Cuma Cinta Monyet

Cuma Cinta Monyet
Bab 30 CCM - Jadi nyamuk


__ADS_3

Maira, Angkasa dan Udin telah selesai melaksanakan hukuman mereka, tepat setelah bell istirahat pertama berbunyi. Sekarang mereka bertiga, tidak maksudnya berempat karena juga ada Raka di situ. Ia merasa khawatir karena sang pujaan hati di hukum. Mengingat terakhir kali Maira sempat pingsan karena di beri hukuman oleh pak Yanto.


Mereka duduk di bangku yang tak jauh dari toilet, seraya meminum air es yang di belikan oleh Raka.


"Ah Alhamdulillah," Maira menoleh ke kiri menatap Raka yang duduk di sampingnya, "Makasih banyak kak upil, udah beliin kita air es."


Raka mengangguk, "Iya sama-sama," Raka menatap keringat yang membasahi pelipis Maira, "Kalian pasti capek bersihin toilet sebanyak itu."


Mereka bertiga mengangguk serempak, tidak maksudnya hanya Maira dan Angkasa. Karena sedari tadi Udin hanya memasang wajah datar, dan memberikan tatapan aneh kepada Raka. Tapi walaupun begitu ia tetap menerima air es pemberian Raka.


"Iya banget.Mana tadi pak Yanto ngecek kloset beberapa kali, terus kalau menurut dia masih belum bersih di suruh ulang lagi," ucap Angkasa menggebu.


Bagaimana tidak padahal seharusnya mereka sudah selesai sedari tadi. Tapi pak Yanto tidak puas dengan hasil kerja mereka dan menyuruh mereka untuk mengulangi nya lagi. Apa tidak capek di buatnya. Entahlah mungkin pak Yanto ada dendam tersembunyi pada mereka.


"Udah gak aneh lagi sih, pak Yanto memang begitu. Makanya pada males kalau udah berurusan dengan beliau," ucap Raka paham.


Angkasa menyandarkan tubuhnya di dinding, "Capeek butuh di semangatin ayang~."


Maira melirik Angkasa sinis.


"Kayak yang punya ayang aja lo," cibir Maira.


"Suka-suka Ay lah masalah buat yu," ucap Angkasa menunjuk wajah Maira.


Maira memutar bola matanya jengah tidak kuasa meladeni kembarannya itu. Ia masih kesal dengan Angkasa. Karena gara-gara Angkasa mereka jadi terlambat masuk sekolah dan berakhir di hukum oleh pak Yanto.


Angkasa menyurai rambutnya ke belakang kemudian berdiri, "Udah deh gue mau ke MDC dulu."


"Pergi sono lu, tinggal di sana sekalian," ucap Maira kesal.


"Ck ngusir lu?" Angkasa beralih menatap Raka dan Udin, "Bro gue cabut dulu, hati-hati deket nek lampir."


Setelah berhasil membuat adiknya semakin kesal, dengan cepat Angkasa berlari sebelum di terkam harimau.


"Anak siapa sih tuh nyebelin banget," decak Maira kesal, ia mengibaskan rambutnya ke belakang karena merasa gerah.


Raka hanya terkekeh pelan mendengar omelan Maira.


"Udah jangan ngomel-ngomel mulu, nanti beneran jadi nek lampir baru tau rasa lo," ledek Raka.


Maira melirik Raka sebal, "Kak Raka jangan ikut-ikutan ketularan virus kegilaan Angkasa deh. Cukup Khoirul aja, sumpah dua orang sudah cukup."


Raka tertawa melihat ekspresi wajah Maira yang menurutnya sangat lucu. Ia mengacak puncak kepala gadis itu gemas.

__ADS_1


"Hahaha iya iya."


"Ekhem," Udin berdehem takut-takut keberadaannya tidak di sadari oleh dua orang yang sedang kasmaran itu.


Maira menoleh menatap Udin yang juga sedang menatapnya.


"Kenapa Din, lo sakit tenggorokan?" tanya Maira.


"Gak."


"Oh kirain sakit tenggorokan."


Raka memajukan sedikit tubuhnya, menoleh menatap Udin yang berada di sebelah kanan Maira. Beberapa detik kemudian tatapan mereka saling bertemu. Jika di komik-komik pasti ada petir yang menyambar dari tatapan mereka.


Raka sedikit heran dengan adik kelasnya yang satu ini. Padahal Raka tidak berbuat salah padanya, tapi kenapa Udin memberikannya tatapan tidak suka seperti itu.


Dari pada memikirkan si Udin, lebih baik Raka memikirkan Maira sekarang. Memikirkan bagaimana caranya menyatakan perasaannya pada Maira. Sejujurnya itu gampang hanya saja Raka takut Maira akan menolaknya. Ia juga teringat dengan kata-kata Lery yang akan terus mengejarnya sebelum ia memiliki pacar.


Raka menarik nafasnya panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Permasalahan cinta, kenapa rumit sekali.


"Ra," panggil Raka.


Maira yang tadinya sedang berbicara dengan Udin langsung menoleh ke arah Raka.


"Iya kak upil. Kenapa?"


"Kok kak upil tau?"


Raka menunjuk wajah Maira dengan dagunya, "Muka lo pucet."


"Hah? Masa sih?" tanya Maira tidak percaya.


Raka mengangguk, "Iya pucet banget itu."


Maira membuka tasnya mencari keberadaan ponselnya di sana. Namun ia tidak menemukannya, yang berarti Maira meninggalkan ponselnya di rumah.


"Bawa hp gak?" tanya Maira yang di balas gelengan kepala oleh Raka dan Udin.


"Hhm sorry ya kak upil," Maira menagkup wajah Raka dengan kedua tangannya yang membuat Raka seketika membeku.


"Mau ngapain lo?" tanya Raka panik karena posisi wajah mereka yang cukup dekat. Tenang saja Raka akan berusaha berpikiran positif kok.


"Bentar minjam matanya dulu, mau ngaca."

__ADS_1


Maira tampak tidak perduli dengan tatapan Raka. Ia hanya fokus melihat pantulan wajahnya dari mata Raka. Raka juga tidak habis pikir dengan pikiran Maira. Bisa-bisanya dia berkaca menggunakan mata. Yang benar saja.


Sedangkan Udin menatap datar mereka berdua. Sejujurnya ia ingin pergi karena hanya manjadi nyamuk di sini. Tapi tubuhnya enggan untuk bergerak, entah lah Udin juga tidak tahu.


"Ra," panggil Raka.


"Hhm?" Maira masih fokus bercermin menggunakan mata Raka.


"Kita terlalu dekat."


"Hah?"


Beberapa detik kemudian Maira baru menyadari jarak antara mereka yang terlalu dekat. Seketika Maira membeku, matanya terkunci oleh tatapan Raka yang dalam. Saking dekatnya mereka bisa merasakan deru nafas mereka yang terasa hangat, menerpa lembut wajah mereka.


"Ekhem," deheman dari Udin yang sudah muak melihat adegan romantis mereka berdua seketika menyadarkan mereka.


Cepat-cepat Maira melepaskan tangannya dari wajah Raka.


"Ma-maaf kak upil. S-sorry gue gak tau," ucap Maira gugup, ia berusaha menormalkan detak jantungnya yang sudah berdegup kencang.


"I-iya gapapa," balas Raka tak kalah gugupnya.


"Ya udah kita ke kantin yuk. Keburu masuk ntar," ucap Maira yang langsung berdiri seraya menggendong tasnya.


Maira melirik Udin yang menatapnya datar.


"Yuk Din, lo ke kantin juga kan?" tanya Maira.


Udin berdiri kemudian mengangguk tanpa menjawab.


"Ya udah yuk. Yok kak upil," ajak Maira pura-pura bersikap biasa saja. Padahal hatinya sedang dangdutan.


"Iya ayo."


Raka berdiri kemudian berjalan mengikuti langkah Maira. Jantungnya berdetak lebih cepat sekarang. Ia memegangi wajahnya sambil menahan senyum. Ah rasanya Raka tidak mau cuci muka sampai besok.


Maira melirik Udin yang berdiri di sampingnya, "Hhm kak upil eh maksudnya Udin."


"Apa?" tanya Udin singkat.


"Makasih udah tangga ngasih gue tadi."


Udin menautkan kedua alisnya, "Hah?"

__ADS_1


"Eh ya Allah bukan itu maksudnya. Makasih udah ngasih gue tangga untuk masuk ke sekolah tadi," jelas Maira.


"Ya Allah kenapa salting nya gak hilang sihಥ⁠‿⁠ಥ" batin Maira.


__ADS_2