
"Gue mau ngomong," ucap Maira.
Raka menatap Maira seraya mengangkat alisnya, "Iya mau ngomong apa? Ngomong aja."
"Lo suka sama gue?" tanya Maira tanpa basa-basi. Dia berusaha menahan rasa malunya, jika tidak bertanya langsung dia akan penasaran terus pikirnya.
Raka yang mendengar pertanyaan Maira tiba-tiba terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan perempuan di hadapannya itu. Ia tidak menyangka Maira akan menanyakan hal ini kepada dirinya.
"Iya gue suka sama lo," jawab Raka santai.
Maira tersenyum kecil mendengar jawaban yang memang di harapkan nya. "Terus kenapa lo ngk nembak gue?" tanya Maira lagi.
Raka terdiam lagi, terlintas ide untuk menjahili gadis cantik di depannya ini.
"Matilah kalau di tembak," jawab Raka tanpa beban sambil menahan senyum.
Maira menarik nafasnya gusar, berbicara dengan laki-laki di hadapannya ini memang harus menggunakan tenaga dan kesabaran yang extra.
"Maksud gue kenapa ngk nyatain perasaan Lo ke gue?" tanya Maira sedikit kesal.
"Kenapa harus gue? kenapa ngk Lo aja?" goda Raka, ingin melihat ekspresi menggemaskan Maira.
Maira terdiam sejenak.
"Oke. Lo mau ngk jadi pacar gue?"tanya Valery yang membuat Raka sedikit terkejut. Maira memang tipe orang yang tidak suka basa-basi.
Raka terperangah di buatnya, bukan ini maksud Raka. Raka bingung harus berkata apa, karena yang di ucapkan nya tadi hanya candaan. Mana mungkin Raka menyuruh seorang perempuan menyatakan perasaan kepada dirinya. Malu lah Raka kan laki-laki sejati. Jadi Raka harus lakik.
"Kok malah diam," tanya Valery membuyarkan lamunan Raka. Raut wajahnya mulai berubah sedih, ia takut perasaannya bertepuk sebelah tangan lagi. Walaupun Raka sudah mengakui perasaannya, bisa ada kemungkinan itu hanya candaan. Buktinya sekarang Raka hanya diam dan tidak menjawab.
Baru juga Raka mau membuka mulutnya, suara segerombolan orang mengalihkan perhatian mereka. Dan ternyata itu adalah Angkasa dan teman-temannya, yang berjalan ke arah mereka.
"Mampus ada Angkasa, bisa di ledekin lagi gue," gumam Maira melihat kedatangan kembarannya.
Tanpa pikir panjang Maira pergi dari situ secepat kilat. Sebelum Angkasa menyadari kehadirannya, lebih baik ia pergi lebih dulu.
__ADS_1
"Eh Ra mau kemana?" tanya Raka, namun Maira tidak menjawab. Padahal Raka ingin menyatakan perasaannya sekarang. Ah ini salah Raka, coba saja ia tidak buang-buang waktu tadi. Tapi Raka juga senang setelah mengetahui ternyata Maira juga menyukai dirinya.
...🐒🐒🐒...
Maira berangkat sekolah dengan malas-malasan, tak biasanya ia seperti ini. Setelah mengajak Raka untuk berpacaran kemarin, Maira benar-benar tidak tahu harus di taruh dimana wajahnya. Maira sangat malu, bagaimana ia harus menghadapi Raka nanti.
"Mau di taruh di mana muka gue Dew, kalau ketemu kak Raka nanti. Malu banget woy," adu Maira pada Dewi seraya menelungkup kan wajahnya di lipatan tangannya.
"Gue turut prihatin ya Ra," ucap Dewi menepuk-nepuk punggung Maira pelan.
"Tapi gue yakin kok, kak Raka beneran suka sama lo. Buktinya aja dia selalu perhatian sama lo kan," ucap Dewi menenangkan.
Maira mengangkat kepalanya menatap sahabatnya itu. "Tapi kalau cuma bercanda gimana? Kak Bara juga perhatian sama gue. Ujung-ujungnya gue sendiri yang baper," ucap Maira kemudian kembali menelungkup kan wajahnya di lipatan tangannya.
Dewi terdiam, kalau sudah begini sih dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kisah percintaan sahabatnya ini cukup rumit. Ya yang dia akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Maira.
"Minggir!" suara berat yang reflek membuat Dewi memalingkan wajahnya melihat ke sumber suara.
"Oh Udin udah datang, gue numpang sebentar tadi tepat duduknya hehe," ucap Dewi seraya berdiri.
"Ra gue balik ke bangku dulu ya," ucap Dewi.
"Oke~," balas Maira lemah seraya mengacungkan jempolnya.
Setelah kepergian Dewi, Udin memperhatikan gadis di sampingnya dengan heran. Tumben sekali Maira terlihat lesu, biasanya ia sangat bersemangat. Apa karena pertengkarannya dengan Lery and the gang kemarin. Tapi kan Maira menang melawan mereka.
Sekarang sampai guru masuk pun Maira masih di posisi seperti itu. Udin jadi sedikit khawatir. Jadi ia putuskan untuk bertanya.
"Ra," panggil Udin.
"Hhm," balas Maira.
"Lo kenapa? Sakit?" tanya Udin.
Maira mengangkat kepalanya kemudian menatap Udin seraya menggeleng pelan.
__ADS_1
"Gapapa."
Udin tidak percaya sebelum memastikannya sendiri, tangan kanannya tergerak menyentuh kening Maira. Tubuh Maira membeku saat tangan Udin menyentuh keningnya. Ini terlalu tiba-tiba.
"Gak panas sih," ucap Udin seraya menurunkan tangannya, kemudian menelungkup kan wajahnya di lipatan tangannya. Yang penting rasa khawatirnya telah menghilang.
Maira masih terdiam, perlakuan Udin yang tiba-tiba ini cukup membuatnya terkejut. Udin yang selalu cuek tiba-tiba perhatian seperti ini, membuatnya heran.
"Dia gak kesurupan kan?" batin Maira.
...🐒🐒🐒...
Jam istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Karena takut akan bertemu dengan Raka, Maira memilih pergi ke perpustakaan. Lagi pula perutnya tidak terlalu lapar, jadi lebih baik ia pergi membaca buku di perpustakaan. Ya itu lebih baik, karena sekarang ia masih belum siap jika harus berhadapan dengan Raka.
Dan lagi-lagi buku yang ingin Maira baca berada di rak paling atas. Dan Maira yang memiliki tubuh mungil ini, tidak bisa mencapainya. Tidak ada kah pangeran yang mau membantu Maira? Seperti di novel-novel romantis yang Maira baca. Sepertinya tidak ada.
"Duh tinggi banget dah tuh buku, atau gue yang kependekan ya?" gumam Maira seraya mendongakkan kepalanya.
Maira menghela nafasnya pasrah, "Beginilah derita orang yang tumbuhnya ke samping bukan ke atas."
Terpaksa Maira harus mengambil kursi lagi. Setelah mengambil kursi dan memposisikan nya di tempat yang pas. Baru lah Maira menaiki kursi itu dan mengambil buku yang ingin di bacanya.
"Kenapa sih buku yang mau gue baca di atas semua? Sengaja nih pasti author nya nih, buat gue susah aja," omel Maira sambil memilih beberapa buku.
Tanpa sadar tangan Maira sudah di penuhi oleh buku. Saking senangnya ia melihat buku-buku yang menarik baginya, Maira malah mengambil terlalu banyak.
"Kayaknya kebanyakan deh ini, gak sempet gue baca semuanya. Balikin lagi sedikit deh."
Dengan susah payah Maira memeluk buku-buku tersebut dan berniat mengembalikan beberapa ke rak. Namun karena ia memegang terlalu banyak buku, membuat Maira meletakkan beberapa buku tersebut dengan posisi yang tidak pas. Alhasil buku-buku tersebut terjatuh dan menimpa wajah Maira.
Bruk
"Aw," pekik Maira seraya mengusap wajahnya. Buku-buku yang ia pegang pun jatuh berserakan.
"Lo gapapa?"
__ADS_1