
Dari jam pelajaran pertama sampai terakhir Maira tampak murung, ia sama sekali tidak ada keluar kelas. Angkasa yang terus memperhatikan adiknya tidak berani untuk bertanya. Ia tahu Maira pasti masih sakit hati karena Bara, jika seperti ini lebih baik jangan diganggu dulu.
Sedangkan Raka, ia hanya berani berdiri di depan kelas Maira saat jam istirahat dan memperhatikan Maira dari depan sana. Ia hanya ingin memastikan bahwa gadis itu tidak kenapa-napa. Entahlah Raka merasa khawatir.
Beberapa saat kemudian akhirnya jam pelajaran pun selesai. Murid-murid yang sudah mengemaskan barang-barang mereka dan beranjak pulang.
"Gue pulang dulu ya Ra. Assalamualaikum," ucap Asih seraya menggendong tasnya.
Maira mengangguk seraya tersenyum, "Iya, walaikumsalam."
Satu persatu mereka meninggalkan kelas, hingga hanya tersisa Maira dan Angkasa. Angkasa hanya memperhatikan Maira yang sedang mengemaskan barang-barangnya dengan lemah. Ia menunggu adiknya dengan sabar.
Angkasa ikut berdiri ketika Maira sudah selesai mengemaskan barang-barangnya dan berdiri.
"Udah?" tanya Angkasa.
"Udah yok pulang!" jawab Maira mengangguk.
Saat mereka hendak melangkah, Maira menatap wajah Angkasa. Ia mengernyit ketika menyadari ada bekas luka di sudut bibir Angkasa. Kenapa ia baru menyadarinya sekarang, ini semua karena Maira terus melamun sedari tadi.
"Eh bentar," tahan Maira.
Angkasa melirik Maira seraya mengangkat alisnya, "Kenapa? Ada yang tinggal?"
Maira menunjuk wajah Angkasa dengan dagunya, "Itu muka lo kenapa? Kayak habis di tonjok orang begitu?"
Angkasa memegang wajahnya, sudah bagus Maira tidak menyadarinya tadi. Jika ia jujur pasti Maira akan marah kepadanya.
"Oh ini. Tadi ada nyamuk di muka gue, terus si botak mau mukulin tuh nyamuk. Tapi terlalu kuat, alhasil begini deh muka gue," jawab Angkasa berbohong.
Maira menyipitkan matanya, menatap Angkasa dengan tatapan menyelidik. Di tatap seperti itu, Angkasa hanya berdiri dengan gelisah. Bagaimana jika Maira tidak percaya.
"Lo bohongkan? Lo berantem kan? Berantem dengan siapa lo?" tanya Maira beruntun. Ia merasa yang di katakan Angkasa itu sangat tidak masuk akal.
"Dengan nyamuk. Kalau gak percaya besok lo tanya dengan si botak," ucap Angkasa meyakinkan.
"Awas aja kalau lo bohong. Gue aduin ke papa!" ancam Maira kemudian berjalan keluar kelas.
__ADS_1
"Eh tungguin woi!" Angkasa berlari mengejar Maira yang sudah meninggalkannya.
Baru beberapa langkah Maira melangkah keluar kelas, tiba-tiba Melly datang dengan wajah marah dan langsung menarik lengan Maira.
"Ikut gue!" ucap Melly.
"Eh mau kemana nih? Gue mau pulang," tanya Maira kaget karena Melly tiba-tiba menariknya.
"Ikut aja jangan banyak tanya!" balas Melly.
"Woi mau bawa Maira kemana lo?" tanya Angkasa. Ia juga mengikuti ke mana arah Melly membawa Maira.
Mata Maira membulat ketika mereka sampai di belakang sekolah. Di sana sudah ada Bara dengan wajah yang babak belur, siapa yang melakukan hal itu kepadanya.
Melly menghempaskan tangan Maira dengan kasar dan kemudian menghampiri Bara.
"Lo liat! Muka cowok gue jadi begini," ucap Melly seraya membawa Bara mendekat ke arah Maira.
Maira mengernyit heran, jika wajah Bara seperti itu. Lalu apa hubungannya dengan Maira, kenapa Melly harus repot-repot menarik Maira sampai ke sini. Terus cowok gue? Maksudnya apa? Apa Melly ingin pamer dengan Maira kalau mereka sudah resmi berpacaran.
"Terus hubungannya dengan gue apa?" tanya Maira bingung.
Mendengar hal itu seketika wajah Maira menjadi datar. Ia membalikkan tubuhnya menatap Angkasa yang sudah panik karena ketahuan.
"Beneran lo ya ngehajar dia?" tanya Maira dingin.
Wah bulu kuduk Angkasa terasa berdiri, tiba-tiba suasana menjadi dingin. Seperti ada makhluk halus di sini. Tatapan Maira sangat menyeramkan sekarang.
"I..iya gue yang udah buat dia begitu," jawab Angkasa lirih.
Maira hanya diam mendengarkan jawaban Angkasa.
"Tapi gue ngelakuin itu karena dia udah jahat sama lo. Gue gak terima adek yang gue sayang di sakitin orang," jelas Angkasa, ia menatap Bara tajam, "Apalagi orangnya spek anjeng kayak dia."
"GUE GAK ADA JAHATIN ADEK LO YA. DIA NYA AJA YANG BAPERAN!" pekik Bara tidak terima.
"Kalau lo gak baperin dia. Dia gak bakalan baper," balas Angkasa kesal.
__ADS_1
Maira menundukkan kepalanya seraya mengepalkan tangannya kuat. Bisa-bisanya Bara mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu. Ternyata Maira salah menilai Bara selama ini.
Maira mengangkat kepalanya, "Kenapa lo gak bilang sih bang."
"Ya gue takut lo marah," jawab Angkasa.
Maira membalikkan tubuhnya menatap Bara dengan kesal, "Kalau lo bilangkan.."
Plak
Maira menampar pipi Bara kuat.
"Kita bisa ngehajar dia sama-sama," ucap Maira.
Angkasa ternganga melihat Maira menampar wajah Bara. Ia pikir Maira akan marah ternyata tidak.
"Akh apa-apaan sih lo Ra?" ucap Bara, sudah wajahnya masih sakit karena di pukul Angkasa, sekarang harus di tampar lagi dengan Maira.
"Berani-beraninya lo ya, nampar kak Bara," Melly hendak menampar wajah Maira namun Maira menahannya.
"Dia emang pantes dapatin itu," Maira menghempaskan tangan Melly kasar, "Gue heran, lo ada dendam apa sih sama gue? Semenjak pemilihan OSIS selesai lo tiba-tiba begini."
Melly tidak menjawab, ia hanya memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit karena Maira memegangnya terlalu kuat.
"Oh gue tau sekarang. Lo gak suka ya kalau gue jadi anggota inti OSIS? Terutama sekretaris? Lo gak terima karena waktu itu banyak yang milih gue dari pada lo. Karena itu hah?" tanya Maira kesal.
"Iya gue gak terima. Karena gue lebih pintar dari pada lo," jawab Melly.
Maira menatap Melly tak percaya kemudian ia terkekeh pelan, "Wah gak habis pikir gue. Jangan bilang lo deketin kak Bara, cuma gara-gara pengen balas dendam sama gue?"
Melly melirik Bara yang juga menatapnya dengan tatapan penuh tanya, "Gak. Gue memang suka dengan kak Bara. Untuk masalah lo sakit hati itu berarti.." Melly tersenyum miring, "Bonus buat gue. Gue puas banget ngeliat lo nangis tadi."
Lagi-lagi Maira menatap Melly tak percaya, bisa-bisanya Melly sejahat itu. Hanya karena tidak bisa menjadi sekretaris OSIS, Melly lalu membenci Maira. Padahal kan Maira tidak pernah memaksa mereka untuk memilih Maira, jika Melly mau Maira bisa memberikan posisinya itu kepada Melly sekarang.
Maira menatap Bara dan Melly bergantian ternyata mereka berdua memang cocok. Syukurlah Maira tidak pacaran dengan Bara. Dari pada berurusan dengan mereka lebih baik Maira pulang saja, ia sudah tidak ada tenaga lagi untuk meladeni mereka berdua.
"Terserah lo deh, sesuka lo aja. Ambil tuh Bara, kalau mau ambil juga posisi sekretaris OSIS, untuk lo gratis. Makan tuh semuanya sampai kenyang," ucap Maira.
__ADS_1
"Yok bang kita pulang!" ajak Maira sebelum itu ia sempatkan menginjak kaki Bara, "Bonus dari gue."