia terus memperhatikan Udin yang sedang menggambar dengan serius. Lebih tepatnya memperhatikan kertas yang di gambar Udin. Saking takjubnya Maira sampai tidak sadar kalau dia dan Udin terlalu dekat.


Udin menatap wajah Maira yang menatap kertas yang ia gambar dengan mata yang berbinar-binar. Seperti anak kecil yang melihat mainan, sangat lucu. Beberapa detik kemudian Udin menggelengkan kepalanya berusaha untuk menyadarkan dirinya. Ini terlalu dekat, kalau kata ibu Udin bukan mahram. Haram.


"Ekhem geser dikit Ra, gue susah ngambar nya kalau lo terlalu dekat."


Maira melirik Udin, benar saja jarak wajah mereka sudah lumayan dekat. Dengan cepat Maira menjauhkan tubuhnya dari Udin. Bisa-bisanya dia tidak sadar, dasar Maira.


"Eh sorry gue terlalu takjub ngeliat gambaran lo. Bagus soalnya hehe," ucap Maira terkekeh pelan.


"Lo mau?" tanya Udin.


"Hah? Mau apa?" ucap Maira balik bertanya.


Udin menatap Maira sesaat kemudian menggeleng singkat, "Gak jadi."


"Hah? Apa sih gak jelas," gumam Maira kemudian kembali membaca karangan mereka yang sudah jadi. Karena Maira dan Asih mendapatkan tugas membaca karangannya di depan kelas nanti.


Beberapa menit berlalu Maira menolehkan kepalanya dan mendapati Udin sudah tertidur pulas.


"Nih bocah minum obat tidur atau gimana sih?" lirih Maira, tangannya bergerak mengambil kertas yang sudah selesai di gambar oleh Udin.


"Udah selesai dia gambarnya Ra? Liat dong," ucap Dewi.


Maira meletakkan gambaran itu di tengah-tengah meja agar teman-temannya bisa melihatnya.


"Widih keren juga si Udin ngambar," ucap Angkasa.


"Ada gunanya juga sih pangeran tidur," ucap Khoirul.


"Iya gak kayak lo kan. Beban," ledek Angkasa.


"Diem sebelum kepala lo gue botakin!"

__ADS_1


__ADS_2